Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 48. Pemandangan Meresahkan



Bab 48. Pemandangan Meresahkan


^^^" Merenung lagi dan lagi. Tapi tak jua aku temui solusi!"^^^


^^^.^^^


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Fina menatap wajah ketiga orang tua itu penuh kegeraman. Ketika ia masih memerlukan waktu untuk mencerna semua yang ia lontarkan, Tuan Guntoro justru tak kalah menatapnya geram.


" Papa jangan selalu seenaknya dong. Minta Fina buat ini, buat itu. Oke Fina tahu Fina salah. Tapi Fina gak mau menikah dengan orang yang enggak Fina cintai Pa!"


Ia terisak-isak, keputusan macam apa itu. Sama sekali tak mengerti akan dirinya yang merasa hancur saat ini.


" Fina!"


" Fina!!"


Ucap Guntoro marah namun tangannya di cekal oleh Bu Asmah. Wanita tua itu menggelengkan kepalanya seolah mengisyaratkan untuk membiarkan Fina sejenak.


Berhari-hari ia mengurung dirinya dalam kamar, karena Sabtu besok ia akan dibawa pulang oleh Papanya. Entah mengapa perasaan bersalahnya kepada Pandu kian menebal.


Ia merasa asing dan seorang diri. Apalagi, sepertinya Papa tertarik ingin mengenal pria bernama Rizal itu meski Bu Asmah hanya sekedar menyarankan, bukan memintanya.


Membuatnya semakin tak bisa menghadapi kehidupan.


.


.


Pandu


Dua hari berlalu, entah mengapa wajah Fina masih terus saja bersarang di otaknya. Tak mau beranjak pergi apalagi musnah .


" Mau dibawa kemana Buk?" Ia bertanya saat melihat ibunya melintas dan membawa pakaian Ayu. Membuat bayangan Fina di otaknya menguap seketika.


" Ibu beresin kamar adikmu Ndu. Yang ini mau ibuk simpan!"


Wajah ibu masih sendu. Ia tahu tiap malam ibunya menangis. Tentu saja ibu masih belum bisa sepenuhnya merelakan. Pikirannya mulai terusik. Ia menjadi ingin tahu siapa yang berani membuat adiknya pergi dengan cara seperti itu.


Dan benar saja, malam itu apa yang ada di pikirannya membawa langkahnya menuju rumah tetangganya.


" Oalah Ndu, kita gak berani keluar waktu itu. Yang jaga diluar banyak banget. Tapi, tadi pagi pas istriku nyapu nemu ini!"


Tetangga Pandu menyerahkan sebuah kalung yang biasa di kenakan oleh prajurit penegak hukum. Sebuah kalung yang bertuliskan sebuah lambang perusahaan bodyguard terkenal di kota.


" Kita gak punya bukti Ndu. Jaman sekarang kalau gak pakai bukti susah juga. Kamu tahu sendiri hpku hp jadul, mana bisa buat merekam apapun!"


Pandu menatap kalung stainless steel itu dengan saksama. Mendadak terbesit dalam hatinya untuk pergi ke kota.


Nyawa harus dibayar dengan nyawa!


Gigi harus dibayar dengan gigi!


.


.


Usai dari rumah tetangganya, Pandu berniat menemui Yudha dan menanyakan hal terkait peminjam uang dengan agunan BPKB motornya. Entah apa yang direncanakan pria itu.


Bruk


" Apa ini Ndu?" Yudha dengan wajah bingung menatap sebuah buku yang di lemparkan Pandu kepada-nya.


Pandu senagaja membawa buku catatan adiknya itu kemana saja ia pergi.


" Buka aja!" ucapnya lalu mendudukkan dirinya dengan gusar ke kursi milik Yudha.


Mata Yudha membulat sempurna. Sejenak ia merasa tersentuh, merasa menyesal,tak mengira jika Ayu menyukai dirinya.


" Jadi...!"


" Itulah sebabnya aku kesini. Kamu wajib tahu Yud. Aku berharap disana adikku tenang karena kamu udah tahu yang sebenarnya!" Pandu menatap wajah Yudha muram.


Yudha tertegun, tak mengira jika adik Pandu menyukai dirinya.


" Ayudya!"


Pandu tak membawa motor. Sengaja berjalan kaki ingin membunuh kesunyian dihatinya akibat ditinggalkan oleh Ayu untuk selamanya.


Di perjalanan pulang Pandu melihat seorang wanita yang duduk seorang diri di dudukan yang terbuat dari cor coran semen, yang berada di sebelah warung yang sudah tutup.


" Fina?"


Ia penasaran, untuk apa malam-malam begini ia ada disana. Dan kenapa memilih tempat sepi seperti ini?


