Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 190. Di kesunyian hati



Bab 190. Di kesunyian hati


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Yudha


Wajah penuh beban milik wanita tegas itu, terang mengusik pikirannya. Membuatnya kini melesatkan mobilnya untuk keluar meski mamaknya mengomel.


" Baru kutengok kau masuk rumah Yud, sudah mau pigi pulak kau. Rasa-rasanya punya anak sama tidak kok sama aja!"


Namun, di saat ia melihat para bala nya tengah berkumpul di kedai Cak Juned, ia lantas menepikan mobilnya dulu. Sebentar saja pikirnya.


Dari dalam mobilnya, ia senang kala melihat semua sahabatnya ada di sana, bahkan ia melihat Fina juga turut duduk di barisan yang dekat dengan Pandu dan Aji.


Sepertinya hubungan Fina dengan Pandu semakin baik. Ia turut senang akan hal itu.


Ia sebenarnya tak ada niatan kesana malam ini, tapi agaknya tidak etis jika ia tak mampir dulu. Mengingat seharian ini ia sibuk dengan urusannya sendiri.


"Gue kira udah hilang ke antah berantah lu Yud, enggak ada kabar seharian!"


Ia langsung tersenyum manakala Pandu langsung menyambutnya dengan ocehan. Itu berarti sahabatnya merindukan dirinya.


" Aku balik dulu, kalian lanjut aja!"


Namun, sebuah ucapan lain langsung membuat senyumnya memudar dalam waktu singkat. Sakti bahkan pergi tanpa meliriknya.


Jelas sesuatu telah terjadi.


" Sak!"


" Tunggu Sak!"


Namun yang di panggil masih saja bergeming. Pria dengan kulit bersih itu terus tekun menuju ke arah motornya yang terparkir di dekat motor Aji.


" Yud!" Ajisaka menahannya sembari menggelengkan kepalanya. Menginstruksikan kepada Yudha agar membiarkan Sakti.


" Dia lagi ada masalah kayaknya, dari tadi dia diam. Kita malah jadi ngeri ngelihat dia kayak gitu!" Ucap Sukron menimpali.


" Bener mas. Orang yang sering bercanda, sekalinya diam malah mengerikan!" Imbuh Dino yang juga merasa Sakti sangat aneh.


Yudha tertegun, ia bahkan lebih dekat dengan Sakti melebihi dekat kepada Pandu maupun Aji. Dan kebisuan Sakti, jelas membuat hatinya dirundung keresahan. Apa pria itu merajuk kepadanya?


Atau, ada sesuatu yang tidak ia ketahui. Ini tidak benar, seorang sahabat harus ada dalam suka maupun duka.


" Udah- udah, kasih waktu buat si Sakti sendiri dulu. Kita juga enggak tahu masalah dia apa!" Ucap Fina menatap Yudha.


" Bener, lagipula mungkin dia lagi dalam fase under pressure ( dibawah tekanan), solanya ibunya lagi natar dia habis-habisan buat buka waralaba!" Tutur Pandu sejurus kemudian.


Yudha masih saja muram saat ia mendudukkan tubuhnya di dekat Fina. Semua ucapan positif dari bibir rekan- rekannya itu bagai angin lalu saja." Ini jelas ada yang enggak beres sama tu anak!"


"Ngomong-ngomong, mau kemana lu? Tumben dandan kenceng begini?" Tanya Aji usai menyeruput kopi hitam kesukaannya.


Menatap Yudha yang terlihat segar dan wangi di jam semalam ini.


" Ada urusan, makanya aku disini enggak lama!" Ucapnya sembari mencomot martabak asin lalu mencocolkannya ke saus sambal Bangkok di depannya.


Emmm Yummy!!


" Roman-romannya, urusan elu sama si Hesti udah beres!" Pandu kini angkat bicara demi melihat wajah Yudha yang sudah tidak keruh.


" Hmmm, dikit. Semoga aja dia enggak ngrecokin lagi. Enak aja dia, udah Salome tapi mintanya ke aku!" Sahut Yudha tanpa dosa.


" Apaan Salome?" Tanya Dino tak mengerti, pun dengan Fina.


