Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 12. Start Admiring



Bab 12. Start Admiring


^^^" Wanita acapkali dijuluki makhluk 'Baper' karena sejatinya ia memang lebih mengedepankan perasaan, ketimbang logika"^^^


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


.


.


.


Pandu


Ia mengembuskan napas penuh kelegaan saat tiba di depan pintu dapur Mamak Mariana. " Astaga, huft!!!! perempuan itu main peluk- peluk aja"


Pandu menggelengkan kepalanya guna menetralisir rasa aneh yang menjalari tubuhnya. Ia pria normal bukan. Dan di peluk gadis cantik sekelas Serafina, sudah pasti membuat adrenalinnya tak normal.


Sejurus kemudian, saat ia hendak berjalan kembali ke tempat para sahabatnya, Desinta tiba-tiba muncul dari depan.


" Mas?" wanita dengan rambut tergerai itu langsung menyentuh lengan Pandu.


" Emmm, kenapa Des?" Pandu risih, dan dengan gerakan pelan pria itu melepaskan tangan Desinta. Membuat wanita itu mengigit bibirnya karena sedikit kesal.


" Mas Pandu kenapa sih, menghindar terus. Acaranya kan udah selesai, jalan yuk mas!" Wanita itu merengek dan terus bergelayut manja di lengan berotot Pandu.


" Lain kali aja Des, gak enak sama yang lain. Udah ya aku mau kesana dulu!" Ia segera melepas cekalan tangan Desinta. Sejurus kemudian ia mengembuskan napasnya kasar, karena jengah dengan gadis itu.


Kini Desinta menghentakkan kakinya karena kesal dengan Pandu yang selalu menghindarinya.


.


.


Serafina


Ia berdiri mematung saat melihat pria yang ia peluk tadi, kini di gelayuti oleh seorang wanita berambut lurus yang berkulit kuning langsat.


" Udah punya pacar ya ternyata!" Fina bergumam seraya mengintip dari balik tembok. Ia tak enak jika mau ngeloyor.


Entah mengapa, hati Fina agak kurang suka melihat hal itu. Aneh bukan.


" Apa mereka bertengkar?" Gumamanya karena melihat Pandu yang terlihat risih dengan wanita itu.


Fina merasa bersalah karena tadi memeluk pacar orang. Begitu pikirnya. Sejenak ia teringat dengan Shila yang berciuman dengan Riko. Ia tentu tak mau menjadi seperti Shila.


Namun, sejurus kemudian ia melihat Pandu melangkahkan kakinya dan meninggalkan wanita itu seorang diri. " Loh, kok pergi!"


Ia mendadak kepo dengan urusan orang lain.


" Sebaiknya aku keluar lah!" Fina kini membuka pintu yang sebenarnya sudah terbuka separuh itu. Tak ada alasan lagi untuk dirinya berada di dapur Mamak Mariana.


Ia tersenyum saat melewati wanita yang bergelayut manja di lengan Pandu tadi. " Mbak!" ia menyapa secara normal. Berupaya ramah kepada orang lain.


Namun yang di sapa, tak memberikan sambutan hangat. Desinta melipat kedua tangannya sembari menatap sinis Serafina.


" CK, brengsek. Bagus udah di sapa, malah melotot. Gak jelas semua emang orang-orang disini!" ucapnya dalam hati, seraya menggelengkan kepalanya malas.


" Nyesek aku nyapa!" dengusnya seraya berjalan menjauh dari Desinta.


.


.


" Kamu itu buang air apa ngapain Ndu, curiga aku sama kamu!" Ucap Yudha menyambut kedatangan Pandu.


" Heeh, itu si cucu Bu Asmah juga tadi aku lihat ke dapur kamu deh Yud, ...hayo ngapain?" Sakti menaik-turunkan alisnya memandang penuh selidik wajah Pandu.


Sementara Ajisaka hanya mengulum senyum, pria itu selalu saya kehabisan stok bicara kalau udah menyangkut urusan betina.


