
Bab 164. Aku dan Bukti cintaku
.
.
.
...πππ...
Masa terasa lamban bagi si penunggu, dan lebih terasa cepat bagi insan yang tak mempedulikannya.
Waktu berjalan menggilas, cepat dan acapkali egois. Memaksa siapa saja untuk tunduk pada apa yang ia sajikan bersama takdir.
" Sudah siap?"
Pandu memasuki kamar ibunya. Tidak ada make up yang kentara maupun perias pengantin di kamar itu. Semua serba mandiri dan tidak berlebihan.
Ambarwati mengangguk. Ia membelai wajah anaknya dengan menahan air matanya. Rasanya kompleks sekali. Bahagia, penuh keharuan. Entahlah, Ambarwati bersyukur lantaran masih diberikan kesempatan untuk menerima cinta pria baik hati di usianya yang sangat matang.
Jika manusia di pukul rata akan hidup di usia 65 tahun, itu berarti ia masih memiliki sisa waktu lebih dari satu dekade lagi untuk meniti kehidupan bersama Bayu.
Riuh rendah suara yang hadir tak terlalu menimbulkan huru-hara. Rumahnya kini ia sulap menjadi sebuah tempat yang di penuhi beberapa keluarga. Sarat kasih mesra dan kehangatan sanak saudara.
Bu Asmah dan Fina turut andil dalam gelaran acara tersebut. Ajisaka, Yudhasoka dan sakti sudah jelas menjadi tukang riwa- riwi disana. Lik Sarip bertindak sebagai penerima tamu bersama istrinya.
Semua bahu membahu dalam mempersiapkan acara itu
Para tetangga yang tahu juga turut berbahagia. Ambarwati sudah belasan tahun menjanda, dan wanita baik yang tak pernah aneh-aneh itu, selalunya menolak sewaktu ada beberapa pria yang mendekati.
Tapi sekali lagi, takdir Tuhan tidak ada yang tahu bukan? Setiap orang punya masanya. Dan setiap masa, punya orang-orangnya. Begitulah kata pujangga bijak.
Bayu yang di dampingi Rendy dan para leader Kijang Kencana terlihat berpakaian rapih. Semua pria disana terlihat keren. Apalagi manten prianya.
Bayu terlihat tampan.
" Lihat itu, itung-itung training Ji. Bentar lagi kamu juga nyusul kan? Nanti kamu dengar-dengar baik-baik. Kata orang...harus sekali tarikan waktu ngucapinnya. Biar kehidupannya setelah menikah juga lancar!" Bisik Sakti kepada Ajisaka yang kini duduk bersila di atas permadani lembut, yang di gelar di dalam rumah Pandu.
" Hah, masih lama. Rasa-rasanya kok aku sekarang yang ngebet kawin ya Sak?" Sahut Aji muram.
" Eleh raimu! Sok-sokan ngebet kawin, palingan juga udah icip-icip duluan!" Sakti mencibir dengan wajah monyo- monyo.
Yudha kini terlihat lebih pendiam. Pria dengan wajah oriental itu terlihat beraut wajah mendung.
" Ini lagi satu, buthek( keruh) amat wajahnya!" Sindir Sakti kepada Yudha.
Sepertinya, dua sahabatnya itu sama-sama tengah di rundung persoalan. Namun jelas berbeda takaran. Hah, entahlah.
Konsep yang di sajikan begitu sederhana. Dan dari kesemuanya itu, Ambarwati lah yang memintanya.
" Yang penting keluarga hadir. Saya tidak perlu resepsi mewah. Malu sama anak-anaknya!" Tolak Ambarwati halus, saat Bayu hendak menyerahkan sebuah kartu unlimited untuk digunakan Ambarwati berbelanja.
Namun, lagi-lagi wanita itu menolak.
" Seadanya saja. Uangnya disimpan untuk hari tua kita saja!"
Mendengar kata kita Bayu lantas menurut. Ia terlalu bahagia dengan kelemah-lembutan Ambarwati. Benar-benar cocok.
Aji masih muram, selama beberapa hari ini ia tak berniat ketemu Widaninggar. Lebih tepatnya sungkan kepada kang Darman. Hanya sekedar berbalas pesan untuk membunuh rasa rindu, atau bahkan curi-curi pandang saat melewati TK dimana Damar sekolah.
Hah, benar rupanya kata pepatah kuno. Cinta itu deritanya tiada akhir. Ia harus menebalkan rasa sabarnya, hingga masa Iddah Wida rampung. Ia harus mendidik dirinya untuk menjadi pejantan tangguh.
Sesal masih menelusup ke sanubarinya. Tak mengira, jika sikap impulsifnya berbuntut panjang seperti ini. Haish, harusnya ia bisa membawa serta Widaninggar ke acara penuh kebahagiaan macam ini.
Tapi keadaan selalu punya kenyataan. Hamsyong.
Kasak-kusuk positif para tetangga yang hadir juga terdengar renyah disana. Tak mengira jika rombongan pria gagah yang berbau wangi itu, merupakan anak buah calon suami Ambarwati.
Keren.
" Orang gedongan tenan bojone si Ambar Yu ( orang gedongan betulan suaminya si Ambar mbak!)" Celetuk salah satu perempuan yang terlihat duduk bersila di barisan paling belakang.
