
Bab 184. Rival sebenarnya
.
.
.
...πππ...
Rarasati
Ia bahkan telah beralasan kepada Weny untuk izin tidak masuk kerja pagi ini. Selain karena moodnya yang buruk akibat kesalahpahaman dengan Yudha semalam, ia juga berniat akan mengantarkan bapaknya untuk berobat.
Hidup yang keras membuatnya harus bisa lebih memiliki skala prioritas.
Namun, saat ia pulang berbelanja dari pasar, tanpa di duga ia justru bertemu dengan Suwarno. Pria yang telah menipu Bapaknya dan sulit di mintai pertanggungjawaban.
Pria yang beberapa waktu yang lalu sempat ia curi uangnya, saat mengantre di kedai Mafia Gedang itu, terlihat asik menelpon.
Merasa mendapat kesempatan baik, dan tempat yang lumayan sepi ia segera melayangkan tendangan ke arah pria kurus itu.
" Ketemu disini kau bajingan!"
BUG
Ponsel yang di bawa oleh Suwarno, seketika terlempar saat ia di tendang oleh Rara dengan begitu kerasnya. Membuat dua orang perempuan yang kebetulan berjalan di dekat mereka seketika terkejut.
" Asu!" Ucap Suwarno memakai ke arah Rara, saat ia kini sudah dalam posisi terjerembab ke tanah.
" Balikin duit bapakku sialan!" Rara tak kalah memaki. Wanita itu telah kehilangan kesabarannya. Pun dengan rasa hormatnya kepada pria tua di depannya itu.
" Duit? Duit apa, duit matamu!"
BUG
Rara langsung meninju wajah pria kurus cenderung cebol di depannya itu ,saat emosinya kian tersulut akan jawaban kurang ajar dari mulut brengsek Suwarno.
Sudah cukup pikirnya, jika ia tak mendapatkan uang, setidaknya ia harus bisa memuaskan diri untuk menghajar pria itu.
BUG
Lagi, Rara kini menendang dada pria itu. Ketidakadaan orang lain selain dua wanita tadi membuat Suwarno kini babak belur di tangan seorang wanita.
" Tolong!!"
" Tolong!"
Suwarno berteriak saat ia merasa Rara semakin brutal. Ia ketakutan karena wanita itu terlihat beringas.
" Segini aja kekuatanmu hah?
" Harusnya aku bikin kamu mati dari kemarin-kemarin!"
Ucap Rara yang masih hendak menyerang pria yang hidungnya bahkan sudah mimisan itu.
" Penipu kayak elu emang harus mati!!!"
BUG
BUG
" Gara-gara elu, bapakku jadi kayak gitu sialan!!!!"
BUG
Dengan napas terengah-engah, Rara kembali menghujani wajah pria itu dengan kepalan tangannya. Melampiaskan segala kemarahan, kekesalan serata kegeraman yang membuncah di dadanya.
" Mati lu seka....!"
" Berhenti Ra!" Sebuah suara sukses membuat niatnya untuk membogem Suwarno kembali urung.
Ia sempat mendecih sesaat setelah mengetahui jika pria itu rupanya Yudha. Mengapa pria itu selalu saja mengacaukan harinya sih?
BUG
" Argggggghhh, wanita gila kamu!" Suwarno terlihat beringsut dan ketakutan saat Rara kini menempeleng rahang kirinya. Membuat wajah pria itu seketika kebas dan pedih.
Jika dilihat saat ini, wajah pria itu sudah bonyok dan semakin terlihat buruk rupa.
" Udah Ra, jangan ngawur kamu!" Yudha berusaha menahan Rara dengan memeluknya dari belakang. Tak membiarkan Rara melakukan hal yang jelas nanti akan merugikan dirinya sendiri.
" Lepasin gue brengsek!" Rara bahkan kini memberontak saat Yudha mendekapnya dari belakang, demi menahan Rara yang semakin tak bisa di kendalikan.
Lengan Yudha yang semalam terluka, kini semakin terasa ngilu saat Rara menggoyangkan tubuhnya karena memberontak.
" Ra! Denger dulu, kalau sampai dia mati elu bakal kena masalah dan panjang urusannya!" Ucap Yudha yang sudah hampir tak bisa lagi menahan Rara yang benar-benar Badas.
Rara seketika terdiam dengan napas memburu sembari menatap Suwarno dengan tatapan tajam. Ucapkan Yudha barusaja sedikit membuka logikanya yang nyaris saja tenggelam akibat emosi.
Melihat adanya kesempatan, pria kurang ajar itu seketika kabur dan lari terbirit-birit dengan wajah yang terasa pedih dan nyeri.
" Hey jangan kabur lo..., CK lepasin gue sialan!" Rara seketika berteriak kembali, demi melihat Suwarno yang sudah berlari jauh dan hendak masuk kedalam gang.
" Tenang dulu Ra, tenang!" Yudha mengetatkan pelukannya dari arah belakang, demi membuat Rara tenang. Setengah mati menahan rasa sakit, akibat lukanya yang kembali terkoyak gerakan Rara.
Merasa Rara sudah lebih tenang, sejurus kemudian pria itu membalikkan tubuh Rara lalu memeluk demi membuat wanita itu diam.
" Pikirkan diri lu juga, ini sudah masuk tindakan kriminal Ra!" Ucap Yudha lagi yang hampir kehilangan akal dan cara untuk membuat Rara diam.
Sungguh, tak ada maksud apapun. Yudha hanya ingin beberapa orang yang melihatnya itu tak menatap Rara dengan tatapan mendakwa. Entah mengapa, pria itu tiba-tiba ingin melindungi Rara, dengan caranya.
Dalam hati Yudha bertanya, kenapa wanita ini bisa bersikap seperti itu? Apa yang sebenarnya yang terjadi. Mengapa ia belum bisa memecahkan dua sisi misterius dari wanita dengan sikap impulsif itu?
Rara masih diam dengan posisi di peluk oleh Yudha. Dalam pikirannya hanya dipenuhi oleh emosi dan juga sugesti dari Yudha. Jelas ia memikirkan bapaknya jika ia sampai berurusan dengan polisi.
Namun, siapa sangka kejadian itu rupanya tak luput dari pandangan mata seseorang yang tak sengaja melintas di jalan itu.
" Jadi ini alasanmu ngelarang aku buat suka ke dia Yud? Karena ternyata kamu juga menyukai wanita itu!"
Ucap pria yang kini tangannya terkepal demi melihat kejadian di depannya dengan rahang mengeras.
.
.
.