
Bab 27. Rasa Kearifan lokal
^^^" Tak peduli namun cepat atau lambat, cinta tak pernah salah berlabuh!"^^^
...☘️☘️☘️...
.
.
.
Pandu
Ia baru saja pergi dari kota dengan Ajisaka. Ada urusan yang musti ia bereskan. Ia langsung menuju pintu belakang, menampilkan ibunya yang sedang sibuk mencuci perkakas kotor sembari duduk.
" Buk!" Pandu menyapa ibunya yang sibuk dalam gunungan perkakas kotor.
" Udah pulang Ndu, Aji gak mampir?" ucap Ambarwati.
" Bablas dia, keburu packing buah naga katanya!" ucap Pandu seraya melepas sepatunya lalu menaruhnya di rak khusus sepatu.
" Ayu lagi ngapain?" Ucapnya sesaat sebelum menuang air putih dari dispenser ke gelasnya.
" Lagi di kamar sama cucunya Bu Asmah!"
" Uhuk- uhuk!" Pandu tesedak air minumnya sendiri.
" Kamu kenapa Ndu, minum gak mau pelan!" Ambarwati mendengus sembari menceramahi anaknya itu.
" Fina maksudnya?" tanya Pandu memastikan.
" Iya, siapa lagi. Cucu yang satunya kan jarang kemari!" ucap Ambarwati sambil menggosok pantat panci.
Tanpa menunggu, Pandu menuju kamar adiknya yang pintunya sedikit terbuka. Ia melihat ayu yang di pakaikan apron warna ungu muda, dan Fina terlihat sibuk memotong dan menyisir rambut adiknya sambil berbincang.
"Kak Fina ini siapa ya.. maksudnya kok aku baru tahu nama kak Fina disini"
Pandu tersenyum, tak mengira adiknya akan cepat akrab dengan Fina.
" Aku cucunya Bu Asmah, dulu waktu kecil aku sering kesini. Tapi kamu mungkin belum lahir!"
Pandu juga terkekeh saat mendengar jawaban Fina. Ia memerhatikan Fina yang terlihat cantik siang itu.
" Kakak dari kota dong?"
" Iya" ia bisa melihat Fina yang mengangguk. Sejenak Pandu tersenyum melihat interaksi adiknya itu.
Fina terlihat serius memotong rambut Ayu " Siap? Aku potong ya?" Ucap Fina yang akan lekas menggunting rambut terbawah milik Ayu.
" Iya mbak!" .
" Di kota itu enak ya kak, dulu waktu aku masih SMA sering browsing tempat-tempat di kota gitu, bagus banget!"
" Oh ya, memangnya tempat mana aja?" Fina terlihat lihai dalam mengerjakan tugasnya itu.
Pandu masih menatap dua perempuan itu tak lekang, tak berniat mengganggu apalagi bergabung.
" Tapi sekarang..." ia turut menatap adiknya yang mendadak sendu.
" Ayu harus sabar, dan yakin bila semua yang terjadi pasti ada hikmahnya!"
Ucapan Fina membuat Pandu tersenyum, seperti ia melihat hal terselubung dalam raut wajah Fina. Ia merasa Fina sedang muram. Seperti tengah memikirkan sesuatu.
" Menurut Mbak, hidup di desa itu benar-benar menentramkan. Jauh dari hiruk pikuk kota yang memusingkan, dan..."
Pandu memicingkan matanya demi rasa penasaran yang bersarang di hatinya.
" Dan apa Mbak?"
" Dan hidup dengan orang-orang terkasih yang sayang sama kita itu juga merupakan suatu anugrah Yuk. Embak malah jarang bisa kumpul keluarga kayak kamu!"
Pandu tertegun, mungkinkah bila Fina datang ke desa karena suatu hal yang lain?
.
.
.
" Mbak, ayo kita makan dulu. Ibu ada buat sambal sama ada ikan dari Lik Sarip. Baru aja ibu goreng, ayo...!" Ambarwati terlihat antusias saat melihat Fina keluar dari kamar ayu dan terlihat menggandeng lengan anaknya.
" Ayu, kamu cantik banget!" Ambarwati merasa tampilan anaknya lebih segar dengan potongan pendek.
Tanpa senagaja, pandangan Fina dan Pandu beradu. Menyiratkan sapaan yang tak terucap.
" Aku mau mandi dulu Bu, gatel nanti!" ucap Ayu sambil menggaruk lehernya.
