
Bab 63. Berdua denganmu
^^^"Sedikit kenakalan kadang bisa menyeimbangkan langkah hidup. Kadang kita perlu berbelok agar tahu rasanya menjadi lurus!"^^^
.
.
.
...πππ...
Serafina
Umur setahun jagung, darah setampuk pinang. Orang yang masih muda, dan belum memiliki cukup pengalaman. Ya, meski sebenarnya dalam masa pencarian jati diri ini, Fina telah memiliki pilihannya. Tapi tetap saja, jiwa grusa-grusu itu belum hilang darinya.
Seperti berada di hotel bersama seorang pria tengah malam begini. Orang pasti akan beranggapan jika mereka sedang wik- wik malam ini.
Ia lekat memandang wajah Pandu yang memar di sana-sini. Pria itu seenaknya menciumnya. Tapi, mengapa dia suka. Ahhh Pandu!!
Ini gila, jelas gila.
" AUWH!" Pandu meringis merasakan sakit di area punggungnya. Punggung yang terasa remuk dan pedih.
" Kenapa?" Tanyanya yang hendak beranjak dari kasur itu namun urung. Memandangi Pandu penuh kecemasan.
Namun Pandu tak menjawab. Pria itu memejamkan matanya seraya meringis kesakitan sembari mencoba melepas pakaiannya.
What is she doing?
Fina mendelik " Apa yang elu lakukan? Ndu!! Elu enggak....!"
Dunia mendadak berhenti selama sepersekian detik kala Fina melihat Pandu yang mencoba melepas pakaiannya. Oh Sh*it!! Apakah Pandu???
" Coba kamu lihat Fin, aku minta tolong. Rasanya sakit sekali!" Kini Pandu duduk menggantungkan kakinya di bibir ranjang. Memperlihatkan punggungnya yang begitu memar karena terhantam benda tumpul kepada Fina.
Singkatnya Pandu meminta Fina untuk melihat langsung apakah punggungnya juga terluka.
" Astaga sial!" Maki Fina pada diri sendiri. Begini sekali menjadi dirinya ya? Otaknya terlalu kotor sewaktu bersama Pandu. Ia bahkan mengira akan....Ah malu sekali!!
Fina mulai memetakan keadaan. Mencoba menetralisir rasa aneh kala melihat punggung telanjang Pandu yang terlihat begitu menggiurkan. Keras dan liat.
" Astaga, Ndu ini ..!" Fina melihat punggung lebar nan kokoh itu berwarna kebiruan. Jelas jika usai terkena hantaman benda keras.
Fina meraba punggung Pandu sembari menelan ludah. Ya Tuhan kuatkanlah hamba. Ini terlalu...UH!!!
" Apa terluka?" Suara Pandu terdengar biasa saja. Ia bahkan sempat melirik Pandu yang meringis saat ia menyentuh bagian yang warnanya paling biru.
Fina mengangguk sembari terus menyusuri punggung dengan memar di sana sini itu dengan masygul.
" Iya, sebenarnya kamu ini habis ngapain sih?" Gerutu Fina karena sedari tadi tak mendapatkan jawaban.
Mengapa dan bagaimana bisa Pandu dalam keadaan seperti itu. Terlalu cemas dengan kondisi Pandu membuatnya lebih fokus untuk mengobati terlebih dahulu.
Fina mendengus kesal.
Pandu terlihat tertegun. Pun dirinya. Keheningan menyeruak diantara dua sejoli itu.
Fina menotolkan cairan rivanol itu ke daerah sekitar tatto Pandu. Ia melihat punggung pria itu terluka. Fina memerhatikan lekat gambar wajah perempuan dengan buliran air mata itu. Juga memperhatikan satu persatu huruf aksara Jawa yang sama sekali tak ia mengerti.
Sempat menyesal mengapa saat pelajaran bahasa daerah dulu, ia kerap mangkir dan ogah tahu.
