Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 172. Perdebatan



Bab 172. Perdebatan


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Rarasati


Ia masih berusaha mengatur perasaannya saat Ratna datang mengejutkan dirinya. Ya, Rara diam dan bersembunyi di balik dinding menuju stage. Ia tak ingin siapapun melihat kesedihannya.


" Ra, elu kenapa?" Ucap Ratna yang sebenarnya sedari tadi mencari dirinya. Karena pergi ke toilet sangat lama sekali.


" Elu nangis?" Wajah Ratna penuh kekhawatiran.


Rara menggeleng seraya tersenyum" Gapapa, gimana...ada apa?" Sekuat hati ia harus mencoba profesional meski entah mengapa kata-kata yang keluar dari mulut kurang ajar Yudha begitu melukai hatinya.


" Si Kiki udah selesai!"


" Itu pengunjung pada minta elu lagi yang tampil. Ada satu cowok udah naik diatas mau duet itu!"


Rara membulatkan matanya, " Cowok?"


Ratna mengangguk, " Nih ya, kalau mereka live di Instagram terus banyak yang like, mas Surya pasti seneng banget Ra. Udah cepetan sana...!"


Ratna mendorong tubuh Rara dengan tersenyum senang. Bakat temannya itu memang sudah tidak di ragukan lagi.


Tanpa mereka sadari, Yudha rupanya mendengar percakapan dua wanita itu. Yudha tertegun dan benar-benar merasa bingung. Dia kan memang copet, kenapa dia menangis sewaktu Yudha mengatakan hal itu, lalu apanya yang salah?


.


.


Meja 05


***


Yudhasoka


Dengan wajah masih keruh, Yudha kembali ke meja para sahabatnya. Entah mengapa ia menjadi penasaran dengan wanita itu. Pencopet yang dengan bebasnya bergaul dengan banyak orang.


Sangat menghawatirkan bukan?


" Semangat Sak!" Fina berteriak sembari melambaikan tangannya saat melihat Sakti yang sudah duduk diatas round chair dan memegang microfon. Pria itu rupanya orang yang meminta duet dengan Rara.


Mata Yudha menjadi purnama saat itu juga demi melihat Sakti yang tebar pesona diatas stage, Pria itu terlihat percaya diri sekali dan terlihat luwes saat berinteraksi dengan Rara yang tengah menyetel gitarnya.


" Oke...kita ada satu customer nih yang mau duet sama saya...kita kenalan dulu mas?"


Yudha mendecak tak percaya. Sahabatnya tengah asik bersama pencopet sialan itu?


" Si Sakti pede banget lagi, tuh lihat!" Sukron tergelak. Mereka semua terhibur dengan aksi konyol Sakti.


" Semoga aja tuh cewek enggak muntah- muntah pas denger gombalannya si Sakti!" Sahut Ajisaka yang kini terlihat lekas menikmati suasana disana.


" Namanya siapa mas?" Suara Rara yang tengah berintermezo dengan Sakti membuat semua pandangan mereka tertuju pada dua manusia diatas stage itu.


" Saya Sakti... tapi enggak pakai mandraguna!" Jawab Sakti terkekeh. Membuat kesemua yang disana tertawa.


Dasar sableng!


" Oke baik mas Sakti. Jadi..mau request lagu apa nih, biar Rara iringin!"


Sakti senyam-senyum sendiri demi melihat Rara, " Emmm boleh enggak kamu jawab tebakanku ini dulu!" Ucap Sakti yang membuat para pengunjung lain makin tertawa karena dagelan Sakti.


Rara tergelak, " Boleh... emang apa?"


" Dari sekian banyak benda langit di galaxy kita , kenapa cuma matahari yang dijadikan nama mall terkenal?" Ucap Sakti mulai melayangkan jurus andalannya.


Rara terlihat berpikir, namun akhirnya menyerah" Kenapa emangnya?" Sahut Rara yang masih setia memainkan intro dengan petikan gitarnya.


" Karena Bintangnya udah ada disini, di depan mata aku....!"


" Whuuuuuu!" Semua orang bersorak demi gombalan garing Sakti yang membuat suasana makin malam makin heboh saja.


