
Bab 225. Berbicara dengan wajar
.
.
.
Yudha
Ia kini tengah duduk di sofa ruang tengah rumah Ajisaka malam ini. Mereka mengadakan party kecil-kecilan sebelum Pandu bertolak kembali ke kota besok pagi.
Pria itu semenjak menikah dengan Fina, sepertinya akan lebih lama stay di kota, dan akan sekali waktu kembali ke Kalianyar. Definisi dari pria sibuk.
Ya, semua roda memang harus berjalan sebagaimana mestinya. Yudha dan Aji juga perlahan mengerti, jika menjadi dewasa memang akan semakin di perhadapkan dengan banyak persimpangan pilihan.
Para wanita di belakang tengah menyiapkan makanan, untuk santap malam mereka. Terlihat mengobrol asyik, sebab Damar sepertinya sudah menemukan best friend-nya . Sukron Mangkualam.
" Aku iri sama elu Ndu!" Ucap Aji yang kini mendudukkan tubuhnya ke samping Yudha dengan membawa semangkuk salad buah yang baru ia kuntit dari dapur istrinya.
" Iri kenapa lagi?" Sahut Pandu yang kini menjengukan kepalanya maju demi bisa menusuk potongan melon yang berlumuran mayonaise dan susu kental manis yang di pegang Aji. Melahapnya dalam satu suapan.
Emmm lezat!
"Elu nikah di tungguin sama Sakti, nah kita?" Aji berengut. Ia rindu dengan sahabatnya itu saat ia tengah kumpul-kumpul begini.
Pandu terkekeh." Tapi kan dapat kado hot jelotot, iya nggak Yud?" Pandu tergelak demi mengingat cerita Aji yang mengatakan jika Sakti mengirimi mereka sebuah paket, dengan berlapis-lapis buntelan yang rupanya berisikan sebuah obat kuat sialan. Samsu oil.
Yudha kini tergelak, meski ia merasa kehilangan, namun mendengar jika Sakti mengirimi sahabatnya itu paket konyol, jelas membuktikan jika kesablengan Sakti telah kembali. Yeah!
" Tapi ..yang aku heran, kok bisa dia tahu aku nikah di hari itu, secara orangtuanya juga enggak tahu dia ada dimana dan yang ngantar kado...?" Aji masih penasaran dengan wajah berpikir, saat dua manusia kelaparan di sampingnya itu mulai mencomot dan melahap habis aneka buah segar yang Aji peluk.
" Jelas ada mata-mata!" Sahut Yudha yang mencomot anggur terakhir yang berada di mangkuk itu. Membuat ketiganya berpikir tentang siapakah tersangka yang menjadi dalang pengantar kado dari Sakti.
" Apa?" Sukron yang baru masuk dan terlihat menggendong Damar yang telah tertidur di punggungnya itu, kini menatap ketiga pria yang mendakwanya penuh rasa curiga.
" Astaga, ini anaknya tidur bukannya di bantu malah asyik makan. Ya ampun, mbak Inggar pantas salad kita ilang...nih yang ngambil ternyata!" Teriak Fina yang membuat ketiga pria tampan yang suka tebar pesona itu menatap Ajisaka yang kini meringis.
" Yaelah bos... bos...!" Sukron menggeleng lemah dan kini memilih beranjak dari ruangan itu, untuk mengantar Damar ke kamarnya karena lelah bermain bersama Dino.
Pria-pria aneh yang berebut salad.
" Fin, elu jangan kencang-kencang dong. Habisnya kalian lama banget, aku keburu lapar...!" Ucap Aji manyun demi mengingat jika Wida sempat mendampratnya karena hendak mengambil makanan yang belum selesai mereka masak.
Fina terkikik, " Kelihatan banget tiap malam enggak istirahat, ngebor teroosss! Makanya gampang laper" Ucap Fina yang makin tergelak saat Aji mendelik.
Yudha menggeleng malu, " Kron..besok elu jangan mau kalau disuruh momong, biar dia ngerasain dapat interupsi pas lagi mau meledak. Mumet...mumet kau!! Pandu menimpali ucapan istrinya begitu Sukron telah kembali.