" Iya bener mending cepet di buat mandi. Oh iya buk, tadi sisa rambutnya udah saya sapu Bu. Tapi cuman saya pinggirkan ke belakang pintu tadi!" Fina meringis usai mengatakan hal itu.
" Ya ampun Mbak, kenapa malah di sapukan. Biar saja aja harusnya!" Ambarwati lagi-lagi tak enak hati
" Ndu, temani Mbak Fina makan dulu ya. Ibuk mau bantu Ayu mandi dulu!" ucap Ambarwati sembari berjalan memegangi bahu anaknya.
Fina masih menatap Pandu dengan wajah kikuk, ia telah selesai memotong rambut gadis yang tempo hari membuatnya salah paham.
.
.
" Maaf seadanya!" ucap Pandu mengangsurkan Pring ke arah Fina.
Ludah bening Fina serasa terkucur tatkala melihat menu di meja makan. Nasi dalam bakul yang masih mengepulkan asap putih , satu piring besar ikan Nila goreng, sambal tomat dalam cobek, labu siam rebus, terong goreng, dan juga mentimun.
Serta setoples kerupuk udang renyah
Terlihat menggugah selera.
Meja makan dirumah Pandu sangat sederhana. Hanya meja persegi yang mepet ke tembok, dengan empat kursi yang ada disana. Diatas meja terdapat tempat sendok dan gelas, juga sebotol kecap manis dan sebotol saus tomat.
" Aku malah suka yang kayak gini lagi. Ibu kamu pinter banget masak ya, aku jadi malu?!" ucap Fina seraya mengambil nasi dari bakul yang terbuat dari anyaman bambu unik.
" Memangnya kamu gak bisa masak?" tanya Pandu turut mengambil dua centong nasi.
"Bisa! Tapi masak mie rebus sama masak aer doang!" Fina meringis menatap Pandu sambil mengambil ikan goreng yang terlihat renyah dan gurih.
Sejurus kemudian Pandu mengulum senyum seraya menggelengkan kepalanya " Belajar! entar punya suami masa mau di masakin mie tiap hari!" ucap Pandu seraya mengeruk sambal di cobek dari tanah liat.
" Bukannya kenyang, tipes iya!" ucap Pandu sembari terkekeh kecil.
Fina hanya tertunduk seraya senyam-senyum tak jelas. Entah mengapa, ucapan Pandu barusan membuat Fina merasa aneh.
Fina turut mengambil sayur dan juga sambal yang terlihat menggugah selera itu. Mencampurnya dengan nasi hangat dan daging ikan nila yang renyah. Bersiap menghantarkannya ke dalam mulutnya yah sudah ia buka lebar-lebar.
" Emmmmm!" ucap Fina saat menyuapkan satu suapan nasi menggunakan tangannya yang sudah ia cuci pada air yang berada di ember kecil sebelahnya.
Membuat Pandu menatap Fina dengan tersenyum.
" Emmmmm!" ucapnya lagi dengan menggeleng tak percaya.
" Kenapa?" Pandu terkekeh demi melihat Fina yang am em am em tak jelas.
" Ibuk kamu juara banget buat sambelnya. Ini jos gandos tau nggak!" Fina berbinar menikmati sambal tomat mentah yang di beri trasi dan jeruk sambal. Terasa segar dan mantap.
" Ini enak banget!" Fina sangat bahagia dengan rasa Kearifan lokal itu.
" Habiskan kalau enak, makanan kami yang seperti ini. Gak kayak..." ucap Pandu.
" CK, gak kayak apa. Aku makannya juga nasi kok!" Fina tahu apa yang akan di ucapkan oleh Pandu.
Membuat Pandu terkekeh.
Saat asik makan, mendadak Fina terganggu dengan suara ponselnya yang meraung-raung. Jelas menandakan seseorang tengah menghubunginya.
" CK, siapa sih?" ucap Fina mendengus seraya mengambil ponsel di sakunya, menggunakan tangan kirinya.
" Dita? Kenapa lagi ni anak?" Dahi Fina berkerut sembari bergumam, sejurus kemudian ia menggeser tombol hijau itu. Membuat Pandu turut menatap Fina sembari mengunyah suapannya.
" Halo Dit?"
" Fin........."
Mata Fina membulat demi mendengar apa yang di ucapkan oleh sahabatnya itu.
" Apa?" Jawab Fina dengan wajah tak suka. Membuat Pandu seketika menatap Fina dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.
.
.
.
.