
Bab 84. Permintaan Ambarwati
^^^" Dalam hari selalu ada kemungkinan. Dalam hari selalu ada kesempatan!^^^
^^^~Iwan Fals^^^
.
.
.
...πππ...
Serafina
Selesai mengagumi dirinya di depan cermin, ia kembali menyemprotkan parfum ke cetuk leher, belakang telinga juga pangkal tangannya. Ia bak bunga sedap malam yang mengeluarkan semerbak aroma memabukkan.
Fina wangi.
Tentu saja ia harus wangi. Ia tak mau minder di depan Pandu yang segala sesuatunya benar-benar perfect di matanya. Ganteng dan...emmm sesuatu banget lah pokoknya.
Namun malang tak dapat di tolak, dan untung tak dapat di raih. Pintu yang menurutnya sudah ia kunci dari dalam, mendadak terbuka dengan cara di jeblak melalui perantara tendangan kaki seseorang.
Definisi dari di dobrak paksa.
BRAK
Matanya membulat saat melihat pria asing yang sudah membawa sepucuk senjata api berdiri di ambang pintu kamarnya. Menatap Fina penuh minat. Menguliti dirinya dengan tatapan penuh selera.
" Siapa kamu!" Dengan suara bergetar dan hati berdebar hebat, ia beringsut mundur lantaran takut. Ia takut bukan tanpa alasan. Pria itu memandanginya dengan penuh naf su. Menjijikan.
Pria itu menggosok dagunya seraya memindai tampilan Fina yang menggiurkan. Sejurus kemudian ia memasukkan senjatanya ke belakang punggungnya. Membuat dirinya kini bebas mengintimidasi Fina.
" Cantik banget kamu. Pantesan si bos sampai memintaku untuk menculik mu!" Pria itu kini terus berjalan mendekat ke arah Fina yang langkahnya mulai mati. Mentok ke tembok sisi jendela.
" Anjing!"
"Elu pasti disuruh Riko kan! Dasar brengsek!" Fina mengumpat dengan rasa jijik. Emosinya terpantik lantaran mendengar ucapan pria gila di depannya itu.
" Tol...!"
KLAK KLEK
Pria di depannya itu terlihat menarik revolver di belakang punggungnya, lalu mengkokang senjatanya dengan cepat. Sejurus kemudian pria itu mengacungkan senjatanya ke hadapan Fina.
Membuat Fina meneguk ludah dengan ketakutan.
" Aku bunuh kau sekarang juga jika kau berani berteriak!" Pria itu tahu jika di lantai dasar rumah Fina ada orang yang akan membahayakan langkahnya.
Saat Fina masih larut dalam rasa takutnya, derap langkah terdengar menuju tempatnya berada.
" Cepat, bawa wanita itu!" Terlihat dua orang lain yang kini berada di ambang pintu kamarnya. Mereka berpakaian hitam dan sibuk berbicara kepada pria itu. Membuat Fina kini melihat mencari peluang menyelamatkan diri.
Melihat ada kesempatan, Fina berusaha menyambar senjata dari tangan pria itu. Membuat dia dan pria itu kini harus berebut senjata .
DOR
DOR
Aksi perebutan senjata itu sukses membuat pelatuk pistol tersebut tertarik secara tidak sengaja. Dua pria di depannya itu kini turut membantu rekannya yang terlibat adu rebut bersama Fina.
Bisa runyam urusannya jika mereka tertangkap.
" Tolongggg!!" Kini Fina berteriak sekeras mungkin.
PLAK
Satu pria menampar Fina dengan kerasnya.
" Arggh!! Dasar anjing kalian!" Maki Fina yang merasa sangat kesakitan. Pipinya berdenyut dan terasa menebal secara bersamaan. Pedih sekali.
Sejurus kemudian pria itu memukul tengkuk Fina sehingga membuat dirinya tk sadarkan diri. Mereka tak memiliki pilihan lain.
Fina pingsan.
.
.
Nyonya Lidia
Ia sontak menghentikan kegiatannya yang tengah menyeka badan suaminya yang masih belum bisa berjalan itu, saat mendengar suara letusan tembakan sebanyak dua kali.
" Astaga pah?" Wajahnya seketika pias dan panik. Seumur hidup baru kali ini ia mendengar secara langsung suara tembakan.
Tuan Guntoro yang hanya bisa berbicara tanpa bisa bergerak kini hanya bisa memasang wajah khawatir. Suara yang terdengar dari lantai atas. Jelas berasal dari kamar Fina.
" Mama mau kemana ma?" Tanya Tuan Guntoro saat melihat istrinya yang sudah akan menarik handle pintu kamar.
" Mama mau lihat Fina pa!"
.
.
Pandu
Padahal, saat itu masih pagi sekali, dan Andhika juga baru saja bertukar sift dengannya. Harusnya tak ada celah bagi musuh untuk bisa masuk.
" Markus, hubungi Bayu sekarang. Infokan jika kita tengah di serang!" Ucap Pandu sembari terus menapaki tangga yang entah mengapa mendadak serasa menjadi banyak sekali.
" Siap Bang!" Jawab Markus sigap.
Yusuf terlihat bersiaga di belakang Pandu sembari membawa senjata yang telah ia tarik dari selongsongnya. Namun sial, pintu kamar Fina telah terjeblak.
Kosong melompat tak berpenghuni.
Pandu bersama Yusuf memasuki dan mengecek kamar Fina dengan nafas terengah-engah.
