Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 122. Mengharapkan kesempatan



Bab 122. Mengharapkan kesempatan


^^^" Cinta yang kuberi sepenuh hatiku, entah yang ku terima aku tak peduli!"^^^


^^^( Ebiet G Ade)^^^


^^^.^^^


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Serafina


Ia tak hentinya menatap wajah rupawan milik pria yang telah menjadi kekasih hatinya itu. Ya... meski Pandu belum menyatakan secara langsung sih, tapi sikap serta perbuatannya sudah jelas menjadi penegas akan arah hubungan mereka.


" Kamu kenapa sih? Ada yang aneh sama aku?" Pandu menyadari jika Fina sedari tadi tak henti-hentinya menatapnya. Membuatnya insecure.


" Aku beruntung bisa sama kamu sekarang Ndu?" Fina terus saja tersenyum meski acara sarapan mereka yang agak terlambat itu telah usai.


Ya, kini mereka duduk menghadap ke arah luar dengan posisi saling bersanding tanpa jarak. Ehem ehem!


Pandu meraih tangannya yang lembut, menyatukan kedua tangan mereka satu sama lain. Pandu mencium punggung tangan Fina. Membuat hati Fina menghangat.


" Aku yang beruntung karena kamu mau sama pria mis...!"


" Psstttt!" Fina dengan gerakan cepat meletakkan jari telunjuknya yang satunya, di depan bibir Pandu. Ia tak mau lagi mendengar Pandu yang sering merendah seperti itu.


" Jangan lagi berkata seperti itu!" Fina mengusap lembut pipi Pandu dengan tatapan penuh cinta. Membuat Pandu menarik seulas senyum.


" I have something for you!" Fina kini tersenyum riang. Membuat Pandu mengerutkan keningnya.


" Apa?" Tutur Pandu yang melihat Fina kini tengah mengambil sesuatu dari arah samping.


" Ini, bukalah!" Fina menyerahkan sebuah benda yang terbungkus rapih, berukuran 30x40 cm kepada Pandu.


Pandu tersenyum menatap Fina dengan wajah penasaran. " Aku buka sekarang ya?" Ucap Pandu kembali.


Fina mengangguk senang sambil tersenyum penuh kepuasan. Tak sabar melihat reaksi Pandu.


" Wow!" Pandu takjub sekali dengan benda yang ia lihat, gambar wajahnya yang tersenyum itu kini tercetak diatas kanvas. Lukisan yang indah sekali.


Gambar yang spesial karena sang pembuat merupakan wanita yang ia cintai.


.


.


Pandu


" Sejak kapan?" Pandu menatap Fina usai mengagumi hasil karya indah itu.


" Aku melukis ini nyicil loh!"


" Saat kita ketemu pas mobil Oma mogok waktu dari rumah Yudha, waktu itu aku suka aja lihat sorot mata kamu yang tegas banget, lalu...ketika kamu sering kerumah Oma tanpa sengaja, sempat tertunda juga sih karena papa minta aku pulang ke sini!" Fina menerangkan dengan penuh kejujuran.


Pandu tak menyangka jika Fina rupanya melakukan semua ini. Oh astaga, ia merasa senang sekali.


" Jadi kamu naksir aku duluan?" Goda Pandu sambil menaik turunkan alisnya. Dasar Pandu!


" Enggak juga sih, palingan kamu yang naksir aku dulu!" Fina berkilah sambil mencebikkan bibirnya.


" Gak mau ngaku ya...ngaku enggak!" Pandu menggelitiki perut Fina, membuat wanita itu kini menghalau tangan Pandu yang membuatnya geli.


" Udah stop..iya iya..aku ngaku!" Fina merasa sakit sekali karena terus-terusan ketawa dan geli.


Mereka berdua cengengesan karena tingkahnya barusan. Mereka berdua bahagia saat ini, sangat bahagia.


Pandu merengkuh Fina dalam dekapannya. Mencium puncak rambut Fina dengan cinta. Ia sangat beruntung karena memiliki Fina yang tak silau harta, wanita nakal yang membuatnya merasa begitu di hargai sebagai pria.


" Makasih ya!" Pandu memejamkan matanya sambil menghirup aroma rambut Fina yang wangi, meresapi rasa kasih sayang yang ia harapkan akan berlanjut hingga nanti.


