Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 32. Rasa kurang percaya diri



Bab 32. Rasa kurang percaya diri


^^^" Aku adalah insan yang tak punya, cuma rasa cinta membara. Kau tercipta, rinduku padanya...."^^^


^^^( Iklim)^^^


...☘️☘️☘️...


.


.


.


Di dalam rumah Bu Asmah


Suara motor Yuni membuat dua insan yang saling memeluk itu seketika tersentak, dan langsung melonggarkan pelukan mereka satu sama lain.


Fina menjadi yang paling tak bisa menyembunyikan kegugupan. Sementara Pandu, ia terlihat menetralkan kegugupan hanya dengan sekali berdehem.


Begitu mudah.


" Loh, ada Pandu!" tukas Bu Asmah yang kini berjalan kedalam rumah, seraya membawa belanjaan. Wanita tua itu ingin jalan-jalan ke pasar bersama Yayuk.


" Yuk, bawa kedalam yang ini!" ucap Bu Asmah kepada Yayuk. Membuat wanita itu seketika undur diri dari hadapan tiga manusia di ruang tamu.


"Iya Bu, kebetulan tadi..." ucapan Pandu terjeda sebab Fina mengedipkan matanya berulangkali, sebagai tanda agar Pandu tutup mulut soal kejadian barusan.


" Tadi lewat jalan sini, terus mampir!" Ucap Pandu usai di intimidasi oleh Fina. Pria itu sudah dipaksa berbohong oleh Fina. Kini Fina meringis menatap Bu Asmah yang juga ramah menatap Pandu.


Fina mengembuskan napas lega. Jangan sampai Bu Asmah tahu bila Riko datang kesana dan membuat keributan. Ia takut bila Guntoro kembali salah paham.


" Oh, kalau gitu sekalian aja sarapan, ini saya kebetulan beli nasi jagung tadi. Ayo Ndu...!"


Pandu tak enak hati, ia juga masih ada pekerjaan lain dirumah. " Maaf Bu Asmah, saya mau pulang saja Bu, tadi saya habis antar motornya Yudha, terus mampir lihat Fina melukis tadi. Saya masih ada pekerjaan dirumah!" ucapnya menolak.


" Oalah, ya sudah kalau begitu lain kali aja ya. Fin jangan lupa nanti siang kamu ke Pak Broto ya. Kamu harus mulai bantuin Oma. Saya kedalam dulu ya Ndu!" ucap Bu Asmah sembari berlalu menuju ke dapur.


Fina tak mendengarkan ucapan Bu Asmah. Ia fokus kepada Pandu yang kini sudah berdiri hendak pamit untuk undur diri.


" Untung Oma gak lihat ini kamu!" ucap Fina seraya menyentuh kembali sudut bibir Pandu penuh kekhawatiran.


Seketika kesunyian kembali menyeruak.


" Aku...balik dulu ya!" ucap Pandu yang rupanya grogi.


Fina mengangguk. Pandu saat itu juga membalikkan badannya dan berjalan menuju arah luar. Meninggalkan Fina yang berdiri menatap punggung lebar Pandu.


" Pandu!" panggil Fina. Membuat langkah pria itu terhenti.


" Ya?"


" Makasih!" Fina tersenyum tulus, menampilkan wajahnya yang begitu cantik.


Pandu mengangguk seraya tersenyum, sejurus kemudian ia membalikkan badannya kemudian mengembuskan napasnya. Entahlah, ada jalaran rasa aneh yang menghinggapi relung hatinya.


...☘️☘️☘️...


" Bibir kamu kenapa Ndu?" Ambarwati berucap tatkala melihat Pandu yang tengah duduk di dudukan dari anyaman bambu, yang berada di belakang rumahnya sembari sibuk melihat sudut bibirnya pada bayangan cermin.


" Gak kenapa-kenapa Buk. Tadi gak sengaja ada semut api betina yang gigit Pandu!" ucapnya asal.


Ambarwati menatap heran Pandu, " Aneh-aneh ae ( aja), darimana kamu tahu kalau betina. Kamu tadi di cari Lik Sarip. Suruh kerumahnya tadi kamu, gak tahu kenapa!"


Pandu masih sibuk meringis melihat luka bekas hantaman Riko yang kini mulai lebih membiru. " Palingan rewel lagi!"


" Gak orang gak motor sama-sama uzur!" ucap Pandu sembari berdiri. Ia ingin menyantap sarapannya pagi itu.


Ambarwati menggelengkan kepalanya mendengar ucapan anaknya itu. " Gitu-gitu juga sering kasih rejeki buat kamu Ndu!" ucap Ambarwati seraya mulai mencuci perabot kotor.


"Lik Sarip itu bukannya gak mampu beli Buk. Dia emang seneng rempong begitu!" ucapnya kini sambil mengambil piring kosong di depannya.


Seketika suasana senyap. Hanya terdengar suara penanak nasi yang dibuka oleh Pandu.


" Buk?" tanya Pandu sembari duduk mengipasi nasi panas di depannya dengan kipas plastik.


" Ibu pernah bilang kalau pingin cepet punya mantu kan?" tanya melirik ibunya, di sela-sela kesibukannya mengipasi kepulan nasi itu.


" Kamu udah punya pacar?" ucap ibu Pandu sambil melihat anaknya dengan wajah serius.


" Belum sih!" Pandu tergelak demi melihat wajah serius ibunya.


" Kamu ini gimana to, ngerjain orang tua!" dengus Ambarwati kesal.


Pandu masih tergelak lepas. " Intermezo Buk!" Pandu terkekeh. Hatinya berbunga-bunga demi mengingat rasa bibir Fina yang menempel ke bibirnya tadi. Meskipun tak senagaja, tapi...rasanya benar-benar ciamik.


" Pokonya kalau cari menantu buat Ibuk yang sepadan aja Ndu. Yang bisa ngurus kamu, ingat keadaan kita, apalagi kamu ini laki-laki. Wajib hukumnya untuk mencari nafkah!"


" Kita ini begini keadaannya!"


Kini tawa Pandu berangsur tak terdengar. Ucapan ibunya jelas membuat kesadarannya dalam mode tahu diri.


" Ibuk benar Buk!" ucapnya tertunduk seraya tersenyum kecut.


Ia dan fina jelas memiliki bentang kasta yang tak terukur. Bagai siang dalam malam.


.


.


.