
Bab 82. Logika yang aus
^^^" Terapung sama hanyut, terendam sama basah!"^^^
^^^( Sehidup semati meskipun mendapat banyak cobaan)^^^
.
.
.
...πππ...
Kediaman Keluarga Guntoro
Pukul 22. 23 LT
.
.
Serafina
Jadwal yang sudah di tetapkan rupanya benar-benar terimplementasikan dengan baik oleh team dari Kijang Kencana. Kali ini, leader dari tim Alpha sendirilah yang tengah bertugas menjaga keluarga Fina.
Andhika dan dua anak buahnya.
" Anda yang bernama Andhika?" Fina kini menatap seorang pria yang tingginya sama dengan Pandu, dengan kulit bersih dan berwajah tegas.
Fina sengaja keluar kamar dan mendatangi pria itu lantaran kantuk tak juga menyerangnya.
" Benar nona, saya Andhika. Anda bisa memanggil saya Dhika saja!" Jawab pria itu dengan sopan yang sebenarnya terkejut akan kemunculan Fina secara tiba-tiba.
" Jangan nona lah. Sepertinya kamu sama Pandu seumuran. Lebih tua kamu lagi!" Fina terkekeh. Membuat Andhika turut tersenyum.
Dari sekian track record- nya bekerja sebagai bodyguard, Fina-lah yang paling ramah dan supel.
" Tapi..."
" Udah..., papa udah tidur sekarang. Aku belum ngantuk, bisa kamu temani aku ngobrol enggak ?"
" Aku pingin tahu kenapa Pandu bisa gabung sama kalian!" Fina rupanya masih kepo akan hal itu. Dan keberadaan Andhika sepertinya bisa menjadi sumber informasi. Ok sip.
Namanya juga usaha. Ia terkikik dalam hati.
Andhika sempat terperanjat. Jelas saja pria itu kaget, mengapa Fina malah sibuk membahas hal diluar ranah seperti ini? Atau dia yang memang tidak tahu apa-apa soal pria yang menghajarnya beberapa waktu yang lalu.
" Anda kenal dengan..."
" Lebih dari kenal!" Fina tersenyum membayangkan wajah Pandu yang sendu saat mengungkung tubuhnya. Haish!!, otak ini benar-benar.
Andhika sebenarnya masih kesal dengan pria itu. Namun jujur, semakin kesini ia semakin takjub akan keprofesionalan Pandu. Sikap, sifat dan semuanya benar-benar baik. Sejauh ini.
Andhika lantas menceritakan asal mula ia bertemu Pandu. Pria yang datang dengan ketidaksopanan itu benar-benar diluar kendalinya.
Fina terlihat menyimak dengan serius cerita Andhika. Sempat mengernyit juga mendecak berkali-kali. Pria itu!
" Jadi yang dia cari tidak ada?" Bermaksud membahas Raditya.
Andhika mengangguk " Radit adalah salah satu buronan team kami. Ia menggelapkan uang milik bos dalam jumlah besar!"
Entah mengapa, Andhika mendadak menjadi pribadi yang informatif. Mungkin karena Fina juga merupakan pribadi easy speak kali ya.
Fina mendadak merasa kasihan kepada Pandu. Masih beruntung Pandu bertemu dengan Bayu yang merupakan orang baik.
" Entah perjanjian apa yang diucapkan oleh Bos dan dia. Yang jelas, ada sesuatu hal yang membuat dia mau ditawari untuk bergabung bersama kami!"
" Ya jujur sih, Pandu memang berkompeten dalam urusan berkelahi dengan tangan kosong!" Tukas Dhika.
Fina mengangguk setuju. Bahkan tadi siang, ia dengan mata kepalanya sendiri juga turut menyaksikan seberapa badas Pandu, saat menghajar Riko dengan tanpa ampun.
Nyaris saja anak Hartadi itu mati di tangan kosong Pandu.
" Kamu Sepertinya kesal dengan Pandu ya?" Fina tersenyum sembari menggoda Dhika yang tak bisa menyembunyikan rasa kesalnya kepada Pandu.
" Saya seben...."
DOR
DOR
Suara tembakan yang terdengar membuat ucapan Dhika menguap seketika ke udara, kala mereka berdua masih larut dalam perbincangan normal seputar Pandu. Oh Sh it!!!
Baik Dhika maupun Fina kini saling membulatkan matanya. Apa yang telah terjadi diluar?
" Kadek monitor?" Andhika langsung mencabut lalu menekan tombol Handy Talky ( HT) yang ia bawa ,seraya memanggil Kadek yang notabene merupakan anak buahnya yang ikut dengannya malam ini.
" Kadek monitor?' Dengan alis berkerut Andhika begitu terlihat gusar.
"Gohet - gohet ( Go Ahead/ lanjut)!" Jawab Kadek dengan suara tersengal. Akhirnya dijawab.