Pria edan!


" Hahaha, asli si Sakti. Bisa-bisanya dia ngeluarin jurus gombalisasi ke tuh cewek!" Pandu bahkan tergelak. Sahabatnya yang satu itu benar-benar tiada duanya.


Entah mengapa saat semua orang tertawa, Yudha malah sebaliknya. Entahlah, rasanya bercampur jadi satu. Terselip rasa bingung dalam hatinya.


" Oke oke, ternyata raja gombal kita ada disini gaes...!" Ucap Rara yang masih tertawa demi mendengar Sakti yang berkelakar. Pipinya bahkan pegal karena tak hentinya tertawa.


" Begitu indah boleh ya? Kita duet!" Tukas Sakti.


" Oke sebuah lagu penuh makna ini kami persembahkan buat anda sekalian, semoga makin menambah kehangatan kita malam ini, Happy listening...!"


Rara mulai menekan grip menggunakan jari- jemari di tangan kirinya, sementara tangan kanannya mulai menggenjreng senar- senar yang menimbulkan nada dengan tempo semi cepat itu.


🎢


Bila cinta menggugah rasa


Begitu indah mengukir hatiku


Menyentuh jiwaku


Hapuskan semua gelisah


Duhai cintaku duhai pujaanku


Datang padaku tetap di sampingku


Kuingin hidupku


Selalu dalam peluknya


Sahutan suara siul dari bibir para pengunjung, serta riuh rendah tepuk tangan membuat Rara dan Sakti makin bersemangat.


Para pengunjung benar-benar larut. Suara Sakti boleh juga rupanya. Mereka berduet dengan suara satu dua yang makin membuat lagu itu kian terdengar easy listening.


🎢


Terang saja aku menantinya


Terang saja aku mendambanya


Terang saja aku merindunya


Karena dia karena dia begitu indah


(Padi~ Begitu Indah)


.


.


" Seneng banget ya...aduh rasanya puas banget!" Ucap Fina usai menutup pintu mobil Ajisaka.


"Bener! Tapi, teman mbak Fina sayangnya enggak ada datang!" Sahut Sukron yang kini mulai memasang sabuk pengamannya.


" Iya, dia tadi WA aku tapi aku telat baca. Dita lagi ada trouble Ama gebetannya, enggak jadi kesini deh. Padahal dia yang ngasih rekomendasi. Gara-gara asik nonton si Sakti nih, aku jadi telat baca WA nya si Dita!" Fina tertawa sembari menoleh kebelakang, tempat dimana Sakti duduk.


Sakti terkekeh, " Asli tuh cewek paket komplit banget Fin. Udah cantik, suaranya bagus, pinter main gitar lagi... siapa tadi namanya?"


" Rara!" Sahut Pandu cepat.


Fina langsung menoleh ke arah kekasihnya itu ," Kok tahu? menatap wajah Pandu penuh selidik.


" Tadi kan MC itu udah ngumumin!" Jawab Pandu dengan memutar bola matanya malas. Astaga Fina.


" Cieee yang cemburu!" Cibir Sakti menimpali.


Membuat Fina makin menenggelamkan diri ke ketek Pandu. Harus cemburu dong. Cemburu kan tanda cinta. Eyaaaa!


" Aku kayaknya suka deh sama cewek tadi gaes!" Ucap Sakti menyandarkan kepalanya sembari menerawang. Mengingat kembali wajah ayu Rara.


" Enggak boleh!"


Ucap Yudha dengan tegas dan keras. Membuat kelima orang lain di dalam mobil itu, seketika diam dan saling memandang bingung.


" Kenapa?" Sakti tentu saja menjawab dengan wajah penuh rasa ingin tahu.


" Pokoknya jangan. Yang lain aja!"


Sakti menatap tajam kearah Yudha. Pria itu sedari tadi diam dan tak berkomentar apapun soal wanita tadi, namun kini dengan tiba-tibanya dia malah melarang Sakti tanpa alasan yang jelas.


Atas dasar apa Yudha melarangnya untuk menyukai Rara?


.


.


.


.