Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 70. Membuat kesepakatan



Bab 70. Membuat kesepakatan


^^^" Adat teluk timbunan kapal. Orang miskin wajar kalau minta tolong kepada orang kaya!"^^^


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Ajisaka


Ibu Ambarwati sudah seperti ibunya sendiri. Bahkan sedari dulu. Apalagi ia yang memang yatim piatu itu kerap di kirimi makanan oleh ibu Pandu saat mereka memasak sesuatu yang lezat. Meski berada di urutan teratas soal keuangan, namun Ajisaka merupakan orang yang paling jauh dari kasih sayang keluarga.


Mungkin itu sebabnya ia mudah marah-marah dan susah mengatur emosi.


" Tapi nomernya tidak bisa sa ...!"


" Coba ini!'' Bu Ambar menyerahkan sebuah nomor yang tertulis di sobekan kertas yang asimetris. Membuat keraguan Ajisaka memudar.


Ketidakadaan gawai maupun barang mahal sejenisnya, membuat Bu Ambar hanya bisa mendengar suara Pandu lewat ponsel nit not Lik Sarip.


Baik dirinya, Sakti maupun Yudha kini saling menatap. Sialan betul si Pandu. Ia bahkan sudah mengganti nomor ponselnya tanpa berniat memberitahu pada mereka.


Sahabat tai! Rutuknya kesal tiada henti.


Ia lantas mengetikkan sejumlah digit nomor milik Pandu ke touchscreen ponsel mahalnya. Pria itu lantas menelpon nomor itu beberapa detik kemudian.


Pandu sialan!


.


.


Pandu


Ia sempat berpikir. Itu adalah nomor baru yang hanya dimiliki oleh Lik Sarip juga Kang Joko. Tiada yang tahu selain dua orang berumur itu.


Lantas, ini nomer siapa?


Ia menggeser tombol hijau di layarnya demi menjawab rasa keingintahuannya detik itu juga. Takut jika itu merupakan kabar penting dari ibu atau orang di desa.


" Hal..."


" Brengsek lu, jadi ini yang namanya sahabat!"


Pandu mengggaruk kepalanya yang tentu saja bukan gatal karena ketombe atau ngengat. Ia kini juga memindahkan tangannya memijat keningnya karena suara Aji yang terdengar mengumpat tiada henti.


Jelas Aji telah marah kepadanya.


Sial!


" Emmm Ji...sory aku...!"


" Urusmu sama aku nanti dulu, sekarang Bu Ambar mau bicara sama kamu. Ganti ke video!" Titah Aji dengan intonasi suara yang tak ramah. Jelas, lawong dia marah.


Pandu sempat kelabakan saat mendengar Aji meminta untuk mengubah panggilannya menjadi video call. Ia langsung melihat ke arah cermin di sampingnya. Menampilkan wajahnya yang masih lebam di sana-sini!"


" Astaga gimana ini!" Bingung tiada terkira.


Tut Tut


Tut Tut


Bunyi indikator pengalihan panggilan menuju video call dari ponsel Pandu membuyarkan kegiatannya yang sibuk bercermin. Sepertinya ia akan habis kali ini.


Oh tidak, ibu bisa panik kalau tahu!


Namun ia harus menjawab. Ia sedikit merunduk agar luka di wajahnya tidak terlalu kentara. Lagipula, cepat atau lambat ia juga harus memberitahu ibu soal kebimbangannya yang akan extend di kota.


" Halo Buk!" Ucap Pandu merunduk terlebih dahulu begitu ia melihat wajah ibunya yang muncul di layar benda pipih miliknya. Tak berani menatap.


" Pandu, kamu baik-baik saja nak? Dimana kamu ini?"


Pandu menelan ludahnya kala mendengar pertanyaan ibu. Saat ini ia baik-baik saja. Entah nanti, entah esok hari. Mengingat dia kini belum tahu keputusan yang harus ia ambil.


" Baik Buk, Pandu baik. Ini sedang di tempat kenakan Pandu Buk. Ibuk jangan khawatir, Pandu kan udah janji sama ibuk!"


Ambarwati merasa curiga lantaran anaknya yang terlihat rikuh sewaktu diajak ngobrol. Belingsatan dan tak seperti biasanya.


" Sopan banget lu diajak ngomong Ibuk malah begitu!" Sakti bersungut-sungut kala melihat Pandu yang terus menunduk dan terlihat sibuk tanpa menatap ibunya.


Pandu menghela napas. Sakti benar- benar!


Ia kini menatap sendu ke arah layar ponselnya. Menampilkan goresan indah mahakarya anak buah Riko yang sukses membuat wajahnya bonyok karena di keroyok.


Membuat kesemua manusia yang terlihat bergerombol di layar ponsel itu mendelik secara bersamaan.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Serafina


Ia tercenung usai keluar dari kamar papa. Kini ia bingung dengan semua yang terjadi. Perasaannya terhadap Riko telah hilang bersamaan dengan pengkhianatan yang dilakukan oleh pria itu.


Tapi mengapa Riko kini seolah membuat hidupnya makin sulit. Kenapa ia susah sekali lepas dari pria itu.Dan entah mengapa, ia lagi- lagi kepikiran dengan Pandu.