Membuat Aji melirik tajam Sukron yang kini merenges. Hehe Ampun bos!
"Mas, ajak semuanya ke belakang, kita makan dulu!" Suara lembut Wida bagai oase di padang gersang. Membuat Aji seketika bangkit dan meluncur ke dapur.
" Jangan bikin ibu negara ngomong dua kali, cepat bangun!" Titah Aji kepada para manusia kurang ajar yang tadi membulinya.
" Lo...Mas Sukron, Mas Dino mana?" Tanya Wida yang kini mengambilkan nasi ke piring Ajisaka. Menatap Sukron penuh tanya.
" Pergi Bu, barusan ada yang .."
" Sama assiten MUA yang kapan hari itu?" Tanya Rara yang kini mengambilkan nasi untuk Yudha, semua terlihat memberikan perhatian kecuali Sukron yang nyengir.
Sukron mengangguk menjawab pertanyaan Rara, sembari menggigit cumi yang terlihat menggiurkan. " Giliran yang slebornya gede aja, cepet dia!" Cibir Sukron demi mengingat Dino yang berwajah mesum saat melihat wanita yang menjadi assiten MUA di pernikahan Aji dan Wida kemarin.
" Bilang aja iri, woooyy!" Ucap Fina yang terlihat paling ramai.
Sukron terkikik, membuat dia teringat akan seraut berang yang sempat mendampratnya karena ulah Damar yang merusak bunga tempo hari. " Apa kabar dia ya?"
Wadiaaaw!!!
.
.
...πππ...
Sakti
Ia membuka laptop yang merupakan invetaris Soebardjo Vineyards yang berada di kamarnya malam itu. Anjana pergi entah kemana, sejak ia bertemu di ruang briefing untuk membahas kerja sama baru dengan pihak hotel yang akan memasok red wine dari Vineyards mereka tadi, ia tak mengetahui keberadaan wanita kaku itu.
Sakti tersenyum manakala ia membuka Facebook milik Ajisaka, yang ia lihat melalui akun barunya. Beruntung Aji tidak memprivasi postingannya, membuat ia bisa dengan leluasa melihat foto saat bahagia sahabatnya itu.
Ia juga melihat Yudha yang merengkuh erat pinggang Rara yang di foto itu terlihat mengenakan dress dengan warna yang match dengan jas Yudha. Membuat ia menarik seulas senyuman.
Dan ketika ia membuka Facebook milik Pandu, ia kembali dibuat senang saat melihat mereka kini tengah makan malam bersama di kediaman Aji.
Foto itu baru saja di unggah beberapa menit yang lalu.
" Dinner with bestie before back to the west"
Begitu caption yang tertulis disana, Sakti mengira, pasti itu yang menulis Fina. Ia tahu, Pandu jarang bersosialisasi melalui media sosial.
Sakti tersenyum senang. Kini tinggal ia yang harus serius dan membuktikan bila dirinya juga mampu. Ia kini memahami, bahwa setiap diri manusia, pasti akan memenuhi titik serius dalam hidupnya.
" Kau belum tidur?" Anjana tiba-tiba datang dan meletakkan sebuah senjata api ke dalam laci nakasnya. Membuat Sakti melebarkan matanya.
" Dari mana kau, kau...membawa senjata api?" Sakti bahkan telah memutar tubuhnya dan menghadap penuh tanya ke arah Jana.
Wanita itu belum menyahut dan terlihat sibuk melepas sepatu dengan jalinan tali yang rumit. Anjana terlihat sexy saat melepas jaket hitam yang ia kenakan, dan kini hanya menampilkan body yang tertutup singlet yukensi ( you can see).
Glek!, Sakti menekan ludahnya ngiler.
" Kenapa? Kau takut jika aku membunuhmu?" Tanya Anjana sembari meletakkan sepatunya ke tempat khusus, wanita itu terlihat teramat menjaga kebersihan.
Sakti menelan ludahnya kembali demi mendengar jawaban kurang ajar dari mulut sexy itu. " Asu nih perempuan, ditanya apa jawabnya apa!"
