Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 21. Terpesona



Bab 21. Terpesona


^^^"Karena kebahagiaan itu, kita sendiri yang ciptakan!"^^^


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


.


.


.


Hati Pandu menghangat kala adiknya berubah sikap menjadi tak murung lagi.


Pria itu benar-benar seperti menemukan kepingan dirinya yang hilang, saat melihat tawa dari Ayudya yang senang saat mengayunkan kakinya di tepi sungai yang berair jernih itu.


Kicapak- kecipik dengan posisi bokong yang duduk diatas batu besar yang rata, dengan kaki yang terselip air jernin nan menyegarkan itu.


" Aku sudah lama sekali tidak kesini mas. Apa bunga Bakung di tepi bendungan itu masih ada?" Ayu tersenyum sambil menyipratkan air ke udara menggunakan tangan kanannya. Terasa sejuk.


Meraba area tempat itu dengan hati-hati.


Ayu merasa lebih baik usai meluapkan kesesakan yang bersarang di hatinya. Memasrahkan semuanya kepada sang pemilik kehidupan.


" Masih, bunga itu makin banyak yang tumbuh!" Ucap kakaknya seraya memasang umpan berupa cacing ke kail, dan bersiap melempar mata pancingnya.


" Pasti makin cantik jika mereka tumbuh subur dan banyak!" Ayu masih menikmati sensasi dingin air sungai itu. Semilir angin sejuk menerpa wajahnya, rindangnya pohon Bendo yang meneduhi dua saudara itu, membuat keduanya kian betah.


" Seperti adik mas. Makin bertumbuh makin cantik!" Pandu tersenyum menatap wajah adiknya yang terlihat ceria pagi ini.


Sementara yang di puji hanya mengulum senyum manis. Ayu hanya bisa merasakan tanpa bisa melihat. Tapi, ia berjanji dalam hati untuk belajar membiasakan diri dengan kondisinya itu.


" Ingin di masak apa ikannya?" tanya Pandu.


" Bikin sambal ya mas, kasih kemangi. Nanti aku ingin minum es kelapa muda. Tapi mas Pandu yang harus manjat!" ia tergelak usai mengucapkan hal itu, karena ia tahu Pandu tak berani memanjat pohon kelapa.


Membuat Pandu langsung terhenyak.


.


.


Serafina


Moodnya rusak seketika tanpa alasan yang jelas. Kabut tebal mendadak menutupi relung hatinya. " Bodoh Bodoh Bodoh!"


Fina merutuki dirinya sendiri.


Untuk apa dia bersikap kekanak-kanakan seperti itu hanya karena melihat Pandu yang berboncengan mesra dengan seorang wanita.


" Fin, Fina!" Ajak Dita sarapan, kamu kenapa malah di kamar. Dita mana?" Bu Asmah membuka pintu kamar Fina. Lagi-lagi tanpa mengetuk pintu.


" CK, iya Oma!" Fina mendecak sebal. Ia bahkan melupakan sahabatnya itu.


Sementara itu, di tempat lain Dita terlihat tengah berbincang dengan wanita yang menawarinya keripik buah naga.


" Ini untukmu saja nak, aku setiap hari membuatnya di rumah bosku!" wanita itu berterimakasih karena Dita telah memberinya pertolongan saat jatuh dari sepedanya tadi.


" Terimakasih banyak Bu, ini enak!"


Fina berjalan kaki menuju luar rumah dan melihat sahabatnya itu, tengah berbicara dengan wanita paruh baya. Dan saat Fina tengah berjalan dan baru sampai beberapa langkah, ia melihat perempuan yang berbicara bersama Dita itu undur diri.


" Siapa?" tanya Fina pada sahabatnya itu. Membuat Dita sedikit terperanjat.


" Ngagetin aja sih!" Dita mendengus.


" Aku tidak tahu, tapi dia baik. Dia bahkan memberiku ini!"


...Dragon Fruit Chips...


...Ajisaka's Foods...


" Kripik buah naga?" Fina menautkan kedua alisnya.


" Hemm, enak ternyata. Orang sini ada juga yang kreatif ya?" Dita terus saja mengunyah keripik buah dengan warga merah itu, yang terbungkus dalam kemasan aluminium foil.


" Jangan ngunyah aja, entar gendut lagi. Makan yuk, kamu belum sarapan kan?" tukas Fina.


" Ye, ini kan dari buah. Sehat lagi!"


.


.


Mereka berdua sarapan dalam diam. Menu ndeso yang justru malah memanjakan lidah. Bu Asmah menatap kedua gadis muda itu dengan senyum yang tak luntur.


Wanita tua itu senang karena rumahnya kini ramai. Kehadiran Fina sedikit banyak bisa menambah aura rumah itu menjadi lebih hidup.


" Ya ampun, Oma ini enak banget!" ucap Dita berbinar saat memasukkan suapan nasi krawu ke dalam mulutnya.


Bu Asmah tersenyum, sahabat dari cucunya itu bisa membuat suasana menghangat. " Tadi apa namanya, nasi krawu ya. Aku baru makan disini!" imbuh Dita.


" Bagus kalau kamu suka, Fina gak suka soalnya. Dia sukanya makan yang garing- garing. Gak suka sayur dia!" Bu Asmah malah menguliti sifat cucunya yang tak doyan sayuran.


