Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 192. Tapak sebuah ikhtiar



Bab 192. Tapak sebuah ikhtiar


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Yudhasoka


Ia kembali mencoba menghardik secuil rasa aneh dalam hatinya namun sia-sia. Bayangan wajah wanita itu malah justru semakin menyesakkan otaknya. Bahkan di jam sepagi ini.


" Ngguya-Ngguyu dewe koyok wong edan!( Senyam-senyum sendiri kayak orang gila!)"


Pak Agus yang tengah duduk lurus, saat sarapan bersama putranya benar-benar tak bisa menahan untuk untuk tak bercelatuk, manakala Yudha makan sambil mesam-mesem.


Aneh sekali. Karena itu tak lumrah. Ia tahu sekali jika anaknya biasanya tak seekspresif itu.


" Naik gaji kau? Atau naik jabatan lagi?" Mamak dengan suaranya yang menggelegar turut menimpali.


Membuat lamunannya seketika buyar dan ambyar. Kabur lantaran terpecahkan oleh suara dahsyat mamak.


Hadeh! Perkara wanita rupanya dimana-mana sama ya? Ujung-ujungnya, pasti kalau tidak membuat edan karena ketawa-ketawa sendiri, ya jadi murung kayak si Sakti.


" Pingin nikah Mak!" Sahut Yudha asal.


TRUUEENG!!!


Bunyi Sutil featuring wajah yang gosong di bagian pinggirnya membuat Pak Agus, Arju dan juga dirinya tersentak. Astaga Mak!


" Udah ada calon kah kau?" Tanya mamak dengan mata berbinar.


Mamak terlihat sangat bahagia sekali saat ia mengucapkan kalimat asal itu. Benar-benar diluar dugaan.


Pak Agus sampai mendengus demi melihat wajah istrinya yang penuh harap. Dasar!


" Pacarnya Bang Yudha kan yang kemaren kesini bawa kotak itu bukan Mak?" Tanya Arju yang tumben mau ikut terseret arus obrolan manusia tua disana.


" Ngawur!!" Sergah Yudha cepat. Adiknya itu rupanya diam-diam mengamati. Ini tidak boleh dibiarkan.


"Pernah Abang ajak kemari pulak kan dia?"


Arju makin gencar membeberkan apa yang dia lihat beberapa waktu silam. Membuat Mamak kini menatapnya penuh selidik.


Yudha meringis, " Aman, Yudha kan ganteng mak. Banyak yang naksir itu wajar!"


"Arju Abang tunggu di mobil ya!"


Di dalam mobil,


" Kenapa bilang kek begitu ke mamak?" Tanya Yudha kesal kepada adiknya yang bermulut slong.


" Abang pernah nempel-nempel pas waktu...!"


" PSsstttt!" Yudha langsung meremas bibir lemes adiknya ,menggunakan tangan kirinya saat ia tengah sibuk menyetir. Oh astaga, se vulgar inilah yang dilihat adiknya?


Yudha jarang membawa motor saat ini. Lagipula, ini lebih baik guna menghindari Hesti yang kadang masih berkirim pesan aneh-aneh. Jika menggunakan mobil, ia masih bisa bersembunyi dari kejaran wanita itu.


" Ingat, ini rahasia kita. Dan kalau rahasia, itu artinya?"


" Enggak boleh di ceritain ke orang!" Sahut Arju mantap.


" Good, nanti kalau Abang gajian, kita jalan-jalan. Oke!"


Benar-benar licik.


Pria itu bahkan memanfaatkan keluguan generasi menunduk itu untuk menutupi kebusukannya. Tapi lepas dari pada itu, Yudha kini sebenarnya sudah merasa kapok untuk sekedar celap-celup.


Mengingat potensi kelicikan seperti kasusnya bersama Hesti, bisa saja terjadi lagi jika ia sembrono.


.


.


Rarasati


Ia sengaja bangun lebih awal agar urusannya cepat beres. Sama sekali tak tidur nyenyak sebab pikirannya ada banyak sekali hak yang sudah antre untuk di lakukan.


" Mbak tolong tinggalkan nomor telepon yang bisa di hubungi jika anda meninggalkan rumah sakit!"


Hal itu perlu di lakukan Rara ,sebab bapaknya ia pasrahkan sebentar kepada perawat selagi ia mengurus uang ke bank milik adiknya Ko Bian.


Dari rumah sakit, ia mengendarai motornya dengan hati bercampur- campur. Mulai dari resah akan nasib pekerjaannya lantaran ia sudah izin berulang kali, tentang bagaimana ia setelah ini harus mengupayakan kesembuhan Bapak, hingga beberapa bulan kedepan ia harus memikirkan untuk membayar setoran.


Hah! Benar-benar kompleks bukan?


Badai kehidupan menghantamnya tak kenal kasihan. Sungguh, ia ingin sekali menepi sebentar. Tapi, matahari seolah mengejarnya tiada henti. Menuntut dirinya dan tak sanggup untuk sekedar melawan.


Membutakan matanya akan semua keindahan. Menantang diri, untuk lebih bersikeras lagi. Huft!


" Oh dari Ko Bian? Kalau gitu...langsung saja mbak masuk ke ruangan yang di ujung, ruang head of Credits. Tunggu saja disana, langsung sama beliau!"


Ucap seorang wanita muda yang berseragam fit dan terlihat ramah, meski bingung sebab ia tak mendapat informasi apapun terkait peminjam khusus itu.


Ia berjalan sembari membaca satu persatu tulisan yang ada di dinding kaca hitam. Ada banyak sekali divisi rupanya disana. Rara masih tekun berjalan, dan pada akhirnya ia sampai di sebuah ruangan yang pintunya sedikit terbuka.


Samar-samar ia mendengarkan suara meradang, membentak dan memaki dari seorang pria yang berada di dalam ruangan itu.


Ia kembali membaca tulisan putih demi memastikan jika ia telah berada di ruangan yang benar. Meski suara yang terdengar, jelas membuatnya nyalinya saat ini ciut.


Jelas kemarahan pria itu seperti tercurah untuk dirinya. Tapi....


" Siapa disana?" Ia tersentak saat pria di dalam itu bersuara kembali. Namun kali ini lebih lembut.


Jelas pertanyaan itu di tujukan kepadanya.


Ia meneguk ludahnya terlebih dahulu, sebelum hendak masuk ke ruangan itu. Mengumpulkan keberaniannya yang mendadak menyusut kala mendengar suara marah-marah dari dalam.


Dengan pelan namun pasti, ia mendorong pintu dari kaca gelap itu.


DEG


Rara terkejut demi melihat pria yang berada di dalam ruangan itu. Menatapnya tak kalah terkejut dengan posisi masih memegang sebuah ponsel.


.


.


.


.


.


.


Yang belum baca kisah Abimanyu dkk, bisa mampir ya kak. Udah tamat juga.





.


.


.