Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 67. Sebuah Tawaran



Bab 67. Sebuah Tawaran


^^^" Ganjaran kerendahan hati ialah kehormatan!"^^^


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Mbak Waroh


Munawaroh kembali berjalan menuju luar sewaktu dentang bel rumah majikannya itu kembali terdengar.


" Sebentar!" Ucapnya lantang sembari berjalan dengan langkah setengah berlari.


Wanita yang mengabdikan diri selama puluhan tahun di keluarga Guntoro itu terlihat tergopoh-gopoh sewaktu menuju pintu utama.


KLAK KLEK


Matanya membulat kala melihat sepucuk senjata api yang terdengar baru saja di kokang oleh seorang pria asing di depannya, sesaat setelah ia membuka pintu rumah itu.


Senjata itu mengacung tepat di wajahnya yang kini sudah sangat pucat.


" Kami ingin bertemu dengan Tuan Guntoro!" Ucap pria asing itu dengan wajah datar. Membuat Waroh seketika mematung dengan tubuh bergetar.


Otaknya mendadak menjadi buntu.


Waroh menelan ludahnya ketakutan. Keringat dingin mendadak mengucur di keningnya. Jantungnya berdegup kencang.


" Jon, turunkan senjatamu. Kau akan sangat membuatnya ketakutan!" Tukas seorang pria yang membuatnya terkejut, lantaran ia mengenali siapa pria itu.


" Itu kan?"


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


" Tega banget si Pandu ninggalin kita tanpa pamit!" Rutuk Sakti yang baru mengetahui jika Pandu telah meninggalkan mereka bahkan tanpa pamit.


Menyesalkan mengapa Pandu benar-benar tak mau melibatkan mereka dalam urusan beresiko itu.


Kini Yudha dan Ajisaka terpekur menatap nanar meja kayu di kediaman Lik Sarip. Masih tertegun demi mendengar cerita Bu Ambar.


" Jadi dia tidak pamit ke kalian?" Tanya Ambarwati yang melihat ketiga kawan putranya dengan wajah lesu. Aji bahkan sedari tadi tak hentinya memijat keningnya.


" Kami tadi kerumah Bu Ambar, gak taunya ketemu kang Joko. Sengaja banget si Pandu kayaknya!" Sakti selalu menjadi yang paling bocor disana. Mendengus kesal tiada henti.


Ya, ketiga pejantan tangguh itu baru mengendus kebohongan Pandu siang itu. Kini, mereka tengah menjenguk Bu Ambar. Wanita baik yang sudah mereka anggap seperti ibu mereka sendiri.


" Kalau ibu mau, sebaiknya ibu tinggal bersama saya Bu sebelum Pandu datang!" Tawar Ajisaka yang menatap Ambarwati muram.


Yudhasoka dan Sakti pun saling memandang. Tak habis-habisnya Bu Ambar di rundung kemalangan sejak suaminya meninggal.


" Ibu mau minta tolong!" Ucap Ambarwati memandang wajah ketiga pria ganteng itu dengan tatapan memohon.


Membuat ketiga pria itu mengangguk.


" Bisa kalian hubungi Pandu?"


.


.


Pandu


Kepalanya saat itu terasa berat sekali. Wajahnya juga terasa sangat sakit dan auhw!! ini terlalu nyeri. Ia mengedarkan pandangannya, menyapu ruangan itu dengan kedua netranya.


Ruangan yang asing. Dan apa yang telah menimpanya?


Dan pertanyaannya, ini dimana?


CEKLEK


Kebingungan menguap kala pintu coklat itu terlihat mengayun. Menampilkan sosok Bayu yang datang seorang diri ke ruangan Pandu.


" Kau sudah sadar!" Ucap Bayu sembari menutup pintu dengan pelan.


Ia merasa belum bisa merenda kembali apa yang sebenarnya telah terjadi. Namun, ia ingat jika terakhir kali ia bertemu Riko dan sempat melawannya.


Namun....


" Kenapa aku bisa ada disini?"


