Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 149. Mengungkap rasa selapis demi lapis



Bab 149. Mengungkap rasa selapis demi lapis


^^^" Aku, kamu jadi kita!"^^^


.


.


.


...🍂🍂🍂...


Serafina


Pribadi sederhana yang rendah hati macam Mbak Inggar memang cukup membuat Fina nyaman. Ia paham betul dan menyadari jika kita mau berubah, Tuhan pasti juga akan merubah circle pertemanan kita. Seperti saat ini misalnya.


" Ayo Mbak, enggak banyak kok yang aku ajak makan, cuman sekitar delapan orang sama embak!" Fina antusias sekali, sungguh ia ingin segera bercerita banyak dengan Wanita itu.


Wida mengangguk meski sebenarnya ia minder. Merasa kecil.


" Fin, kamu duluan ya!"


" Kenapa?" Jawab Fina sambil melepaskan sabuk pengamannya.


" Emm aku mau ke toilet bentar , habis ini aku nyusul kamu!" Wida merasa kandung kemihnya penuh. Mungkin karena grogi.


Fina mengangguk paham.


" Oke, tapi...bener enggak mau aku antar?" Tanya Fina yang kini sudah menutup pintu mobilnya yang sudah terparkir strategis.


" Enggak usah, nanti aku cari di dalam!"


Wida sebenernya grogi sekali, ia takut jika teman-teman Fina merupakan orang bergaya Hedon, atau bahkan orang-orang dari golongan tertentu. Mengingat Fina sendiri jelas merupakan anak orang berada. Lagipula, ia juga jarang nyaris tak pernah kumpul-kumpul seperti ini.


Fina dan Widaninggar berpisah, Wida menuju toilet luar sementara ia kini terlihat berjalan masuk menuju meja teman-temannya. Terlihat begitu sumringah.


" Loh Fin katanya jemput temen kamu, mana?"


Suara Dita yang cempreng menyambut kedatangannya. Membuat ke Lima pria lainnya turut menaruh atensi kepada Fina yang berjalan seorang diri.


" Ada kok, masih di belakang!" Jawabnya sembari mendudukkan dirinya ke samping Pandu yang kini tersenyum kepadanya.


" Siapa sih temen kamu?" Tanya Pandu yang sebenarnya kesal karena Fina menolak untuk diantar.


" Iya, kok minta di jemput segala. Teman dari kota?" Sakti juga turut penasaran.


" Mau tau banget apa mau tau aja?" Fina menatap satu persatu orang yang duduk dengan posisi saling berhadapan itu dengan berkelakar.


Membuat Pandu kian mendengus. Kesal tiada tara.


" Cowok apa cewek?" Yudha yang cuek bebek bahkan turut penasaran juga. Cuma Aji yang not responding.


" Emm apa ya...!" Fina mengetuk- ngetuk dagunya menggunakan jari telunjuknya. Memasang ekspresi menebak. Dan hal itu sukses membuat orang yang ada disana gemas dengan Fina. Dasar Fina!


" Kalau aku sebut cewek, tapi dia udah...!" Ucapan menguap ke udara demi melihat Mbak Inggar yang celingukan mencari dirinya.


" Nah itu dia, mbak sebelah sini!"


Fina melambaikan tangannya kala melihat Widaninggar yang seperti kebingungan mencari letak meja dirinya dan para sahabatnya.


Detik itu juga, mata Yudha, Sakti, Sukron dan juga Pandu membulat bersamaan demi melihat sosok yang menjadi sumber sebab musabab pria kaku di sebelah mereka itu galau tiada henti.


" Ji! Aji wah emang beneran berjodoh kalian kayaknya!"


" Tuh lihat!"


Sakti mengguncang tubuh Aji yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya. Mereka semua benar-benar terkejut.


.


.


Ajisaka


Ia tak memiliki gairah untuk ngobrol apalagi sekedar bercuap- cuap bersama kawula muda yang lain. Apa ya sebutannya? Galau atau apa?


Entahlah. Yang jelas rasanya tidak enak sama sekali dan merasakan sepi walau di tempat ramai. Hanya saja, Ajisaka tak terlalu bisa menunjukkan keresahan hatinya lewat kata-kata.


Namun, semua kegelisahan dan keresahannya seolah runtuh saat itu juga, tatkala tangan usil Sakti mengguncang tubuhnya tiada henti seraya mengeluarkan gumaman yang hanya bisa ia dengar.


"Ji! Aji wah emang beneran berjodoh kalian kayaknya!"


" Tuh lihat!"


Apalagi pikirnya. Sahabat sableng satu- satunya itu benar-benar sering bertingkah diluar nalar. Jodoh apa? Aji memutar bola matanya malas saat ia masih menekuni layar pipihnya.