" Ngaco terooos, emang orang kencing ada patokan jam nya gitu. Ngarang aja kalian!" Ucap Pandu meraih cangkir kopinya, lalu menghabiskannya dalam sekali tegukan.


" Minum kopi udah kaya minum kolak!" dengus Sakti.


" Kalau dingin gak enak!" sahut Pandu.


" Sama kayak hati elu Sak, udah dingin karena terlalu lama di diamkan sama Heni, ciat.....ciat....!" Sahut Yudha dengan tergelak kencang.


Membuat Pandu dan Ajisaka turut terkikik geli demi mendengar ucapan Yudha yang mengandung kenyataan itu.


Ya, Sakti memang sering di tolak wanita karena mulut licinnya yang melebihi mulut kepo tetangga.


" Sialan kalian, teman cap botol kecap emang!" dengus Sakti yang membuat ketiganya makin kencang tergelak.


Saat mereka asik larut dalam gelak tawa, Fina melintas dengan wajah datar. Cenderung masam.


" Tuh, baru balik dia!" ucap Yudha menunjuk Fina dengan dagunya.


Sejenak Pandu melirik Fina yang tak menggubris keberadaan mereka menggunakan ekor matanya. Hatinya berdesir kala mengingat wajah takut Serafina yang memeluknya erat. Ia bahkan juga masih bisa mengingat aroma parfum yang di kenakan wanita itu.


Pandu menyimpan semuanya itu, bisa runyam urusannya kalau teman-temannya itu tahu.


" Ehem, udah jangan di pandang terus. Entar naksir malah berabe!" Sahut Sakti.


Pandu tersenyum kecut " Gak mengharap juga Sak. Modalnya banyak kali. Mana mau dia di bonceng sama Kawasaki!" Pandu berkelakar " Nih, si Bos. Baru cocok!" Pandu menepuk bahu lebar Ajisaka yang asik menyeruput kopi.


" Matamu Yud!" jawab Ajisaka dengan mendengus.


" Gak ada yang cocok, semua perempuan di kampung ini ga ada yang sesuai kriteria!" jawab Ajisaka membela diri.


" Alasan klasik, dari dolo itu-itu aja yang jadi alasanmu!" cibir Sakti pada Ajisaka. Pria yang memiliki kantong paling tebal, namun elektabilitasnya masih jauh di bawah Pandu.


Ya, Pandu dan Ajisaka berusia sama. Sementara Yudhasoka dan Sakti berusia sepadan.


Obrolan unfaedah itu harus berakhir tatkala Desinta tiba-tiba duduk di samping Sakti. " Mas ikutan ya, seru amat ngobrolin apa sih?"


Membuat kesemuanya memutar bola matanya malas.


" Nah ni datang juga si lampir!" gumam Ajisaka nyaris tak terdengar. Pandu yang menjadi satu-satunya orang yang mendengar ucapan Ajisaka seketika terkikik geli.


.


.


Saat acara itu telah berakhir, dan mereka sudah dalam perjalanan pulang. Fina dan Bu Asmah direpotkan dengan mobil yang mogok.


" Mobil ini kapan sih Oma terkahir di pakai, bikin runyam urusan aja!" Fina mendengus. Sebenarnya rumah mereka sudah tidak begitu jauh lagi.


" Lupa Oma, gimana ini Fin?" wanita tua itu mencoba menelpon Yayuk tapi tidak bisa.


" Oma di tunggu Ajiz lagi ini!"


" CK, ya mana Fina tahu. Fina taunya naikin aja, mana ngerti soal mesin!" Fina menggerutu, ia ngantuk sekali malam ini.


Pucuk di cita, ulam tiba. Dari arah belakang, Mobil Ajisaka melintas, dan tepat di belakangnya Pandu bersama motornya juga terlihat akan pulang.


" Loh Bu, wonten nopo ( Ada apa)?" ucap Ajisaka seraya menekan indikator untuk menurunkan kaca mobilnya.


