Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 65. Bala Bantuan



Bab 65. Bala Bantuan


^^^" Sesulit apapun keadaan, yakinlah selalu ada pertolongan!"^^^


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


...Flashback end...


Bayu


Bayu tersenyum kepada Pandu. Ia mendecak kagum akan kemampuan bela diri pria ganteng itu.


" Raditya Andromeda!"


" Pria itu sudah kupecat beberapa waktu yang lalu atas kasus penggelapan dana dan telah berkhianat!" Ucap Bayu lantang menatap wajah Pandu.


" Apa?" Pandu tentu saja sangat terperanjat. Jadi, ia telah salah rumah? Tapi tunggu dulu, bukankah ia tak boleh secepat itu percaya?


Dan mengapa Bayu bisa ada di situ?


" Aku tidak percaya dengan ucapanmu!" Dengan wajah datar Pandu menatap Bayu yang kini masih tersenyum. Sungguh, tak sia-sia ia memerintahkan anak buahnya untuk menyerang Pandu.


Semua itu ia lakukan untuk menjajal kemampuan Pandu yang terlihat tangkas. Bayu berniat dan berminat ingin merekrut Pandu karena ketangkasannya kala berkelahi dengan tangan kosong.


Benar-benar sesuai kriteria.


" Sebaiknya kamu percaya!" Bayu tersenyum ke arah Pandu. Mencoba menyalurkan energi positif.


" Aku tidak akan pernah percaya dengan anjing seperti kalian!"


Rendy yang berada di balik kemudi benar-benar tak percaya jika pria badas itu berani berkata kurang ajar kepada bosnya.


Pun dengan ke empat anak buah Bayu yang masih meringis kesakitan usai di hajar oleh Pandu.


Bayu kini semakin mendekati Pandu yang terlihat berkeringat usai beradu tenaga dengan anak buahnya.


" Ikutlah denganku, dan bekerjalah bersamaku!" Bayu menatap lekat dua netra Pandu.


Pandu sebenarnya terkaget saat mendengar Bayu mengucapkan hal itu.


" Kau bisa menemukan pria itu setelah ini!"


" Karena aku juga sedang memburu pria itu. Pria yang menggelapkan dana perusahaan!" Bayu bahkan menunjukkan secarik kertas berisikan beberapa informasi.


Pandu dengan wajah sengit menatap Bayu lalu menyambar kertas itu. Ia membaca dengan pelan. Benar, pria bernama Raditya itu memang benar-benar telah di pecat.


" Aku melihatnya ada di daftar karyawan mu!" Pandu menatap datar wajah Bayu.


" Itu hanya masalah update data. Meski aku belum tahu apa yang mendasarimu untuk mencari anak itu, tapi melihat kenekatanamu jelas masalahmu tidaklah ringan!"


Bayu berusaha berdiplomasi saat itu. Selain itu, ia merasa Pandu merupakan orang baik yang terbungkus cara lain.


" Aku akan mencari pria itu dengan caraku sendiri!" Pandu menyerahkan selembar kertas itu kepada Bayu dengan kasar.


" Hey! Jaga kelakuanmu!" Ucap Rendy yang kini geram. Sedari tadi ia menahan dirinya demi melihat Pandu yang sama sekali tak segan kepada Bayu.


Bayu mengangguk dan mengangkat tangannya seraya memberikan isyarat bagi Rendy untuk diam.


Membuat Rendy mendengus.


Apa yang di lakukan bosnya itu. Tak pernah sebelumnya ia merendah di hadapan orang lain.


" Aku akan membayarmu dengan gaji besar!" Teriak Bayu saat Pandu kini lebih memilih mengencangkan ranselnya dan memilih berjalan pergi tak peduli.


Pandu tak mengenal siapa mereka.


Bekerja? Gaji besar?


Cih!


Apa mereka gila. Ada ibu yang menungguku dirumah!


.


.


.


Serafina


" Jam berapa mbak check out nya?" Fina kini berada di depan meja resepsionis hotel dengan wajah penuh pertanyaan. Tangannya sedari tadi sibuk mengetuk- ngetuk mengkilat dari marmer itu.


" Pagi mbak, pukul lima tadi. Dan oh iya, tadi ada titipan untuk mbak Fina!" Resepsionis hotel itu terlihat ramah. Seusai standar pelayanan yang telah di SOP kan.


Fina mengernyit heran, titipan apa?


" Tadi mas Pandu nitip untuk memberikan ke mbak Fina ini!"


Dengan terheran-heran, Fina menerima sebuah amplop coklat yang rupanya berisikan uang. Ya, sejumlah uang yang digunakan Fina untuk check-in di hotel itu.


Apakah Pandu bermaksud mengganti uang menginap disana? Astaga Pria itu!


Kini Fina semakin dibuta bingung. Kemana perginya pria itu, dan mengapa harus mengganti uang segala sih?


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚...


Pandu


Wajahnya tenang, tapi tidak dengan suasana hatinya. Pandu meninggalkan Bayu dan anak buahnya tanpa menoleh lagi. Ia terus berjalan entah kemana. Lagipula ia benar-benar tak tahu tujuannya setelah keluar dari hotel melati itu.


Namun lagi-lagi malang tak dapat di tolak, dan untung tak dapat di raih. Sesuatu terjadi saat ia telah jauh meninggalkan Bayu beserta anak buahnya dengan penolakan.


" Jadi, apa yang membuat pria miskin sepertimu berada di sini?"


Cibiran dari mulut seseorang membuat Pandu mendongak. Benar. Itu benar adalah mantan pacar Fina.


Ya, di persimpangan jalan yang agak sepi, ia malah bertemu Riko. Tentu saja dengan keadaan yang kacau dan babak belur.