Dan betapa terkejutnya saat ia menangkap sosok cantik yang terlihat berbeda malam itu. Wida benar-benar terlihat menawan hatinya.


"Oh sial, tahu begini aku dandan lebih rapih tadi" Sesal dihatinya kian di perparah karena ia kini merasa grogi.


" Nah itu mbak Inggar, temenku yang aku jemput tadi. Orangnya ramah, dia gabung sama kita ya!"


Kini ia merasa detak jantungnya seolah berhenti selama sepersekian detik ,demi melihat sosok wanita yang kini sepertinya juga terkaget-kaget.


Terimakasih Tuhan!


Tapi, bagaimana bisa Fina kenal?


" Wida?"


Semua yang disana hanya bisa mendelik, dengan hati bertanya- tanya. Isi otak mereka pasti saat ini dipenuhi pertanyaan yang sama, bagiamana Fina bisa kenal dengan Wida?


Ya, itu benar. Kecuali Dita yang tersenyum hangat menyambut Widaninggar. Dita memang belum tahu kejadian itu.


" Hay mbak aku Dita!" Wanita ceriwis itu langsung menjulurkan tangannya untuk menjabat tangan Wida . Ya walaupun Dita sebenarnya agak terkejut sih. Terkejut karena mengapa wajah Wida dalam hitungan sepersekian detik berubah menjadi resah. Pun dengan kelima pria di depannya.


" Ayo dong yang lain semua kenalan!" Titah Fina tersenyum. Belum mengetahui yang sebenarnya terjadi.


Pandu yang merasakan aura kecanggungan yang kian mengkhawatirkan itu, akhirnya ambil bagian.


" Emmmm sayang, sebenarnya kami sudah kenal dengan Mbak Wida!" Pandu meringis kikuk, aduh bagiamana menjelaskannya kepada Fina ya?"


" Oh ya? kenal dimana?"


.


.


Kecanggungan kini menyeruak. Meski begitu, Wida mencoba tetap menyuguhkan ketenangan. Berusaha mengendalikan dirinya. Untung saja Pandu tak menceritakan soal kejadian di hutan kemaren. Ia takut menyinggung Wida.


Ia hanya mengatakan jika mereka sudah kenal karena satu desa. Untung saja mulut kurang ajar Sakti yang kerap ngeslong itu, hari ini cukup bisa di kondisikan. Aman lah.


" Oalah, jadi mbak Wida dulu tinggal di kawasan yang dekat sama Yudha?" Fina mengangguk seraya tersenyum.


Pun dengan Wida, ia hanya menjawab sekenanya saja. Bingung harus bagaimana.


" Aku kenal mbak Wida sewaktu aku masih menjadi tawanan Riko. Mbak Wida ini korban human trafficking Ndu. Aku pikir kita enggak akan ketemu lagi mbak, ternyata...!"


Mata Fina sudah berkaca-kaca demi mengingat kejadian buruk wkatu itu. Kini, baik Pandu, Sakti, Yudha dan Sukron terlihat tertegun. Benar-benar kebetulan yang pas.


Hanya Aji yang merasa begitu ingin marah demi mendengar sepenggal kisah buruk yang menimpa Wida. Ingin rasanya ia merangkul bahu Wida saat itu juga.


" Jadi...kamu?" Pandu seolah ingin menyusun kepingan kejadian yang melibatkan dirinya dan anggota KJ beberapa waktu yang lalu.


Korelasi yang rupanya saling terhubung itu, kini membuat Pandu makin takjub akan kekuatan semesta yang penuh misteri.


Fina mengangguk, ia lantas menceritakan secara gamblang titik mula pertemuannya dengan Widaninggar. Membuat hati mereka semua terasa nyeri.


" Udah dong jangan sedih-sedih terus!" Ucap Dita yang sedari tadi tak hentinya menyusut sudut matanya yang berair, kala mendengar kisah Widaninggar.


" Kita lanjut ngobrol lagi nanti ya, ayo kita makan dulu?" Sergah Dita yang juga tak mengetahui apapun. Merasa tak sanggup untuk mendengar kisah buruk itu.


Ajisaka sedari tadi tak hentinya menatap Wida tanpa sepengetahuan yang lainnya. Wida semakin keki dibuat. Kenapa sih, selalunya hal yang ingin kita hindari malah justru kerap nongol.


Dada Aji bergemuruh demi mendengar kejadian yang menimpa Wida malam itu. Jadi wanita itu berlari untuk kabur, itu artinya malam dimana mereka pertama kali bertemu adalah malam dimana Fina juga masih di sekap. Oh astaga.


