Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 230. Getaran sanubari



Bab 230. Getaran sanubari


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Sakti


Ia segera mempersiapkan diri untuk menuju ke ruang briefing manakala Anjana sudah berputar hendak menuju arahnya. Jangan sampai wanita itu tahu bila dia menguping.


Gengsi? Sudah pasti iya.


Namun Sakti terkejut manakala saat ia memasuki ruang briefing yang besar itu, ia hanya menemukan Tuan Liem yang duduk membelakangi dirinya seorang diri. Membuatnya heran. Kemana yang lain?


" Tuan?" Ucap Sakti dengan berjalan menuju ke deretan kursi yang masih kosong. Menepikan keheranan yang mendadak menyeruak.


" Masuklah!" Ucap pria itu kini memutar kursi singgasananya.


" Mana yang lain? Kenapa....masih sepi sekali?" Sakti bingung, padahal jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan.


" Kita tunggu, mungkin masih siap-siap!" Jawab Tuan Liem bohong, padahal ia sengaja meminta waktu untuk sedikit demi sedikit memberikan clue kepada Sakti.


Tuan Liem terlihat menekan sebuah tombol remote, yang membuat rak buku besar yang menyatu dengan sebuah dinding bercat putih bersih itu ,terbuka secara otomatis.


Sakti terkaget, wow amazing!


" Tuan, pintunya?" Pria sableng itu bahkan menunjuk ke arah pintu depan yang mendadak di tutup oleh Tuan Liem, dengan wajah bodohnya. Kok di tutup?


Tuan Liem tersenyum manis. " Kemarilah, hari ini waktunya kamu mengenal Vineyards ini lebih dekat!"


Sakti tercenung dan masih diam tanpa banyak bertanya, seraya mengikuti pria tua itu berjalan. " Mau kemana dia?" Gumamnya pelan dengan suara yang nyaris tak terdengar.


Ruangan besar itu rupanya memiliki pintu otomatis. Menampilkan sebuah ruangan lain yang lebih berdesain futuristik dan mewah.


" Wah gila, benar-benar sultan nih orang!" Takjub dalam hati.


Sakti terpana menatap ruangan besar itu. Ruangan yang biasanya ia jumpai dalam film-film yang pernah ia tonton bersama para sahabatnya dulu.


Ada sebuah foto besar, foto seorang wanita cantik dengan senyum yang membuat Sakti tertegun. Wanita itu bertubuh semampai, memakai gaun biru dan berfoto dengan pose duduk diatas kuris dengan cara yang elegan.


" Siapa dia?"


Dari tempatnya berdiri, ia bahkan terpana manakala menatap foto yang entah mengapa terasa mendebarkan hati dan perasaannya.


" Dia anakku satu-satunya!" Ucap Tuan Liem. Membuat Sakti menoleh.


" Hah, anaknya?"


Sejurus kemudian , ia kembali melayangkan pandangannya ke arah foto berukuran sangat besar itu. " Kenapa aku seperti mengenalinya?"


Tuan Liem berdiri di dekat jendela, wajahnya kini di terpa oleh suluhan cahaya dari luar. Wajah pria itu terlihat menerawang. " Kau tidak akan pernah menemuinya disini!" Jawab Tuan Liem seraya tersenyum sumbang." Karena dia sudah berada di tempat yang paling tenang!"


Kini tuan Liem dan Sakti saling berpandangan. Sakti masih tak mengerti apapun, namun entah mengapa ia merasakan sesuatu yang tak bisa dijelaskan manakala menatap foto wanita ayu dengan mata sipit itu.


" Apa.. maksud anda, dia sudah meninggal?" Tanya Sakti ragu. Terlihat sungkan dan takut jika menyinggung pria tua itu.


Tuan Liem tersenyum lebar. " Dulu aku hampir tidak bisa menjalani hidup manakala tahu, jika dia pergi dan saat kutemukan kembali sudah dalam keadaan tak membuka matanya untuk selamanya." Ucap Tuan Liem yang kini berjalan mendekati Sakti. Membuat Sakti merasa aneh. " Tapi sekarang, aku sudah memiliki alasan untuk terus hidup!"


Sakti semakin tak mengerti arah pembicaraan pemilik perkebunan itu. Terlebih, pria itu terlihat berkaca-kaca manakala mengajaknya berbicara.


Bukankah ini terlalu lebay, mengajaknya berbicara hal krusial macam ini? Haish!!!


" Lihatlah!" Tuan Liem memberikan Sakti sebuah album, yang berisikan foto-foto saat Fenny masih belia.


" Ini anak anda?" Sakti menatap pria tua itu dengan alis bertaut. Sakti terkesima dengan wajah wanita itu. Ada rasa hangat yang menelusup ke relung hatinya. Perasaan damai yang tak bisa ia jelaskan.


" Apa dia belum menikah?" Tanya Sakti yang selama ia menelisik foto-foto itu, tak mendapati foto pernikahan maupun foto keluarga yang utuh dalam album itu.


" Dia tidak menikah. Tapi memiliki seorang anak!" Jawab Tuan Liem.


" Jika masih hidup, mungkin usianya sudah lebih dari kepala empat!"


" Tidak menikah namun memiliki anak? Bagiamana bisa?"


Dan pengalamannya akan foto-foto tadi, sukses membuat Sakti tak enak dalam melakukan hal apapun. Seperti saat ia briefing kali ini, wajah wanita tadi benar-benar membuatnya penasaran. Ada hal aneh yang seperti mengganjal sanubarinya.


Mengapa foto wanita itu mengusik dirinya, dan entah mengapa wajah wanita itu terus terngiang-ngiang.


" Apa aku masih mabuk?"


Ia bahkan tak memperhatikan Pieter yang sibuk menerangkan project-nya kedepan, terkait pengolah produk anggur yang baru.


Sama sekali tak menyimak, bahkan pikirannya justru berkelana ke antah berantah. Membaut Anjana yang berada di sampingnya, turut menatap Sakti yang kini terlihat berbeda.


" Siapa wanita itu, kenapa aku seperti mengenalinya?"


.


.


.


.


Mr. Sableng