
Bab 173. Setiap orang memiliki masanya
.
.
.
...πππ...
Sakti
Ia merasa gelagat Yudha sedikit aneh. Pria itu sedari tadi tak mau menanggapi sama sekali candaan mereka seputar Rara. Namun mendadak melarangnya saat Sakti berceloteh soal perempuan tadi.
Benar-benar mencurigakan. Apa pria bertubuh atletis itu juga menyukai Rara?
" Dong... kasih alasan yang jelas! Kenapa...lu juga suka Rara Yud?" Tanya Sakti menatap Yudha dengan tatapan tak biasa.
Yudha masih dalam mode wajah keruhnya, kini angkat bicara, " Intinya jangan deket sama dia, masih banyak cewek lain. Gue gak bisa cerita sekarang!"
" Titik, no debat!"
Keempat manusia lain yang berada di barisan jok depan mereka berdua benar-benar keki akan sikap Yudha yang benar-benar antipati terhadap Rara. Jelas hal itu kini menjadi hal yang sepertinya membuat Sakti dan Yudha dalam perdebatan sengit.
Yudha tak mau saja sahabatnya itu terjerumus lebih dalam lagi. Wanita itu bukan wanita baik-baik pikirnya.
" Udah..udah, kalian jangan berantem cuma karena cewek!" Suara Pandu terdengar menjadi penengah disana. Kekasih Fina itu tahu jika Sakti benar-benar tak suka dengan larangan Yudha.
" Sak!" Ajisaka mengedipkan matanya guna mengintruksikan kepada Sakti untuk diam dan jangan menyela lagi ucapan Yudha. Aji tahu, beberapa hari ini Yudha tengah mumet soal Hesti, dan jika pria cuek itu sudah berbicara agak panjang, itu menandakan jika apa yang ia katakan merupakan hak serius dan memiliki alasan lain.
Membuat Sakti mendengus.
Yudha bergeming. Ia masih lah orang yang selalu menjadi memegang prinsip, jika berbicara itu harus by data alias bukti. Untuk itulah hingga sekarang ia masih belum bisa berlega hati akan kehamilan Hesti, karena ia juga belum memiliki bukti.
Pun juga soal Rara. Wanita itu benar-benar mencopet malam itu, dan sialnya ia tak punya bukti untuk menunjukkan kepada para sahabatnya. Yang bisa ia lakukan saat ini hanya diam. Karena jika ia berbicara tanpa bukti, ia takut jika hal itu akan menjadi boomerang bagi dirinya.
" Percaya sama aku Sak. Wanita itu enggak bener, dia it...!" Yudha merasa Sakti saat ini jelas salah paham kepada dirinya.
" Diem lu Yud...!"Potong Sakti yang terlihat benar-benar marah. Membuat suasana disana menjadi canggung. Oh Shiit!!!
Dua anak manusia yang berada di urutan paling belakang itu, kini terlihat benar-benar saling dirundung gesekan persahabatan.
.
.
Hari berganti dan tiada seorangpun yang dapat mengindari. Usai terlibat dengan obrolan serius semalam dan menyetujui akan kepergian Ibunya bersama Bayu, ia pagi ini terlihat mendatangi ibunya.
Ya, semalam Pandu bahkan sengaja di tunggu oleh Bayu saat ia baru pulang dari bermalam Minggu, karena informasi ini bersifat urgent dan harus di sampaikan per segera kepada Pandu.
" Ndu...kamu beneran enggak apa-apa ibu tinggal?" Wajah Ambarwati muram. Sebesar apapun anak, ia masih lah seroang bocah dimata induknya.
Pandu tersenyum " Ya... enggak apa-apa lah Buk. Ibuk kan cuma mau ke kota X bukannya mau mengarungi samudera Pasifik kan?" Ucap Pandu berkelakar.
Merasa ibunya itu terlalu sering mencemaskan yang tidak perlu.
Ambar tersenyum demi mendengar putranya yang kini lebih sering bercanda dengan dirinya. Menandakan jika suasana hati putranya itu selalu baik dan stabil.
Rendy menelpon jika terjadi masalah di KJ. Mau tidak mau Bayu harus kembali. Bukan masalah serius sih, namun semua itu memerlukan kehadiran Bayu. Persegera.
" Udah, ibuk harus ingat ini, Kalau ibuk bahagia Pandu juga bahagia. Pandu bisa jaga diri. Ada Aji dan yang lain juga, ok?"
Pandu menatap ibunya dengan wajah meyakinkan. Sungguh, ia hanya ingin ibunya bisa mendapatkan ganti dari penderitaan yang bertahun-tahun membelenggu hidup mereka.
Dan dengan bersama Bayu, ia tahu jika pria itu pasti mampu untuk mengobati segala rasa, yang selama ini tak di berikan oleh Bapak kandungnya kepada ibunya itu.
" Ibumu susah di kasih tahu Ndu...Ayah udah kehabisan cara nih. Kalau kamu yang bicara, pasti dia mau dengar!"
Bayu tiba-tiba muncul dari arah belakang. Membuat Pandu terkekeh.
" Aman Yah, udah Pandu bekali barusan!" Ucap Pandu yang mengedipkan matanya sebelah kepada Bayu. Memberikan suatu tanda, jika ia merupakan sekutu Bayu.
