Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 39. Lebih dekat



Bab 39. Lebih dekat


^^^" Tanpa sadar diri, aku menempatkan diriku diatas asmara yang buta. Aku terlambat menyadari dan justru terbuai indahnya cinta!"^^^


...☘️☘️☘️...


.


.


.


Di Puskesmas jelang pulang.


" Aku akan kesana usai lepas dinas nanti. Hati-hati ya?" ucap Dita sesaat setelah ia membantu Fina untuk duduk di kursi mobil milik Aji!"


Fina mengangguk, ia agak merasakan nyeri di bagian mulut bagian atasnya. " Santai aja, janga lupa bawa buah tangan kalau jenguk!" Fina terkekeh kecil.


" Eh dasar! mas Pandu, hati-hati ya. Jangan sampai balik kesini lagi!" Dita terkekeh.


Pandu tersenyum " Aman!"


Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Belum ada yang berani berbicara di dalam mobil itu. Kebisuan masih mendominasi suasana.


Pandu sibuk mencari dan menemukan kata-kata yang tepat untuk mengobrol, namun selalu gagal. Ia justru kikuk demi mengingat Fina yang menciumnya kemaren.


" Terimakasih!" akhirnya Fina memecah kesunyian itu dengan kata maafnya. Wanita itu merasa senang karena bisa bersama Pandu. Entahlah, ia makin kesini semakin kehilangan kendali.


" Lain kali hati-hati! Jika kita sudah hati-hati namun masih kecelakaan, itu namanya musibah. Tapi kalau kita mengesampingkan SOP berkendara salah satunya dengan tak fokus karena suatu hal, itu namnya kita ceroboh!"


Fina tertegun mendengar ucapan Pandu. Pelan namun telak . Ucapnya Pandu benar adanya. Ia ceroboh. Dan membuat banyak orang rugi.


" Teman kamu pasti rugi karena aku!" sesal Fina yang mengingat puluhan tray buah naga yang berhamburan ke jalanan.


" Kamu dan nenekmu juga rugi. Jagan berpikir ke arah sana. Aji kaya, tidak ada yang perlu di khawatirkan!" ucap Pandu sedikit menaikkan intonasi suaranya.


Pandu tak suka disaat Fina masih terluka, ia malah memikirkan hal lain. Ia hanya cemas.


" Maaf!" ucap Pandu demi melihat wajah Fina yang muram pasca ia berucap dengan suara sedikit keras. " Aku hanya khawatir!" ucap ya sejurus kemudian sembari mengusap wajahnya kasar menggunakan satu tangan.


Fina tersenyum kecil seraya menoleh ke arah jendela. Ia malu jika sampai ketahuan Pandu. Entah mengapa, berada di dekat Pandu membuat jantung sialan itu kian tak beres.


.


.


Pukul 14. 18 mereka sampai di kediaman Bu Asmah. Yayuk terlihat tergopoh-gopoh menyambut kedatangan Fina.


" Ya Allah mbak, kok bisa begini gimana ceritanya!" Yayuk kini datang menyambut Fina.


Kaki kiri Fina rupanya sakit, ia berjalan harus di papah. Entah terbentur apa sewaktu di dalam mobil tadi.


" Masih di kantor polisi, nanti sama Aji pulangnya mbak!" kali ini Pandu yang menjawab.


Membuat Yayuk mengangguk paham.


" Sini mas, biar saya bantu!" Yayuk membantu memapah Fina beserta Pandu. Alhasil Fina kini diapit dua orang seraya berjalan pincang ke dalam rumah.


" Papa sama Mama mbak Fina juga sudah dalam perjalanan, mungkin dua jam lagi sampai!" tukas Yayuk usai mendudukkan Fina ke sofa ruang tamu.


" Apa?" kok mbak Yayuk kasih tahu sih?" Fina memanyunkan bibirnya seraya mendaratkan bokongnya keatas sofa.


" Ibuk tadi yang nyuruh mbak, beliau khawatir karena nomer papanya mbak Fina sudah di hubungi tadi pas mbak Fina pingsan lama!" ucap Yayuk dengan raut muram.


Fian masih berengut. Itu artinya beberapa jam lagi ia akan bertemu papanya.


" Mas duduk dulu ya, saya buatkan minum dulu sebentar!" ucap Yayuk langsung berlalu dari sana.


" Kenapa?" tanya Pandu mendudukkan dirinya ke sofa si sebelah Fina. Ia penasaran mengapa Fina justru tak senang mendengar kabar bila orang tuanya akan kesana.


" Gapapa, belum siap aja ketemu papa!" ucapnya dengan wajah sebal. Ia rindu mamanya, tapi masih menyimpan sedikit rasa sakit hati kepada ucapan papanya tempo hari.


" Mau sampai kapan, hm?" Pandu menatap Fina. Mencoba menggali informasi.


" Gak tau Ndu, aku...!" Fina takut jika papanya salah mengartikan kecelakaan yang menimpanya itu, adalah sebuah tindakan impulsif yang justru membuat daftar panjang perilaku buruknya bertambah.


" Mereka juga perlu tahu, jangan salahkan siapapun. Bersyukurlah karena masih memiliki orang tua yang lengkap!"


Fina kini menatap Pandu. Keduanya saling menatap, mencari hal yang tersirat dalam dua netra jernih mereka.


Perkenalan yang tak disangka, lambat laut di pertemukan dalam keadaan yang tak biasa, lalu perasaan dari dalam diri Fina yang aneh, tanpa senagaja membawa Pandu kedalam persoalannya bersama Riko, dan hari ini, pria di depannya itu malah terlibat lagi dalam kepingan perjalanan hidupnya yang kurang baik.


Lama mereka saling menatap, tertegun menikmati indahnya maha karya sang pemilik kehidupan yang terwujud dalam sosok satu sama lain.


"Nah ini tehnya diminum dulu mas mbak, anget- anget ini!" Yayuk datang dan membuat mereka berdua kini memalingkan wajahnya karena tersentak sedari lamunan.


" Makasih mbak!" sahut Pandu menetralisir rasa gugupnya. Meminum teh itu guna mengusir kegrogian.


Dan beberapa detik kemudian.


" Mbak Fina, apa yang terjadi? kami baru saja mendengar kabar bila Mbak dan Ibu..."


Fina mendengus sebal tatkala melihat dua orang pria yang datang sembari tergopoh-gopoh saat berbicara.


.


.


.