" Tidurlah, besok kita ada briefing pagi!" Ucap Jana yang kini mencharger ponselnya, dan bersiap meleomsr tubuhnya ke atas kasur.
Sakti belum mengantuk, lagipula bagiamana ia bisa tidur jika dalam kamarnya ia harus sekamar dengan wanita.
" Tidurlah dulu!" Ucap Sakti yang mendadak murung. Membuat Anjana yang sudah hendak membaringkan tubuhnya di kasur ujung barat itu, kini menatap Sakti yang bangkit dengan membawa rokoknya.
"Mau kemana dia?"
Sakti rupanya menuju balkon dan ingin menikmati sesapan bakaran sigaret disana. Anjana tak bisa tidur jika begitu, tentu ia harus memastikan tuan mudanya istirahat cukup, karena sebenarnya ia di tugaskan Tuan Liem untuk menjaga cucunya dengan sebaik-baiknya.
Anjana menghela napas panjang, sejurus kemudian ia bangkit dan melihat laptop yang baru di buka oleh Sakti. Menampilkan foto segerombolan orang-orang yang tertawa lepas dengan pasangan mereka masing-masing.
" Siapa mereka?" Gumam Anjana sambil menatap foto yang membuatnya nyeri. Sebab ia juga sama sekali tak pernah memiliki teman dekat bahkan di usianya yang sudah mencapai 27 tahun ini.
Ia mengabaikan foto itu dan menyusul Sakti. Pria itu duduk berselanjar dengan kaki yang ia tekuk sebelah. Asik menikmati tembakau yang membuat rongga hidungnya pekat dengan asap nikotin.
" Apa kau mau aku buatkan susu agar bisa tidur?" Tawar Anjana seraya melipat kedua tangannya.
Sakti mengernyit, " Susu? Untuk apa? " Ucap Sakti sembari menghisap rokoknya dalam-dalam. " Kalau susumu aku mau!" Terkikik dalam hati.
" Kau kenapa kemari, kalau kau ngantuk, tidurlah dulu. Aku belum ngantuk!" Ujarnya terdengar sedikit ketus.
Anjana tak menggubris sikap ketus Sakti, ia kini malah turut mendudukkan tubuhnya ke samping Sakti , lalu turut meraih rokok di depan Sakti lalu menyulutnya.
" Kalau begitu aku juga tidak tidur!" Ucap Anjana dengan wajah datar sembari memantik rokok yang kini ia kempit menggunakan bibirnya.
Terlihat sangar.
Membuat Sakti membulatkan matanya. " Kau merokok?"
Anjana menghisap rokok yang sebenarnya bukan seleranya itu, " Sometimes!" Jawabnya singkat. Membuat Sakti makin melongo dibuatnya.
"Wanita keren!"
" Tadi...siapa yang kau lihat? Keluargamu?" Tanya Jana yang kini turut menyandarkan punggung ke samping Sakti. Berbicara normal untuk pertama kalinya.
Ya...entah mengapa malam itu mereka berdua berbicara layaknya manusia wajar. Menatap ke angkasa yang malam itu tengah menyajikan bulan yang purnama. Indah menentramkan kalbu.
" Lebih dari sekedar keluarga!" Ucap Sakti dengan tatapan menerawang, dan seulas senyum yang turut terbit di bibirnya.
" Kau beruntung masih memiliki keluarga, sepertinya mereka asik!" Ucap Anjana dengan mata menyipit saat ia menarik hisapan rokok. Terdengar ironi.
" Memangnya kau tidak memiliki keluarga?" Sakti menatap wajah ayu Anjana dari samping. Bibir wanita itu sangat sexy dan terlihat menggoda, astaga!
" Keluargaku ya disini, Di SO Vineyards!" Anjana tersenyum kecut, sebab itulah kenyataannya.
Sakti masih tak mengerti, wanita di sampingnya itu cukup misterius untuknya yang awam. Kadangkala terlihat beringas, namun malam ini terlihat laksana wanita normal yang rupanya juga memiliki sisi kesenduan.
" Ngomong- ngomong, kau mau mencoba anggur terbaik di tempat ini?" Tawar Anjana yang membuat Sakti melongo.
.
.
.
.