" Satu lobang, rame-rame!"


Pandu, Ajisaka, dan Sukron berucap serentak. Membuat Dino dan Fina melongo seketika.


Sementara Yudha hanya bersikap B aja. Menikmati martabak asin yang benar-benar memanjakan lidahnya.


.


.


Orang yang paling sering bercanda, sebenarnya dialah yang paling sering merasakan kesusahan. Hanya saja, ia bisa menyembunyikan semua itu, dalam balutan keceriaan.


Ia tak menampik, ketiga sahabatnya itu merupakan pria baik dan tulus. Terbukti dari eratnya nilai persahabatan yang terjalin selama ini.


Lagipula, ia sedari dulu memang cenderung mengikuti kata hatinya dari pada manut kepada Ibunya.


Namun entah mengapa, hatinya mendadak tidak terima manakala ia melihat Yudha yang berpelukan dengan Rara siang tadi.


Meski ia paham, wanita itu juga belum tentu mau dengannya. Tapi setidaknya, Yudha harusnya berterus terang saja kepadanya soal wanita itu.


Kejujuran itu penting dalam lini persahabatan yang terjalin.


Kenapa harus melarangnya dengan alasan yang tidak jelas, kalau rupanya alasan di balik itu semua hanya karena Yudha juga menyukai Rara.


[" Semua baik-baik aja kan?"]


Yudha berkirim pesan melalui WhatsApp. Namun sama sekali tak berniat ia balas.


[" Gue enggak tenang kalau elu begini Sak. Elu dimana biar gue samperin!"]


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Rarasati


" Besok kalau tekanan darahnya sudah tidak setinggi seperti saat ini, pasien boleh di bawa pulang!" Ucap dokter pria yang menangani Pak Hari. Membuat hati Rara sedikit plong.


Malam itu merupakan kunjungan kedua dokter tersebut. Perawatan secara intensif bisa membuat kondisi Bapak menjadi lebih baik.


Rara meninggalkan Bapaknya beristirahat di ruangannya. Ia berniat berjalan keluar demi ingin menghirup udara segar barang sejenak. Tak ada saudara maupun kerabat yang bisa ia mintai tolong, maupun sekedar mendengar keluh kesahnya.


Karena ia kini tahu, keluarga hanya tercipta sewaktu keadaannya berada di atas saja. Selebihnya, ia kini tahu siapa sebenarnya yang berada di sekelilingnya.


Rara duduk menggelosor di atas lantai rumah sakit itu. Tak menghiraukan debu yang kini menatap sinis kepadanya. Wanita itu menerawang jauh, menatap nyalang tanaman bambu air yang terlihat terawat dengan baik.


[" Sory Ra, duit gue baru aja kepake buat bayar uang sekolah Adit. Sory banget belum bisa bantu kamuπŸ˜₯!"]


Ia menghembuskan nafasnya pasrah. Weny satu-satunya orang yang menjadi harapannya kini telah memupuskan asanya melalui pesan singkat itu.


Ia paham, Weny dan dirinya juga sama-sama tulang punggung.


Ia terlihat mengetik sebuah pesan ke orang lain. Dengan semangat muka tebal, ia terus mengetik pesan itu. Semua demi Bapak.


[" Saya belum bisa bantu kamu. Kamu tahu sendiri saya lagi devisit habis-habisan. Kamu pinjam aja ke banknya adiku, aku bisa bantu kamu biar duitnya cepet cair, pakai BPKB motormu aja!"]


Pesan dari Ko Bian seketika membuatnya lega. Adik dari Ko Bian kan punya bank perkreditan. Kenapa ia tak memikirkan hal ini.


[" Beres, besok kamu ke kantor jam 8!"]


Ucapkan syukur tiada terkira. Tak apalah, yang penting besok dia bisa mendapatkan uang untuk bayar biaya rumah sakit.


Setidaknya, ia tak perlu melalui birokrasi rumit yang memusingkan. Melalui Ko Bian, ia bisa mendapatkan pinjaman tanpa terlalu ribet mengurusnya.


" Aku cariin di dalam enggak ada rupanya kamu disini?"


.


.


.