
Bab 201. Honestly
.
.
.
...πππ...
Sakti
Usai mendengar penuturan Yudha semalam, ia menjadi berlega hati. Sudah menjadi kodratnya untuk menyukai manusia dari golongan Hawa. Namun persolaan sepik-menyepik, tentu masih bisa di perbincangkan bukan? Ihaaaa..
" Rara sedang di rumah sakti. Bapaknya sakit dan udah dua hari disana!"
Kebetulan pagi ini ia memiliki tugas besar mengantar ibu negara. Ya... pagi ini dia akan menuju ke rumah sakit untuk mengantar Ibunya melakukan check up kadar kolesterol, asam urat, dan kadar gula.
Penyakit orang tua yang suka mangan enak ngombe legi (makan enak minum manis).
Dokter sudah menyarankan bagi wanita itu untuk datang saat perutnya masih belum terisi apapun. Membuat dia bisa dengan leluasa untuk mampir sebentar menemui wanita pemetik dawai gitar itu. Yes!
"Lho.. Sakti?"
Ia bahkan ingin terkikik geli demi melihat wajah Rara yang melongo saat melihat kedatangannya. Definisi dari kejutan yang berhasil.
" Hai Ra, gimana kabar?" Ucapnya sembari melirik seraut layu yang kini berbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Mendadak membuatnya menjadi iba.
" Aku baik, kok kamu tahu kalau aku ada disini?" Ucap Rara yang terlihat meletakkan botol minuman itu keatas nakas.
Sakti menceritakan sebab musabab dirinya bisa berada di sana. Sedikit banyak ia mengulas tentang Yudha yang menjadi informan ulung soal keadaan keluarga Rara.
" Tapi bapakmu sekarang udah mendingan kan?"
Rara dan Sakti kini terlihat ngobrol di kursi panjang rumah sakit, yang berada di depan ruangan sang bapak. Terlihat akrab walau baru sekali bertemu.
Definisi dari anak supel.
" Kamu...udah deket banget dong .. sama Yudha?" Sakti sengaja mengajukan pertanyaan itu. Ia hanya ingin tahu reaksi Rara secara langsung. Tak bisa lagi menunda.
" Deket sih enggak, cuman lebih sering ketemu aja!" Sahut Rara jujur. Membuat Sakti tertegun.
" Ra...!" Ucap Sakti. Seolah ingin menanyakan seseorang.
" Ya?"
" Menurutmu Yudha itu gimana?" Sakti benar-benar sudah gila. Ia bahkan menanyakan hal yang sedari tadi bersarang di otaknya. Harusnya enggak gini skenarionya.
Hah dasar bodoh! Merutuki dirinya sendiri.
" Yudha?" Tanya Rara serius kepada Sakti.
Sakti mengangguk. Ia bisa menyimpulkan jika mereka berdua sudah sangat dekat.
" Ya cuma tanya aja!" Sahut Sakti mengendikkan bahunya. Membuat Rara menghembuskan nafas pasrah.
" Yudha... awalnya ngeselin. Bahkan aku sempet benci banget sama tu anak!"
Membuat Sakti susah menelan ludahnya. Berarti besar cerita Yudha kemarin.
" Benci? Kenapa?" Sakti tentu ingin menggali informasi, langsung dari yang bersangkutan.
Rara memejamkan matanya sejenak. Sejurus kemudian ia menceritakan semua yang terjadi. Semua hal yang menjadi awal mula mereka bisa bertemu.
" Ternyata Yudha enggak bohong!" Ucap Sakti dalam hati. Ya... pria itu sebenarnya hanya ingin mencari bukti, apakah Yudha itu bohong atau tidak.
Kini ia sadar. Jika Yudha memang jujur.
" Tapi dia baik kok. Baik banget malah!" Timpal Rara dengan tersenyum. Membuat Sakti kini tersenyum sumbang dalam hatinya.
" Tapi...elu kenapa sih, nanya gitu....B'rasa di interogasi gue!" Rara terkekeh. Menurutnya pria kocak di hadapannya itu sedikit mengerikan jika serius begini.
" Ra? Kalau... Yudha suka sama elu... gimana?"
Rara seketika Mengehentikan tawanya. Menatap wajah Sakti yang terlihat serius dua kali lipat.
Are you Ok?
" Sumpah! Pertanyaan elu makin kesini makin aneh-aneh aja tau nggak?"
" Ngelantur!!"
Sakti makin serius menatap Rara. Tentu ia ingin tahu sekali. " Jawab aja Ra, seandainya itu bener gimana?"
Rara kini tergelak lalu memukul pundak Sakti ringan. Membuat wajah pria itu kini manyun lesu.
" Enggak mungkin woy? Dia itu udah punya pacar. Aku pernah ketemu sewaktu mereka belanja di Departemen store!"
" Udahlah Sak, jangan aneh-aneh lagi. Yudha itu orang berada. Dan orang kayak aku ini, enggak akan masuk kriteria cowo macam Yudha!" Ucap Rara sembari beranjak dari duduknya. Berniat melihat kondisi Bapaknya sejenak.
Tanpa mereka sadari, seorang pria yang sedari tadi mendengar percakapan dua manusia itu kini tertegun dengan perasaan tak menentu.
" Aku atau kamu yang tidak masuk kriteria Ra?" Lirih pria itu dari balik dinding yang tak diketahui oleh Rara maupun Sakti.
.
.
.
.
Nyempetin up walau segini. Semoga besok udah normal lagi ya bueboo.