" Sial!" Umpatnya kala melihat Fina yang benar-benar sudah tidak ada di kamarnya. Sejurus kemudian ia berlari menuju jendela kamar Fina.
" Brengsek!" Rutuk Pandu kala melihat Fina yang tak sadarkan diri telah di masukkan ke dalam sebuah mobil hitam oleh tiga orang asing.
Dari atas balkon kamar Fina, ia kini melihat wajah yang tak asing. Wajah pria sialan yang selama ini ia cari. Raditya.
Raditya tersenyum mengejek kepada Pandu sesaat sebelum ia masuk ke dalam mobil itu. Mengisyaratkan tatapan penuh ejekan.
" Brengsek!" Umpatnya geram.
" Bang! Bang Pandu!"
Membuat Yusuf dan dirinya menoleh secara bersamaan.
" Sa temukan pembantu Nona Fina pingsan di bawah!" Tutur Markus membuat Pandu semakin geram.
Jelas mereka memanfaatkan kelemahan mbak Waroh untuk menunjukkan pintu belakang. Kemungkinan besar, mereka sudah mengintai rumah ini sejak dini hari tadi.
...πππ...
Kalianyar
.
Ambarwati
Entah mengapa ia ingin segera menyusul putranya ke kota. Menurut penuturan Ajisaka, Pandu mengijinkan mereka menyusul apabila dalam waktu satu bulan usahanya tak membuahkan hasil.
Namun insting seorang ibu tak pernah meleset. Ia tak bisa lagi membendung kekhawatiran. Sudah cukup ia kehilangan orang-orang yang sangat ia cintai. Ia berniat memohon kepada Pandu untuk pulang saja. Ia tak mau kehilangan harta satu-satunya yang ia miliki. Pandu.
Ia kini terlihat menemui Ajisaka. Tengah duduk terpekur menunggu kedatangan sahabat putranya yang infonya masih dalam perjalanan dari kebun buah naga miliknya yang luas.
" Bu, mari nunggu di dalam saja. Mas Aji pasti sedang dalam perjalanan!"
" Tadi sudah saya telpon dan beliau sudah menuju kemari!"Tukas Sukron yang ramah kepadanya.
" Gak usah le ( nak), disini saja!" Tolaknya halus. Ia lebih memilih duduk di bangku panjang, yang berada di samping tempat penimbangan buah naga yang baru di petik.
Ambarwati menunggu dengan harap-harap cemas. Sekarang atau tidak sama sekali.
Sepuluh menit kemudian, mobil Ajisaka datang dan memasuki halaman rumahnya yang luas. Tentu jelas bersama si pemilik juga.
" Ibuk kok gak kamu suruh masuk Kron!" Ajisaka berucap sesaat setelah menutup pintu mobilnya. Ajisaka kini terlihat berjalan menuju tempat duduk yang tengah ia gunakan untuk mendaratkan tubuhnya.
" Tadi ibuk gak mau bos!" Sahut Sukron tertunduk segan.
Ambarwati tersenyum menatap Ajisaka yang sudah hendak mau marah. Pria itu selalu saja mudah marah. Apalagi menyangkut orang-orang terdekatnya.
" Saya yang enggak mau. Tadi sudah di tawari!" Ucapnya lembut. Membuat raut Ajisaka seketika berubah.
" Mari buk masuk!" Ajak Ajisaka sembari mendahului langkah Ambarwati. Mempersilahkan wanita itu untuk masuk.
" Ibu mau minum apa? Aduh maaf ya Buk, Berantakan begini. Maklum.." Ajisaka sungkan, pemuda bujangan yang tak memiliki tetua dirumahnya itu, kini merasa malu dengan kondisi rumahnya yang berantakan. Padahal, rumah Ajisaka merupakan rumah besar yang sangat bagus.
" Cari istri makanya. Biar ada yang urus!" Ia justru berkelakar. Membuat Ajisaka tersenyum kikuk.
" Kamu gak usah repot-repot, saya cuma sebentar!" Tukasnya saat melihat Ajisaka yang membuka water showcase mini di ruang tamunya. Berisikan beberapa botol minuman dingin berkarbonasi, minuman beralkohol, juga air mineral.
Memang dia yang paling kaya dari ketiga sahabatnya yang lain.
Aji mengambil sebotol minuman teh juga air mineral. Meletakkannya tepat di meja yang berhadapan langsung dengan Ambarwati.
Ambarwati terlihat menunggu Ajisaka yang kini meneguk sebotol minuman berkarbonasi warna hitam. Terlihat sangat kehausan. Namun, ia menyayangkan Ajisaka yang sepagi itu sudah meminum minuman yang berkalori tinggi.
" Maaf Buk, haus banget!" Ucap Ajisaka mengusap sisa air di bibirnya menggunakan punggung tangannya. Ah lega!
Ajisaka terlihat sangat haus lantaran sepagi itu, ia sudah menunggui para petani yang membuang bunga yang baru di kawinkan. Buah naga lampu merupakan komoditas pertanian yang tengah Ajisaka geluti.
" Jadi...apa yang bisa Aji bantu Buk?" Ajisaka menyatukan kedua tangannya di tengah- tengah lutut kakinya yang sedang meregang. Menatap lekat wajah Ambarwati yang mengundang tanya, lantaran menyuguhkan raut kecemasan.
" Bisa antar ibuk ke kota nak?"
.
.
.
.