Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 121. Balada cinta manusia dewasa



Bab 121. Balada cinta manusia dewasa


...Senandung lagu cinta...


...Tercipta untuk-Mu...


...Yang getarkan jiwa ini...


...Lumpuhkan jantungku...


...Keagungan sempurna...


...Yang tak terlukiskan...


...Bahagiakan diri ini...


...Saat bersama-Mu...


...( Diambil dari lirik lagu Ada Band ~ Senandung lagu cinta) ...


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Kota X


**


Bayu


Ia tengah mengemudi saat ini, meski seorang wanita tengah duduk di bangku belakang persis seperti seorang penumpang, dan ia sebagai supirnya. Sangat menggelitik.


" Biar sudah, yang penting dia tidak menolak dulu!"


Bayu bersikap biasa saja meski sebenarnya dia ingin sekali duduk berdua dengan Ambarwati di depan. Bolehkah?


"Apa kau ingin makan sesuatu?" Tanya Bayu dengan menatap Ambar di rear vision mirror.


Ambarwati yang sedari tadi menghadap ke arah luar melalui kaca mobil itu, kini juga menatap mata Bayu dari rear vission mirror itu. Praktis kini pandangan mereka berdua saling bertemu. membuat Ambarwati kini canggung dan merasa gelagapan.


" Terserah anda sajalah saya menurut!"


Jawabnya sembari mengalihkan pandangannya kembali ,karena ia merasa rikuh dan tak nyaman akan tatapan Bayu yang menurutnya sangat mengganggu dan meresahkan.


" Kenapa balik kaku lagi sih?" Bayu mengembuskan napasnya pasrah.


Ambarwati tak mengira bila mobil Bayu kini berhenti di sebuah warung sederhana yang menjual panganan khas itu.


Pecel pincuk mbok Waras.


" Aku sudah lama tidak mampir ke sini, kita sarapan di sini saja ya? Ini sudah menjadi langganan ku sejak lama sebetulnya!"


" Masakannya enak!"


Ambarwati tertegun sejenak, tak mengira jika pria sekelas Bayu mau makan panganan sederhana seperti ini.


"Iya nggak papa!" Hanya itu yang ia jawab, mau menjawab apalagi? Sudah kepalang canggung sedari tadi.


Tempat makan itu terletak di area terbuka yang luas dan asri. Cocok untuk menjadi rest area sebenarnya. Tempatnya lesehan dan alasnya terbuat dari kayu, bentuk bangunannya mirip rumah panggung.


Bolehlah!


.


.


Ambarwati


Ia menatap Bayu yang saat ini tengah berjalan menuju tempat pemesanan, pria itu terlihat akrab sekali dengan pemilik kedai yang berdesain klasik itu.


Dari tempatnya duduk bersila, Ambarwati bisa melihat jika Bayu merupakan sosok yang cepat akrab dan disegani banyak orang.


" Kenapa mbok tua itu akrab sekali dengannya?"


Sebenarnya pria itu juga terlihat tampan di usianya yang terbilang matang . Ah... mikir apa sih dia ? Mengapa pikirannya menjadi seperti ini sekarang?


" sedang dibuatkan ,tunggu sebentar ya? Kamu minum apa?"


Bayu kini telah kembali dan duduk bersila di depannya. Saking cepatnya pria itu dalam bergerak, ia bahkan bisa menghirup hembusan aroma dari tubuh Bayu.


Pria itu selalu wangi. Dan benar, parfum yang tepat memang bisa mengubah cara pandang orang ke kita.


" Air putih saja!"


" Di usia seperti kita lebih baik mengurangi yang manis-manis!" Ucapnya normal.


Kita? Ihuuyyy! Batin Bayu bersorak.


Beberapa menit kemudian ,mbok tua itu datang membawa lengser panjang ( sejenis nampan) berisikan ingke ( piring dari anyaman rotan kecil) dan diatasnya terdapat nasi yang di letakkan di atas daun pisang, disiram bumbu kacang yang menggugah selera, sayuran hijau, peyek udang, dan berbagai lauk pauk yang membuat nasi pecel itu meninggi bak gunung Rinjani.


" Ini kebanyakan!" Ia lupa mengatakan pada Bayu jika nasinya harusnya separuh saja.


" Apanya?" Tanya Bayu ubah terlihat tak mengerti.


" Maaf tadi saya lupa ngasih tau kalau harusnya nasinya separuh aja..!" Raut sesal terpancar di wajah Ambarwati.


Pria itu mengulum senyum, jadi cuma itu masalahnya?


" Meh sini.. taruh nasinya yang separuh ke tempatku!" Ucap Bayu yang kini mengangsurkan piringnya ke depan piring Ambarwati.


Ambar hanya terdiam melihat kesigapan Bayu dalam memecahkan masalahnya.


" Aku ambil separuh yaa?" Pria itu bahkan kini mengeruk separuh nasi yang memang sangat banyak itu saat ia masih belum menjawab.


Membuat Ambarwati benar-benar tak menyangka.


Wanita itu hanya bisa tertegun saat melihat semua yang di lakukan oleh Bayu. Apa pria itu tidak jijik kepadanya?


" Udah, sekarang udah gak kebanyakan kan? ayo makanlah!" Tutur Bayu.


Ia lekat memperhatikan cara makan Bayu yang tenang dan menikmati, sejurus kemudian membuatnya tersugesti untuk turut menikmati makanan sejuta umat itu dengan cita rasa otentik itu.


" Wow, ini enak sekali. Perpaduan rasa kencur, kacang, gula merah, daun jeruk, bawang putih, rasa pedasnya. Semuanya bisa pas gini!"


Ia padahal di desa kerap mendapat pesanan untuk membuat sambal pecel seperti ini, tapi ini ada yang beda. Rasanya sangat legit.


