Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 78. You're my guardian



Bab 78. You're my guardian


^^^" Dua orang yang tengah jatuh cinta. Namun sama-sama terisolasi itu benar-benar indah!"^^^


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Pandu


Ia menatap nanar semburat jingga di ufuk barat dengan pandangan masygul. Lekat menikmati hamparan horizon, karya sang maha Agung dari lantai atas bangunan gedung Kijang Kencana.


Suguhan yang tiada bandingnya. Indah tiada tara.


Sapuan angin sore yang menentramkan itu membuat dirinya hanyut. Sungguh, semua yang terjadi membuat Pandu merasa berada di titik nadir.


Ia kerap kalah dengan urusan hal yang berbau materi. Tentang Ayah sambungnya yang meninggal. Jika bukan karena pekerjaan yang beresiko, mungkin ia masih bisa saling berbicara dengan pria penyabar itu hingga saat ini.


Dan tentang Ayudya. Jika ia punya uang dan kuasa, tentu semua mungkin juga tidak akan terjadi. Dan sekarang? Oh ya ampun. Lihatlah betapa sulitnya menjadi seorang pria miskin.


Ia bukanlah pria lugu apalagi awam. Namun mengenai Fina, tentu ia tak bisa dengan mudahnya menepikan rasa yang mulai terpupuk dengan indah itu. Padahal, jika di tarik garis untung rugi. Jelas Fina yang dirugikan.


" Aku masih bisa menggantikan orang lain jika semua ini tak membuatmu nyaman!"


Suara berat Bayu menginterupsi lamunannya. Membuatnya terkejut. Bagaimana bisa pria itu menemukannya. Bahkan Pandu sudah mematikan ponselnya sedari tadi.


Pandu menatap wajah Bayu yang sepertinya baru selesai mandi. Pria matang dengan wajah yang masih saja tampan itu jelas sibuk sekali hari ini.


Definisi dari pemimpin sejati.


Bayu terlihat berjalan dan mendudukkan dirinya persis di samping Pandu. Turut menatap hamparan langit senja nan memberikan kehangatan. Ya, meski hati keduanya tengah dingin.


" Pacar? Kenalan?" Tanya Bayu dengan tanpa mengalihkan pandangannya. Tatapannya lurus menatap mega yang tiada bertepi.


" Bukan siapa-siapa!" Sahutnya lesu.


" Liar! ( pembohong)" Jawabnya lagi.


Pandu terkekeh. Bagiamana bisa pria di sampingnya itu menjadi penebak jitu. Dua priaintas usia yang sama nestapanya.


" Riko Wijaya mengancam Tuan Guntoro. Dan meski belum ada bukti, tapi beliau yakin jika mall miliknya itu sengaja di bakar oleh Riko!"


Pandu masih terdiam. Sama sekali belum berminat menyahut. Ia masih tekun menjadi pendengar setia. Tapi, sepertinya kasus ini sangat menarik.


" Anak Guntoro memang benar-benar cantik. Sampai kalian bertiga...!"


" Aku tidak memperebutkan!" Sahutnya datar. Oh andai Bayu tahu jika mereka sudah pernah bertukar saliva bersama. Bahkan tubuh mereka sudah pernah saling menyatu. Oh sial. Baik rupa maupun rasa, masih Pandu ingat dengan baik.


" Baiklah! Yang jelas, kau tengah terlibat dalam cinta segi empat!" Bayu tergelak saat mengucapkan hal itu. Membuat Pandu menggelengkan kepalanya.


" Aku emoh mumet Pak ( aku gak mau pusing pak!)"


" Kabeh mumet ( semua pusing) pada waktunya Ndu!"


Membuat keduanya kini terdiam. Menatap lembayung senja yang kian melorot. Tak ada suara, hanya terdengar beberapa laju kendaraan di bawah sana yang merambat pelan.


" Pandu! Aku harap kita bisa bekerja secara profesional. Bisa membedakan mana urusan pribadi, dan urusan pekerjaan!" Ucap Bayu sejurus kemudian.


Pandu tertegun.


" Aku memang tidak tahu apa-apa soal kamu dan anak dari Tuan Guntoro. Tapi jika kau keberatan dan merasa tak nyaman ,aku masih bisa melimpahkan tugas ini kepada Sa...!"


" Apa yang telah aku mulai harus aku selesaikan pula!" Sahutnya dengan wajah datar. Membuat Pandu menarik seulas senyum penuh arti.


I know you are different!


Pandu lantas menceritakan asal mula ia mengenal Fina. Namun tidak dengan hal satu itu. Oh jelas!


Ia menceritakan tentang sosok Fina, yang mengusik keteguhan hatinya. Wanita ekstrem yang berhasil membuatnya jatuh cinta.


" Persoalan klasik!" Tukas Bayu dengan tatapan menerawang. Membuat Pandu mengernyit.


" Cinta terhalang kasta. Sudah ada sejak jaman nenek moyang!" Bayu tergelak. Pandu kesal, pria dewasa di sampingnya itu malah berkelakar.


Usai tertawa geli kini Bayu terdiam. Sembari menerawangkan pandangnya ke arah hamparan gedung-gedung yang berjajar rapih. Menyuguhkan pemandangan kelap-kelip lampu yang sebagian sudah di nyalakan.


" Aku menjadi teringat dengan mendiang istriku!"


DEG


Pandu terperanjat.


Jadi pria di samping itu merupakan duda? Pandu kini menatap Bayu yang tersenyum kecut.


"Nekat menjalani kerasnya kehidupan. Dan harus aku akui, semua itu benar-benar sulit!"