" Aku mencari pria yang menusuk Ayu!" Tukasnya di sela-sela keheningan.
" Apa?" Tentu saja ia terperanjat. Menghentikan tangannya yang masih tekun dengan kapas dan rivanol diatas punggung Pandu.
Jadi Pandu babak belur begini karena bertingkah impulsif? Fina bahkan langsung merasa bersalah saat itu juga.
Tanpa ragu, kini Pandu menceritakan semua kepada Fina. Membuat Fina yang mendengarkan cerita itu kini menjadi tercenung. Apakah semua ini benar- benar karena dirinya?
" Pikiranku semakin terusik. Jujur Fin, aku tidak tenang sebelum menemukan pria brengsek itu!" Ucap Pandu geram. Ia bahkan bisa melihat rahang Pandu yang mengeras juga suara gigi gemelutuk dari pria itu.
Suasana hening beberapa detik. Sepi menguar keudara.
" Semua karena aku!" Fina Menundukkan kepalanya. Semua perasaan negatif kini bercampur. Masih belum hilang dari ingatannya, bagiamana dengan bodohnya ia mencium Pandu di depan Riko.
Sikap impulsif yang justru memantik Riko untuk berbuat tidak benar. Benar-benar diluar kendalinya. Damned!
" Dulu aku berpikir seperti itu!" Ucap Pandu menerawang. Membuat Fina mendongak dan menatap wajah ganteng Pandu meski babak belur.
" Tapi setelah aku renungkan. Sebenarnya tidak!" Membuat Fina mengernyit.
" Mereka lebih dari yang aku pikirkan Fin. Kau tahu..."
" Riko anak orang berpengaruh Ndu. Aku juga baru tahu jika keluarga Riko se ekstrem itu dari cerita papah!" Fina memasang wajah muram.
" Jujur kalau disini ada yang harus di salahkan, sebenarnya orang itu adalah aku!" Kembali bermuram durja.
Pandu tersenyum " Jika mantanmu itu bukanlah orang jahat, tentu ia tidak akan menyelesaikan masalah dengan membuat masalah baru bukan?"
" Lagipula kalau dari dengar dari ceritamu, harusnya kalian sudah impas kan. Skor kalian satu sama satu!" Pandu malah terkekeh.
Dan senyuman itu. Uh!!!! Makin membuat Fina meleleh.
Pandangan mereka bertemu. Sosok Pandu benar-benar membuatnya berdecak kagum di setiap kesempatan bertemu. Ucapannya, sikapnya. Terlebih, wajahnya. Absolutly.
" Sini aku obati lagi!" Fina mengarahkan Pandu untuk sedikit miring. Fina kini malah enggan pulang karena bertemu dengan Pandu.
Jelas ia teramat bahagia. Is it true that Fina has fallen in love?
" Oh ya, kamu dari mana, kenapa malam-malam begini masih keluyuran?"
Fina kini berengut demi mendengar Pandu yang melontarkan pertanyaan itu. Haruskah ia menjawab, karena aku galau? Galau karena pria bernama Pandu?
" Males dirumah!" Sahutnya dengan nada sebal. Sembari mengoleskan salep ke punggung pria itu. Punggung yang benar-benar memancing gelenyar aneh dalam diri Fina.
Tubuh yang menggiurkan.
" Kok jadi kesel sih?" Sahut Pandu sedikit terkekeh di sela ringisannya akibat merasakan punggungnya yang masih nyeri.
" Enggak kok!"
Pandu diam, ia juga diam. Memilih fokus kepada luka Pandu.
" Kamu pulang setelah ini, nanti kamu di cariin orang tua kamu!" Ucap Pandu sedikit menoleh. Membuatnya sedikit bisa melihat sudut bibir Pandu yang memar.
Fina membasahi bibirnya. Sungguh ia tak ingin beranjak dari sana.