Sarapan itu berjalan menyenangkan karena kehadiran Dita, gadis periang yang nampak mudah berbaur. Tak seperti Fina yang sikapnya ketus, jika belum mengenal orang lain.


" Oma minta tolong nanti siang kamu bayar uang lontong ke ibunya Pandu ya, sekalian antar makanan ke sawah. Mbak Yayuk biar bawa yang lainnya!"


" Apa?, harus Fina?" dengan bodohnya ia bertanya.


" Ya siapa lagi, kan kamu harus mulai bantu Oma mulai dari sekarang!"


Mendadak kehilangan semangat. Dita hanya bisa berdiam, malam nanti rencananya Dita akan menempati rumah yang di sediakan oleh dinas kesehatan setempat.


Dan waktu yang paling tidak di nantikan justru datang lebih cepat. Berbekal petunjuk dari beberapa warga disana, Fina akhirnya menemukan rumah ibu Pandu itu.


" Elu aja deh Dit yang kesana!" tutur Fina yang terlihat enggan melangkahkan kakinya.


" Nah kok gue, ya elu lah. Aku mana kenal orang sini!" Dita tentu saja menolak. Ia saja baru sehari berada di Kalianyar.


" CK, elu pikir gue juga kenal!" mau tidak mau Fina terpaksa berjalan menuju rumah yang kondisinya sedang.


Fina melihat motor milik Pandu yang terlihat baru di cuci. Terlihat tetesan air yang masih terjadi. Mungkin Pandu lupa mengelap motonya dengan kanebo. Atau bahkan mungkin belum.


Seketika Fina menelan ludahnya demi mengingat kejadian tadi pagi.


" Permisi!" ucapnya sambil menunggu. Namun hingga beberapa detik tak ada sahutan apalagi jawaban.


" Permisi Bu Ambar!" ia tahu nama ibu Pandu dari neneknya.


Sayup-sayup terdengar suara gelak perempuan tawa dari arah dalam. " Permisi!" ucap Fina seraya celingak-celinguk di ambang pintu rumah Pandu.


" CK, kayaknya gak dengar deh Fin!" Dita merasa mungkin orang yang tertawa di belakang itu terlalu larut dalam gelak.


" Permi...!"


Ucapan Fina terjeda lantaran ia melihat Pandu yang bertelanjang dada , sembari mengenakan kaos dalam hitam kini berjalan ke arah Fina dan Dita.


Enam cetakan otot perut itu terlihat begitu menggairahkan. Apalagi, tampilan Pandu siang itu terlihat segar. Pria itu terlihat menyugar rambutnya yang basah.


Jelas Pandu baru saja mandi.


Membuat dua wanita itu meneguk ludahnya karena terpesona.


.


.


Pandu


Ikan Sengkaring yang ia pancing tadi tadi agaknya lebih dari cukup untuk lauk makan siang keluarganya. Lebih dari satu timba berukuran sedang yang ia dapat. Tak hanya itu, sejumlah ikan air tawar seperti wader dan uceng juga berhasil ia dapat.


Ia dan adiknya benar-benar menghabiskan waktu menyenangkan di sungai tadi . Ayu merasa senang sekaligus lebih percaya diri usai ikut kakaknya ke sungai. Rupanya banyak orang yang menyapa adiknya itu, saat perjalanan pulang menuju rumahnya.


Kekhawatiran ayu terkait kebutaannya yang mendapat gunjingan di masyarakat, agaknya tak terbukti. Justru banyak orang yang simpati kepada ayu.


"Kamu ganti baju dulu biar gak masuk angin, mas mau nyuci motor dulu terus mandi!" ucapnya sesaat setelah mereka sampai.


Ambarwati yang melihat anaknya itu kini mau keluar dan tak mengurung diri tentu saja merasa bahagia. " Ayo ganti baju sama Ibu dulu, habis ini ibu goreng ikannya. Kita buat sambal ya!" Ambarwati menyongsong kedatangan dua anaknya.


Wanita itu terlihat membantu anaknya untuk turun dan berjalan.


Pandu mencuci motonya di depan rumahnya. Selain bengkel, ia juga memiliki usaha cuci motor. Meski tidak ramai, namun tiap harinya pasti ada yang mencucikan. Jika ia sibuk, ia biasanya meminta Adi, bocah SMP yatim piatu yang terkadang meminta perkejaan kepadanya.


Tentu saja, dengan upah yang hanya cukup untuk Adi gunakan sebagai uang saku sekolahnya.


Saat baru saja mandi dan belum selesai mengenakan pakaiannya, ia mendengar suara wanita yang bertamu kerumahnya siang itu. Ia juga mendengar suara adik dan ibunya yang tertawa cekikikan di dapur. Entah apa yang mereka bahas.


"Permisi!" kamar pria itu berada di depan, membuat suara itu terdengar jelas.


Namun, semua itu membuat Pandu seolah mendapat angin surga. Pandu merasakan kebahagiaan karena kini rumahnya terasa lebih ceria.


" Permisi!" terdengar ucapan yang kedua kalinya.


Suara itu terus saja terdengar, mungkin Ibunya tidak mendengar karena asyik dengan adiknya. Ia yang terburu- buru, akhirnya keluar dengan keadaan bertelanjang dada, sembari memakai bajunya.


Bahkan rambutnya juga masih basah. Ia terkejut demi minat dua wanita yang ia kenal, menatapnya dengan mata membulat, kini berdiri di ambang pintunya.


" Fina.."


.


.


.


.


.