Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 106. Sahabat



Bab 106. Sahabat


^^^" Tak peduli seberapapun peliknya persolaan. Tuhan pasti sudah melengkapi dengan jalan keluar!"^^^


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Pandu


Ia hanya bisa tercenung dengan hidung yang sudah memanas kala Ibu menceritakan kilasan masa lalu kepada dirinya. Mati-matian menahan kristal bening, yang bisa saja meluncur sewaktu-waktu. Ia tak menampik, jika ia sangat kasihan dengan Ibunya.


" Tapi...kenapa ibuk gak mau mencari tahu dulu, dan mengatakan jika Ibuk telah di intimidasi Buk?" Ia kini menatap wajah Ibunya yang sudah berlinang air mata.


Tak menyangka jika ibunya merupakan penjaga rahasia yang ulung. Sampai takdir yang membuka tabir mengejutkan ini, ia masih tak percaya jika alasannya berada di dunia ini karena benih Hartadi yang di tertanam di rahim ibunya.


" Ibuk bisa apa saat itu nak?" Mata basah Ibuk menatap Pandu dengan tatapan pasrah.


"Yang ada di pikiran ibuk saat itu biar kamu selamat. Secara hukum ibuk juga tidak memiliki kekuatan apapun!"


Pandu memijat keningnya. Apakah posisi ibunya salah waktu itu, atau... kondisinya sama dengan dirinya yang dibutakan oleh cinta saat bersama Fina.


Entah bagaimana kini ia harus bersikap. Pria yang selama ini memiliki masalah dengannya rupanya saudara se- Bapak. Tak bisa di elak lagi, dalam darah Riko, juga mengalir darah yang sama seperti yang mengalir dalam dirinya. Darah Hartadi.


" Jika semua ini merupakan bagian penebusan kesalahan Ibuk...Ibuk terima nak!"


" Tapi Ibuk mohon, jangan pernah tinggalkan Ibuk!" Suara ibunya bahkan nyaris tak terdengar, lantaran sesegukan kala mengatakan hal itu.


Air matanya tak bisa lagi ia tahan. Bendungan itu telah jebol. Pandu menangis.


Ia bangkit lalu memeluk tubuh ibunya dengan erat. " Jangan berpikir seperti itu Buk. Kalau bukan karena Ibuk, mungkin Pandu tidak akan ada disini saat ini!" Suaranya menjadi tercekat.


" Semua udah selesai!" Pandu mengusap punggung ibunya yang bergetar. Ia tahu ini tidaklah mudah, tapi...ia percaya jika jalan setiap insan tidaklah sama, pun dengan kebahagiaannya.


.


.


Kediaman Guntoro


****


Serafina


Pakaiannya lusuh dan wajahnya sudah sangat berminyak. Tapi perasaannya begitu bahagia. Selain saat hubungannya dengan Pandu semakin terang benderang, ia akan bertemu dengan orang tuanya.


" Fina!" mama yang di temani seorang wanita cantik yang terlihat tegas datang menyongsong kedatangannya.


Tubuhnya sampai terhuyung lantaran mama terlalu bersemangat kala memeluknya. Ia sangat bersyukur hari ini.


" Syukurlah kamu selamat nak!" Mama menitikan air matanya. Ia kini tahu artinya kasih sayang orang tua, jika telah mengalami hal seperti ini.


Belum sempat ia menjawab, papa terlihat di dorong di atas kursi roda oleh seorang wanita lain yang berpakaian sama dengan wanita yang datang bersama mama. Berambut panjang di ikat kuda dan berwajah manis.


" Fina...!" Papa terlihat merentangkan kedua tangannya dari atas kursi roda itu dengan mata berkaca-kaca. Membuat dirinya langsung berlari dan menubruk tubuh papa.


" Maafin Fina Pa!" Sadar akan perbuatannya yang membuat papanya kini belum bisa beraktivitas dengan normal.


" Papa ya g salah nak, maafin papa ya?" Ia bisa merasakan betapa lembutnya usapan tangan papa hari itu. Meleburkan segala perasaan kecewa dan juga nelangsanya.


Kesemua yang disana mengharu biru, termasuk Rendy yang mengantarkan Fina. Rendy terlihat menyusut sudut matanya dengan ibu jari dan jari kelingking yang membentuk satu pola. Sejurus kemudian matanya tak sengaja saling bertatapan dengan Dyah Ayu.


Dua anak buah Bayu berbeda gender itu agaknya sudah lama mengalami cinta lokasi. Hanya saja...ah entahlah. Cinta memang kerap bergonta-ganti jalan. Saat ia ingin hinggap, maka dengan jalan konyol pun tetap terjadi.


" Ehem..Ehem!" Tanjung berdehem demi melihat kedua rekannya yang saling pandang. Ia tahu, jika dua sejoli itu telah menaruh rasa selama ini.


Seketika keduanya saling membuang muka dengan belingsatan. Hayoo, are you Falling in Love?


Cihaaaaaaa!


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Gedung Kijang Kencana


Jelang petang, Ajisaka, Yudhasoka dan Sakti terlihat lebih segar usai membersihkan diri mereka masing-masing. Mereka sore ini tengah menunggu kehadiran Pandu.


Rencananya mereka akan bertolak ke Karanganyar nanti malam. Bukan tanpa alasan, Yudha dan Ajisaka jelas tak bisa meninggalkan pekerjaan mereka di desa.


Pintu mengayun dan memperlihatkan Pandu yang menyembul dari balik pintu dengan aksen kaca itu. Pria itu selalu ganteng.