" Aku mau disini sama kamu!" Ucapnya tanpa ragu.
" Hah?" Seketika Pandu membulatkan matanya tak percaya demi mendengar apa yang terlontar dari bibir Fina.
Wanita itu benar-benar!
" Fin, aku gak mau nambah masalah dengan....!"
" Aku cuma mau mastiin kamu safe aja Ndu. Aku takut orang yang baru kamu gebukin nyari kamu!"
Mereka berdua saling menatap. Sungguh mengapa takdir menyeret mereka dalam pertemuan yang seperti ini.
" Enggak, kamu harus pulang. Kalau enggak, biar aku yang..."
" Yang apa? Kamu mau pulang kemana? Kamu tinggal di mana sih?" Fina justru makin memberontak. Daebakk!!! ( uar biasa)
" Ini kota Ndu. Keadaan kamu juga kayak gini!" Fina kini terengah-engah demi mendebat ide Pandu yang menurutnya tidak relevan.
Untuknya pastinya!
.
.
Pandu
Ia menggeleng tak percaya kala Fina malah memutuskan untuk menginap di hotel itu. Lebih tepatnya di kamar yang sama.
Ia pria normal. Teringat akan tragedi di gubuk yang nyaris saja membuatnya bablas.
Oh jelas itu bisa menjadi suatu ancaman lain baginya. Otak pria mana yang tak berubah menjadi seronok kala bersama wanita cantik macam Fina. Astaga!
Apalagi track record mereka di desa yang, uhuy!!!
Hanya dua sejoli itu yang tahu.
Selesai menatap Fina dengan tatapan tak percaya, kini Pandu dengan meringis mencoba kembali berdiri. Membuat Fina mengernyit.
Pandu rupanya mematut dirinya di cermin besar itu. Ia meraba rahangnya sendiri yang masih terasa pedih. Melihat luka dan memar yang kini bertengger disana- sini.
" Tatto di punggung kamu itu ada tulisan Jawa ya? Artinya apa sih?" Fina malah lagi-lagi terfokus dengan gambar abadi di tubuhnya.
Penasaran rupanya.
Pandu tersenyum menatap wajah Fina yang penasaran dari pantulan cermin besar itu. Menatapnya penuh arti.
" Masa kamu gak tahu?" Ucap Pandu tersenyum.
Fina menggeleng dengan wajah lugu. Membuat Pandu double tertawa. Hey, bung ini sudah malam. Apa kalian akan terus mengobrol?
" Tulisan ini adalah tulisan nama seseorang yang spesial dalam hidup aku!" Pandu membalikkan badannya ke arah Fina. Enam cetakan otot itu kini bisa Fina nikmati dengan tanpa gangguan.
Bolehkan Fina menyentuhnya? ceileee!!!
Benar-benar meresahkan. Bagiamana bisa Pandu memiliki bentuk tubuh sebagus itu? Ah Pandu!!!
" Laki-laki atau perempuan?" Tanya Fina makin penasaran.
Membuat Pandu menyipitkan matanya demi melihat raut wajah Fina yang makin kepo.
" Perempuan!" Sahut Pandu mantap.
Fina mendelik. Mendadak tubuhnya dialiri rasa aneh. Marah? Kecewa? Atau Cemburu?
" Siapa?" Tanya Fina dengan wajah mulai berengut.
Look!!! is she angry?
Pandu mencondongkan tubuhnya yang terasa ngilu. Menatap Fina dengan lekat sembari tersenyum. Membuat jantung wanita itu kini berdegup begitu kencang. Pandu ganteng banget sih!!! Membuat wanita itu kerajingan.
My Gosh!!!
" R a h a s i a!" Ucap Pandu dengan jeda yang penuh penekanan sembari tersenyum. Membuat Fina kini makin dibuat kesal karena disiksa rasa penasaran.
Apakah wanita spesial itu kekasih Pandu?
WADAAAW!!!!
.
.
.