Pandu terpekur menatap ujung sepatunya. Masih gencar mendengar ucapan Bayu yang mendadak berubah menjadi melankolis.


Kasihan sekali pria itu.


" Dia yang membuatku berharga. Menemaniku disaat-saat sulit. Dan setelah aku menemukan jalan sukses. Dia malah meninggalkanku untuk selamanya!!" Bayu menundukkan kepalanya seraya mengatur napasnya. Tersenyum kecut demi mengingat hidupnya yang benar- diluar dugaannya.


Pandu masih tertegun. Tak menyangka jika pria berwibawa di sampingnya itu memiliki sepenggal kisah hidup yang teramat memilukan.


" Sepekan kemudian. Putraku yang bernama Rakai Aribawana, meninggal!"


" Dan aku merasa, tak ada yang tersisa lagi dalam hidupku. Dan sewaktu aku melihatmu untuk pertama kalinya, jujur aku syok!"


" Dia sangat mirip denganmu! Bahkan, mungkin jika dia hidup, dia sudah seusiamu!"


Pandu menelan ludahnya. Sungguh, semua Cerita Bayu benar-benar membuat cakrawala pemikirannya terbuka. Bahwa di dunia ini, apa yang terlihat, tak sepenuhnya sama.


Bayu terlihat menyusut sudut matanya yang berair. Membicarakan kepingan masa lalu selalu saja membuat Bayu menitikan air matanya.


Tanpa sengaja, dua pria itu kini saling bercerita. Membagikan kisah hidup mereka yang rupanya sama-sama seolah di permainkan oleh takdir.


" Kalau hatimu yakin, kau akan mendapatkannya nak!" Bayu menepuk punggung Pandu dengan penuh dorongan semangat. Sore itu, menjadi titik lebur sikap dingin Pandu terhadap Bayu.


Kini ia tahu, alasan dibalik sikap baik Bayu. Pria itu mungkin merasa kesepian dan merindukan anaknya. Tapi satu pertanyaan yang masih terselip di benaknya, Bayu adalah orang yang bisa dikatakan sukses dan juga berwajah tampan, namun mengapa dia tak menikah lagi?


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Serafina


Fina sudah mewanti-wanti mamanya agar tidak perlu menceritakan soal siapa Pandu kepada papanya. Karena hanya akan menambah beban pikiran papa saja.


Rizal di jadwalkan berada di luar kota beberapa Minggu untuk suatu urusan pekerjaan penting. Entah bisnis apa yang tengah ia garap. Fina tak peduli. Sikapnya masih dingin dan acuh kepada Rizal.


Sikapnya yang menurut kepada titah sang papa itu, tak lain hanyalah demi kesehatan papa.


Tuan Guntoro hingga saat ini masih belum bisa berjalan, namun sudah di perbolehkan untuk pulang. Praktis semua pekerjaan di handle boleh mama dan juga dirinya untuk sementara waktu.


" Papa akan bantu kontrol dari rumah. Sisanya kamu yang jalan ya. Tenang, Bayu sudah menginformasikan jika anak buahnya akan mengawal kamu mulai pagi ini!"


Dan benar, Fina kini telah bersiap-siap dan berniat untuk menuju Pelangi Sari terlebih dahulu. Tak mau menunda lagi. Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali.


Namun, ia dibuat terkejut saat melihat Pandu yang sudah duduk di meja kerja papanya di jam sepagi itu. Sungguh, ia pikir ia tak akan bertemu Pandu dalam waktu dekat. Mengingat betapa marahnya pria itu kepadanya kemarin.



Sejak kapan pria itu datang pikirnya.


" Eh mbak Fina, tadi mas Pandu datang pagi-pagi benar. Sama bapak tadi disuruh nunggu mbak Fina diruangan ini!" Seloroh mbak Waroh yang tiba-tiba muncul dari balik punggungnya.


Memberikan alasan yang masuk akal.


Ia menatap Pandu takjub. Pria itu kini terlihat keren dan menawan. Namun makin terlihat cuek dan mengesalkan.


Hih dasar!


" Terimakasih banyak mbak. Mbak bisa lanjut kerjaannya!'' Fina meminta ART-nya itu untuk undur diri.


Mbak Waroh undur diri setelah mengangguk hormat. Wanita itu benar-benar sopan.


Kini, Fina menutup ruangan pribadi papa dengan pelan. Pandu bangun dari duduknya, lalu berdiri.


" Aku mengawalmu hingga kontrak ini berakhir. Dan aku harap sebelum kontrak ini berakhir, urusanku sudah selesai. Kau tidak perlu terganggu dengan kehadiranku. Dan soal Rizal, aku tidak peduli!" Pandu harus terlebih dahulu mengatakan hal itu sebelum Fina salah paham.


Fina tersenyum licik.


" Kaku sekali. Tapi... aku jadi khawatir jika berjalan bersamamu!" Fina menatap Pandu dengan senyam-senyum. Bahkan rasa kesalnya kemarin mendadak terlupakan.


Jika Pandu sekeren dan se tampan itu, ia kini yang menjadi takut akan cembur. Ah sial!


" Aku akan menunggu diluar. Jika sudah selesai kita bisa segera berangkat!" Pandu membetulkan jasnya lalu beranjak keluar. Ia berucap masih dengan wajah datar.


Fina menatap punggung lebar itu penuh arti. Persetan dengan Rizal. Jika Pandu tetap menjadi guard nya, tentu hari yang ia jalani akan semakin indah. Meski ia sendiri tidak akan tahu, apa yang akan terjadi di hari depannya nanti.


Fina benar-benar nakal dan liar!


.


.


.


.


.