
Bab 183. membereskan persolaan selapis demi selapis
.
.
.
...πππ...
Kalianyar
***
Yudhasoka
Ia masih duduk termangu di meja kerjanya, saat juniornya masuk ke dalam ruangannya dan membawa beberapa laporan.
Pria itu memaksakan diri untuk tetap masuk kerja meski tubuhnya sebenarnya terasa meriang. Pun dengan luka di lengannya yang masih terasa ngilu. Semalaman ia pulang hujan-hujanan dengan turut menaiki ojek.
Sama sekali tidak terpikirkan untuk meminta bantuan ketiga sahabatnya. Entahlah, ia sudah terlalu konyol karena Rara yang merajuk.
Jelas itu salahnya.
Yudha sudah terlalu terbiasa dengan ciuman, bahkan perbuatan ranjang dengan beberapa wanita yang dekat dengannya. Namun, ciuman tak sengaja bersama Rara semalam, justru berhasil meninggalkan desiran aneh yang membekas di hatinya.
Perasaan apa itu?
" Mas Yud, ada yang nyari tuh di depan!" Ucap pria dengan pakaian bergaya parlente yang necis abis.
" Siapa?" Tanya Yudha menaikkan sebelah alisnya.
Pria itu mengendikkan bahunya, " Gak tau, perempuan. Cantik sih!" Jawab Eko yang kini berdiri di depannya dengan wajah datar.
Dan ucapan Eko barusan, sukses menjadi pemantik rasa penasaran Yudha. Terselip rasa suudzon akan sosok yang mendatangi dirinya. Jangan-jangan...
Namun, rupanya yang ia khawatirkan benar adanya. Orang yang datang menemuinya ke kantor itu tak lain merupakan wanita licik yang tengah mengincarnya.
" Hesti? CK, ngapain dia kemari?" Gumamnya yang melihat Hesti berdiri di depan gedung kantornya itu.
Merasa tak senang akan kehadiran Hesti, membuat Yudha seketika keluar demi menemui wanita itu, serta berniat menanyakan maksud kedatangannya.
Terlalu berbahaya jika orang-orang di kantornya sampai mengetahui hal ini. No way!
" Ngapain kesini?" Ucapnya sesaat setelah membuka pintu dari kaca tebal berwarna gelap.
Hesti seketika berdiri demi melihat kedatangan Yudha.
.
.
Yudha masih duduk di depan kemudinya dengan tatapan nanar ke arah jalan, saat Hesti menangis di sampingnya . Ya, Yudha sengaja membawa Hesti pergi menggunakan mobilnya demi menghindari pertanyaan dari para juniornya di kantor.
" Oke ...kalau kamu terus-menerus kayak gini, aku mau mengatakan sesuatu sama kamu!" Ucap Yudha yang sudah tidak tahan lagi dengan semua ini.
" Apa maksudmu?" Tanya Hesti terperanjat. Menatap lekat Yudha yang terlihat menggulir ponselnya.
" Siapa Rizal Kemaldi?" Tanya Yudha dengan mata memarah dan rahang yang mengetat, saat menunjukkan foto Hesti yang berbicara dengan seorang pria. Menatap Hesti yang terlihat begitu terkejut.
" Kamu ngomongin apa sih, aku enggak kenal Yud!" Jawane Hesti yang mulai kehilangan taringnya.
Sudah cukup pikir Yudha. Ia sengaja menepikan mobilnya di bahu jalan yang agak sepi, agar tak menimbulkan atensi bagi banyak orang.
" Yud, kamu ini apa-apaan sih? Aku bilang enggak kenal!" Sergah Hesti masih mengelak.
" Lagian kamu dapat foto itu dari mana sih?"
Yudha hampir kehabisan kesabarannya, Pria itu terlihat menarik tangan Hesti dan matanya sudah sangat memerah.
" Kita begituan udah lama banget Hes, dan kenapa tiga bulan setelahnya, kamu baru bilang kalau kamu hamil. Kamu pikir aku ini bodoh Hes, hah?"
Hesti benar-benar tercekat dan tak bisa menjawab. Sama sekali tak mengira jika pria itu selama ini menaruh kecurigaan.
" Malam itu kau pasti menemui bapak dari bayi dalam perutmu itu kan?" Tanya Yudha penuh penekanan yang membuat Hesti makin ketakutan.
" Yudh!" Hesti berusaha menyentuh tangan Yudha namun dengan cepat pria itu menarik tangannya.
" Aku tahu siapa kamu, dan kamu juga tahu siapa aku. Kita melakukan hanya karena sama-sama perlu Hes, enggak ada cinta atau apapun, dan jangan harap untuk itu!"
DEG
Mata Hesti memanas. Jadi...selama ini apa yang mereka lakukan, sama sekali tak memiliki arti kah di mata Yudha?
" Jangan berani mengancam ku lagi, atau aku bisa berbuat lebih dari hal ini!" Ucap Yudha yang sudah benar-benar merasa muak.
Mata Hesti seketika berderai air bening. Ia sama sekali tak menyangka jika menjerat pria pemain seperti Yudha akan sangat sulit.
Akankah impiannya untuk bersanding dengan Yudha kandas saat ini juga?
" Keluar!" Ucap Yudha yang tak ingin dirinya semakin emosi.
" Yud, dengerin aku dulu!" Hesti yang sudah setengah ketakutan itu, masih berharap jika pria itu mau merubah pikirannya. Ia mencintai Yudha.
" Keluar!!!!!!" Teriak Yudha yang benar-benar emosi. Pikirannya benar-benar stres saat ini. Ia marah dan kecewa karena wanita itu berani menjebaknya.
Pria itu stres bukan tanpa alasan ; Persoalannya dengan Rara semalam, Sakti yang terlihat sama sekali tak merespon pesan-pesan darinya, juga Hesti yang benar-benar licik karena akan menjebaknya.
Sungguh semua ini membuat kepalanya serasa di jangan oleh palu Godam besar.
BRAKK!!
Pintu mobilnya terbanting saat ia masih sibuk menjambak rambutnya karena frustasi. Sungguh, melihat wanita menangis sebenarnya sangat membuat dirinya merasa bersalah. Tapi, sungguh yang ia lakukan saat ini hanyalah membeberkan sebuah kebenaran dan fakta.
Yudha merasa lega.
Sejurus kemudian, ia terlihat melajukan mobilnya. Pria itu sama sekali tak berminat untuk kembali ke kantor terlebih dahulu. Jelas moodnya yang kacau akan membuat suasananya hatinya tak menentu, dan itu akan sangat mempengaruhi sikapnya kepada para juniornya.
Namun, belum sempat ia berdamai dengan dirinya sendiri, ia terkejut kala melihat sosok yang mengusik pikirannya sejak semalam, terlibat perkelahian dengan seorang pria tua.
" Rara?"
.
.
.
.