" Gimana enak kan?" Wajah Bayu sangat antusias saat menanyakan hal ini kepadanya. Seperti yang sudah-sudah.


Ia mengangguk " Lebih enak dari yang aku jual!" Ia tersenyum jujur.


Mata Bayu membulat " Kamu jualan nasi pecel juga?" Membuatnya berdecak kagum.


" Bukan jualan nasi, tapi biasa dapat pesanan orang-orang buat aku jual ke pasar!"


Bayu mengangguk mengerti, kekagumannya kini bertambah. Wanita tangguh di depannya itu benar-benar sangat mandiri.


Acara sarapan mereka kini tak canggung lagi, mereka isi dengan obrolan ringan seperti itu, membahas hal receh yang sesekali di iringi gelak tawa karena membicarakan sambal.


" Monggo Unjuk'ane Bu, calon garwo to Pak?"


( Silahkan minumannya Bu, calon istri ya pak?"


Wanita tua itu menghidangkan teh setengah panas ke meja mereka dan ngobrol dengan Bayu, terlihat akrab.


" Enggeh Mbok, dos pundi cocok nopo mboten?"


( Iya mbok, gimana cocok apa enggak?)" Bayu dengan tersenyum penuh arti menanggapi selorohan mbok Waras.


Ia hampir saja tersedak saat memasukkan suapannya lantaran mendengar obrolan dua manusia itu. Apa-apaan mereka?


" Nggeh cocok Pak, ampun dangu- dangu mpun, sikat mawon!"


( Ya cocok Pak, jangan lama-lama sudah, sikat saja!)"


" Tiange kadose sae, ayu!"


( Orangnya sepertinya baik, cantik!)


Ia melirik Bayu yang kini tergelak bersama mbok tua yang endel ( centil) itu. Ia tahu yang mereka bicarakan lawong dia orang Jowo. Oh astaga!


Ia lebih baik diam, membantah pun akan terasa percuma, sebab Bayu pasti pandai berkilah. Ia berpura-pura tak mengerti, meski di dalam hatinya ia tengah mendengus.


" Kenapa gak di minum teh nya?" Ucap Bayu yang kini menumpuk ingke yang menjadi tempat mereka makan tadi.


" Saya minum air putih saja, kan tadi saya sudah bilang!" Ia sedikit kesal, terlebih ingat akan ucapan Bayu pada mbok tua tadi.


" Ini bukan sembarang teh, ada ramuan herbalnya, coba deh!" Ia mengangsurkan teh yang warnanya memang sedikit berbeda itu, lebih pekat.


Pria itu selalu saja!


Dan entah mengapa, ia malah menjalankan sugesti yang di berikan oleh Bayu. Lah dalah!


Ia mengangguk usai menyeruput lebih dari seperempat air dalam gelas itu. Terasa segar dan mirip wedang berisikan rempah.


" Enak kan?"


Sudah dua kali pria di depannya itu melakukan hal itu. Entah mengapa hati Ambarwati merasa lain. Mengapa Bayu baik sekali kepadanya? Apa pantas jika pria sekelas Bayu berlaku seperti itu kepadanya yang hanya wanita biasa?


" Mengenai yang tadi...saya serius!" Bayu terlihat melipat kedua tangannya ke atas meja dan menatapnya lekat.


Dua alisnya kembali mengkerut, apalagi ini?


" Yang tadi apa maksudnya?" Ia merasa tak tahu maksud dari pria itu.


" Saya ingin menolong kamu!" Bayu makin intens menatap dirinya, jujur ini membuatnya grogi.


" Hah?" Ia terlihat semakin bodoh karena tak tahu kemana arah ucapan Bayu.


" Saya suka sama kamu Mbar!" Ucap Bayu dengan santai sementara dia sudah sangat terkejut. Membuat suasana hening selama beberapa detik.


Suka?


Sama wanita yang menjanda dua kali macam dirinya?


" Saya serius, mungkin ini terlalu cepat. Tapi saya bukan tipe orang yang bisa menahan sesuatu lebih lama!"


Keringat mulai membasahi kening Ambar, tangannya mendadak dingin, degup jantungnya mulai tak normal. Reaksi apa ini?


" Saya ingin menolong kamu untuk hidup dengan layak!"


Ia makin meremas ujung bajunya saat ini. Harus bagiamana sekarang?


" Jujur, saat pertama kali bertemu Pandu saya merasa bertemu kembali dengan mendiang anak saya!"


Ambarwati susah untuk sekedar menelan ludahnya sendiri. Apa yang sebenarnya telah terjadi sih?


" Bukalah hati kamu untuk saya Mbar?" Saya serius sama kamu, entah mengapa rasa ingin melindungi Pandu dan kamu makin gak tertahankan, dan saya gak bisa melindungi kamu jika kita tidak bersama!"


Pria itu kini meraih tangan kirinya yang berada di atas meja, meremasnya dengan lembut. Membuat tubuh Ambar seketika mematung.


" Kamu tahu akan maksud saya?"


Demi Tuhan, ia kini bahkan tak bisa mencerna tiap perkataan Bayu yang membuatnya tertegun. Bagaimana ini?


.


.


.


Penggambaran karakter Pak Bayu, Pria dewasa berusia 53 Tahun. Kurang lebih seperti ini ya readers. Ingat, visual hanya bertujuan untuk mempermudah pembaca dalam menyelami lautan imaji.



.


.


Jangan lupa like nya ya readers terkasih, statistik banyak yang baca tapi yang kasih jempol pada banyak yang lupa. Like dulu sebelum baca ya, mari hargai dan dukung penulis dengan menekan ikon jempol di layar πŸ€—πŸ€—πŸ€—