Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 178. Saat malam di emperan toko



Bab 178. Saat malam di emperan toko


.


.


.


Yudhasoka


Sepertinya semesta memang ingin menjebak mereka dalam situasi seperti itu. Buktinya hujan yang turun seolah di tumpahkan dari langit.


Deras dan di sertai angin yang lumayan menusuk kulit.


Usai terlibat adu mulut mereka kini sama-sama kembali terdiam. Ia bisa melihat jika Rara membuang wajahnya dan kini duduk membelakangi dirinya, sembari sesekali mengusap wajahnya.


"Apa dia menangis?"


Wanita itu terlihat duduk memeluk lutut dan menyandarkan kepalanya ke dinding toko, dengan nanar menatap rintik hujan yang kentara karena tersuluh cahaya lampu.


Yudha tertegun. Entah mengapa ia menyesali perkataannya yang mungkin menyakitkan hati itu. Tapi...ah sudahlah. Toh Rara juga masih emosi. Ia kini lebih memilih mengambil ponsel di belakang saku celananya, lalu menggulir benda itu.


Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Dan hujan masih turun dengan derasnya. Ah sial!


Sejurus kemudian ia terlihat membuka sebuah pesan yang rupanya berasal dari Rafi.


" Posisi?"


Yudha mengulum senyum demi melihat jika temannya itu jelas dalam kondisi baik-baik saja.


" Akhirnya lu kirim pesan juga. Aku di pasar induk. Gimana? Aman??"


Yudha menunggu balasan Rafi yang tengah mengetik itu dengan wajah tak sabar. Ia melirik punggung Rara yang masih tekun membelakanginya. Wanita itu masih saja diam.


" Aman. Aku berhasil kabur tapi kakiku keseleo ini. Besok ijin gak masuk ya. Atur aja alasan apa gitu!"


Ia sempat terkekeh demi membaca kata keseleo. Memangnya pria itu kabur kemana kok sampai keseleo segala.


" Dia enggak sempet lihat wajahmu kan?"


Yudha mengetik dengan raut lebih kecemasan. Jangan sampai hal ini malah menjadi boomerang buat mereka berdua.


" Enggak, Aman Yud pokoknya. Kamu pulangnya gimana ini?"


Yudha sempat bingung saat membaca pertanyaan Rafi. Bagaimana mau pulang, lawong hujan saja masih seperti di tumpahkan begini.


Ia lebih memilih tak membalas Rafi dan mematikan ponselnya. Entahlah, yang jelas ia akan menunggu hujan reda terlebih dahulu.


Sejurus kemudian, ia teringat akan benda yang diberikan Rafi tadi kepadanya. Berniat membuka ponsel itu demi untuk mengetahui isi di dalamnya.


Benda yang menjadi sebab musabab mereka di kejar-kejar oleh tiga orang tadi. Ia terlihat menggulir ponsel itu dengan tekun. Wajahnya menjadi terang benderang di tengah kegelapan, akibat pancaran sinar ponsel.


Yudha tersenyum licik demi melihat foto Hesti yang duduk di sebuah ruang tamu dan mengahadap ke arah pria. Terlihat terlibat obrolan serius.


" Siapa pria ini? Seperti pernah tahu!". Batin Yudha seraya memperbesar foto pria berwajah rupawan yang memiliki tinggi hampir seperti dirinya.


" Selangkah lebih dekat?!" Yudha tersenyum lega. Foto itu bisa ia gunakan untuk membongkar kelicikan Hesti.


Usai memeriksa bukti yang ia dapatkan dengan perasaan puas, kini pandangannya bertumbuk pada Rara yang terdiam dengan napas teratur, membuat rasa penasaran Yudha tergugah.


Perlahan ia menjengukkan kepalanya demi melihat Rara yang terus saja diam. Yudha menjulurkan kepalanya mengintip Rara dari belakang lalu meliriknya dari sisi kiri.


" Astaga, dia tertidur rupanya!" Gumam Yudha lirih sekali.


Ia melihat jika mata wanita itu seperti terpejam dari arah belakang tempatnya merambat.


