Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 124. Cara licik Aji



Bab124. Cara licik Aji


^^^" Jangan berharap masalah mu akan dimudahkan, tapi berharaplah kamu diberikan kekuatan untuk menghadapi!"^^^


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Widaninggar


Iya benar-benar terkejut dengan ucapan Ajisaka barusan , tak mengira jika benda yang selama ini ia cari berada dalam tangan pria itu. Tapi bagaimana bisa?


"Jadi kamu..?"


Aji mengangguk " Saya yang yang gak sengaja bikin kamu sama anak kamu jatuh waktu itu. Saya menemukan ini setelah kamu pergi. Saya masih simpan karena tahu kalau ini emas!"


Wida mematung, itu artinya Ajisaka tahu kondisi dirinya waktu itu. Astaga!


" Ini!" Aji memberikan logam berharga dalam bentuk giwang itu kepada Wida.


Wida menatap Aji yang tersenyum kepadanya " Terimakasih Pak Aji!"


" Saya kira hilang kemana. Terimakasih sekali lagi!" Wida senang dan merasa bersyukur. Ia bisa menjualnya besok jika labanya belum cukup untuk membayar angsuran di BPR Agung Wilis.


" Pak?" Seketika raut wajah Aji berubah.


" Jangan panggil Pak lah, saya belum tua loh!" Sergah Aji yang tak senang dengan panggilan itu


" Pak Aji kan juragannya Bapak saya!" Wida mengerutkan keningnya.


" Kan sekarang uda enggak!" Sergah Aji tak mau kalah.


Wida mengembuskan napasnya pasrah. Astaga pria itu.


" Ya sudah, terimakasih Mas Aji. Terimakasih karena sudah menyimpan benda ini untuk saya!"


" Tapi gak gratis!" Ucap Aji seraya menyeringai.


" Maksudnya, saya harus bayar?" Wida menautkan kedua alisnya kala berucap keadaan Ajisaka.


Pria itu menggeleng " Pembantu saya dua hari ini ijin, setrikaan dirumah saya banyak. Kamu bisa nggak bantu saya. Nanti saya kasih upah!"


Wida sejenak berpikir, kenapa harus dia?


" Saya enggak bisa Pak, saya masih banyak kerjaan?" Tolak Wida.


" Ya sudah, saya anggap kamu masih berhutang sama saya!" Ajisaka tersenyum licik.


Membuat Wida mendecak sebal. Apa maunya pria itu coba.


"Saya gak bis..."


Ucapnya menguap kala Bapak datang dengan motornya. Benar-benar waktu yang tidak pas. Ia sungkan jika harus mendebat Ajisaka di depan Bapaknya.


" Loh Pak Aji?" Bapak mengangguk penuh keseganan kepada Ajisaka.


"Wid, kok gak di suruh masuk?" Bapak bertanya dengan posisi masih nangkring diatas motor Honda Astrea grand nya.


" Oh enggak pak, saya tadi nganter Damar saja. Kebetulan saya mau ke kebun!"


Bapak nampak bingung.


" Ya sudah saya pamit dulu! "


"Saya tunggu ya, ingat setrikaan dirumah saya banyak!" Ajisaka agak mendekatkan wajahnya seraya berbisik. Membuat wanita itu seketika meremang karena terkena sengatan hangat nafas Ajisaka.


Kini Pak Atmojo nampak tak mengerti dengan yang terjadi. Ada apa sebenarnya.


Pria itu undur diri saat itu juga, sempat tersenyum kepadanya sebelum melesat menuju mobil yang ada di bahu jalan itu.


Pak Atmojo sempat menatap Ajisaka dan anaknya secara bergantian. Jelas telah terjadi sesuatu.


.


.


Ajisaka


" Kron, minta Ibu kamu untuk tidak datang dulu kerumah selama dua hari!"


Ia tersenyum senang kala membaca pesan yang ia kirim kepada Sukron. Benar-benar licik. Entah mengapa ia merasa aneh dengan dirinya sendiri. Dan mengapa ide konyol itu malah muncul begitu saja di otaknya.


Tapi sebenarnya bajunya memang sudah banyak yang kusut sih.


Ia bolak balik menetralisir rasa aneh dalam dirinya dengan membuang napas berkali-kali. Lega karena telah memberikan barang itu. Tapi entah mengapa perasaan ambigu datang menghampirinya.


Tak semestinya ia memikirkan wanita itu. Wanita yang jelas-jelas merupakan istri orang.Tapi bisa apa dia jika hatinya kini menuntunnya untuk melakukan hal konyol itu.


Lamunannya memudar kala ponselnya bergetar.


" Ya Sak?" Jawabnya usai menggeser tombol hijau pada layar ponselnya.