Entah mengapa, pandangan Aji kepada Fina kini berubah dratsis. Ia yang dulu sangat tidak suka akan perjumpaannya dengan Fina sewaktu pertama kali, kini merasa sangat berhutang budi kepada kekasih Pandu itu.


Berjanji dalam hati akan menemui wanita itu nanti.


Pria itu kini tersenyum penuh arti. Terimakasih Tuhan. Kini, ia tinggal mencari tahu, kenapa wanita itu mendadak pindah.


" Aku tidak akan membiarkanmu lepas lagi kali ini!"


" Tidak akan!"


Mereka makan dalam diam, Wida yang terus menunduk dan tak lepas dari tatapan Aji. Yudha, Sukron dan Sakti yang selalu ribut karena saling bertukar makanan, Dita yang kini asik makan dan melupakan niat diet nya, juga Fina dan Pandu yang makin membuat iri beberapa pasang mata karena keromantisan mereka.


Benar-benar syahdu.


" Selamat malam bagi para pengunjung sekalian, suguhan lagu romantis terbaik akan menemani santap malam dan menambah kehangatan anda sekalian. Untuk yang mau request atau ingin bernyanyi kami persilahkan. Selamat menikmati!"


Seorang singer cafe yang terlihat akan memulai pertunjukan, sukses mengundang atensi khalayak ramai di cafe itu. Pun dengan Fina yang kini menempel erat dan bergelayut manja di lengan kekar Pandu. Astaga dua orang itu!


🎶Senandung lagu cinta


Tercipta untuk-Mu


Yang getarkan jiwa ini


Lumpuhkan jantungku


Hati Aji seketika menghangat bersama alunan lagu yang terdengar indah dari bibir singer pria itu. Mata elangnya tak henti menatap Wida yang tertunduk malu. Lagu yang pas.


Kecantikan sempurna


Bahagiakan diri ini


Saat bersama-Mu


Aji merasa di meja itu hanya ada dirinya dan Wida, hanyut dalam alunan lagu yang seolah menjadi soundtrack kisahnya saat ini. Menepikan keberadaan manusia lain yang saat ini terpukau akan performance singer itu.


Meskipun kusadari


Tak mungkin memelukmu


Waktu Kau isyaratkan


Bahwa dirimu


Telah bersamanya.


" Ayo kita kedepan Yud, gatel pingin nyanyi!" Sayup-sayup terdengar suara Sakti yang mengajak Yudha untuk maju ke depan bersama para pengunjung lain yang sudah sangat antusias.


" Oke, ayo Kron!" Jawab Yudha.


Tatap matamu 'tuk yang terakhir


Siksa batinku yang mencintamu


Kupasrahkan pada Ilahi


Relakanmu untuknya


" Ayok kita juga ke depan sayang! Kayaknya asik ikut yang lain kesana"


Fina menarik Paksa Pandu yang terlihat di ikuti oleh Dita yang juga terhipnotis akan riuh rendah pengunjung lain, demi membersamai alunan lagu penyanyi terkenal yang dibawakan band lokal itu.


Benar-benar menyenangkan.


" Eh tungguin dong aku mau ikut juga?" Dita kini turut beranjak. Melesat ke depan demi mengikuti para manusia yang mengangkat tangan mereka bak berada di sebuah konser band.


Meninggalkan Wida dan Aji di meja itu dengan segala kecanggungan yang ada.


Jurang yang dalam pisahkan kita


Yang tak mungkin untuk dilalui


Biarlah lagu cinta ini


Terdengar dalam kalbu🎶


( Ada band ~ Senandung lagu cinta)


.


.


Widaninggar


Berada satu meja dengan Ajisaka jelas membuat Wida kikuk. Ini adalah kali pertamanya mereka bertemu setelah kejadian tempo hari.


Wida yang ingat akan video yang di perlihatkan Desinta beberapa waktu yang lalu, kini sedikit mencelos dalam hatinya. Benarkah jika pria di depannya ini pria baik-baik?


Sementara Aji terlihat tak hentinya menyunggingkan senyumnya yang kian merekah. Aji bahagia.


" Enggak ikut kesana juga?" Tanya Aji kepada Wida dengan senyum penuh arti.


Wida menggeleng " Udah bukan era nya ikut yang begituan!" Sahut Wida datar dengan menatap ke arah lain. Berusaha menghindari tatapan mata Ajisaka.


" Kenapa canggung begini sih?"


" Aku ada salah sama kamu?"


Wida menelan ludahnya kala Aji memberondong dirinya dengan pernyataan menohok. Ada rasa yang tak bisa di definisikan saat ia melihat Aji mabuk dan terdapat banyak sekali wanita sexy di dalam video itu.


" Aku bahkan sudah pernah merasakan bibirmu!" Ucap Ajisaka loss doll. Ia tak mau lagi basa-basi.