Mengenakan pakaian rempong dengan jajaran emas di lengan yang malah membuat mereka mirip toko berjalan.
Norak tapi beken.
" Anaknya dengar-dengar juga pacaran sama cucunya Bu Asmah!"
" Wah seneng banget, nanti habis mereka nikah, mereka ngunduh mantu, hihihi!"
" Pasti hampers-nya nanti bagus ya!" Ucap salah satu wanita dengan wajah berbinar dan penuh harap.
" Psssttt!" Sakti meletakkan jarinya ke tengah bibir dengan gerakan memberi instruksi pada ibu-ibu yang kegirangan itu untuk diam.
Membuat Yudha dan Aji terkekeh. Sepertinya Sakti lebih cocok menjadi pawang emak-emak rempong.
.
.
Bayu
Ini bukan kali pertamanya ia akan melakukan prosesi penuh khidmat macam ini. Berkisar beberapa puluh tahun yang lalu, ia juga pernah berada dalam situasi yang sama.
Ia tak mengira jika takdir menyeretnya ke pusaran hidup yang berbeda dari yang lain. Menjadi pemimpin para guard. Ia juga menanamkan pikiran luhur yang positif, bahwa apa yang di ijinkan terjadi dalam hidupnya , pasti membawa kebaikan untuknya.
Dan hari ini terbukti.
Ia pernah terlempar ke titik nadir hidupnya kala kehilangan anak dan istrinya beberapa puluh tahun silam. Hidup seorang diri dengan berteman sepi yang menyiksa. Meski gelimang harta nyata di depan mata.
Relung-relung hatinya kosong dan tak tersuluh cahaya cinta apapun. Hingga sampai saat, ia di pertemukan dengan sosok sederhana yang nyaris tak memiliki ambisi selain kebahagiaan Pandu anaknya.
Ambarwati.
Bayu mau sisa hidupnya di temani oleh wanita lembut dan penuh sikap dan sifat keibuan macam itu. Ia memerlukan sosok yang bisa mengurus dirinya yang bergelora tinggi itu.
Ia berusaha menuruti permintaan Ambarwati yang malah membuatnya makin heran. Mengapa di jaman seperti sekarang ini, masih ada saja wanita yang tak silau harta.
" Enggak usah berlebih-lebihan mas!"
" Kita ini udah enggak pantas buat unjuk kehebohan!"
" Yang penting aku sama kamu sah!"
Membuat hati Bayu meledak dan memancarkan percikan warna-warni.
Tapi percayalah, Bayu sudah menyiapkan hal yang akan ia rayakan bersama Ambarwati nanti. Perayaan cinta untuk insan dewasa.
" Ren, udah siap?" Bisik Bayu yang ingin memastikan jika sekotak perhiasan lengkap yang ia jadikan sebagai mahar telah di siapkan baik oleh Rendy.
" Aman bos!"
Hingga sampai para petugas dari catatan sipil datang, degup jantungnya berubah menjadi tak normal. Jelas pria itu nervous.
" Calon perempuannya?" Tanya seorang pria yang bertindak sebagai petugas yang akan mempersatukan ikrar suci itu.
Mungkin jika ada backsound yang cocok adalah lagu milik penyanyi terkenal yang berjudul a thousand year untuk mengiringi saat-saat mereka beradu tatap saat ini.
Membuat baper para tamu terlebih Fina yang otaknya sudah berkela kemana-mana.
Bayu menekan ludahnya ke tenggorokan, kala melihat Ambarwati yang cantik dalam riasan make up yang pasti itu adalah hasil dari kelihaian tangan calon menantunya, Fina.
You're so beautiful!
Dan saat tangan milik pria berjenggot itu tengah menjabat dirinya, di hadapan para manusia yang menjadi penyaksi disana, Bayu telah menyiapkan mental dan jiwanya detik itu juga.
Dan inilah bukti nyata kesungguhannya sebagai pria jantan. Hasrat ingin memiliki pasangan di kala Renjana semakin mengikatnya, benar-benar nyata ia dapatkan.
Bayu akan segera menikahi Ambar.
Karena bagi manusia, memiliki teman hidup itu merupakan suatu keseimbangan hakiki yang berhak dimiliki oleh siapapun. Tanpa terkecuali. Pun dengan dirinya.
" Saahhhh!!!!!"
Suara Sakti terdengar paling lantang sesaat setelah sederet kalimat penuh pertanggungjawaban itu lancar di ucapkan oleh Bayu.
Bukti nyata kejantanan pria yang sesungguhnya.
Di iringi tangis haru para wanita yang hadir disana. Pun dengan Bu Asmah, wanita yang juga tahu betul peliknya jalan hidup Ambarwati sejak pertama wanita itu menginjakkan kakinya di Kalianyar, mereka semua menengadahkan tangan untuk mengaminkan doa yang diucapkan oleh pemangku kepentingan disana.
Tanpa sungkan lagi, kini Bayu mencium kening Ambarwati sesaat setelah doa itu rampung di panjatkan.
Ambarwati telah benar-benar sah menjadi istrinya.
Rendy dkk begitu bahagia. Akhirnya, kegalauan bosnya selama ini terpungkasi sudah dengan ijab kabul yang sederhana namun penuh suasana khidmat itu.
" Selamat bos, semoga berbahagia!"
.
.
.
.
.
.