BRAK


Riko terlihat turun dan membanting pintu mobilnya. Pria itu rupanya tak sendiri. Ada beberapa pria yang ikut bersamanya.


Riko seperti bis mafia yang tengah menghadang seorang musafir.


" Kenapa wajahmu? Habis nyolong? Habis di gebukin orang?" Riko mencibir tepat di hadapan Pandu. Benar-benar seolah meludah diatas tubuh yang resah.


Pandu sekuat hati menahan kegeraman dengan wajahnya yang selalu berpembawaan tenang. Berhadapan dengan manusia macam Riko benar-benar membuat ingatannya akan Ayu kembali.


Pria Brengsek!


" Kenapa kau lakukan itu?" Ucap Pandu datar. Wajahnya begitu mengintimidasi. Ada kilatan kemarahan disana.


Riko tergelak mencibir " Melakukan apa? Memangnya apa yang kulakukan?" Riko benar-benar bermulut licin.


" Justru aku yang harus bertanya, apa yang kau lakukan dengan kekasihku hah?" Riko menatap sengit Pandu. Ia masih terbakar cemburu kala mengingat bibir Pandu yang di kecup oleh Fina tempo hari.


" Kau yang membunuh adikku!" Pandu kini menatap bengis ke arah Riko.


Riko mendelik, darimana pria itu tahu?


Namun Riko tetaplah Riko. Tentu saja ia harus survive.


" Hati-hati kalau bacot elu ngomong. Elu ngomong enggak pakai bukti, bis gue tuntut lo atas kasus pencemaran nama baik!"


Pandu kalah telak. Ia memang tak memiliki bukti konkret memang saat ini. Untuk itulah ia harus menemukan pria bernama Raditya.


Meski ia sendiri juga belum yakin apakah Raditya yang melakukan, atau orang lain yang bersamanya. Tapi setidaknya, pria bernama Raditya itu jelas merupakan kunci yang biasa ia gunakan untuk membuka tabir ini.


" Pria miskin!"


BUG


Pandu tak kuat lagi menahan bacot Riko yang tanpa sungkan kerap merendahkannya. Ia melayangkan bogem mentah itu ke rahang Riko degan begitu keras.


Riko bahkan merasa kepalanya seketika pusing dalam waktu sepersekian detik.


" Anjing!" Riko mengusap rahangnya yang terasa pedih. Membuat Riko kini memerintahkan orangnya untuk menyerang Pandu.


" Bereskan anjing ini!!"


Pandu mau tak mau harus kembali menghadapi orang- orang dengan tenaga yang banyak itu.


Riko dengan cepat masuk kembali kedalam mobilnya. Ia tak mau sampai ada orang yang melihat dirinya berkelahi dengan orang diluar. Bisa Panjang urusannya kalau sudah menyangkut mama Rengganis.


Sekuat tenaga Pandu menangkas, melawan juga bertahan dari serangan empat anak buah Riko.


Namun tentu saja selain kalah jumlah, cara lawan yang bermain keroyokan dengan ngawur itu jelas tak seimbang. Selain itu, Pandu juga masih belum sehat betul usai perkelahiannya semalam.


" Mampus Lo!" Sebilah pisau kini hendak menusuk Pandu. Namun ia berhasil menghindar dan kini malah mengenai lengannya.


" Argggggghhh!" Tentu saja Pandu meringis. Sakit dan perih kini bersarang di lengannya.


BUG


Pandu kini ti tempeleng oleh salah seorang anak buah Riko yang lain dengan keras. Membuat Riko kini tersenyum puas diatas mobilnya.


BUG


Tak berhenti disitu, seroang lain kini kembali meninju wajah Pandu hingga darah segar muncrat lalu mengalir dari dalam hidungnya. Terasa berdenyut dan pedih.


Apakah Pandu selesai disitu? Mungkinkah jika niat ingin balas dendam atas kematian adiknya harus tertahan sampai disitu?


Namun sesulit apapun keadaan, kita harus percaya bahwa pertolongan itu selalu ada.


DOR


Seringkali Tuhan mendatangkan pertolongan dari jalan yang sama sekali tiada pernah kita sangka.


DOR


Suara tembakan terdengar dari arah berlawanan. Membuat anak buah Riko yang mengeroyok Pandu kini kocar-kacir tak karuan.


Riko membulatkan matanya demi melihat mobil dengan logo yang tak asing baginya.


" Cepat masuk goblok!" Riko dengan gusar memerintahkan anak buahnya untuk masuk ke mobil.


DOR


Suara tembakan masih saja terdengar dari sana. Sebuah misil yang mengenai body mobil Riko. Membuat kaca mobilnya retak dan nyaris pecah.


Namun, Riko terlah berhasil kabur dengan senyuman licik. Meski ia jelas akan dicecar oleh Rengganis nanti.


Persetan dengan itu.


Kini Pandu benar-benar mengerang kesakitan. Di tambah wajahnya yang benar-benar mengerikan. Darah segar dan bibir yang kini pucat karena sedari tadi ia belum makan apapun. Semakin memperburuk keadaan.


Bayu dengan wajah panik kini membanting pintu mobilnya, di samping itu seorang anak buahnya tengah memasukkan senjata api ke balik punggungnya. Anak buah yang tadi sempat dihajar oleh Pandu.


"Pandu! Bangun!" Bayu menepuk- nepuk wajah Pandu dengan raut yang menyiratkan kekhawatiran.


" Pandu!" Masih berusaha keras.


" Brengsek!" Ia bahkan mengumpat, membuat Rendy dan anak buahnya yang lain semakin ciut nyali.


" Bawa ke kantor, hubungi medis sekarang juga!"


.


.


.