
Bab 174. Diluar rencana
.
.
.
...πππ...
Yudhasoka
Ia segera mengambil sebuah strip berwarna biru, yang tak lain merupakan alat penguji kehamilan yang di sertai sebuah fotokopi buku pemeriksaan ke bidan yang telah dilakukan oleh Hesti dari dalam kotak itu.
Yudha benar-benar tak habis pikir. Apa Hesti sudah gila dengan mengirimkannya benda krusial itu. Bagiamana jika mamaknya tahu?
Dan dari kesemuanya itu, membuat Yudha marah besar. Mensugesti langkahnya menuju kediaman Hesti saat itu juga.
" Apa maksudmu ngirimin beginian, hah?" Yudha melempar sebuah kotak yang baru saja ia terima tadi ke depan Hesti yang tengah duduk rilex di ruang tamunya. Tengah santai membaca sebuah majalah fashion.
Hesti mengeraskan rahangnya lalu berdiri menatap Yudha. Mencampakkan majalah yang menampilkan berbagai macam mode busana terupdate.
" Aku udah bilang sama kamu Yud, makin lama perut aku makin enggak bisa di tutupi lagi. Kalau aku enggak begini ke kamu, kamu enggak akan mau kesini kan?"
Napas Hesti terengah-engah saat ia mengutarakan kekesalan di hatinya kepada Yudha , yang dinilai lamban dalam mengambil sikap.
" Atau....jangan-jangan kamu sengaja mau kabur dan enggak mau tanggung jawab, iya?" Hesti melipat kedua tangannya sembari menatap Yudha dengan napas memburu. Ia sengaja melakukan hal itu demi memancing Yudha.
" Ngomong apa kamu hah? Aku udah bilang, tunggu saat yang pas, enggak kayak gini!" Yudha turut meninggikan suaranya. Napasnya kembang-kempis demi menahan amarah.
Untung saja Hesti tengah di tinggal pergi pembantunya ke pasar. Membuat pertengkaran mereka tak menimbulkan pertanyaan bagi orang lain.
" Aku cinta sama kamu Yud, aku cuma ingin kamu segera ngurus semua ini, kita harus segera menikah!"
Hesti memeluk tubuh Yudha yang masih mematung itu seraya menangis. Yudha menautkan kedua alisnya. Wanita ini benar-benar berbahaya pikirnya.
.
.
Matahari tertelan oleh horizon jingga di ufuk barat. Yudha duduk termenung seorang diri di kedai milik Cak Juned. Ia benar-benar bad mood saat ini.
" Lainnya pada kemana mas? Kok sendirian?" Cak Juned menyajikan secangkir kopi hitam sembari turut mendudukkan tubuhnya ke kursi dari jalinan bambu itu.
" Sibuk Cak, kurang tahu juga sih yang lain!" Sahut Yudha terlihat kusut. Sebenarnya ia tengah kepikiran dengan balasan Sakti beberapa saat yang lalu, saat ia mengajak Sahabatnya itu untuk ikut bersamanya ke suatu tempat.
" Sory Yud, aku enggak bisa!"
Sebelum-sebelumnya Sakti tak pernah menolak ajakannya. Pria itu selalunya bersedia dan siap saat ia ajak kemanapun. Bahkan disaat sibuk sekalipun.
Tapi jawaban Sakti yang cuek seperti itu, jelas menimbulkan pertanyaan di benak Yudha.
" Ngopo to mas? Kok sajak'e galao? ( Kenapa to mas? Kok sepertinya galau?)" Cak Juned tak bisa menahan dirinya untuk tidak bertanya.
Yudha mengembuskan napasnya, " Cak, apa alasan seseorang melakukan kejahatan?" Tanya Yudha menatap Cak Juned. Pria di depannya itu biasanya ces pleng saat menjawab.
Pria kurus itu seketika menjadi bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Yudha. Kejahatan?
" Kejahatan? Kejahatan yang gimana mas?" Ucapnya di ujung kebingungan.
" Ya.. kejahatan. Nyuri misalnya" Tukas Yudha agak ragu.
" Kalau di jaman sekarang sih ya mas, mungkin karena kepepet. Iman orang itu sering terkikis saat keadaan terdesak mas!"
