Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 111. Kembali ke Timur



Bab 111. Kembali ke Timur


^^^" Tidak berharap Tuhan akan meringankan beban Tapi berharap Tuhan mau memberikan kekuatan, agar mampu melewati setiap cobaan!"^^^


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Rendy


Ia mengisi waktu senggangnya malam ini dengan mengendap-endap ke kamar guard wanita. Tentu saja ia tengah mencari wanita incarannya. Dyah Ayu.


Ihiiir!


Nikmat mana lagi yang harus ia dustakan jika bos-nya tak berada di tempat seperti saat ini.


" Asik banget wanita kalau lagi ngobrol ya?" Ia bergumam saat melihat Dyah dan para rekan-rekannya asik bercerita. Mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka. Entah apa yang kaum hawa itu obrolkan. Terlihat sangat seru.


DRRRRRTTT!


DRRRRRTTT!


Sial!


Itulah kata yang langsung muncul di dalam benak bersama dengan hatinya yang mencelos. Tak bisakah hari itu ia santai barang sejenak saja?


KJ satu calling...


Ia mendecak tak percaya saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Tidak tepat sekali pikirnya. Baru saja ia merasa bersyukur karena sumber interupsi itu tak berada di tempat. Haish!!


Huh! Mau tidak mau ia harus menjawab dong. Ia sempat melirik jam besar di ujung dinding lantai itu.


20.01


Ada apa lagi dengan Bosnya itu.


" Ya Pak?" Jawabnya usai menggeser tombol hijau sembari menjauh dari pintu para ladies guard . Tekun mendengar suara dari ujung telepon yang mungkin saja merupakan sebuah titah atau instruksi penting.


" Ren dimana kamu? Jemput saya di Paradise sekarang juga!"


TUT


" Huft!" Napasnya putus asa, ia bahkan tak bisa membedakan apa itu perintah apa sebuah permintaan tolong. Bahkan bosnya itu mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.


Hamsyong banget!


.


.


Bayu


"Rendy sudah hendak kemari, kamu tenang saja!" Ia tahu raut gelisah yang sedari tadi mendominasi wajah wanita ayu di sampingnya itu. Ia berucap seraya memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.


" Saya gak enak kalau begini. Takut jadi fitnah!" Ucapnya jujur. Namun, Bayu justru menyeringai


" Kamu enggak ada suami kan?"


Membuat Ambarwati mengernyitkan dahinya. Apa maksudnya coba.


"Aku juga gak ada istri. Lalu fitnah dari mana?" Pria itu menaikturunkan alisnya. Benar-benar berbeda sekali orang itu. Coba lihat kelakuannya, astaga!


Demi apapun yang ada di penjuru Nusantara ini, Ambarwati terlihat tak setuju dengan pernyataan pria itu. Ngawur bin sembrono.


Tapi entah mengapa Bayu justru senang saat melihat wajah kesal Ambar. Rasanya lain saja di hati.


Apakah puber kedua itu nyata adanya? Teori percintaan konyol ini kerap menjadi teka teki yang kerap singgah di hati para pria dewasa macam Bayu. Ralat, pria berumur dengan status single macam Bayu. Nah itu baru benar.


" Saya baru mengenal anda, dan anda juga belum mengenal saya!" Wanita itu terlihat rikuh dengan tatapannya. Sama sekali tak menunjukkan sikap nyaman. Terlihat was-was.


"Kalau begitu kita harus saling kenal berarti!" Ia berucap dengan santai dan senyum penuh kemenangan. Suit suit!


"CK!" Wanita itu hanya mendecak sebal. Terlihat sekali dari kedua alisnya yang kini bertaut. Wajah benar-benar tak bisa berbohong.


" Saya....!" Raut Ambarwati terlihat kesal. Tak berani meneruskan jika ia sebenarnya tak nyaman dengan banyolan Bayu yang membuatnya resah.


"Hahahaha!" Bayu kini tergelak demi melihat reaksi tak nyaman yang di tunjukkan oleh wanita sederhana di depannya itu.


.


.


Rendy


Ia kini telah menjadi supir bagi kedua manusia setengah abad itu. Dari rear vission mirror yang memantulkan penampakan di belakang itu, ia bisa menyimpulkan jika ibu dari Pandu itu tengah kesal.


" Kenapa mereka?"


" Apa Pandu sudah kembali Ren?"


Ia tersentak saat asik menatap Bu Ambar, bos-nya itu malah mengajukan pertanyaan.


" Be- belum Pak!" Jawabnya tergagap.


" Enggak lihat apa-apa Pak. Bu Ambar apa anda mengantuk? Anda seperti terlihat...?" Rendy cari aman dengan mengajukan pertanyaan wajar.


" Iya mas, bisa lebih cepat ya? Maaf saya gak biasa tidur lewat jam delapan malam" Ucap Bu Ambar yang melirik pria berwajah tegas di sampingnya itu. Tatapan sinis. Tapi yang di tatap sama sekali tak merasa terganggu.


Dasar si bos!