Seorang diri pula.


" Sudah malam kenapa kamu disini?"


Fina tersentak dari lamunannya kala mendengar suara yang ia kenal. Ia terlihat menyusut air matanya dengan cepat menggunakan punggung tangannya.


Fina menangis?


Cih, bukankah itu bukan urusannya?


Sialan!


" Pandu?" matanya berbinar kala melihat Pandu.


" Kamu dari mana?" tanya Fina yang tersenyum menatap Pandu. Tapi tidak dengan pria itu.


" Pulang! Tempat ini terlalu bahaya untukmu!" Ia berucap dan langsung membalikkan badannya.


" Ini sudah malam!"


Entahlah, Pandu sebenarnya bingung dengan dirinya sendiri. Benarkah Fina bersalah?


" Apa kamu benar-benar marah sama aku?" Fina berdiri menatap punggung Pandu degan tatapan mengharap. Berhasil membuat langkah pria itu terhenti.


" Anggap saja kita tidak pernah kenal seperti dulu!" sahutnya kembali berjalan. Ia tak tahu mengapa ia tak bisa marah kepada gadis itu. Tapi jauh di dalam hatinya, ia tak ingin lagi berurusan dengan orang kota seperti Fina yang ditakutkan akan menambah masalah lagi untuknya.


" Aku akan kembali ke kota!" ucap Fina yang berhasil membuat langkah Pandu kembali terhenti.


Pandu tertegun demi mendengar ucapan Fina. Apakah itu urusannya?


''Pulanglah! Tempatmu memang seharusnya disana!" ucapnya dengan mengeraskan rahangnya seraya menelan ludah.


Namun tak mereka duga.


Hujan tiba-tiba mengguyur kawasan itu. Nampaknya cuaca benar-benar sedang tak menentu. Bersamaan dengan Fina yang bingung karena disana tak ada tempat yang cukup teduh untuk digunakan berlindung dari air hujan yang tiba-tiba bagai di tumpahkan dari langit.


Warung kecil yang sudah terkunci itupun tak memiliki emeperan ( Selasar). Membuat mereka harus mencari tempat lain untuk berteduh.


Fina bingung, ia sama sekali tak memiliki antisipasi akan cuaca yang fluktuatif.


" Sini!" Merasa tak tega, Pandu menggeret lengan Fina dengan cepat. Mereka berlari sejauh kurang lebih lima puluh meter, sampai menemukan sebuah gubuk milik petani di tepi sawah.


" Kita neduh sini dulu!" ucap Pandu tanpa menoleh.


Fina mengangguk meski Pandu tak menatapnya.


Fian mengibas- ngibaskan air yang sebenarnya sudah menyatu dengan serat kain bajunya. Pandu terlihat menoleh kesana-kemari demi melihat cuaca yang semakin memburuk.


Angin kencang malah membuat air semakin melayang kesana-kemari. " CK!" Pandu mendecak sebal. Terpaksa ia harus membuka pintu gubuk itu. Mereka harus masuk agar tak terkena air yang semakin membabi buta.


Gubuk itu hanya berukuran empat kali empat meter. Terbuat dari papan yang di paku sempurna, dan di dalamnya terdapat kursi panjang dari bambu.


" Gelap banget, sebentar...!" Fina terlihat meraih ponsel di sakunya demi melihat gulita yang menyambut kedatangan mereka di dalam gubuk itu.


Suasana gelap kini tersuluh oleh cahaya senter dari ponsel Fina. " Lumayan lah!" ucap Fina tersenyum dalam kecanggungan.


Ia melihat Pandu membuka jaketnya. " Kamu mau apa?" Fina dengan ceplosnya mengatakan hal itu.


Pandu masih tekun membisu. Usai melepas jaket, ia melepas kaos yang ia kenakan. Menampilkan tubuh bertato nan liat menggoda.


Fina menelan ludahnya.


" Pakai ini, kau akan masuk angin nanti!"


Sebenarnya bukan itu masalahnya. Kaos putih Fina yang kini basah semakin membuat dua benda kenyal wanita itu membuat Pandu gelisah. Pandu menyerahkan kaos warna hitamnya kepada Fina.


" Pakailah, aku akan keluar dulu!" Pandu menyerahkan kaosnya kepada Fina. Otaknya bisa saja bablas jika melihat pemandangan erotis macam itu.


Fina tertegun menatap kaos hitam milik Pandu. Jilatan kilat membuat Fina terperanjat. Ia buru-buru menyambar baju Pandu lalu segera memakai.


Entah akan sampai berapa lama mereka akan berasa disana.


Semoga saja yang ketiganya, bukanlah setan.


.


.


.


to be continued