" Memangnya siapa sih mas?" Tanya Cak Juned penasaran.
" Enggak ada...cuma nanya. Emmm aku pergi dulu Cak, nih duitnya...kopinya sampean minum aja!" Ucap Yudha yang mendadak teringat akan sesuatu. Ia tengah berjanjian dengan temannya malam itu.
" Lah mas, pie to Iki? Kok bakule sing ngombe!"
.
.
Yudha lupa jika malam ini, ia telah berjanjian dengan Rafi teman satu kantornya di sebuah kawasan yang berdekatan dengan lesehan remang-remang di jalan yang dekat dengan sebuah sekolahan.
Ia celingak-celinguk demi mencari temannya itu, " Tadi dia bilang suruh nunggu disini, tapi mana..?" Yudha resah, pasalnya ini merupakan titik koordinat pertemuan mereka yang telah di sepakati, tapi hingga nyamuk puas mencumbu kulit wajahnya, pria berkulit coklat itu tak muncul juga.
Saat tengah ia sibuk menghubungi ponsel Rafi namun tak dijawab, dua netranya tak sengaja melihat perempuan yang beberapa waktu ini mengacaukan moodnya.
Rara.
" Ngapain wanita itu jalan sendiri malam-malam begini?" Gumamnya seraya menatap lekat Rara yang berjalan mengikat rambutnya, dan terlihat akan menutup wajahnya.
Yudha dengan gerakan cepat memasukkan ponselnya kedalam saku celananya.
Pria itu sejurus kemudian bersembunyi di balik pohon jambu, yang sekujur batangnya di jalari oleh tanaman sirih. Membuat pria itu tak bisa dilihat dari arah berlawanan.
" Pasti dia mau nyopet lagi!" Ia bermonolog sembari menyibak beberapa lembar daun sirih yang mengacaukan pandangannya. Mengintip gerak gerik Rara yang tak curiga akan keberadaannya.
Namun, kesialan lain justru datang sebelum ia berhasil menghadang langkah Rara. Seorang pria yang memakai serobong muka berlari kencang dan diikuti oleh beberapa orang pria bertubuh gempal, turut mengejar mereka.
" Woy!!! berhenti lu!!" Suara teriakan seseorang mengacaukan konsentrasinya.
" Rafi? Itukan Rafi!" Ia mengenali sepatu dan sebuah jaket yang dikenakan pria yang tengah berusaha berlari kencang itu.
" Sial, Rafi pasti ketahuan!" Ia sempat melihat ke ara Rara yang masih tekun berjalan dengan menangkupkan tudung jaketnya ke kepala. Belum menyadari kegaduhan yang terjadi di depannya.
" Yud!!! Lari, kita ketahuan!!!" Teriak Rafi dengan kencang saat ia melihat Yudha di balik pohon jambu dari arah barat. Mau tidak mau membuat Yudha turut berlari.
Rara yang baru saja menyelesaikan simpul tali Hoodie yang ia kenakan, turut terkaget saat ada banyak sekali orang yang berlarian ke arahnya.
Sial.
" Yud! Kita berpencar, nih elu bawa!" Dengan gerakan cepat dan seperti terintimidasi, Rafi menyerahkan sebuah ponsel berisikan foto-foto pertemuan Hesti bersama seorang pria, yang baru saja Rafi pergoki dirumah pria itu.
Dengan gelagapan, Yudha mengambil benda pipih itu. Dapat!
" Woooyy jangan lari lo!!!" Teriak salah satu dari tiga pria yang mirip algojo itu.
Rara yang mendengar suara itu seketika terperanjat. Ia seketika membalikkan badannya dan turut berlari kembali ke arah timur. Namun, saat ia tengah mengencangkan otot betisnya guna meningkatkan kecepatan, sebuah tangan kokoh menariknya dan kini ia berpisah dengan satu orang pria yang juga di kejar oleh satu orang itu.
" Eh siapa Lo!!!" Pria itu masih saja diam dan tak menjawab, namun tangannya memegang erat lengannya dan terus mengajaknya berlari dari kejaran dua orang pria di belakang mereka.
Siapa dia?
.
.
.
.