Membuat Rendy terkekeh geli.


Rendy mengangguk paham, jelas telah terjadi sesuatu. Ah wanita memang makhluk penuh misteri.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Jelang subuh keriuhan terjadi di lantai dasar. Semalam empat sekawan itu telah berdiskusi dan menadapat sebuah mufakat jika Pandu akan tinggal sementara waktu hingga semuanya benar-benar clear.


Baiklah, jika itu yang terbaik ketiga pria ganteng itu hanya bisa menyetujui. Toh hanya berjarak beberapa hari dari kepulangan mereka.


Para anak Buah Batu juga sebagian telah berada di lantai dasar KJ.


" Kabari aku jika butuh sesuatu!" Ajisaka menepuk pundak Pandu.


" Pasti!" Pandu ber- high five lalu memeluk tubuh Ajisaka.


" Janji musti jaga Ibu baik-baik Ndu!" Yudhasoka kini melakukan hal yang sama kepada sahabatnya itu.


" Urusan kita aman ya?" Ia berbisik pada Yudha, semalam ia telah mentransfer uang ke rekening Yudha guna mengembalikan semua pinjaman yang ia gunakan sebagai bekal perjalanannya ke barat beberapa waktu yang lalu.


Dari misinya yang membongkar kejahatan keluarga Wijaya, Pandu mendapatkan bayaran yang besar dari Bayu. Bahkan jauh dari ekspektasinya. Pria itu benar-benar menepati janjinya.


" Beres!" Yudha tersenyum sesaat setelah melepaskan pelukannya. Membuat Sakti kepo.


" Kalian ngomongin apa sih, gak Aji gak elu mainnya gerilya. Curang banget!" Sakti menyebikkan bibirnya. Mendengus protes.


" Bilang aja elu iri!" Cibir Yudha.


Sakti hanya menyebikkan bibirnya. Tak mu ambil pusing.


" Buk, Sakti balik dulu ya. Ibuk baik-baik disini. Doakan Sakti cepet punya pacar kayak Pandu ya Buk?" Wajahnya memelas. Pria itu benar-benar pandai berakting.


Ambarwati tergelak kala Sakti memulai dramanya. Dasar Sakti!


" Pasti, siapa yang bisa menolak pesona Sakti yang...!"


" Sableng!" dengan cepat Ajisaka menyahut ucapan Bu Ambar. Kini Sakti bagai tak memiliki tim sukses.


" Sialan!" Umpat Sakti. Semua orang tertawa kecuali dirinya.


" Saya mengucapkan banyak terimakasih kepada kalian, karena turut membantu!" Bayu turut melepas kepulangan member of PYAS Squad itu.


" Ah jangan sungkan pak!" Jawab Sakti yang menatap licik ke arah Markus. Kedua alisnya sudah naik turun. Terlihat konyol.


" See you next story bro!" Markus memeluk Sakti. Duo sableng itu agaknya cukup memiliki kecocokan.


.


.


Yudha memegang peranan sebagai supir pagi itu. Berencana akan bergantian bersama Ajisaka tiga jam kemudian. Definisi dari hematisisasi tenaga.


" Aku gak nyangka kalau Pandu bapaknya orang kaya gaes!" Ucap Sakti dari kursi belakang. Menggunakan kedua tangannya sebagai sandaran di belakang kepalanya. Posisi santai.


" Tapi Pandu gak bakal dapat apa-apa!" Ajisaka menyahut dengan wajah serius.


" Kok bisa?" Kini Yudha penasaran dengan perkataan Aji. Ia bahkan menatap Ajisaka selama beberapa detik demi melihat keseriusan Ajisaka dalam berucap.


" Bu Ambar dan Tuan Hartadi hanya menikah siri. Mereka gak memiliki kekuatan hukum. Mau claim hak waris juga gak bisa!"


" Ruginya wanita yang menikah siri ada disitu!"


Dua pria itu kini tertegun. Ajisaka mumpuni juga soal info seperti itu ternyata.


" Kok lu tahu. Padahal...!" Cibir Sakti yang merasa aneh pada Aji. Bagaimana bisa pria yang jarang berhubungan dengan wanita, justru tahu seluk-beluk pernikahan siri.


" Tahu lah. Emang elu mantan penebar paku jalanan! Taunya bikin orang menderita aja!" Yudha mendengus demi mendengar sergahan Sakti pada Ajisaka.


Kini Ajisaka tergelak. Mantan penebar paku jalanan? Apa tidak ada kepiawaian lain yang lebih berkompeten.


" Matamu Yud, gini-gini emaku sayang banget sama aku tahu!" Bibir Sakti sudah manyun.


" Ya yang anak emak!" Balas Yudha.


Ajisaka menatap jalanan yang panjang di depannya. Menepikan suara ribut Sakti dan Yudha yang menjadi pengiring langkah pulang mereka.


Kini, entah dimana Ajisaka harus mencari wanita dari antah berantah itu. Wanita beranak satu yang kini telah mengusik pikirannya.


Mungkinkah?


.


.


.


.