
Bab 54. Perjalanan ke Barat
^^^"Datang tampak muka, pergi nampak punggung. ( Datang atau pergi di tempat tertentu, sebaiknya pamit!"^^^
.
.
.
...πππ...
Bagai lima belas, dengan tiga puluh. Dua persoalan yang sama benar. Dalam hati kekeuh ingin membalas dendam, namun sebenarnya ada rasa tak tega meninggalkan ibunya. Jika Riko kebal hukum, maka agaknya Pandu harus menggunakan hukum rimba. Siapa yang kuat, dia yang menang.
Angkatlah yang wajahmu yang tertunduk layu, agar dunia mengakuimu!
Begitulah kira-kira tajuk hidupnya saat ini. Memang tak bisa di pungkiri jika keterbatasan ekonomi, membuatnya susah untuk maju apalagi menumpas orang yang menjahati keluarganya.
Tapi ia masih punya raga yang bisa ia gunakan untuk memecahkan persoalan bukan?
Pandu melihat Ibunya yang masih berbaring di ranjang. Sepeninggal Ayudya ibunya itu memang kerap berdiam diri. Lebih tepatnya mengurung diri.
" Buk, ini Pandu buatkan teh hangat!" ucapnya meletakkan secangkir teh hangat keatas meja dekat kasur , seraya menyentuh lengan ibunya. Membuat wanita itu kini menatap anaknya dengan wajah muram.
Ambarwati setengah bangun. Semalaman ia tak bisa memejamkan matanya barang sejenak. Ucapan Pandu tengiang- ngiang di kepalanya.
" Kapan kamu mau pergi?" ucapnya dengan suara parau.
" Secepatnya!"
" Setelah Pandu dapat uangnya!" Pandu menatap ibunya yang masih berbaring dengan lekat.
" Darimana kamu dapat uang Ndu?" wajah sayu Ambarwati begitu mengiba.
" Ibu tenang aja. Pandu gak memakai uang gak bener kok. Sekarang minum tehnya. Pandu gak akan lama."
"Begitu Pandu menemukan orangnya, dan membereskan apa yang harus Pandu bereskan, Pandu bakal langsung pulang. Pandu janji"
Ambarwati tertegun. Mengapa Pandu saat ini begitu keukeuh. Ini jelas terlalu berbahaya.
" Ndu, ibuk takut terjadi apa-apa sama kamu. Kamu tolong denger ibuk. Ibuk cuma punya kamu sekarang nak!" Mata jernih Ambarwati mulai tergenang cairan kristal bening.
Pandu menghela nafasnya " Aku bersumpah akan pulang dengan selamat."
"Aku bersumpah!"
.
.
" Pah, bisa nggak aku nemuin temen dulu?" Fina sedari tadi menghubungi nomer Pandu namun tak di jawab. Membuatnya kesal. Mencoba berdiplomasi dengan Papanya.
Masa iya dia mau melesat ke kota, tanpa berpamitan kepada pengusik hatinya?
Yang benar saja!
Tapi keadaan selalu punya kenyataan.
" Mau kemana lagi kamu. Udah ayo cepat, papa keburu di tunggu rekan papa disana!" tukas Tuan Guntoro sembari memasukkan barang-barangnya ke bagasi yang di bantu Budi.
Fina mendecak seraya berengut. Sungguh ia ingin bertemu dengan Pandu untuk sekedar mengucapkan salam perpisahan.
" Buk, Gun pamit dulu ya. Terimakasih sudah bantu nampung Fina disini. Ibuk baik-baik ya!"Tuan Guntoro memeluk tubuh ibunya. Mengusap lembut punggung yang mulai tak tegap itu. Menjadi dewasa kadang semenyakitkan itu. Salah satunya ialah meninggalkan orang tua.
Baik Nyonya Lidia maupun Fina kini berpamitan. Jika beberapa waktu yang lalu Fina mendambakan untuk segera kembali ke kota, namun saat ini justru menjadi hal yang bertolak belakang dengan isi hatinya.
Fina tak ingin pergi dari desa itu.
" Oma Fina pamit!" ucapnya meraih tangan yang lekas keriput itu sembari menciumnya takzim.
" Baik-baik disana. Nurut sama Papamu. Kamu ini sebenarnya sudah waktunya menikah Fin!" Wanita tua berkacamata itu mengusap punggung cucunya dengan kasih mesra.
Menikah, menikah dan menikah. Apa tidak ada headline lain selain kalimat itu? Membuat sebal saja.
Kini menyisakan Nyonya Lidia yang menatap Bu Asmah penuh kesungkanan.
"Buk saya pamit!"
...πππ...
Sakti , Ajisaka beserta Yudha kini tengah berada di rumah Pandu. Rupanya Ajisaka benar-benar mencemaskan sahabatnya itu.
" Kenapa kamu mau membahayakan diri kamu sendiri Ndu?" Ajisaka benar-benar tak habis pikir.
" Kita bisa lebih sabar, cari pengacara mungkin!"
" Aku bakal bantu!" ucapnya dengan alis yang berhenti berkerut. Menandakan bila Ajisaka benar-benar keberatan dengan keputusan Pandu.
" Benar, kau bahkan tidak memiliki kenalan maupun saudara disana!" Ucap Sakti menimpali. Wajahnya sama cemasnya dengan Aji.
Yudha hanya menatap tiga orang itu dengan tatapan saksama. Tak memiliki kosakata kalimat yang cocok. Namun di relung hatinya, ia juga sangat khawatir akan keselamatan sahabatnya itu.
Pandu tersenyum, merasa jika sahabatnya itu merupakan harta berharga yang ia miliki.
" Oh ayolah, aku benci jika kalian seperti ini. Aku bukan mau mengarungi samudra Pasifik. Aku hanya...."
" Aku ikut!" Sergah Ajisaka.
Membuat Yudha dan Sakti saling menatap. Terlebih Pandu. Pria itu terperanjat melihat wajah serius Ajisaka.
" Ji?" Yudha kini bertanya seraya menatap serius ke arah Ajisaka yang lebih serius. Lalu bagaimanakah nasib usahanya?
" Diantara kalian berdua hanya aku yang free untuk kemana aja!"
Itu benar adanya. Sakti dan juga Yudha masih memiliki orang tua dan beberapa tanggungan lainnya. Sementara Ajisaka? jelas free.
" Usahamu gimana?" Sakti berucap.
" Ada Sukron. Ada anak buahku! Dan yang paling penting. Ada kamu!"
...πππ...
Mobil yang membawa rombongan Fina telah berjalan sejauh beberapa kilometer dari kawasan tempat tinggal Bu Asmah. Kini ia benar-benar telah meninggalkan Pandu dan juga segala kenangan.
Entah kapan dia akan bertandang ke tempat itu lagi. Di tatapnya hamparan sawah yang luas. Membentang sejauh mata memandang.
Demi apapun. Hati Fina saat ini begitu resah. Ia bahkan tak mengucapkan sepatah katapun kepada Pandu. Pesan darinya pun juga tak ada yang terbalas.
Benar-benar perpisahan paling nelangsa. Dengan tak terucap dan dengan seorang diri Fina merasa kehilangan.
Apa yang terjadi antara mereka berdua beberapa malam lalu jelas mengusik pikirannya.
Is it true that she fell in love?
Fina melempar pandangannya ke arah jendela. Ia sama sekali tak menggubris mamanya yang berada di sampingnya. Otak dan hatinya hanya di penuhi oleh satu nama.
Pandu.
Tanpa terasa, sebulir cairan bening meluncur tanpa izin. " Kamu dimana sih Ndu. Apa kita bisa ketemu lagi?"
.
.
.