Bukannya menjawab, ia justru mengajukan pertanyaan kepada Bos Kijang Kencana itu. Kini ia dengan gerakan meringis mencoba mendudukkan tubuhnya keatas ranjang sempit itu.


Sangat sakit.


" Kenapa kau bisa mengenal Riko Wijaya?'


Sepertinya dua pria itu benar-benar hamsyong.


Mereka saling mengajukan pertanyaan dan sama-sama menjawab dengan pertanyaan pula.


Benar-benar aneh!


" Aku tidak perlu menjawabnya untukmu!" Jawab Pandu sembari menyibak selimut di tubuhnya dan berusaha untuk berdiri. Pria itu ingin pergi dari sana.


" Hartadi Wijaya bukanlah orang biasa!" Ucap Bayu menatap Pandu yang terus saja acuh. Ia terlalu lelah berurusan dengan Bayi. apalagi ia tahu jika ia telah salah sangka kepada Kijang Kencana.


Pandu tak peduli, ia bahkan melepas infus yang tersambung di punggung tangannya dengan paksa.


" Auhhwww!" Rintih kecil Pandu kala jarum yang tertancap di daging tangannya itu terlepas secara paksa oleh dirinya sendiri.


Bayu menatap Pandu dengan alis bertaut. Pria itu depannya itu benar-benar sangat susah diajak berdiplomasi.


" Aku tidak perduli!" Sahut Pandu datar. Ia terlihat meraih jaketnya yang teronggok di sofa samping ranjangnya.


" Dan terimakasih telah menolongku!" Ucap Pandu seraya meraih ranselnya. Berniat ingin segera enyah dari tempat itu.


" Raditya disinyalir bekerja bersama keluarga Wijaya. Aku bisa membantumu dan kau juga bisa membantuku jika kau mau bergabung bersama ku!"


Ucapan Bayu berhasil membuat langkahnya terhenti. Pandu tercenung mendengar ucapan Bayu.


" Hartadi Wijaya, siapa lagi itu?" Batin Pandu yang tak mengerti.


" Kau pasti kaget kan? Aku pun juga!" Bayu mendatangi Pandu yang berdiri tepat di depan pintu.


Pandu terlihat menatap Bayu lekat. Ia mencari sorot kebenaran dalam dua netra jernih Bayu. Apakah berbicara juga merupakan sebuah solusi?


.


.


Di selasar belakang Kijang Kencana


Pandu tak mengira jika kantor bodyguard itu benar-benar luas dan memiliki fasilitas lengkap. Ia melihat hamparan tanah yang luas dengan berbagai macam tempat olahraga yang komplit disana.


Pantas saja tempat itu berada di kawasan yang lumayan sepi.


Jelas Pandu memahami bila profesi bodyguard itu sarat dengan fisik yang kuat dan tubuh yang sehat.


" Minumlah, kadarnya rendah!' Bayu menyodorkan segelas minuman beralkohol. Mencoba membangun keakraban dengan pria dingin di sampingnya.


" Kami biasa berlatih disini. Ada stand untuk latihan olah fisik dan menembak serta panahan disana!" Bayu menunjuk ke arah barat.


Harus Pandu akui, tempat itu terlalu keren. Ia bahkan tak pernah bermimpi bisa berada di tempat seperti itu.


Suasana hening, mereka saling meneguk minuman itu dalam kesunyian.


" Apa maumu?" Kini Pandu berucap dengan pandangan masih lurus ke depan seraya meletakkan cawan kosong ke atas meja.


Rasanya minuman itu, benar-benar ciamik!


" Bekerjalah bersamaku!"


"Kita akan ungkap bersama- sama. Aku juga ingin uangku kembali!" Bayu berterus-terang kepada Pandu. membuat keteguhan Pandu sedikit goyah.


Uang yang dibawa kabur oleh Raditya berjumlah tak sedikit. Dan Bayu tentu mempersoalkan akan itu. Tujuan mereka bekerja adalah untuk uang juga bukan?


Pandu tersenyum tak mengerti.


" Aku? Kenapa kau berpikir aku mau menerima tawaranmu?" Pandu tersenyum simpul.


