
Bab 155. Bersamamu pasti lebih baik
.
.
.
...πππ...
Pandu
Ekstrem dan liar. Dua kata itu agaknya cocok untuk di sematkan pada kekasihnya itu. Bagiamana bisa dengan tanpa dosa, Fina menerkam biji telornya dengan tangannya yang lentik.
" Ada apa?" Ibu bahkan terperanjat demi mendengar dirinya yang memekik.
" Mmmmm!" Pandu hanya bisa ber-am em ria. Bingung hendak mengatakan apa.
Sial. Harus alasan apa sekarang dia? Mana mungkin dia jujur.
" Emm Buk, Pandu lupa nutup pintu mobil tadi. Pandu tutup dulu ya!" Alasan dadakan yang benar-benar mendadak itu agaknya lumayan masuk akal.
" Buk, Fina juga mau numpang ke kamar kecil ya!"
" Kebelet!"
Ia bisa mendengar jika tersangka dari perematan biji telor keramatnya itu, turut ingin pergi.
Kini, sebuah tangan terlihat menarik lengannya yang liat.
"Tungguin!" Ucap Fina dengan nada sebal.
" Kamu itu ya Fin, main remes- remes ajah! Untung Ibuk nggak lihat!" Pandu untuk pertama kalinya kesal kepada Fina.
" Lagian, siapa suruh congek banget itu kuping. Udah di kasih kode sampek bibirku monyong jugak, masih aja enggak ngeh. Emang ya!" Fina memutar bola matanya malas.
" Lagian, ada apa sih? Sakit tau!" Pandu membetulkan posisi benda pentingnya itu ke posisi yang lebih aman.
" Jangan kembali kesana dulu, biar Om Bayu sama Ibuk ngobrol. Kamu ini enggak peka banget sih!" Cibir Fina.
" Ya kan bisa kamu kirim pesan ke aku, atau kasih kode lainnya. Gak perlu jahatin si ucok juga kali!" Pandu memanyunkan bibirnya.
" Ucok?" Fina menatap Pandu.
" Nih Ucok!" Pandu meraih tangan Fina lalu meletakkan tangan nakal itu kedepan resletingnya.
Fina mendelik demi merasakan sesuatu yang sudah berubah ukuran itu.
Tidaaaak!
.
.
Bayu
" Jadi kamu selama ini tinggal disini sama Pandu?"
Ambar mengangguk" Maaf rumahnya tidak bagus!" Ucap wanita itu tertunduk.
" Kok gitu ngomongnya? Aku kan cuma nanya soal kalian yang tinggal disini!" Bayu menatap Ambar tersenyum.
Tangan dengan otot yang kentara milik pria itu, kini terlihat meraih jemari lentik dan halus milik Ambarwati.
Membuatnya grogi.
" Makasih ya Mbar, udah mau nerima aku!" Bayu memegangi tangan kanan Ambar menggunakan kedua tangannya lalu mengecup mesra punggung tangan itu. Hati Ambar seketika berdesir. Benarkah jika puber kedua itu nyata adanya?
" Jangan gini, enggak enak sama anak-anak!" Ambar terlihat rikuh. Lebih tepatnya masih malu-malu.
Bayu tersenyum. Wanita sederhana ini benar-benar sukses membuat hatinya meledak-ledak.
" Anak-anak enggak ada. Mereka pasti sengaja biarin kita berduaan!" Bayu masih menatap wajah Ambarwati yang malu-malu.
" Kita harus nikah secepatnya Mbar. Besok aku harus balik ke kota dulu buat beresin beberapa hal. Aku nurut sama kamu enaknya gimana. Yang jelas, aku bakal nikahin kamu disini!"
Ambarwati kini memberanikan diri menatap dua netra tajam milik Bayu. Pria yang berada di puncak kondisi terkuatnya itu terlihat benar-benar macho.
" Tidak usah di rayakan Mas. Saya...!"
" Aku ngerti. Itu tidak masalah buat saya. Yang penting saya sama kamu sah secara hukum!" Bayu benar-benar merasa bahagia. Tak perlu bertele-tele. Jika hati sudah klik, hajar saja. Kesempatan kadang tidak datang dua kali.
" Cihaaaa!"
...πΊπΊπΊ...
Damar
" Ibuk!" Ia melambaikan tangannya kepada Ibunya yang duduk sambil menjaga sebuah minuman dingin yang dibelikan oleh Om Aji tadi.
