
Bab 165. Mencintaimu seratus ribu tahun
^^^" Kau tahu apa saja yang tidak akan pernah kembali? Yakni waktu dan kepercayaan. Mereka sama-sama angkuh dan kerap tak mau tahu!"^^^
.
.
.
...πππ...
Yudhasoka
Di sela riuh rendah suara tamu yang tengah menyantap sajian istimewa, seorang pria berdiri seorang diri dengan berteman sepi yang mengoyak paksa nuraninya.
Yudha benar-benar tak bisa berpikir jernih. Pikirannya berkelana kemana-mana meski suasana di dalam masih sarat dengan kebahagiaan.
Ia terlihat murung bukan karena takut jika dimintai pertanggungjawaban soal kehamilan Hesti. Namun, benarkah jika dia merupakan Bapak dari orok yang di kandung wanita itu?
" Woyy! Dicariin ternyata disini!" Sakti datang dengan segala interupsinya yang tiada pernah berakhir.
Yudha membalikkan badannya dan mendapati Ajisaka rupanya ada bersama pria sableng itu.
" Ada masalah?" Tanya Aji demi melihat Yudha yang tak bisa menyembunyikan persolan yang mengendap di otaknya. Wajahnya murung dan keruh.
Yudha tak menyahut, namun ia kini berbalik kembali lalu menumpukan kedua lengannya ke atas teras tinggi di belakang rumah Pandu. Nyalang menatap hamparan sawah.
" Masalah Hesti lagi?" Tanya Aji kembali menyamakan posisi dengan pria bermata sipit itu.
Yang jelas, manusia harus tahu , segarang apapun pria, jika sudah di hantam permasalahan soal perempuan, mengkerut juga dia.
Yudha menghembuskan nafasnya pasrah lalu mengangguk. Ia tentu saja mau bertanggungjawab, namun yang menjadi persoalannya kali ini adalah, Yudha meragukan Hesti. Benarkah jika wanita itu bermain api di belakangnya dan kini berusaha menjadikan dirinya korban untuk menanggulangi kebejatan wanita itu?
Tapi tuduhan tanpa bukti jelas akan membuat semua prasangkanya menjadi sia-sia.
" Berani berbuat berani bertanggungjawab bro!" Sakti menepuk pundaknya dengan tatapan serius. Mengingatkan Yudha agar bisa bersikap gentle.
Ia bukannya manusia pengecut yang akan lari dari tanggungjawab. Tapi pertanyaannya, benarkah jika yang di kandung Hesti itu merupakan darah dagingnya?
Sangat tidak masuk akal sekali jika di korelasikan. Mengingat ia dan wanita itu sudah sangat lama sekali tidak melakukan hal itu. Tapi... selama ini hanya dialah pria yang dekat dengan wanita itu. Lalu bagaimana membuktikannya?
" Elu ada temen atau saudara seorang bidan nggak?" Ucap Yudha tiba-tiba dengan raut serius.
Sakti dan Ajisaka kini saling menatap.
" Untuk apa tanya bidan?" Suara Pandu membuat ketiganya menoleh. Membuat Yudha menghembuskan napas
Pandu kini terlihat berjalan dan menemui ketiga sahabatnya. Ada hal penting apa sampai ketiga sahabatnya mengasingkan diri ke belakang seperti ini.
" Masalah Hesti belum clear?" Tanya Pandu yang menatapnya serius. Berusaha menebak. Barangkali benar.
Yudha mengangguk. Wajahnya yang serius kini nampak seperti orang yang tak memiliki selera humor sama sekali. Benar-benar kaku dan mirip kanebo kering.
" Aku mau nanya soal periode haid dan kemungkinan besar kehamilan jika kalian ada saudara bidan, atau teman mungkin!" Tukas Yudha yang kini blak-blakan.
Ketiga sahabatnya itu terlihat saling berpikir. Masalah satu orang masalah mereka juga, itulah arti dari sahabat sesungguhnya. Berat sama dipikul ringan sama dijinjing.
" Setahuku kalau crit di dalam enggak banyak, potensinya dikit. Tapi ya enggak tau lagi kalau keroco punyamu gesit kayak supir bis akas!" Sakti terkekeh saat mengatakan hal itu. Membuat Aji mendengus.
Orang lagi serius juga!
" Atau..kita bisa tanya sama Fina, gimana?" Ucap Pandu.
" Perempuan pasti lebih tahu!"
Yudha langsung mendelik demi mendengar saran edan dari Pandu. No way!
" Elu gila? Mau di taruh dimana mukaku kalau aku curhat sama pacarmu. Bobrokku cukup kalian aja yang tahu, lainnya belum waktunya!" Yudha memijit pelipisnya yang terasa pusing. Jangan sampai hal ini di ketahui banyak orang dulu.
