Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 221. The real of celebrate love



Bab 221. The real of celebrate love


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Ajisaka


Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal saat Wida juga membuang pandangannya karena malu, dengan dua benda tabu yang di tujukan untuk mereka itu.


" Pakai itu Wid, kan gak enak udah di kasih tapi enggak di pakai!" Goda Aji yang melihat wajah istrinya memerah. Pria itu mengerlingkan matanya genit ke arah Wida yang sering tadi geli.


" Ini baju apa mas, sama aja enggak pakai baju dong kalau pakai ini" Wida mendengus, ia bahkan tidak pernah tahu jika pakaian seperti itu ada yang menjualnya.


Bagaimana menjahitnya?


Pakaian yang hanya digunakan untuk menjerat hasrat, dan akan segera cepat-cepat di campakkan begitu dikenakan. Pakaian aneh.


" Kalau aku pakai ini, mas juga mau minum itu?" Tanya Wida dengan senyum smirk. Memangnya dia saja yang bisa menggoda?


Aji melebarkan matanya, " Kamu meragukan aku? Aku enggak perlu pakai ini juga udah tahan lama Wid!" Aji menggelitik perut Wida sebab wanita itu bisa-bisanya meragukan keperkasaannya.


Membuat Wida terjerembab diatas sofa yang mereka duduki, dan tanpa sengaja Aji turut menimpa tubuh Wida, membuat keduanya kini saling menatap mesra dengan napas yang kembang kempis usai bercanda.


CUP


Aji mengecup sekilas bibir Wida yang terasa dingin akibat guyuran air tadi. Harum vanila dari sabun yang digunakan istrinya sewaktu mandi tadi itu , makin menyulut geloranya yang selama ini tertahankan.


" Pak..tadi mas Suk..."


" Astaga maaf pak saya..." Ucap seorang pria yang tak sengaja melihat dua manusia itu. Soalnya setahu dia tadi, pak Aji dan istrinya masih tekun membuka kado di sofa itu.


Aji dan Wida kini duduk dengan wajah gelagapan karena takut orang lain akan salah paham.


" Kenapa Ko?" Ia bertanya kepada Eko yang sepertinya hendak menyampaikan sebuah pesan namun kini keki.


" Tadi mas Sukron bilang kalau mas Damar ikut dengan beliau, tidak mau ikut orangtuanya Bu Ambar tadi!" Ucap Eko yang belingsatan karena baru memergoki dua orang yang tumpang tindih walau sebenarnya tidak sengaja.


Aji seketika keranjingan saat menatap Eko yang juga canggung. " Oke Ko makasih ya, nanti kamu atur yang lembur sampai malam beresin ini, kasih notanya ke saya besok ya?"


.


.


Widaninggar


Ia berjalan terbirit-birit karena malu akibat kepergok. Astaga, semua ini gara-gara mas Aji. Ia meninggalkan suaminya yang nampaknya masih sibuk memberikan arahan saat para pekerja membongkar perintilan acara pestanya tadi.


Hati Wida menghangat demi membaca pesan dari kang Darman.


" Dia sama anak buahnya suami kamu yang rambutnya biru itu tadi. Enggak mau kami ajak pulang Wid. Biarkan sudah, tadi aku sudah meminta nomer orang orang itu dan barusan aku telpon. Damar langsung tidur tadi katanya, mungkin capek. Kamu tenang saja!"


Bersyukur karena hidupnya kali ini di kelilingi oleh orang-orang baik dan penuh pengertian. Ia menatap lingerie yang hadiahkan oleh Sakti yang ia letakkan di atas kasur besarnya itu.


Sedikit geli sebenarnya, tapi....jika itu bisa membuat suaminya bahagia, tidak ada salahnya ia mencoba.


Dengan langkah yang masih ragu, ia meraih benda yang terasa klunyur ( licin) sewaktu di pegang itu. Mas Aji masih berada di luar, entah apa yang di obrolkan oleh suaminya itu kepada para pengurus. Aji menugaskan Eko untuk mengurus semuanya, Aji maklum karena Sukron kini tengah mengemban tugas yang lebih mulia, yakni momong anaknya.


Wida terlihat malu dan geli ,saat melihat dirinya yang mengenakan pakaian teramat sexy yang nyatanya sangat pas di tubuhnya itu.


Dua dadanya yang mon*tok itu juga terlihat makin menyembul dan nyaris tak menutupi bagian dari benda itu. " Astaga, kok begini ya?" Wida bergumam karena ia merasa tida pede.


Ia bagai melihat seroang model majalah dewasa saat mematut dirinya ke cermin. Sexy dan terlihat liar.


Wida membulatkan matanya saat ia melihat mas Aji yang mematung manakala menatap dirinya yang sudah mengenakan lingerie sexy itu. Membuat Ajisaka buru-buru menutup pintu kamarnya lalu dengan cepat menutup pintu kamar.