Jakun Bayu terlihat naik turun. Pria di sampingnya itu benar-benar sulit sekali.


" Mencari orang seperti Raditya bukanlah hal yang gampang!"


" Apalagi mereka saat pasti terlindungi oleh keluarga Wijaya. Dan aku tahu, kau pasti memiliki masalah yang serius!"


Pandu kini menatap Bayu dengan wajah serius. Sorot mata Bayu menampilkan kejujuran.


"Apa ruginya bila kita bekerjasama. Kau akan dapat uang ! Dan juga rekan!"


" Dan aku, tentu saja bisa mendapatkan personel mumpuni sepertimu jelas akan mempermudah urusanku nanti!"


Pandu tertegun mendengar ucapan Bayu. Pria di sampingnya itu membuat Pandu berpikir. Ia jelas membutuhkan uang. Ia tak akan akan kembali sebelum memenggal kepala pria bernama Raditya itu.


Terlebih, ia masih punya tanggung di bank Yudha. Belum lagi ia masih harus memikirkan kebutuhan ibunya. Tapi, bagaimana dengan ibunya?


Ini jelas diluar rencananya.


" Aku tidak familiar dengan persenjataan!" Sahut Pandu.


Bayu terkekeh " Itu soal gampang. Theodor sudah mempersiapkannya untukmu!"


" Theodor? Siapa Theodor?"


" Pikirkan baik-baik. Kau bisa berolahraga dan mandi di sebelah sana. Di ujung ruangan itu ada mess tempat anak-anak berkumpul!"


" Dan ini!" Bayu menyerahkan kartu nama kepada Pandu.


" Hubungi aku jika kau sudah memiliki keputusan!"


" Ingat, keluarga Wijaya bukan orang sembarangan!"


" Meski aku belum tahu apa alasanmu, tapi ak...!"


" Adikku di tusuk oleh Pria itu!"


Kini Bayu yang ganti tertegun. Menusuk? Adik?


"Kemungkinan besar!'' Imbuh Pandu.


" Aku menemukan kalung yang kuberikan kepadamu kemarin di depan rumah tetanggaku. Kupikir perusahaan milikmu ini menyuplai orang untuk berbuat kejahatan!" Ucap Pandu dengan raut geram.


Bayu tak habis pikir.


" Bagaimana jika kalung itu bukan milik pelakunya, maksudku kau terlalu impulsif Pandu!" Bayu benar-benar tak percaya dengan ucapan Pandu yang menurutnya terlalu cepat menyimpulkan sesuatu.


Bagiamana jika kalung itu bukan milik pelaku.


" Ya, tadinya aku datang dengan keraguan. Namun setidaknya aku tahu jika tampat ini memperkerjakan orang-orang jahat!"


" Tadinya!" Ucap Pandu menekankan maksudnya.


"Tapi semua itu makin jelas kala aku mendengar anak buahmu yang mabuk kemarin !"


Mambuat mata Bayu membulat.


Pandu akhirnya tanpa ragu menceritakan apa yang ia dengar. Dengan penuh emosi yang meletup, Pandu membeberkan semua kepada Bayu. Sungguh ia hanya ingin sesak di dadanya berkurang. Ia menangis kala mengingat wajah pucat ayu dalam rengkuhannya.


Bayu saat melihat rekaman CCTV itu tak fokus dengan percakapan mereka. Terlalu marah karena anak buahnya malah mabuk dan berbuat hal yang tidak sesuai ketentuan kantor.


" Sekarang dimana anak buahmu, kita bisa gunakan dia untuk memancing Radit?"


Bayu mengusap wajahnya kasar. Ia bahkan telah memecat kelima orang yang kemaren berbuat ulah karena mereka tak mau mengaku perihal Raditya.


Benar-benar sebuah kesalahan!


Damned!


" Mereka sudah ku pecat!" Sahut Bayu lemah.


Pandu langsung menatap Bayu dengan tatapan penuh sesal. Kenapa pria itu melakukannya?


.


.


.