Bayu tersenyum puas. Yeah, you're my son!
Membuat Pandu seketika menyuguhkan wajah serius.
" Secepat itu?" Tanya Pandu merasa belum percaya diri. Usahanya baru berjalan dan ia masih belum prepare apapun.
" Tunggu apa lagi? Niat baik harus di segerakan, betul enggak Bu?" Tanya Bayu kepada Ambarwati yang sebenarnya terkejut. Tidak tahu jika urusan ke kota X, juga untuk urusan keluarga mereka.
Ambarwati mengangguk, " Iya..betul!"
Entah harus merasa bagaimana dulu Pandu saat ini. Terlalu banyak kebahagiaan yang di hadirkan oleh Bayu. Pria itu dalam sekejap mampu menjelma sebagai sosok orang tua yang diinginkan oleh anaknya.
Pria bertanggung jawab dan sarat akan sikap budi pekerti, juga sebagai pengayom yang tiada banding. Bayu merupakan figur Ayah, yang patut Pandu jadikan contoh.
Sebagai orang tua, Bayu merasa ia adalah fasilitator bagi anaknya. Dan mengurus perintilan jelang pernikahan termasuk lamaran, jelas merupakan tugasnya sebagai orang tua.
" Mobilnya Ayah tinggal, itu mobil kamu!"
" Ayah beli mobil itu memang untuk kamu Nak!" Ucap Bayu memegangi kedua lengan atas Pandu. Pandangannya lurus dan menyiratkan ketulusan.
Pandu sejenak terkaget pun dengan ibunya. Sama sekali tak mengira jika Ayahnya itu bahkan memikirkan dirinya hingga sejauh ini.
" Tapi, Pandu rencananya mau beli sendiri Yah. Pandu....." Pandu merasa tak enak hati. Pria yang kini sudah menjadi suami ibunya itu terlalu baik untuknya.
" Udah, jangan ada penolakan diantara kita. Titik!", Membuat Pandu makin menelan ludahnya, "Lagian kamu juga perlu kendaraan buat mobilisasi kegiatan kamu di bengkel!"
Bayu kini memijit-mijit bahu kokoh Pandu dengan tatapan makin dalam dan tekun, "Jangan ragu kalau butuh bantuan!"
" Apa yang Ayah miliki, itu juga milik kamu. Kamu adalah anak Ayah sejak Ayah mengambil ijab kabul untuk ibumu. Dan jangan ragukan hal itu Nak. Ayah bangga dan senang bisa memiliki anak seperti kamu Ndu. Semoga kehidupanmu selalu beruntung !"
Bayu memeluk tubuh tegap Pandu dengan mata berkaca-kaca. Ia seperti merasa menemukan anaknya kembali yang telah tiada dalam sosok Pandu.
Selain wajah yang hampir mirip dengan mendiang putranya, mendengar rekam jejak kisah pelik hidup Pandu membuat dirinya yakin jika anaknya itu jelas akan menjadi petarung kehidupan sejati nantinya.
Ia berharap, di hari tuanya nanti ia bisa menyandarkan hidupnya yang renta, kepada pria seperti Pandu.
Pandu menyambut pelukan tulus seorang Ayah kepada anaknya itu, dengan air mata yang nyaris keluar, ia memeluk erat tubuh tegap itu. Sungguh, Pandu tak mengira jika ketika roda nasib telah berputar, mereka membawa serta kebahagiaan yang tiada terkira.
Hati dan jiwa Ambarwati seketika di selimuti rasa haru. Terimakasih Tuhan, terimakasih atas kebahagiaan yang tak terkira ini.
.
.
Yudha
" Yud, tadi ada perempuan kemari... kalau enggak salah namanya Hesti!" Ucap mamak saat dia masih tekun di depan laptopnya Minggu siang itu.
" Hesti?" Hatinya mendadak berdegup kencang. Jangan sampai wanita itu berbicara yang tidak-tidak kepada mamaknya.
Mamak mengangguk, " Tadi kau masih tidur. Enggak tega pula mamak mau bangunin kau!"
Yudha tertegun, mau apa wanita itu. Ia bahkan sudah melarangnya untuk datang kerumahnya.
" Tadi dia cuma nitip ini!" Mamak mengangsurkan sebuah kotak dengan bungkus kuning kepada dirinya.
Dengan rasa penuh ingin tahu, Yudha meraih benda yang di angsurkan oleh mamaknya itu.
" Tadi itu pacar kau Yud?" Kok enggak ada bilang ke mamak kau?"
Kini Yudha tertegun. Akan sangat runyam kalau mamaknya sampai tahu permasalahan yang tengah ia hadapi saat ini. Yudha tak menjawab, namun perhatiannya kini terfokus kepada benda di dalam kota itu.
Saat Yudha melirik mamaknya yang kini berjalan menuju luar, pria itu terlihat dengan cepat membuka isi kotak itu, sebelum mamaknya kembali.
" Astaga!" Yudha benar-benar terkejut demi melihat isi kotak itu. Ia tak bisa membayangkan jika mamaknya yang melihat ini, jelas ia akan mendapatkan masalah besar.
.
.
.
.