Ajisaka adalah pria yang sopan kepada yang lebih tua, meski ia adalah pria yang mudah emosi.


Pandu juga terlihat menarik sandaran motonya, saat melihat Bu Asmah yang berdiri di samping mobil dengan wajah muram.


" Gak tau ini, tiba-tiba mogok. Sekarang udah jam berapa ya? Ajiz pasti udah nunggu dirumah!" Bu Asmah cemas. Ia malam ini harus membayar upah pekerja di sawahnya lewat Ajiz.


" Saya antar aja Bu, ini mobilnya biar di benerin si Pandu. Saya buru-buru mau ke gudang juga soalnya. Kebetulan searah kan. Ndu, kamu handle ya" Tukas Ajisaka.


" Terus mobilnya?" Fina menatap Oma-nya bingung. " Aku gak mau disini sendiri!" Fina mendecak kesal.


" Sebentar aja Fin, Oma mana bisa nyetir!"


" Kamu tunggu sebentar, siapa tahu sebentar lagi bisa!"


Pandu hanya diam, ia masih menunggu perdebatan kecil antara cucu dan neneknya itu usai


" Aji antar saya ya, kasihan Ajiz nanti. Fin, kamu tunggu dulu aja bentar. Pandu, minta tolong ya nak!" ucap Bu Asmah setengah terburu-buru.


" CK, Oma!" Fina mendecak sebal.


Mobil Ajisaka terlihat kian menjauh dari pandangan Fina dan Pandu, tanpa menunggu Pandu lekas melepas kemeja yang ia kenakan. Menampilkan tubuh yang hanya mengenakan kaos dalam dengan tato yang menghiasi punggung sebelah kanan dan lengan kanan bagian atas.


Terlihat begitu sangar.


Fina tertegun menatap otot pria itu yang mengetat saat membuka kap mobil. Sejenak Fina berfikir, mengapa pria itu tak menjadi model majalah pria dewasa saja. Secara tubuhnya yang memiliki nilai jual yang tinggi.


" Ada tools?" tanya Pandu kepada Fina yang berdiri di samping mobil neneknya.


" Sebentar!" Fina berjalan menuju jok belakang, wanita itu menarik box tollskit yang ada di bawah kursi penumpang.


" Ini!" ucap Fina seraya menyerahkan kotak lumayan berat itu.


Pandu membuka ponselnya dan menyalakan senter. Pria itu terlihat serius melihat bagian kelistrikan yang mungkin menjadi biang masalah.


Terlihat lihai dalam mengutak-atik komponen rumit dan njelimet itu.


Dari jarak satu meter, Fina mengamati serta memindai tampilan Pandu yang ganteng, Tato bergambar wanita yang dilingkupi sayap, dengan aksara Jawa yang ia tak ketahui artinya itu, membuat Fina merinding seraya menelan ludah.


Pandu ganteng dan menantang.


Suasana senyap, tak seorangpun berminat angkat bicara. Pandu yang serius mencari sumber persoalan mogoknya mobil itu, dan Fina yang tiba-tiba terhipnotis dengan kecakapan Pandu.


" Sudah berapa lama tidak dipakai?" tanya Pandu menatap Fina. Membuatnya terhenyak.


" Hah, kenapa?" wanita itu gelagapan. Ia melamun karena terpekur menatap tubuh liat Pandu. Sebagai wanita yang pernah hanyut dalam lautan kenikmatan bercinta, tentu saja sekelebat pikiran erotis mendadak timbul saat ia melihat tubuh kekar dan tegap, yang membuat matanya terhipnotis.


Jika di perhatikan secara seksama, Pandu bahkan lebih ganteng dari Riko.


" Akinya soak, harus di ganti. Kamu lebih baik aku antar sekarang, sudah malam. Besok pagi - pagi benar akan aku perbaiki!" Ucap Pandu datar.


Oh my God, apa itu berarti ia akan duduk di belakang tubuh menggoda itu. Oh nooo!


.


.


.


.