" Woy Ndu!!!" Sakti langsung menubruk tubuh sahabatnya itu. Terlalu merindukan sosok yang paling berpembawaan tenang diantara Squad PYAS itu.


Ajisaka tersenyum senang ,pun dengan Yudha yang merasa lega. Finally they get together again.


Membuat Pandu pusing karena tubuhnya terus di putar.


" Demen banget sih lu nyiksa orang Sak!" Cibir Yudha yang ingat jika Sakti lebih jago membuat orang kesal dan hampir mati karena aksi konyolnya, ketimbang berkelahi dengan cara jantan.


" Jangan salah Yud, Pandu pasti kangen kesablenganku ini!" Sakti memeluk Pandu yang masih berusaha menetralisir rasa pusingnya.


Ajisaka tergelak. Semua ini sungguh membuatnya bahagia.


" Udah- udah, mumpung kalian disini, aku pingin ngajak kalian keluar. Yuk!" Pandu yang masih di peluk Sakti itu kini menatap wajah Ajisaka dan Yudhasoka secara bergantian.


" Aku sih yes... traktir makanan yang enak dong Ndu. Atau kita jalan nyari cewek kek!"


" Cewek matamu Sak, mereka pada mual dulu lihat elu yang begitu!" Yudha bergidik demi melihat Sakti yang kerap bertingkah longor.


" Yud kamu tahu enggak apa yang bikin orang cepat mati?" Ucap Sakti.


Yudha menggelengkan kepalanya. Kini Sakti berjalan mendekati ke arah Yudha, sembari mencondongkan tubuhnya seperti hendak membisikkan sesuatu.


Membuat Ajisaka dan Pandu sama-sama mengendikkan bahunya karena tidak tahu. Apa yang akan di lakukan Sakti.


Yudha memasang indera pendengarannya dengan saksama kala tubuh Sakti telah mendekati dirinya. Sepertinya kali ini Sakti akan serius.


" Menurut penelitian, orang akan cepat terserang stress kalau dia jomblo. Dan stres adalah salah satu pemicu kematian. Jadi....terlalu lama jomblo, bisa membuat orang cepat mati!"


" Jancok arek Iki!" Demi apapun yang ada di dunia ini, Yudha mengumpat kala menyadari jika Sakti hanyalah mengerjai dirinya. Siapa juga yang mau meneliti tentang resiko dari seorang pria jomblo.


Dasar setan belang si Sakti!


.


.


Sakti telah bersendawa sebanyak tiga kali usai menghabiskan dua piring kwetiaw goreng yang bercitarasa lezat, gurih dan jelas dan yang paling penting, gratis.


Membuat Yudhasoka berkali- kali mengumpat seraya mendengus kesal. Ia bahkan ingin menenggelamkan Sakti saat itu juga ke dasar bumi.


" Memangnya aku kenapa?" Dengan masih menekuni tusuk gigi yang ia mainkan di sela-sela giginya, pria itu berbicara tanpa rasa bersalah. Membuat Pandu terkekeh.


" Ini yang aku rindukan dari kalian!" Pandu menyulut rokok sembari mengucap hal itu. Kesederhanaan, apa adanya, kesetiaan. Merupakan hal yang berharga yang Pandu Syukri dari ketiga sahabatnya.


" Jadi gimana sekarang Ndu?"


"Semua yang kamu harapkan udah kelar. Kamu gak bakalan di sini terus kan?" Ajisaka menyipitkan matanya kala mengajukan pertanyaan itu.


Sebenarnya pria itu sedikit memikirkan ucapan. Sukron melalui pesan singkat, yang menerangkan jika usahanya ada sedikit kendala yang memerlukan campur tangan langsung dari Ajisaka.


Pandu mengisap rokoknya dalam-dalam, mengembuskannya ke udara yang ada di sekitar tiga sahabatnya.


" Sebenarnya sudah beres, tapi...!"


" Tapi kamu betah kerja jadi bodyguard?" Sela Yudha menatap Pandu. Sakti langsung menguliti Pandu dengan tatapan curiga.


" Ya enggaklah Yud, si Fina kan rumahnya di sini. Pandu tak mungkin balik karena...."


" Cangkemu Sak!" Sergah Yudha. Kesal karena selalu saja menyela


Membuat Ajisaka terkekeh demi melihat dua sahabatnya yang kerap bertengkar itu.


" Kenapa, benar kan Ndu?" Tutur Sakti.


Pandu tersenyum. " Orang yang ingin aku jebloskan ke penjara..." Pandu ragu antara menceritakan hal ini atau tidak. Yang jelas, Pandu tak mau lagi terlibat dengan orang tersebut.


Kalimat menggantung dari bibir Pandu membuat tiga pria yang kini duduk melingkari meja bundar itu menunggu dengan wajah penasaran.


" Riko? Atau Hartadi Wijaya?" Sahut Ajisaka. Menebak seraya menatap wajah Pandu tegang.


" Hartadi Wijaya adalah bapakku Ji?"


Kini, raut muka ketiga sahabatnya itu benar-benar terkejut. Apakah yang di ucapkan Pandu adalah sebuah lelucon?


Sakti tergelak " Jangan ndagel ( melucu) kamu gak pantes?" Sakti tak percaya akan hal yang menurutnya konyol itu.


" Aku tidak bercanda!" Ucap Pandu serius.


Kini ketiga pria dengan kadar kegantengan versi diri mereka masing-masing itu terlihat menatap wajah Pandu lekat.


Jika begitu, lantas bagaimana mereka selanjutnya?


.


.


.