Namun, saat ia ingin lebih memastikan lagi keadaan Rara, Dengkul Yudha tak sengaja menekan sebuah botol bekas minuman di depannya.


KLAK


CUP


Yudha yang hendak menoleh ke kanan bertepatan dengan Rara yang menoleh ke kiri, Membuat wajah mereka tanpa sengaja saling menempel.


Ya, mereka kini berciuman dengan tak sengaja.


Keduanya mendelik dalam waktu sepersekian detik. Rara yang bingung lantaran baru membuka matanya namun mendadak bibirnya menempel pada bibir Yudha.


Sementara Yudha yang juga sama bingungnya, lantaran sungguh ia tak bermaksud melakukan hal itu.


" Sialan lu!"


" BRUK!!!" Rara mendorong tubuh tegap itu dengan kuat demi rasa terkejutnya.


" Arrrggh!!"


Yudha bahkan kini terjengkang akibat di dorong oleh Rara dengan sangat keras. Bahkan tanpa bisa menghindar barang sejenak.


Rara menatap wajah Yudha dengan sangat kesal, sembari terlihat mengusap bibirnya dengan jalaran rasa kepala yang mendadak mumet.


" Asu!"


...🌺🌺🌺...


" Gimana?" Tanya Hesti yang tak sabar saat tiga orang tadi pulang dengan wajah sedikit lebam.


" Kabur , si Setyo ngejar dua orang lagi, dan saya kehilangan jejak orangnya!" Ucap pria itu dengan wajah datar.


" Dua orang lagi?" Tanya Hesti dengan wajah pias. Astaga bagaimana ini?


Pria itu mengangguk, " Sepertinya mereka sudah merencanakan semua ini!"


Hesti kini benar-benar kebingungan. Ia malam ini berada di kediaman Rizal karena di paksa oleh tiga antek pria itu.


Singkat cerita Yudha sudah berkompromi dengan Rafi dan meminta temannya itu untuk mengambil foto pria yang pernah Rafi jumpai secara tak sengaja saat Hesti bersama pria itu.


Pucuk dicita ulam tiba, Rafi bak ketiban rejeki nomplok karena malam itu, Hesti rupanya turut ada disana.


Naas, ia yang tak memperhatikan benda yang ia gunakan sebagai pijakan, mendadak jatuh karena kaleng biskuit Kong Ghuan itu, nyatanya tak bisa menahan bobot Rafi.


Dan dari situlah, asal muasal Rafi terlibat aksi saling kejar, dengan tiga orang anak buah Rizal.


Rizal kini datang dengan tersenyum licik, " Sudah aku katakan sayang. Pria itu pasti akan curiga kepadamu!" Rizal menarik pinggang Hesti dan merekatkan perutnya yang lekas membusung ke arahnya.


" Enggak mungkin!"


" Dengar! Aku sama sekali enggak sudi nikah sama kamu. Setelah kamu di tolak wanita itu, dengan gampangnya kamu mau jadiin aku pelarian hah?"


Hesti sakit hati dengan Rizal yang bersikap semaunya itu. Bagiamana pun juga, ia juga memiliki hati dan perasaan.


Rizal tersenyum licik, ia mendekatkan wajahnya ke telinga Hesti, " Tapi bayi yang ada dalam perutmu itu, adalah darah dagingku!" Rizal tertawa puas demi melihat wajah Hesti yang terkejut.


" Aku tahu semuanya Hes... semuanya!" Ucap Rizal kembali dengan tawa yang lebih menggema dan sukses membuat wajah Hesti semakin pucat.


Hesti menginginkan Yudha karena pria itu memang ia sukai sejak awal. Pria ganteng yang kerap menjadi rebutan para wanita itu sepertinya memiliki daya tarik tersendiri bagi Hesti. Meski ia tahu, Yudha merupakan womanizer sejati.


" Tidak, dia tidak akan percaya, dia sudah bilang kalau dia akan menikahiku!"


Hesti berteriak histeris. Tak sanggup jika Yudha sampai tahu semua kebenarannya.


.


.


.


.