Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 114. Dejavu?



Bab 114. Dejavu?


^^^" Maksud hati memeluk gunung, apalah daya tangan tak sampai"^^^


^^^( Cita-cita ada, tapi apa daya kemampuan yang terbatas)^^^


.


.


.


...🍂🍂🍂...


Ajisaka


Entah mengapa ia seperti pernah bertemu wanita berambut hitam yang di kuncir satu dengan berpenampilan sederhana tadi. Apa mungkin teman sekolahnya dulu?


Ah sudahlah, mungkin semua itu hal random yang biasa dan lumrah terjadi saat kita berada di tempat umum.


Menepikan anggapan yang mungkin saja malah membuatnya makin mumet.


" Sibuk banget kamu kelihatannya!" Tukas Ajisaka yang kini berada di ruangan Yudha. Duduk tepat di depan singgasana pria lajang itu.


" Ngantuk aku Ji sebenarnya. Capek banget. Datang- datang sama mamak disuruh ambil kedelai. Mana sama pimpinan musti cepet nyerahin rekapan akhir bulan!" Jawabnya menggerutu sambil menekan sebuah remote, guna menyalakan AC di ruangannya.


Orang-orang terdekat Yudha memang sengaja tak diberi tahu jika mereka ke kota sempat terlibat aksi heroik bersama personel KJ. Ya..walau ia tidak semumpuni mereka sih.


Ajisaka terkekeh, tak menyangka jika pria di depannya itu punya rasa lelah juga ternyata. Kelihatannya saja yang acuh tak acuh.


" Mana sekarang banyak banget yang lagi ngajuin pinjaman!" Pria itu terlihat melonggarkan dasinya. Padahal ini masih pagi. Jelas tengah merasa tak nyaman.


" Jadi laki harus punya tulang yang kuat buat di banting Yud. Ini belum seberapa!" Hibur Aji kepada Yudha yang mengerucutkan bibirnya.


" Kok kamu yang di depan tumben?" Aji bertanya lantaran tak biasanya Yudha berada di meja depan. Ia tahu kala ia menelpon Yudha tadi.


" Iya... ada yang gak masuk hari ini, sakit. Antrian banyak, jadi terpaksa!" Sahutnya biasa.


Yudha biasanya mengunjungi calon nasabah yang akan mengajukan kredit. Dia bertugas untuk mensurvei. Pekerjaannya double karena BPR Agung Wilis tengah melakukan efisiensi pekerja. Praktis, tiap satu orang pekerja tak jarang harus bisa menguasai lebih dari satu tanggung jawab.


.


.


Damar


Bocah yang akan masuk ke taman kanak-kanak awal bulan depan itu kini berjalan gontai seorang diri. Ia meneguk ludahnya sendiri karena merasa haus. Belum memiliki teman juga makin membuatnya bosan dirumah.


Ia menyelinap keluar saat mbah utinya tengah tertidur.


Begitulah bocah. Dunianya sebenarnya hanya bermain dan bermain. Tapi lihatlah dirinya. Ia bahkan tak memiliki mainan untuk digunakan sebagai teman menghibur diri.


Ia berjalan sambil melamun. Ia ingat akan dirinya yang beberapa waktu lalu sempat di sekap oleh seseorang. Ia juga mengingat Ibunya kerap di pukul oleh bapaknya.


Mengapa semua ini harus terjadi? Ia tak mengerti mengapa bapak tidak menolongnya saat ia dan Ibu di sekap. Kemana perginya pria itu pikirnya.


Bocah itu terlihat duduk sembarangan, tiada alas atau apapun untuk melindungi bokong bocah itu dari debu jalanan. Matanya nyalang menatap para pekerja buah naga yang terlihat kuat sekali. Tray dengan bobot banyak itu bisa mereka angkut sekali angkatan.


" Aku akan bekerja buat Ibuk kalau sudah besar nanti!"


" Kamu mau dek?" Seorang pria tiba-tiba datang menawarinya buah naga. Terlihat menggiurkan. Apalagi ia merasa haus.


" Emang boleh om?"


Kata ibu, ia tak boleh meminta- minta pada orang lain, apalagi mencuri" Biar kita enggak punya tapi gak boleh ngambil yang bukan punya kita Mar!" Pesan ibu selalu terukir di relung hatinya.


" Boleh, ambil aja!" Pria itu mendudukkan tubuhnya ke lantai semen di sampingnya. Terlihat lelah sekali. Kini mereka duduk bersila bersama.


Sukron memang sering memberikan buah naga bagi siapa saja yang mau. Hal itu juga atas perintah Ajisaka.


" Ambil sebanyak yang kamu mau!" Sukron terlihat beristirahat usai mengontrol para pemetik buah naga pagi menjelang siang itu.


Damar terlihat senang, bak mendapat harta Karun. Buah naga di daerah situ masih tergolong mahal. Selain karena belum banyak yang menanam, modal untuk menanam tumbuhan dari keluarga kaktus itu terbilang memerlukan modal besar.