Wida benar-benar malu. Ia sebenarnya akan melapisi pakaian itu dengan penutup gaun satin yang ada di lemarinya. Dan berniat memberikan kejutan pada suaminya, saat suaminya menyusulnya berbaring nanti.


Namun ia tak menduga, jika Ajisaka akan kembali secepat itu. Dan membuatnya kini justru terkejut.


" Wid?" Wajah Aji sumringah dengan mata yang tak hentinya menyiratkan gelora tinggi. Tak mengira jika Wida sudah berani menggodanya.


" Aku..." Wida benar-benar malu, sungguh ia bahkan tidak percaya diri.


" Kamu sengaja mau goda aku ya Wid?" Aji seketika membuka kaos dan melempar pakaiannya itu ke sembarang arah. Dalam terangnya lampu kamar yang menyulut sempurna tubuh dua anak manusia itu, Aji kini memeluk Wida yang terlihat menggairahkan.


" Kamu sexy banget kalau begini, astaga!" Aji kini meraba punggung terbuka Wida yang membuatnya semakin tak tahan.


Kulit dada bidang Aji yang kini sudah tak mengenakan apapun itu membuat tubuh Wida mengeluarkan gelenyar aneh. Oh astaga, jelas ia akan habis malam ini oleh suaminya itu.


Dalam posisi yang masih berdiri, Aji meraup bibir Wida dengan rakus. Pria itu meluumat, menyesaap serta meremas bo kong Wida dengan gelora yang membuncah.


Wida terlihat meraba punggung kekar Aji yang kini gencar menyerangnya itu. Merasa sulutan panas itu, makin menjalari tubuh mereka satu sama lain.


Di saat yang bersamaan, Wida yang merasa aset berharga milik suaminya telah bangkit dari tidurnya itu, kini merasa jantungnya berpacu dengan cepat.


Aji mengarahkan dirinya menuju sofa yang berada sangat dekat dengan dirinya, dan berniat duduk disana. Ya.. pria itu kini mendudukkan tubuhnya dengan bibir yang masih saling berbelit seraya meremas semua bagian tubuh istrinya.


Aji mendudukkan Wida keatas tubuhnya dengan posisi saling menghadap. Benar-benar posisi yang pas. Pria itu kini terlihat memutar kuncup yang menerawang di balik kain yang mirip kelambu bayi itu, dengan lembut dan penuh gejolak. Bibir yang saling sesap itupun makin beringas dan tak terkendali.


" Ahhh!" Wida melenguh manakala Aji memilin dua benda pemantik rasa gila itu, dan membuat ia merasa turut dijalari sesuatu yang kian menuntut, memaksa dan mendesak untuk melebur sesuatu yang tertahan.


Wida yang kini merasa segala sesuatunya telah legal, terlihat lebih ekspresif. Wanita itu bahkan terlihat melepas celana panjang yang di kenakan suaminya beserta penutup aset keramat itu tanpa di komando. Jelas membuat Aji senang akan keagresifan sang istri.


Lingerie transparan itu masih terlihat Wida kenakan, tak risih dan tak juga merasa terganggu. Aji dengan gerakan tak tertahankan, kini melepas bagian bawah pakaian istrinya yang bak jaring berharga mahal itu.


Membuat Wida semakin tiada dapat menahan gelombang panas yang menuntutnya.


Wida kini mengarahkan benda yang sudah terjaga itu untuk memasuki dirinya. Menggiring benda keras yang tiada bertulang itu, menuju liangnya. Dalam posisi woman on top, Aji terlihat mendesis dan memejamkan matanya manakala rasa gila itu kembali ia nikmati saat mereka telah menyatu.


Aji meraup kuncup yang mengeras itu saat Wida mulai menaik-turunkan tubuhnya. Ya, mereka berdua kini merayakan cinta mereka diatas sofa yang berada di kamarnya. Benar-benar gila dan terasa menyenangkan.


" Eughh!" suara- suara sejenis terdengar keluar dari mulut kedua manusia yang dilanda gelora itu. Aji yang menikmati permainan istrinya, dan Wida yang nyatanya tak bisa menyembunyikan lagi perasaannya yang juga memerlukan hal itu.


Kamasutra bagi siapa saja.


Wida menengadah dan tubuhnya terlihat mengejang , saat ia merasa bagai tak menjejak bumi lagi. Ia merasa bagai tak bertulang dan lututnya bergetar hebat saat ia telah mencapai puncak kenik*matan itu.


Membuat Wida mencengkeram kuat kepala Aji ,yang saat ini masih berada di bawahnya dengan bibir yang masih menyesap dua benda berbentuk kuncup itu.


This is the real of celebrate love.


.


.


.


.


.


.


.


l