Dimana Pandu sekarang?


" Mana lupa gak nanya soal nomornya lagi!" Sesal Fina yang kini makin dibuat resah.


.


.


Ambarwati


" Ini memang harus Pandu lewati sebagai anak laki-laki Buk. Pandu mohon sama ibuk untuk percaya sama Pandu!"


Ia bahkan tak sanggup menjawab. Hanya Isak tangis yang terdengar dari bibirnya. Apalagi, ia kini tahu jika Pandu mengalami kesulitan jejak.


" Sudahlah nak, pulanglah saja. Biarkan semua terlewat. Ibuk ikhlas!"


" Ibu ikhlas ! Tapi Pandu gak ikhlas Buk. Ayu disana pasti juga begitu. Pandu harus menemukan pria itu!"


Perdebatan antara ibu dan dan anak itu tak terelakkan. Membuat ketiga pria disana kini saling menatap. Jelas itu merupakan persoalan internal keluarga Pandu.


" Pandu akan pulang jika Pandu sudah memastikan pria itu menerima ganjarannya!"


.


.


Ajisaka


Ia kini mengambil alih ponselnya. Sakti dan Yudha terlihat menenangkan Bu Ambar yang sebenarnya keberatan jika Pandu masih nekat memperpanjang masa keberadaannya di kota.


Ya, Yudha dan Sakti mengantar Bu Ambar menuju kamar beliau. Ia tahu jika Aji sudah marah, akan sangat sulit bagi mereka untuk menginterupsi.


" Apa yang mendasarimu untuk keukeuh berada disana!" Ia kini menatap sahabatnya dengan tatapan tajam melalui layar ponselnya. Sungguh tak habis pikir kenapa sahabatnya itu nekat seorang diri.


Pandu terlihat menghembuskan napas sesaat sebelum menjawab. Mau tak mau ia harus berbicara kepada Aji.


" Sudah aku katakan padamu Ji. Aku akan tenang, kalau yang menusuk Ayu sudah mendapatkan bayaran yang setimpal. Hanya itu!"


" Hal yang sulit aku definisikan tapi harus aku lakukan. Demi keluargaku!"


Aji kini ganti tertegun. Mungkin jika persolan ini menimpa dirinya, jelas ia akan nekat. Pandu saja yang berpembawaan tenang bisa berlaku seperti itu, apalagi dirinya yang gampang terpantik emosi.


Pandu lantas berterus terang tentang apa yang ia alami. Sudah kepalang tanggung. Aji dan sahabatnya telah mengetahui.


Aji terlihat menatap Pandu cemas dan khawatir. Tapi, ia benar-benar di hajar oleh usahanya yang rupanya belum bisa ia tinggal dalam waktu dekat.


Sempat beradu argumen untuk menyusul Pandu secepatnya namun Pandu menggelengkan kepalanya. No!


" Jika dalam waktu satu bulan aku tidak juga kembali, kalian boleh kemari!"


.


.


Pandu


Ia tercenung nanar menatap dinding bercat putih di ruangannya itu sesaat setelah sambungan telepon itu terputus.


Keterusterangannya kepada Ibu agaknya membuatnya sedikit lega. Meski ia sempat mendapat gerutuan, makian, dan raut kesal dari Sakti serta Yudha perihal sikap impulsifnya. Tapi ia kini merasa hatinya plong.


Dan secara tak langsung, itu artinya lebih baik ia menerima tawaran Bayu. Sambil menyelam, meminum air pikirnya. Selain nanti ia bisa berkirim yang kepada Ibu, ia juga bisa mencari siapa Raditya dengan koneksi juga kekuatan yang dimiliki oleh Bayu.


TOK TOK TOK


Ketukan dari Pintu membuat lamunannya menguap. Menampilkan sosok Rendy. Pria tampan yang usianya berkisar sama dengan Yudha dan Sakti tengah berdiri sembari menatapnya tak lekang.


" Bos menunggumu di ruangannya!" Ucap Rendy datar namun dengan raut sopan.


Pandu mengangguk. Mereka belum saling mengenal. Namun sejauh ini, ia menilai jika Rendy merupakan orang paling idealis yang ia temui selama ia bertemu dengan para bodyguard disana.


Setalah Mansur jelasnya.


.


.


" Jadi apa kau sudah mempertimbangkan semuanya?" Bayu melipat kedua tangannya ke atas meja mengkilat diruangannya. Menatap Pandu dengan tatapan penuh harap.


Satu detik.


Dua detik.


Tiga detik.


Pandu tertegun. Menatap wajah Bayu lekat.


" Apa jaminannya kau tidak akan menipuku?' Tanya Pandu menatap datar Bayu.


" Jaminannya adalah diriku sendiri. Aku yakin orang sepertimu pasti dengan mudah meringkusku jika aku tak menepati janjiku!"


Pandu menangkap sorot mata kejujuran dari dua netra teduh milik Bayu.


Semua demi Ayu!


" Baiklah, tapi aku ada satu syarat!" Ucap Pandu datar. Ia terlihat serius dengan ucapannya.


" Katakan!"


.


.


.


.