Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 71. New members



Bab 71. New members


^^^" Air beriak, tanda tak dalam. Orang yang banyak bicara sering-sering tak berilmu!"^^^


^^^.^^^


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Pandu


Ia menatap Bayu degan wajah serius. Yang dia miliki hanya kepercayaan saat ini. Dan Pandu mau Bayu tahu jika ia menaruh kepercayaan penuh pada pria berusia 53 tahun itu.


Hope you can I believe


" Aku mau bergabung denganmu! Tapi jika aku sudah menemukan siapa pelaku yang menikam mendiang adikku, maka aku juga akan undur diri dari tempatmu!"


Itulah syarat yang di ajukan oleh Pandu. Syarat yang wajib ia utarakan, karena jelas ia memiliki ibu dirumah yang jelas mengharapkan kepulangannya.


Pandu kini menatap Bayu dua kali lebih serius. Bayu terlihat menimbang ucapan Pandu. Pandu pria yang potensial. Dan....


" Baiklah, tapi aku juga harus bisa memastikan jika kau harus membantuku untuk membuat uangku kembali!" Tutur Bayu bernegosiasi.


Pandu mengangguk setuju. Ok deal!


.


.


Briefing room


Tim Alpha


Sore hari kesemua anggota Bayu telah duduk di kursi yang telah tersedia. Usai mendapat info dari Rendy pastinya. Ada puluhan personel yang telah duduk rapih disana. Berpakaian rapih dan berjas hitam lengkap dengan dasi yang bertengger rapih dibawah jakun mereka.


Keren!


Mereka kebanyakan berkonsep rolling tugas. Artinya dalam satu tim, mereka akan saling bertukar sift pada orang yang telah menyewa jasa mereka. Sebagian besar bertugas menjaga orang-orang kaya yang membutuhkan pengaman extra. Ada juga dari kalangan artis dan public figure yang juga memerlukan pengaman extra.


Tak jarang, mereka juga turut serat menuju luar kota.


Mereka semua berdiri kala Bayu memasuki ruangan tersebut. Diikuti Rendy yang selalu menjadi tangan kanan Bayu dengan loyalitasnya.


Antek setia sepanjang masa.


" Duduk!" Titah Bayu kepada semua anggotanya. Membuat kesemua pria keren itu duduk dengan gerakan sigap dan kompak.


Rendy terlihat menyerahkan sebuah map, berisikan laporan tim Alpha selama beberapa waktu terakhir kepada Bayu.


" Andhika! Seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya. Saya akan menambah satu orang di tim kamu!" Tukas Bayu yang membuat kesemuanya saling menatap. Anggita baru?


Dhika selalu leader dari tim Alpha langsung sigap menatap Bayu. Jelas dia sudah tahu siapa orangnya.


" Tim Bravo sudah mendapatkan personel baru. Itu artinya persoalan di tim Satya sudah teratasi. Dan saya, sudah memutuskan untuk menambah satu personel baru!"


" Kamu, silahkan masuk!"


Bayu memanggil Pandu untuk bergabung ke ruangan itu. Membuat kesemua yang disana membulatkan matanya karena terkejut. Selain Andhika tentu saja.


Apa bosnya itu gila? Memasukkan pengacau yang jelas-jelas kemarin telah membuat mereka babak belur?


Hamsyong betul!


" Dia adalah Pandu. Mulai saat ini, dia adalah bagian kita!"


Membuat mulut para bodyguard anak buah Dhika itu kini membentuk huruf O. Hus!


" Dhika! Saya harap kamu bisa membimbing Pandu. Koordinasi dengan Theodor perihal pelatihan persenjataan!"


" Untuk seragam, Nanti biar Rendy yang urus!"


" Rendy akan men-share tiap info terbaru terkait pergantian sift kalian semua. Terkecuali bagi kalian yang turut pengawalan ke luar kota!"


"Karena sudah ada empat nama pengusaha yang akan membooking kita!"


" Dan untuk kalian semua, saya tidak mau dengar ada keributan yang tidak perlu!" Titah Bayu yang sengaja memeringatkan anak buahnya untuk tidak membuat onar kepada Pandu.


Jelas Bayu sudah mengendus aroma kekesalan di wajah para anak buahnya yang sudah merasakan seberapa badasnya tenaga seorang Pandu.


"Apa ada pertanyaan?"


Kesemua yang disana hanya diam menahan geram. Itu artinya mereka akan satu tim dengan orang yang sudah menghajarnya tempo hari.


Brengsek!


" Jika tidak ada, kita akhiri pertemuan kita. Dan untuk kamu Pandu! Kamu bisa berkenalan dengan mereka setelah ini!"


Pandu masih diam demi memindai satu persatu tampilan wajah yang tak ramah terhadapnya. Oh tentu saja ia tahu alasannya. Alasannya adalah dirinya.


Tergelak dalam hati.


Sepertinya ini akan sulit untuk Pandu. Tapi persetan untuk itu, ia tak peduli. Tujuannya hanya satu. Menemukan Raditya yang entah tengah bersembunyi di mana saat ini.


Kesemua yang disana langsung beranjak tanpa berniat apalagi berminat untuk sekedar ber high five dengan Pandu. Kekesalan masih bersarang di dasar kalbu mereka.


Up to you!


Dhika menatap lekat Pandu dari jarak beberapa centimeter. Dengan dua tangan yang terselip ke kantong celananya, Dhika menatap Pandu dengan tatapan yang sulit di artikan.


" Ikut aku!"


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Sorot senja di ufuk barat kini melorot dan berganti aura nila dari malam yang menjelang. Perputaran dunia yang tiada pernah bisa dihindari semua insani.