" Posisi?" Tanya Dhika dengan wajah tegang sembari berjalan maju lalu menyibak gorden putih rumah Fina.
" Arah jam tiga bang. Ada orang yang tiba-tiba nembak ke arah kita. Sudah saya kejar tapi dia kabur. Bawa motor besar warna hitam!"
" Sial!" Dhika mengumpat. Membuat Fina kini turut menjadi tegang. Agaknya keluarganya benar-benar tengah berada dalam intaian bahaya.
" Nona...emmm maksud saya, Fina. Sebaiknya kamu masuk kedalam. Kunci pintu!"
" Aku akan menemui Kadek dan Willy dulu!"
Fina mengangguk setuju, dalam sekejap ketenangannya berubah menjadi kepanikan.
.
.
Andhika
Tugas penjagaan malam selalu lebih ekstra dari pada penjagaan siang. Malam ini ia membawa serta dua anak buahnya, Willy dan Kadek. Dua pria yang sangat bisa ia andalkan.
Tak mengira jika malam ini mereka akan mendapatkan kunjungan tamu tak di undang. Dengan langkah cepat, ia berjalan keluarga sembari terus menggenggam HT yang sedari tadi ia jadikan alat untuk berkomunikasi.
" Kami baru mendapatkan serangan. Terdengar suara tembakan dua kali!"
Ia mengirim pesan itu kepada Bayu. Sekecil apapun hal yang terjadi, ia wajib melaporkannya kepada Bayu.
" Wil, Dek!" Ia memanggil dua anak buahnya yang terlihat sibuk menyisir area halaman keluarga Fina.
" Bang!" Jawab mereka kompak saat melihat kedatangan leader mereka.
" Mereka sepertinya tidak tahu jika kita berjaga malam ini. Mereka menembaki kita lantaran kaget. Motor itu tak memiliki plat nomor kendaraan!" Tukas Willy dengan raut kecewa.
Andhika tertegun. Jelas tugas mereka kali ini tidak main-main. Ia melihat satpam rumah Fina yang kini berwajah pucat karena ketakutan.
Dalam hati Dhika bertanya-tanya. Mengapa makin kesini urusannya semakin menegangkan saja.
...πππ...
" Maaf bos, kamu nyaris saja tertangkap tadi. Ternyata ada dua orang yang berjaga di depan tadi!"
Dua pria misterius itu kini melapor kepada bosnya. Mereka terkejut lantaran tak mengira jika rumah Fina masih dalam naungan penjagaan Bodyguard dari Kijang Kencana.
" Apa?" Pria itu terlihat meradang. Bagiamana bisa mereka telah mengantisipasi hal semacam ini.
" Benar bos, mereka bahkan menodongkan senjatanya terlebih dahulu. Kami tak memiliki pilihan, akhirnya terpaksa kami harus menembaki mereka terlebih dahulu!"
.
.
Pandu
" Rumahku di tembaki orang dua kali!"
" Aku takut banget!"
Kalimat yang dikirim Fina sukses membuat Pandu tak jadi untuk memejamkan matanya barang sejenak. Perasaan khawatirkan kini mendominasi dirinya.
" Kau mau kemana?" Ucap Bayu kepada dirinya, tatkala tanpa sengaja pria itu melihat Pandu keluar dari dalam kamarnya.
" Rumah Fina seka..."
" Andhika pasti sudah bisa mengatasinya bersama Willy dan Kadek!" Potong Bayu cepat. Ia tahu jika Pandu terserang rasa khawatir.
" Rumahnya di tembaki orang. Dhika sudah berkirim info kepadaku!" Terang Bayu ingin membuat Pandu lebih tenang. Pria itu menangkap kilatan kekhwatiran dari sorot mata Pandu
" Biarlah Dhika menuntaskan pekerjaan hingga pukul 5!"
Membuat Pandu tertegun. Tentu saja jika ia kesana saat ini, akan membuat Dhika tersinggung. Ah bodohnya.
" Istirahatlah. Besok kau akan bertugas lagi. Sebaiknya kita lebih mengedepankan logika saat ini ketimbang perasaan!" Bayu menepuk pundak Pandu yang masih tertegun itu.
" Jangan sampai saat Fina membutuhkanmu, kau malah tidak dalam kondisi on fire!" Bayu berucap sambil berlalu. Meninggalkan Pandu yang tercenung lantaran tertampar oleh ucapan Pandu yang menyentil logikanya yang seperti aus. Lekang dimakan kebodohan.
Ah sial, Bayu benar. Mengapa sekarang ia menjadi pria yang bodoh. Yang malah mengedepankan perasaan ketimbang logika.
Jangan sampai logikanya aus dimakan cinta buta. Dasar Pandu! Pandu!
.
.
.
.