Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 217. Selangkah lebih dekat



Bab 217. Selangkah lebih dekat


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Pria berkebangsaan Inggris itu terlihat hendak mengambil ancang-ancang dan hendak kabur, namun sebuah tendangan keras membuat tangan pria itu terlempar ke sisi kiri.


" Arrrggh!" Pria itu mengerang kesakitan saat kaki berlapis sepatu bertapak keras mencumbu kulit putihnya.


Oh Shiit!!!"


Membuat pria satunya yang juga sudah berwajah pias kini mendelik. Badas sekali wanita itu.


" I say, raise your hand!" Titah wanita itu kembali dengan mata setajam elang betina. " Kamu, angkat tanganmu!" Wanita itu berucap kepada pria yang kini mengenakan kemeja hitam dan bersepatu rapih. Terlihat terkaget-kaget karena tak mengira jika wanita bermata sipit itu fasih berbahasa Indonesia.


PRO PROK PROK!!!


Suara tepuk tangan seseorang membuat dua manusia yang kini sudah bermandikan peluh itu melebarkan matanya.


Bos?


" Boss? What happened? (Bos? Apa yang terjadi?)" Tanya pria bule itu. Terheran-heran sebab bosnya berjalan santai saat ia dan rekannya tengah dalam ketakutan.


Apakah konspirasi tengah terjadi?


Pria yang usianya terbilang uzur itu malah tersenyum sembari berjalan pelan dengan tubuh yang terbungkuk- bungkuk.


" She is Anjana! From now on, he will accompany you to work! (Dia Anjana! Mulai sekarang, dia yang akan menemani kalian bekerja!)"


" Apa? Jadi ini hanya simulasi?" Tanya pria berkemeja hitam dengan wajah yang sudah mendengus itu.


" Benar. Kita harus membiasakan diri dengan keterkejutan, dan sebaiknya kalian juga harus sering membiasakan diri. Sebab dalam bisnis, apapun bisa saja terjadi!" Tutur pria tua pemilik kebun anggur itu.


" Ini simulasi dan dia menendang tangan James sungguhan?" Sergah pria kemeja hitam itu tak terima, seraya menatap wajah Anjana yang masih datar.


James mengangguk menyetujui dengan wajah sebal. Ia setuju karena pria itu sebenernya sedikit mengerti bahasa Indonesia.


Pria tua itu tersenyum, " Sudah aku bilang, kalian harus mulai membiasakan diri!" Tukas pria itu dan langsung pergi. " Dia akan bekerja denganmu mulai hari ini!" Ucap pria tua itu berbalik.


" Oh iya, jangan lupa malam ini temui aku keruangan. Ada hal yang akan aku bicarakan!"


Pria berkemeja hitam dengan wajah bersungut-sungut itu sangat kesal kepada Anjana, wanita berambut panjang yang di kuncir kuda itu bahkan ngeloyor pergi tanpa meminta maaf kepada mereka.


Asu!!!


Membuat pria itu teringat akan sosok wanita lain yang kini telah dimiliki sahabatnya.


^^^.^^^


.......


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Ajisaka


Ia baru saja memarahi Sukron yang telah salah memilih desain undangan untuk pernikahannya. Pria yang sudah menyemir rambutnya kembali menjadi biru itu bahkan sudah kebal dengan ocehan yang sering menyeret nama hewan di kebun binatang Alas Purwo.


" Jangan yang seperti ini, Wida enggak suka!"


" Cari yang lain!"


Sukron menghela napas panjang. Sabar- sabar, sebentar lagi dia akan memliki dewi penolong. Bosnya yang rewel dan rawan terkena darah tinggi itu harusnya mengajak Wida saja dari pada runyam begini urusannya.


" Ini salah, begitu salah. Hah, mumet ndasku!" Sukron melempar punggungnya ke sofa yang berada di dekat Dino yang sibuk mengentri data di laptop.


" Joko Tingkir ngombe dawet, Jo dipikir marai mumet!" Ucap Dino terkekeh geli.


" Raimu Din, kamu enak enggak di suruh- suruh. Nah aku?" Sukron memberengut dengan rona iri dengki.


Dino makin tergelak, " Ijo opo pie? ( Tukar apa gimana?" Ucap Dino mengangkat laptopnya.


Membuat Sukron bergidik ngeri. Hih, ogah!!!


Namun, keruwetan semacam itu pasti akan berlalu juga ,seiring berjalannya waktu yang terus saja maju, tanpa memikirkan mereka-mereka yang masih lesu karena tidak laku.


Siang ini Wida hanya berdua bersama Aji mendatangi tempat yang mereka percayakan untuk mendesain baju pengantin mereka. Aji sangat ingin foto pernikahan mereka bisa semeriah saat di acara Pandu, walau Wida menolak menyewa hotel.


" Warna ini aja ya mas, gimana menurut mas Aji!" Wida menunjukkan kain brokat warna peach yang cocok untuk kulit putihnya. Kain yang akan ia gunakan sebagai kebaya.


" Kamu pakai apa aja cantik Wid, aku percaya sama kamu. Kamu juga yang ngerti kain bagus sama enggak!" Aji senyam-senyum saat mengomentari Wida yang tekun memilih kain.