Very bad!


Otaknya saat ini berisi kesemrawutan seputar Pandu dan keluarganya yang terancam akibat ulah Riko.


" Mbak Fina mau kemana?" Suara mbak Waroh berhasil membuat Fina terkejut.


" CK, ngagetin aja sih mbak!" Fina mendengus kesal. Apa pembantunya itu sebenarnya adalah hantu?


Sebab seringnya membuatnya terkaget.


" Maaf mbak, tapi mbak Fina malam-malam begini mau kemana? Nanti di cariin lagi sama bapak!" Mbak Shinta Waroh memasang wajah khawatir.


" Nyari angin sebentar mbak. Udah kayak tahanan aja aku kalau diem dirumah. Mau ke Pelangi Sari sebentar!"


.


.


Fina melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia terlihat cantik malam itu dengan balutan dress casual yang membalut tubuhnya yang proporsional.


Ia sudah makan beberapa kudapan dirumahnya tadi sebenarnya. Alih-alih ingin diet, namun begitulah jika menjadi warga +62. Tidak kenyang jika tidak makan nasi.


Melihat sebuah warung nasi goreng pinggir jalan membuat ludahnya terproduksi dengan cepat. Fina ngiler banget sama nasi goreng yang rasanya pasti ciamik!


Emm enak!


Usai memarkirkan mobilnya dengan strategis, ia kini masuk ke warung street food di jalan cendrawasih. Berniat akan membungkuskan nasgor lezat itu untuk para karyawannya di Pelangi Sari.


Definisi dari bos baik pakai banget.


" Cak, makan disini ya. Pedes banget telornya dobel yah!" Tukas Fina kepada pria berlogat Madura itu.


" Ok Mbak, dodok dolo ya!"


Fina merupakan tipikal orang yang tidak bergya Hedon. Ia bisa hidup di lingkungan manapun, meski ia sebenarnya adalah sosok yang manja.


Ia anak orang kaya, tapi soal makanan apa saja ia sikat. Apalagi nasi goreng itu sayang sayang untuk dilewatkan. Dan kebanyakan, nasi goreng di pinggir jalan itu rasanya pasti nendang.


Entah mengapa makan di tempat sederhana seperti itu, membuat dirinya merindukan seseorang.


.


.


Pandu


Rupanya Dhika langsung mengajak Pandu menemui Theodor. Pria keturunan Indo- Jepang itu benar-benar mahir soal persenjataan.


Andhika merupakan orang yang profesional. Ia tetap menjalankan titah Bayu dengan baik, meski ya ..dalam hatinya pasti ada rasa dongkol terhadap pria songong macam Pandu. Menurut Dhika tapi.


" Kalau begini terus, dalam beberapa hari saja kamu pasti juga bisa Ndu!" Tukas Theodor yang rupanya sangat supel.


Tiga orang idealis dan humanis.


Mansur, Rendy kalau terakhir Theodor. Ok sip!


" Terimakasih Theo!"


" Istirahatlah dulu. Kita bertemu lagi besok!" Theo menepuk pundaknya lalu berlalu begitu saja.


Kini, ia sepertinya sudah memiliki waktu luang.


" Aku akan keluar sebentar!" Tukas Pandu kepada Dhika yang kebetulan lewat di depannya dengan posisi sibuk berbalas pesan dengan seseorang. Kekasih mungkin.


Cih ngomongin kekasih, kok dia jadi teringat seseorang ya?


Ihuuuyyy!!


Bagiamanapun juga Andhika merupakan leader di Tim Alpha. Membuatnya mau tak mau untuk izin.


" Mmmm!" Hanya gumaman yang di dapat Pandu. Well! Setidaknya pria itu masih mau menjawab. Harus ia akui, that his bad!


.


.


" Pakai mobilku jika kau ingin pergi!" Entah mengapa Bayu mengetahui bila ia hendak mencari angin segar malam itu.


Pandu membalikkan badannya menatap Bayu. " Aku ingin berjalan kaki saja. Lagipula aku belum tahu daerah sini. Aku ingin mencari angin segar sebentar saja!" Sahutnya.


Bayu tersenyum mengerti " Jaga dirimu!" ucapnya sekilas.


" Mmmm!" Pandu mengangguk lalu berjalan meninggalkan Bayu yang masih berdiri menatap punggung Pandu yang mulai menghilang.


Pandu berjalan menyusuri trotoar jalan yang sedikit gelap. Kemudian berjalan melewati mall besar, pertokoan dengan Watt bervoltase besar sehingga memancarkan cahaya yang begitu terang.


Lihatlah, andai adiknya saat ini hidup. Tentu ia tak akan ada di tempat seperti itu. Buang masa betul!


Ia melangkahkan kakinya menuju tempat makan yang pertama kali ia kunjungi sewaktu menginjakkan kakinya di hotel milik Minceu.


...Nasi goreng mawut cak Kadir...


Itulah tulisan yang tercetak di banner kain warna hijau stabilo yang sudah memudar. Makanan lintas kelas lapisan masyarakat yang lezat.


Ia menundukkan kepalanya saat hendak masuk ke tempat itu. Tinggi Pandu yang berkisar 1,85 cm itu jelas akan tersangkut pada tampar pengikat tenda itu, jika ia tak menundukkan kepalanya.


" Cak sa..."


Matanya membulat demi melihat seseorang yang kini tengah tekun mengambil uang di dompetnya. Sepertinya orang itu akan membayar ke pemilik kedai nasi goreng itu.


Membuat Pandu kini tersenyum simpul menatap orang itu. Benar-benar Pas sekali.


.


.