" Dimana Ji?"


" Dijalan mau ke kebun timur, ada apa?"


" Ya udah aku kesana!"


" Sableng bener ni anak, matiin telpon seenaknya aja!" Gerutu Ajisaka sambil menggelengkan kepalanya.


Ada apalagi pikirnya, mengapa Sakti sampai mencarinya.


Di Kebun Timur,


Ajisaka terlihat mengontrol anak buahnya yang tengah menyemprot tanaman menjulur itu. " Obatnya kalau habis minta ke si Yasir ya!" Ucap Ajisaka kepada para pekerjanya.


" Enggeh bos!"


Pria itu benar-benar sukses usai mengalami banyak tempaan hidup yang tiada henti. Baginya, kebun naga ini bukan hanya untuk dirinya, tapi banyak pekerja yang menggantungkan hidupnya pada dirinya.


Karena kendati ia saat ini sebatang kara, namun ia bisa berpijak pada tumpuannya sendiri. Definisi dari hasil tak mengkhianati proses.


" Ji!" Suara Sakti membuatnya membalikkan badan.


" Udah nyampek? Tumben cepet!" Tukas Aji terkekeh.


" Tumben lu bilang, aku paling ontime ya diantara kalian!" Elak Sakti yang terlihat berengut. Mendengus sebal.


Aji terkekeh, " Gimana..gimana?" Aji merengkuh pundak kokoh sakti dan mengajaknya untuk masuk ke ruangannya.


" Tadi aku ketemu bibimu!" Ucap Sakti sesaat setelah mendaratkan bokongnya di kursi depan meja Aji.


Aji mengerutkan keningnya " Terus apa urusanya?"


" Ya ada lah urusannya. Bibimu ngajak perempuan. Cantik, sexy lagi. Katanya calon tunanganmu dan kalian mau nikah sebentar lagi!"


"Tega amat lu, ada tunangan tapi gak ngabarin kita. Si Pandu aja masih di kota!" Sakti melayangkan protes.


" Tapi bener gak sih Ji? Kalau iya kenapa elu ga ada ngomong ke aku, Yudha sama Pandu?"


Aji seketika membulatkan matanya matanya, apalagi yang mau di lakukan bibinya itu. Berita hoax!


" Sak, lu kayak enggak kenal aku aja deh. Enggak ada tunangan atau apa itu...gak kepikiran juga untuk itu saat ini!"


" Elu kayak gak tau bik Arning aja!" Tukas Ajisaka setengah kesal.


" Ya tapi bibimu udah koar-koar ke orang-orang tuh. Tadi emakku juga sempat protes, masa Aji mau kawin emak gak di kasih tau Sak!" Ucap Sakti menirukan ucapan Emaknya tadi.


" Secara elu kan juragan Ji, kalau ada berita gini langsung gempar lah. Mending kita cari aja deh. Takutnya nanti malah keburu nyebar lebih luas lagi!"


" CK, cari masalah mulu orang itu!" Ajisaka seketika naik pitam. Biasanya bibinya hanya mengajak wanita-wanita kenalannya untuk menemui dirinya . Tapi mengapa sekarang malah menyebarkan gosip seperti ini?


Aji tak suka akan hal itu. Apalagi soal urusan pribadinya.


" Elu mau kemana?" Sakti turut berdiri saat dirinya menyambar kunci mobil.


" Mau nemuin itu perempuan lah. Mau kemana lagi? Nyari gara-gara Mulu. Dulu waktu aku susah kemana aja, sekarang tau aku udah begini main nyodorin perempuan aja!" Wajah Ajisaka sudah memerah.


" No, aku tinggal dulu. Selesai itu minta yang lain buat copotin bunga yang di kebun barat, setelah itu bilang ke mereka buat merapat ke pabrik bantuin Dino!" Ucap Ajisaka kepada Yitno yang tengah sibuk dengan mesin semprotnya.


" Beres bos!" Yitno mengangkat jempol dari kejauhan. Membuat Ajisaka mengangguk.


" Duh, tungguin kalau gitu, aku ikut!" Sakti langsung membuka pintu mobil Aji dan langsung duduk di sebelah pria yang kini tengah mengerutkan alisnya karena marah itu.


Sialan!


.


.


Arning


Ia tahu jika Ajisaka tak memiliki keluarga lain selain dirinya. Sangat di sayangkan bukan jika pria lajang nan mapan seperti Ajisaka dibiarkan begitu saja.


Secara tidak langsung, wanita itu tergiur dengan kekayaan dan kesuksesan yang kini dimiliki oleh keponakannya itu.