" Kalian orang lurus, enggak kayak aku. Jangan libatkan mereka yang gak sebobrok Hesti!"
Aji dan Pandu saling menatap demi terpukul ucapan Yudha. Pria bermata sipit itu tidak tahu saja jika mereka juga sudah membuktikan keperkasaannya sebagai pria, meski dengan dalih terlena.
Pandu dan Aji saling tersenyum- senyum sendiri. Apa wajah mereka masih terlalu polos?
" Kok rasa-rasanya senyuman kalian ini mengandung unsur percabulan ya?" Sakti menciduk dua pria di depannya itu dengan tatapannya yang di penuhi rasa penasaran.
" Mister lancing ( perjaka) minggir dulu deh, belum waktunya!" Tukas Ajisaka.
" Hahahaha!" Pandu menepuk pipi Sakti yang berwajah bodoh. Benar-benar tak menyangka jika dirinya satu-satunya pria yang masih belum pernah mengetap olinya.
Sialan!
Yudha seketika menata Pandu dan Aji dengan wajah tak percaya. Oh astaga, ia benar-benar telah ketinggalan berita.
.
.
Bayu
Matahari sudah melorot dan tenggelam di beberapa jam berikutnya. Menyisakan rasa lelah dan badan yang letih lantaran seharian berjibaku dengan tamu yang ada.
Pria yang baru saja menyandang status sebagai suami Ambar dan Ayah bagi Pandu itu, kini terlihat baru saja mandi. Rumah Ambar baru saja di renovasi, beruntung Pandu sudah menambahkan masing-masing kamar mandi di kamar mereka.
Benar-benar definisi anak yang berbakti.
Wajah Ambar meremang demi melihat Bayu yang bertelanjang dada. Entahlah, Bayu benar-benar masih terlihat bugar. Apa karena profesinya yang menuntut tubuh yang selalu prima?
" Ini bajunya mas, maaf kamarnya..." Ambar menyerahkan kaos polos warna gelap dan sebuah celana panjang yang sudah Bayu bawa dan ia letakkan di kopernya.
" Jangan bilang gitu lagi. Aku nyaman kok disini!" Bayu mengerlingkan matanya dan membuat Ambar mendecak kecil demi melihat tatapan mesum suaminya. Dasar!
" Mas ganti dulu deh, aku mau bongkar koper mas dulu! Setelah ini kita makan malam" Ucap Ambar dan langsung membalikkan tubuhnya. Berlama-lama berbicara bersama Bayu membuatnya merasa seperti tengah ikut audisi. Nerveous campur deg-degan.
Namun, dengan gerakan cepat Bayu menarik tangan istrinya itu lalu mengunci pergerakannya. Jantung Ambar seketika berdetak demi merasakan sesuatu yang mengganjal perut bawahnya, sesuatu yang bersembunyi di balik lilitan handuk sebatas pinggang itu.
Wadiaaaww!
" Mas...!" Ambarwati bergeliat dan meminta Bayu untuk melepaskan jeratannya.
Bayu menyeringai " Jangan bergerak, nanti kamu aku minta tanggung jawab sekarang kalau dia bangun!"
Ambar semakin mendelik, jelas ia tahu kemana arah pembicaraan suaminya itu. Oh astaga.
Ambar seketika diam dan berusaha mengatur napasnya. Kini, Bayu menatap istrinya yang sudah ia peluk dengan posesifnya. Lekat menatap wajah teduh Ambar dengan tak puasnya.
Seolah ingin mencintai wanita itu hingga seratus ribu tahun.
" Makasih ya...kamu sudah bersedia menjadi istriku!"
Hangat nafas segar beraroma mouthwash itu menerpa wajah Ambarwati. Membuat dadanya berdesir saat itu juga. Bayu benar-benar penuh kehangatan.
Bayu mencium kening Ambar lama sekali. Seolah ingin menyatakan jika ia sangat mengucap syukur atas apa yang kini ia dapatkan.
Sejurus kemudian Bayu memeluk tubuh Ambar dengan sedikit membuka kakinya lantaran tinggi Ambarwati yang hanya sebatas pundaknya. Memeluknya erat sambil melirik kasur dengan ukuran 160x200 itu.
Matanya masih menyelidiki dan otaknya juga gencar berpikir, apakah tempat itu akan kuat menampung bobotnya beserta gerakan yang mungkin akan timbul dalam durasi yang lama?
Sejenak ia menyesal mengapa ia tak mentitahkan Rendy untuk membeli sebuah dipan baru atau spring bed baru untuk memperlancar kegiatannya.
Dasar pria!
.
.
.
.
Yudhasoka yang cuek bebek
.
.
.