Sebab metode yang digunakan Ajisaka tergolong unik. Ia menggunakan pijaran lampu pada malam hari guna merangsang pertumbuhan bunga buah dari keluarga kaktus itu.


Buah naga listrik orang-orang menyebutnya.


Sehingga, buah naga akan tetap berbuah meskipun bukan saat musimnya. Aji memang cukup mumpuni dalam kegiatan usaha di sektor pertanian itu.


" Om lagi panen ya?" Damar tanpa takut bertanya. Ini di desa pikirnya. Orang-orangnya tidak se seram saat ia ada di kota beberapa waktu lalu.


" Iya, tapi bukan punya om!" Sahut pria dengan rambut berwarna kuning itu. Rambutnya bagai rambut jagung manis yang siap di panen.


" Kenapa cuma dua, itu ambil lagi. Ini kreseknya!" Pria itu mengambil kresek yang tersumpal di saku kantong celananya.


Damar mengantongi sendiri buah dengan warna merah itu.


" Yang itu yang warnanya putih le!" Tukas Sukron. Damar mengangguk, baiklah dia akan mengambil di jenis buah itu. Lagipula ini rejeki pikirnya.


" Makasih ya Om, saya pulang dulu!" Ia pamit dengan rasa senang.


Ia membawa harta yang baru saja ia dapatkan itu dengan sumringah. Siang ini ia ingin dibuatkan jus buah naga. Pasti segar.


Saking gembiranya, Damar tak memperhatikan jalanan di depannya. Terlalu asik dengan sekresek buah naga yang baru saja ia dapatkan. Membuat sebuah mobil mengerem mendadak kala ia berteriak.


"AAAAA!!!"


Jantungnya berdetak, ibu akan memarahinya jika ia celaka. Apalagi ia pergi tanpa pamit.


.


.


Ajisaka


Urusannya clear, ia berniat akan pulang dulu. Hari ini ia akan membayarkan upah para pekerja. Sebagai pria lajang, ia tergolong pria dengan kesibukan super.


Saat sibuk mengganti channel radio di dasbornya, ia terkejut dengan kemunculan bocah kecil secara tiba-tiba. Membuatnya menginjak rem itu secara mendadak.


" AAAAAAA!!"


Jantungnya seakan berhenti berdetak selama sepersekian detik. Suara teriakan bocah itu jelas membuat dirinya gemetar.


" Astaga! Apa aku menabraknya?" Dengan gerakan cepat dan gusar, ia membuka sabuk pengamannya lalu segera keluar dari mobilnya.


Matanya membulat demi melihat bocah yang duduk dengan satu kresek buah naga yang ia bawa.


Aji seketika bernapas lega. Pasalnya bocah itu rupanya tak sampai tertabrak olehnya.


" Kamu gak papa ?" Aji paling tidak tega dengan anak kecil. Ia mendatang bocah yang bersimpuh di tanah itu.


.


.


Bocah itu menggeleng dengan wajah muram bercampur rasa takut. "Aku gak apa-apa om!!" Jawabnya.


Sejurus kemudian datang Sukron bersama para pegawai lain. Ramai mendatangi jeritan bocah itu.


"Loh bos?" Sukron terkejut. Apakah bosnya itu terlibat kecelakaan dengan bocah tadi?


" Saya permisi Om, saya pulang dulu!" Bocah itu dengan tergesa-gesa bangkit dan langsung ngeloyor pergi. Membuat Sukron melongo.


Damar tak mau sampai diantar ke rumah. Apalagi kalau pria itu sampai menceritakan jika ia hampir saja tertabrak mobil. Mbak uti jelas akan marah nanti. Apalagi ibu. Oh no!


Para manusia dewasa itu menatap punggung kurus Damar dengan tatapan kasihan. Bocah kecil kenapa keluyuran sendiri?


" Anak siapa dia?" Tanya Ajisaka yang merasa baru pertama melihat.


" Saya juga gak tahu bos. Tadi dia duduk disini sendirian. Kasihan tadi. Makanya saya kasih itu tadi!"


Ajisaka tertegun.


" Ya sudah sana balik kerja semua!" Titah Ajisaka membuyarkan kerumunan anak buahnya yang kepo dengan kejadian barusan.


Sudah dua kali Ajisaka merasa seperti Dejavu dalam kurun waktu kurang dari 24 jam. Ia merasa pernah bertemu dengan dua sosok itu. Tapi ia benar-benar lupa.


Dimana mereka bertemu?


.


.


.


.


.


Keterangan :


Déjà vu, dari bahasa Prancis, secara harfiah "pernah dilihat", adalah fenomena merasakan sensasi kuat bahwa suatu peristiwa atau pengalaman yang saat ini sedang dialami sudah pernah dialami di masa lalu. Déjà vu adalah suatu perasaan telah mengetahui dan déjà vécu adalah sebuah perasaan mengingat kembali.


Sumber Wikipedia