" Sayang!" Ucap Fina.


" HM!" Jawab Pandu masih memeluk Fina seraya memejamkan matanya.


" Kayaknya om Bayu suka deh sama Ibu kamu!"


Membuat Pandu langsung membuka matanya, lalu melonggarkan pelukannya. Sejurus kemudian ia menatap Fina dengan wajah serius.


" Jangan marah dulu!" Fina meraih jemari besar Pandu demi melihat reaksi Pandu yang agak terkejut.


"Itu hanya tebakanku saja, tapi jika benar itu bagus!"


Pandu masih tekun mendengarkan asumsi Fina yang kini menyita perhatiannya.


" Om Bayu pria baik, kami cukup kenal dengan beliau!"


"Ndu...orang tua sering merasa kesepian di masa senja mereka. Dan teman sejati mereka bukanlah anak-anaknya, tapi pasangan mereka. Aku tahu semua itu saat melihat Oma"


Pandangan Fina kini menerawang ke depan, terlihat sendu.


" Oma punya dua anak, Papa dan Pakde Basuki. Tapi dari mereka semua tak ada yang menemani Oma, mereka menjalani hidup dengan istri dan anaknya. Begitu juga dengan aku nanti" Fina tersenyum, membuat dada Pandu berdesir demi melihat sikap lain dari Fina saat ini. Terlihat lembut dan manis.


" Mungkin jika Opa ada, pasti mereka akan menghabiskan masa tua mereka bersama!"


Kini Fian menatap Pandu " Kamu ngerti kan maksud aku?"


Pandu menatap dua netra Fina dengan lekat seraya menelan ludah, semua yang di ucapkan Fina itu benar adanya. Ia nanti juga akan memiliki kehidupan sendiri pastinya.


" Itu hanya asumsiku, jangan terlalu di pikir!" Ucap Fina dari jarak yang begitu dekat. Membuat Pandu kini terusik dengan segar nafas Fina.


Satu detik


Dua detik


Tiga detik


Pandu meraba pipi wanita itu perlahan, sadar akan apa yang hendak di lakukan Pandu Fina memejamkan matanya. Bibir mereka kini saling menempel, saling menyambut ciuman satu sama lain. Pandu menangkup kedua pipi Fina sambil terus menye*sap bibir ranum itu.


Ah, terasa menggairahkan.


Kini, tangan Fina yang sedari tadi menganggur, berubah menyentuh dada Pandu. Sungguh, mereka berdua berharap perasaan cinta ini akan terus bersemi seiring berjalannya waktu.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Kalianyar


***


Ajisaka


Matahari sudah terlihat mengintip dari balik gunung sejak beberapa jam yang lalu, geliat para pekerja menjadi penanda jika hari baru telah mulai. Namun, pria satu ini justru masih bergulung selimut dengan malasnya.


" Mas..mas Aji!" Ketukan membabi buta dari Ibu Sukron membuatnya terusik.


" Mas!..."


" Astaga, jam berapa sih ini?" Gumamnya dengan suara parau sambil meraba-raba ponselnya yang ada di nakas sebelah ranjangnya demi mendengar suara ketukan dari pintu.


" Hah?" Ia melempar selimut putih tebalnya itu lalu segera menuju ke arah luar demi menyadari jika ini sudah pukul sembilan pagi.


Sial!


CEKLEK!


Bu Esi terlihat berdiri mematung di depan pintu kamarnya dengan wajah sungkan.


" Maaf mas mengganggu, tapi... itu ada tamu di depan!" Wajah ibu dari Sukron itu terlihat tak enak hati sebab mengganggu tidurnya.


" Enggak apa-apa buk, saya yang kesiangan ini. Ada apa ya?" Ia berucap sambil mengucek matanya.


" Ada tamu di depan mas, perempuan!"


Membuat Aji berpikir sejenak, siapa lagi yang datang pikirnya.


" Suruh masuk dan bilang buat nunggu saya sebentar. Saya mau mandi dulu!"


Kali ini waktu yang di ucapkan sebentar rupanya tidak meleset, Aji sudah rapi dengan jeans dan kaos polos warna hitam pagi ini hanya dalam waktu sebentar.