" CK, kalau ditanya selalunya gitu!" Wida kesal, Aji selalu manut dan manut saja. Mbok ya yang solutif.


Ya..menjadi pengantin memang banyak godaannya, hal sepele saja bisa menjadi sumber pertengkaran. Seperti saat memilih pakaian untuk Damar kali ini misalnya, Wida pingin anaknya menggunakan beskap mini warna hitam yang sama dengan Aji, karena pernikahan mereka mengusung konsep Jawa.


Tapi Aji rupanya lebih ribet dari yang ia kira. Mulai dari meributkan masalah ukuran, keris bahkan blangkon.


" Ya udah lah mas, mas aja yang milih aku capek dari tadi berdiri. Udah bagus yang itu, tapi milih ini, udah milih ini, masih ada lagi yang bagus itu...gak tau wes terserah mas aja!" Wida kesal dan lelah.


Aji menjadi lebih rewel jelang pernikahannya, begitu menurut Wida. Ia yang selama ini memiliki stok sabar, menjadi geram juga demi mengimbangi sikap Aji yang perfeksionis.


" Jangan marah dong Wid, aku akan cuma pingin yang terbaik!" Aji menatap muram Wida yang sudah menautkan alisnya sedari tadi. Kesal bukan kepalang.


Namun Wida, tetaplah Wida yang mudah luluh dengan sendirinya. Apalagi saat sebuah minuman dingin meluncur bebas ke tenggorokannya yang kering.


Ah segar!!!


Wida bahkan mengabiskan minuman isotonik itu dalam beberapa tegukan saja. " Huft, haus banget mas. Capek banget ya... Damar udah tidur apa belum ya?" Belum separuhnya ia sudah merasa lelah. Mereka bahkan ingin foto prewedding bersama Damar nanti.


Haduh, mas Aji benar-benar rempong.


Ia kini sudah berada di dalam mobil, dan minuman yang barusan ia minum tadi merupakan hasil belanjaan Aji seorang diri kedalam mini market.


Wdia menolak masuk karena kakinya sudah pegal. Terlalu lama berdiri membuat kakinya kram.


Pria itu tak bisa pulang dengan tangan yang hampa Alhasil, dua kantong besar berisikan Snack dan jajanan kesukaan anaknya kini telah duduk manja di jok belakang mobilnya.


" Selalu berlebihan!" Ucap Wida tak setuju.


Wanita yang kesehariannya irit cenderung pelit, karena harus mencukupkan yang sedikit itu sudah sering mengingatkan Aji untuk tidak berfoya-foya. Tapi sekali lagi, Aji tetaplah Aji.


" Sekali-kali!" Sahut Aji meringis karena jelas Wida tak suka dengan keborosannya.


Wida hanya mencibir. Sekali- kali kok sering. Mendengus dalam hati.


" Loh mas, kok berhenti?" Tanya Wida bingung saat melihat Ajisaka menepikan mobilnya mendadak di bahu jalan.


" Wid...jujur aku enggak sabar nunggu hari kita nanti!" Wida menatap lekat Ajisaka yang kini terlihat serius saat berbicara. " Dan untuk kamu sama Damar.. selepas akad nanti, kalian enggak pulang lagi kerumah Bapak kan?" Aji mencari kesungguhan di bola mata indah Wida. Ia tak akan bisa berbicara jika sudah berada dirumah nanti.


Wida tersenyum, apa calon suaminya itu memiliki keresahan soal anaknya?


" Mas...kalau aku sudah resmi jadi istrimu nanti, ya aku bakal ikut kamu...!" Wida menepuk tangan Aji. Ia paham, mungkin Aji pikir Wida akan kembali dulu kerumah Pak Atmojo.


" Bapak sama Ibuk kan enggak bikin acara apapun dirumah. Toh aku sama kang Darman juga punya masalalu yang .."


" Psssttt!" Aji menyentuh bibir Wida menggunakan jari telunjuknya, tak ingin membiarkan Wida mengucapkan hal yang bisa membuatnya mengingat Pram. " Udah jangan bahas hal lain lagi!"


Aji menatap lekat manik mata Wida. Manik mata uang teduh, dan yang terlihat hanya kilatan cinta yang semakin membara.


Perlahan-lahan Aji mendekati wajah Wida, hembusan napas yang tak berjarak itu makin membuat degup jantung Wida tak beres. Sadar akan apa yang hendak di lakukan oleh Ajisaka, wanita itu kini memejamkan matanya.


Dan benar saja, bibir lembut Aji yang kini sudah menempel presisi di depan bibirnya, membuat laju darah dirinya mengalir dengan derasnya


Aji memajukan tubuhnya demi bisa merengkuh tubuh Wida lebih dekat. Aji melu*mat bibir Wida dengan penuh gai rah. Menekan tengkuk wanita itu dengan lembut.. Menegaskan jika ia salah pria-nya saat ini.


Wida kini sudah tak canggung dan terlihat menikmati jamuan kasih lembut pria itu. Merasa bahagia karena diperlakukan istimewa oleh pria pemarah itu.


Oh cinta, mengapa engkau sering membuat insan menjadi gila?


.


.


.


.


.