Berbagai cara telah ia lakukan, mulai dari mengenalkan Aji kenapa wanita kenalannya, hingga sering membuatkan makanan untuk keponakannya itu, meski ia kerap menjumpai makanan yang ia bawa selalu berakhir di tempat sampah.


" Aku takut Tante. Takut kalau mas Aji nanti gak suka sama aku!" Seorang wanita cantik dengan baju ketat kini duduk resah di depan rumah Ajisaka yang tertutup.


" Udah tenang aja, Meskipun Aji gampang marah, tapi dia gak akan berani berlaku kasar sama wanita. Percaya sama Tante. Tapi bener kamu pernah sama Aji ?"


Wanita bernama Zea itu mengangguk.


" Kemaren waktu pesta yang dirayakan bos cabai di tempat karaoke Tan. Aku waktu itu jadi PL disana!" Terang Zea dengan mantap.


" Bagus kalau gitu, pokoknya kalau bisa buat Aji suka sama kamu. Terserah gimana caranya!"


.


.


Ajisaka


Ajisaka merasa ia harus mengehentikan wanita itu sebelum hal aneh-aneh yang lebih parah akan dilakukannya. Ia membelokkan mobilnya ke halaman rumahnya dengan kasar.


Dan benar dugaannya, wanita itu telah berada di sana. Pria itu sangat sensitif sekali jika menyangkut soal dirinya.


" Sabar Ji, ingat gimanapun juga dia bibimu!"


" Dia mengatakan 'nak' jika aku berguna, tapi mengatakan aku pembangkang jika tidak berguna untuknya!"


" Jaman sekarang gak ngaruh Sak mau orang lain mau keluarga. Kadang orang lain bisa saja seperti keluarga saking baiknya, dan keluarga jadi kayak orang lain seperti bik Arning!" Ucap Ajisaka seraya melepaskan sabuk pengamannya.


Ia ingat saat kecil dulu semasa susah bibinya itu seolah acuh tak acuh kepada dirinya.


Sakti menelan ludahnya sendiri, jika Aji sudah marah seperti ini. Itu jelas karena sesuatu telah mengusik dirinya.


BRAK!


Aji membanting pintu mobilnya dengan keras, membuat Sakti berjingkat. " Asu arek Iki, nesu Yo nesu rek tapi gak gawe aku kaget pisan!" ( Anjing ni anak, marah ya marah tapi jangan buat aku kaget juga!)


Ajisaka menuju ke tempat dua wanita yang melempar senyum ke arahnya. Namun, pria itu justru terlihat mengeraskan rahangnya.


" Bibik mau apa kesini?" Tanpa basa-basi Aji langsung mendatangi bibinya.


" Aji..kok kamu tahu kalau kita disini, baru aja mau bibi telpon!" Wanita itu bahkan seolah-olah tak terganggu dengan raut wajah Ajisaka Nyang sudah tak ramah.


" Gak usah basa-basi bik, maksud bibik apa bilang ke orang-orang kalau Aji mau tunangan terus nikah, bikin berita yang enggak-enggak!"


Arning dan Zea saling menatap. Sejurus kemudian mereka berdua menatap ke arah Sakti yang pura-pura bodoh. Jelas pria itulah tersangkanya.


" Aji, kita masuk dulu ya. Bibik kesini karena diminta tolong Zea, masa kamu lupa sama dia?" Wanita itu menepuk pundak Zea pelan.


Ajisaka menatap sengit ke arah wanita cantik yang ia rasa terlalu berlebihan dalam berdandan itu. Menor!


" Bik, Aji sibuk gak ada waktu buat ngurus ini itu apalagi urusan gak penting kayak gini!"


" Aku yang pernah tidur sama mas Aji di hotel Ilira waktu itu!" Ucap Zea seraya memegang lengan Ajisaka. Mencoba membuat Aji mengerti.


Mata Sakti seakan-akan hendak keluar saat itu juga. Apa wanita di depannya itu sudah gila karena mengaku-ngaku pernah tidur dengan sahabatnya?


Gendeng!


Ajisaka tertawa sumbang, " Kamu siapa? Jangan bikin masalah sama saya?"


" Ngaku-ngaku lagi!"


" Saya gak bikin masalah mas, saya cuma mau ngingetin mas Aji aja biar gak lupa sama saya!" Wanita itu menggulir ponselnya dan terlihat mencari sebuah foto.


" Ini acaranya mas Tomo. Masa Aji lupa?" Zea menunjukkan sebuah foto Aji yang merangkul Zea di sebuah sofa yang berada di ruangan gelap itu. Terlihat sangat intim.


Mata Aji membulat seketika, Astaga itu benar adalah dirinya. Tapi bagaimana bisa?


.


.


.


.