Rambutnya tersugar rapih dan terlihat basah efek dari minyak rambut kelas kakap yang ia sapukan bersama sisir tadi. Ganteng pol.


Keren abis lah pokoknya.


Ia berjalan ke ruang tamu dan melihat wanita berjilbab duduk ngobrol dengan wanita yang setiap hari membersihkan rumahnya itu.


" Ah..Pak Aji!" Wanita itu menyapanya lebih dulu, membuat Bu Esi turut menoleh ke belakang dan langsung undur diri dari tempat itu.


" Saya tinggal ke belakang ya Bu?" Ucap Bu Esi yang kini merasa tugasnya berbasa-basi telah rampung.


" Monggo Bu!" Sahut wanita paruh baya itu.


" Apa kabar Pak Aji, saya Bu Heni maaf mengganggu njenengan ( anda)!" Wanita itu mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Ajisaka.


" Saya baik Bu. Oh ...tidak ,saya yang minta maaf agak kesiangan pagi ini!" Ucapnya seraya tertawa kecil, sambil menyambut uluran tangan Bu Heni. Mereka berjabat tangan.


Membuat Sukron yang tengah sibuk mengelap mobilnya di depan, lagi-lagi terheran-heran demi melihat perubahan sikap dan mood bosnya itu.


"Sepertinya aura si bos lain belakangan ini!"


" Jadi apa ada yang bisa saya bantu Bu?" Ucap Ajisaka sejurus kemudian.


" Jadi begini Pak, saya merupakan salah satu guru di TK Kasih Ibu. Bermaksud mau meminta izin kepada bapak akan membawa anak-anak untuk wisata edukasi ke kebun bapak dan pabrik oleh-oleh milik Pak Aji!"


Ajisaka mengangguk paham " Oh bisa-bisa, kapan itu Bu?"


" Rencananya satu Minggu lagi pak, kami baru memulai tahun ajaran baru. Kebetulan karena pemilik kebun buah naga itu milik orang sini juga, jadi saya berniat ingin mengajak anak-anak untuk belajar!"


" Baik nanti info lagi tanggal pastinya ya Bu, saya biar bisa siapkan tempat. Karena ini anak-anak, jadi saya biar bisa ajak ke lokasi baru yang pohonnya masih belum banyak!"


" Biar aman!"


Ajisaka tak mau jika anak-anak itu malah terkena duri tajam dari buah jenis kaktus itu.


" Oh baik pak, saya terimakasih sekali karena Pak Aji sudah mengijinkan kami untuk belajar!"


" Sama-sama Bu!"


Usai guru TK itu pamit, Aji mencari Sukron.


" Kron Sukron!" Panggilnya kepada Pria berambut kuning itu.


" Ya bos?" Pria itu rupanya masih sibuk memvacum isi dalam mobilnya .


" Bilang Dino, buat prepare pabrik sama kebun buah naga putih di sebelahnya ya, seminggu lagi anak-anak TK bakal datang kesana!"


" Hah gak salah bos, nanti mereka kena duri gimana?" Sukron mengerutkan keningnya.


" Ya makanya aku minta siapin lokasi yang baru, biar aman!"


Lokasi yang baru tersebut memiliki jarak tanaman satu dengan tanaman lainnya yang terbilang agak lebar, sehingga dirasa aman untuk kunjungan anak-anak. Aji juga berpikir, palingan jumlah anak yang datang berkisar belasan hingga puluhan, jadi semua aman.


" Dari sekolah mana sih bos?"


" TK ...Kasih Ibu kalau gak salah!"


" Oh..TK nya bocah kemaren itu dong?" Ucap Sukron asal sambil terus mengelap mobil Aji hingga kinclong.


" Anak kemaren? Maksudnya cucunya Pak Atmo?"


Aji bergumam dalam hati, jika itu benar berarti ia akan bertemu lagi dengan wanita itu. Kini ia terlihat senyam-senyum sendiri. Dasar dasar!


Ah bodohnya! Kenapa ia tadi tidak bertanya apa wali murid dari murid-murid TK itu juga ikut? CK nyesel deh gak tanya dulu tadi!.


.


.


.


.



Like jangan lupa yang readersku yang tersayang πŸ€—πŸ€—πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜, sukur-sukur ngasih mommy mawar berduri 😁😁