Damar terlihat bermain Pirate Hook. Pirate Hook adalah permainan memancing ikan sebanyak-banyaknya, dalam layar monitor mesin besar.
Ikan yang di dapat pengunjung, akan di konversikan menjadi tiket, yang nanti bisa di tukarkan dengan bingkisan menarik.
Hatinya di liputi kebahagiaan. Sosok pria keren yang menemaninya itu kini terlihat juga menikmati permainan itu.
.
.
Widaninggar
Ia tersenyum senang kala melihat Damar yang tertawa lepas. Ia juga melihat pria tinggi yang kini menemani anaknya bermain itu. Pria yang kemaren malam membuat dirinya bagai melayang.
Wida tersipu demi mengingat kejadian dahsyat itu.
Sekilas, mereka bertiga mirip keluarga Cemara yang bahagia. Tanpa problema dan tanpa keresahan.
"Ibuk!" Ia membalas lambaian tangan Damar yang kegirangan karena barusaja mendapatkan kupon yang banyak usia memenangkan permainan itu.
Aji menuruti semua keinginan Damar pagi jelang siang itu. Berbagai permainan telah mereka coba satu persatu. Membuat Damar girang.
" Om kita coba yang itu ya?"
" Yang mana? Tanya Aji penuh minat.
" Yang masukin bola-bola ke keranjang itu Om!"
" Boleh yuk kesana!"
Wida tahu, anaknya itu pasti terkait sindrom ajimumpung. Ia menghembuskan nafasnya pasrah.
Puas dengan semua permainan, terakhir mereka menuju area mandi bola. Menuruti Damar yang sudah tidak sabar ingin menjajal permainan itu.
"Bu aku mau langsung masuk ya?" Ucap Damar tak sabar.
" Sebentar ya dek, kakak pakaikan gelang dulu!" Ucap pegawai wanita usai menggesek kartu play zone itu.
Damar benar-benar kegirangan kala melihat ratusan bahkan ribuan bola berwarna-warni yang tumpah ruah di sebuah kolam lebar terbuka itu.
Hari ini, Damar merasa menjadi orang kaya. Karena bisa sepuasnya menjajal permainan yang selama ini hanya ada dalam angannya saja itu.
"Ibu tunggu di luar ya nak kamu masuk aja di dalam!" Wida sebenarnya cukup lelah. Padahal hanya menunggu.
" Oke! Om jagain ibu !" Damar berpamitan kepada Aji. Membuat pria itu senang. Anak-nya sudah dalam genggaman, tinggal induknya.
" Pak!"
Suara seseorang yang memanggil Ajisaka membuat ia dan pria itu menoleh secara bersamaan.
" Pak maaf, tas istrinya ketinggalan, tadi saya lihat di kursi yang di sana!" Seorang wanita paruh baya datang membawa pouch berisikan ponsel dan beberapa lembar uang milik Wida.
Wida terperanjat. Astaga, bisa-bisanya ia lupa dengan barangnya. Semua ini karena ia yang benar-benar terfokus kepada Damar.
" Terimakasih Buk. Maaf istri saya memang mudah lupa. Sayang lain kali hati-hati ya?" Aji sengaja mengatakan hal itu kepada Wida, saat wanita paruh baya itu masih ada di hadapan mereka. Membuat Wida mendelik dan ingin menyergah ucapan Ajisaka yang ngawur itu.
Aji tersenyum penuh kemenangan saat menatap Wida yang terlihat tak nyaman. Cenderung kesal.
Kapan lagi bisa pamer coba.
" Sama-sama Pak. Kalau momong anak memang begitu, jadi sering lupa semuanya.''
" Baru satu anaknya?" Ibu itu malah betah berbasa-basi.
"Masih pada muda segera nambah momongan lagi, biar makin rame!" Ucap wanita itu seraya terkekeh.
Wanita itu sepertinya kelasnya Bu Tejo, yang selalu sok kenal sok deket.
" Doakan ya Bu, semoga segera isi kembali?" Ajisaka dengan semangat menyahuti ucapan wanita itu.
Isi? Isi darimana? Nikah aja belom. Dasar!
" Aduh!" Ajisaka mengaduh demi merasakan sakit, lantaran pinggangnya di cubit oleh Wida. Cubitan skala kecil yang terasa menusuk di kulitnya.
Makanya jangan cari gara-gara!
.
.
.