Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 216. Jalan menuju bahagia



Bab 216. Jalan menuju bahagia


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Sebulan berlalu, Mamak Mariana sangat cocok dengan Rara yang rupanya lihai dalam meramu menu masakan yang cocok di lidahnya. Belakangan ini Yudha jarang bertemu dengan Rara karena padatnya jadwal manggung. Membuat Yudha resah.


Selain itu Yudha juga disibukkan training keluar kota antar sesama aliansi Bank pengkreditan di seluruh Indonesia. Sepertinya pria itu akan naik jabatan lagi, karena seringnya usai sekolah atau mendapatkan ilmu baru, pria itu akan segera mendapatkan promosi kembali.


" Kayaknya kerjaan kamu yang sekarang lebih beresiko ya?" Ucap Yudha yang suatu ketika mengantarkan Rara memenuhi undangan salah satu pejabat di acara pernikahan anaknya.


Banyak pasang mata yang terang-terangan menaruh atensinya kepada Rara. Menjadi Yudha cemburu tiada terkira.


Atau suatu ketika saat tak sengaja, ia melihat komentar yang membuatnya cemburu di Instagram.


" Boleh minta nomor WA nya, aku manager cafe xxx!"


Rara cantik dan multitasking, membuatnya benar-benar gelisah karena sekarang ia baru tahu rasanya cemburu. Benar-benar hukum karma yang nyata.


Pandu juga semakin sibuk, lantaran kini ia mulai belajar mengelola Kijang Kencana atas permintaan Ayah Bayu. Pria berwibawa itu berdalih ingin menikmati hidup yang lebih berkualitas bersama Ambar, dan bermaksud memberikan kesempatan yang muda untuk berkarya.


" Ada si Rendy!"


" Kalau tidak sekarang kapan lagi?"


" Belajar sambil jalan!"


Mau tidak mau, ia akhirnya menunjuk Buyung sebagai pelaksana tugas yang ia bebani tanggung jawab mengenai bengkelnya yang semakin hari semakin melebarkan sayapnya. Pandu benar-benar di tuntut bisa membagi waktunya untuk istri dan semua pekerjaan yang sibuk itu.


Belakangan Fina diketahui sangat manja dan moodnya mudah berubah. Membuat Pandu turut terkena getahnya. Mereka semua menyadari, kehidupan yang terus berjalan lambat laun akan menemui titik persimpangnya masing-masing.


Cak Juned juga beberapa waktu terakhir lebih sering terlihat murung, lantaran empat sekawan yang selama ini menjadi pelanggan setianya , telah memiliki kesibukan dengan kehidupan mereka sendiri-sendiri. Roda kehidupan nyatanya benar-benar berjalan angkuh.


Seperti Ajisaka misalnya, ia menjadi begitu bersemangat demi mendengar jika Wida telah mengantongi akta perceraiannya dengan Pram. Mangkirnya kedua belah pihak dalam sidang mediasi maupun sidang lainnya, jelas menerangkan jika kedua pasangan tak harmonis itu, memang sepakat untuk berpisah.


Meski yang sebenarnya terjadi ialah, belakang ini ia mendengar kabar jika mas Pram mendekam di penjara, sebab terlilit hutang hingga tak mampu terbayarkan. Sungguh, manusia akan memetik apa yang ia tabur.


Keluarga Wida sudah membaca sinyal niat baik Ajisaka sejak berbulan-bulan yang lalu. Yang jelas, mereka hanya menunggu norma yang berlaku itu berjalan sesuai kewajaran. Aji terus bersabar sembari melengkapi dirinya dengan kesiapan batin dan mental.


Terlebih fisiknya yang di gempur oleh pekerjaan yang makin menuntut dirinya untuk bersikap sabar, sebab mengepalai ratusan orang jelas memerlukan sikap yang teguh dan jeli.


Ia bahkan sudah merenovasi rumahnya demi niatnya yang akan memboyong Wida berserta Damar selepas mereka menikah nanti. Aji bahkan sudah membuatkan kamar khusus untuk Damar. Pria itu benar-benar sudah membulatkan tekad untuk menjadi Ayah bagi Damar.


Hunian yang dulu sepi, bisa Aji pastikan akan menjadi tempat ternyaman selepas ia pulang bekerja nanti. Oh astaga, sungguh ia tak sabar.


" Bos? Ada tamu!" Ucap Sukron yang teka membuka pintu ruangan kerja Ajisaka.


Aji terlihat menyambut pemilik event organizer yang akan membantunya mewujudkan impian calon istrinya itu.


Impian sederhana untuk merayakan pernikahan mereka di desa saja. Tak apalah, yang penting adalah ia bisa memiliki Wida seutuhnya.


Sepakat dengan harga, desain dan juga perintilannya. Aji menjabat tangan pria beserta istrinya itu dengan senyum puas. Aji berharap, semua yang ia harapkan bisa berjalan lancar, terlebih kebahagiaan Wida merupakan yang paling utama.


.


.


Di suatu tempat di antah berantah


Seorang pria terlihat barusaja selesai mempromosikan produk baru hasil sulingan buah anggur dari perkebunan terkenal seantero negeri itu.


Pria yang memiliki kemampuan berbicara diatas rata-rata itu, terlihat dengan mudahnya memberikan gambaran penuh banyolan.


Pria itu benar-benar bisa menghipnotis para investor dengan kelihaiannya berbicara. Kebun itu memang bukan miliknya, ia hanya bekerja disana selama lebih kurang satu bulan ini.


Trik dan juga metode pemasaran yang begitu efektif, tak jarang membuat banyak pemilik hotel besar dan mewah disana, mau bekerja dengan mengambil produk anggur yang di produksi langsung oleh perkebunan besar itu.


" Good job bro, After this we have lunch first! (Kerja bagus kawan, setelah ini kita makan siang dulu!"


Seorang pria berdarah negara yang di kepalai oleh ratu Elizabeth, menepuk kuat pundak pria yang kini terlihat sedikit berisi itu. Kulit putihnya makin terlihat bersih sebab setiap hari berjibaku di ruangan ber-AC.


Mereka makan dia sebuah restoran halal, di kawasan industri yang setiap siangnya, ramai oleh pengunjung dari berbagai kalangan itu.


Dari tempatnya makan, keributan mendadak terdengar. Membuat seluruh pengunjung tiarap.


DOR DOR DOR


" Everyone, raise your hand! ( semuanya angkat tangan kalian!"


Pria tadi terlihat saling bertukar pandang dengan pria berkebangsaan Inggris itu, dalam kesadaran yang penuh, ia berhasil memetakan keadaan, karena jelas pembajakan telah terjadi di tempat makan itu.


Sial.


.


.


.


.