Wida mendelik, jadi yang kemaren itu bukan mimpi?


" Hah?" Wida yang terkejut bercampur malu, kini menatap Ajisaka yang senyam-senyum mirip wong edan. Bujangan kaku itu nampaknya tak ingin membuang waktunya lagi.


" Kenapa menghindar?" Merasa mendapat kesempatan, Aji tentu ingin mengetahui hal yang selama ini membuatnya resah dan gelisah.


Sayup-sayup terdengar teriakan para pengunjung yang larut dalam lagu yang kini sudah berganti suara.


" Lagu ini spesial buat sahabatku yang lagi...eehm ehem!"


" Ajisaka!" Yudha menunjuk ke arahnya, membuat banyak pasang mata yang menatap ke arah Aji dan Wida.


Sialan sekali, apa-apaan mereka.


Baik Wida maupun Aji kini menoleh ke arah panggung, dimana Sakti sudah memegang gitar dan Yudha yang memang mic. Suara anak mamak Mariana itu jangan diragukan.


Dari mejanya, ia bisa melihat Fina, Pandu dan Dita yang bersorak kegirangan. Apa Fina sudah tahu jika dia dan Wida...


" Mbak Inggar, kok enggak bilang sih kalau...!"


Fina berteriak ke arah mereka. Ini gila, acara apa sih ini sebenernya. Mengapa mereka berdua kini justru menjadi headline disana?


Wida mendengus dalam hati, sementara Aji tersenyum senang. Memangnya kenapa, biar saja dunia tahu jika ia memang jatuh cinta dengan Ibunya Damar itu.


Aji menyesap rokoknya dalam-dalam seraya menatap wajah Wida yang cuek. Aji masih belum puas memandangi wajah ayu wanita itu. Mengabaikan teriakan dan riuh rendah suara penikmat musik yang kini di sabotase oleh Yudha dan Sakti.


Sakti memetik gitar akustik itu dengan sangat baik. Variasi chord yang ia mainkan dalam mengiring suara merdu Yudha membuat suasana romantis kian terasa.


🎶Ku pikir kau sudah melupakan aku


Ternyata hatimu masih membara untukku


Waktu kan berlalu tetapi tidak cintaku


Dia mau menunggu untukmu untukmu.


" Aku sudah mendamprat Desinta, karena makanan yang kau antar tempo hari tidak sampai kepadaku. Aku minta maaf!" Ucap Aji tersenyum sumbang. That's my bad!


Wida membulatkan matanya, jadi makanan darinya tempo hari tak diberikan kepada pria di depannya itu? Astaga wanita itu jahat sekali.


" Itu salahku!" Aji menggerus batang rokoknya. Kini pria itu meraih tangan Wida. Benar-benar menyesalkan hal itu.


🎶Aku milikmu malam ini


Kan memelukmu sampai pagi


Tapi nanti bila ku pergi


Tunggu aku di sini


" Aku tidak tahu apa yang membuatmu meninggalkan rumahmu yang lama!"


"Kalau karena aku...aku minta maaf!"


" Kau tahu, aku bahkan sudah memerintahkan orang untuk mencarimu tapi belum juga membuahkan hasil!"


" Tapi .. tidakkah kau menyadari jika Tuhan memang ingin kita bersama? Lihatlah, bahkan tanpa aku bersusah-payah untuk mencarimu, kau sendiri yang datang dan kita bertemu. Ya...meski tanpa sengaja!"


Wida tercenung. Salah satu alasannya memang Aji. Ia dan keluarga tak tahan jika di tuduh yang tidak-tidak.


" Semua karena bibiku dan Desinta. Tapi kamu jangan khawatir, mereka urusanku nanti!"


Kini mata mereka berdua bertemu. Untuk sejenak, Wida terhipnotis akan perlakuan lembut Aji. Aji terlihat jantan sekali.


Waktu kan berlalu tetapi tidak cintaku


Dia mau menunggu untukmu untukmu


Aku milikmu malam ini


Kan memelukmu sampai pagi


Tapi nanti bila ku pergi


Tunggu aku di sini


" Aku akan sabar menunggu sampai urusanmu selesai. Setalah itu, aku akan menikahimu!"


Lidah Wida tercekat, sorot mata tajam penuh kejujuran itu lagi-lagi membuat dirinya hanyut. Terlebih ia tak bisa mencerna kata-kata mendayu Aji.


Menikahimu?


🎶Aku milikmu malam ini


Kan memelukmu sampai pagi


Tapi nanti bila ku pergi


Tunggu aku di sini


Tunggu aku di sini


( Pongky Barata ~ Aku milikmu)


.


.


.


.