
Bab 81. Meniti takdir selapis demi lapis
^^^" Hasrat ingin berkuasa, oh sungguh mahal ongkosnya!"^^^
.
.
.
...πππ...
Hartadi Wijaya
Orang tua mana yang tega melihat putranya babak belur akibat ulah tangan orang lain. Tak ada toleransi ketika Riko tertimpa urusan keselamatan. Tidak akan pernah.
" Panggil anak itu untuk datang kemari!" Titah tegasnya kepada Joni. Membuat pria botak itu mengangguk patuh.
" Baik Tuan!"
Joni undur diri dan kini tengah berpapasan dengan Rengganis. Istrinya itu terlihat menyusulnya keruangan kerjanya.
" Apa rencananya?" Istrinya menatapnya lekat. Benar-benar tak mau sampai Riko menderita.
" Kenapa mama kemari, Riko dengan siapa?"
" Dia sedang dirawat oleh dokter. Mama mau papa benar-benar membalas pria bernama Pandu itu. Mama gak rela!"
" Berani sekali keluarga Guntoro itu. Masih untung anak kita mau dengan anaknya. Mama benar-benar kesal sekali!' Rengganis berang.
Hartadi masih diam. Ia juga geram, tapi ia tak boleh grusa-grusu saat melakukan sesuatu. Mengingat ia adalah tokoh publik yang memerlukan banyak sekali pertimbangan saat melangkah.
.
.
Serafina
" Apa sakit?" Ia menatap muram wajah datar Pandu yang sibuk mengoleskan salep ke punggung tangannya yang lecet. Lebih tepatnya terluka usai meninju dinding demi melampiaskan sisa kemarahannya yang harus tersalurkan.
" Tidak!" Sahutnya biasa.
Fina mengembuskan napasnya dengan wajah muram " Aku takut Ndu!" Ucapnya sembari menutup salep yang selesai di gunakan Pandu.
" Sekarang pasti keluarga mereka akan menuntut balas!" Fina benar-benar resah saat ini. Papanya yang masih dalam kondisi seperti itu, juga perusahaannya yang jelas terancam.
" Aku sudah infokan hal ini kepada Bayu. Andhika beserta yang lainnya akan bersiap dirumahmu!"
" Kamu kok manggilnya Bayu..Bayu...dia lebih tua dari kita kali..!" Dengus Fina.
Pandu tak menyahuti layangan protes dari Fina.
Mereka kini saling menatap. Ada rasa takut kehilangan satu sama lainnya.
Saat tengah larut dalam tatapan yang mendayu, ponsel Fina berdering. Membuat Pandu kini turut melihat ke arah benda pipih miliknya.
Rizal calling...
Pandu mengalihkan pandangannya seketika, tatkala melihat nama yang tertera pada benda yang kini menyala itu.
" CK, kenapa musti sekarang sih!" Gerutu Fina yang benar-benar tak ingin berbicara dengan Rizal.
" Angkat saja, dari pada dia mengadu kepada papamu!" Pandu lebih memilih berdiri sembari membalas chat Bayu juga Andhika. Sejurus kemudian ia mendudukkan tubuhnya ke atas kursi kebesaran Fina.
" Ya Zal...?" Fina dengan malasnya akhirnya menjawab Panggilan itu.
" Halo Fin, aku baru lending ini. Kamu lagi apa?"
Fina mendongak menatap Wajah Pandu yang terlihat sibuk tenggelam di aksi berbalas chating-nya.
Sedang apa dia sih? Asik banget.
" Fin!"
" Oh enggak, lagi di Pelangi Sari. Sibuk banget ini aku!" Sahutnya asal. Ia benar-benar malas. Sungguh, andai kesehatan papanya tidak menurun, ia pasti akan memberontak. Lebih tepatnya menolak Rizal.
" Aku cuma mau bilang, aku bisa carikan team bodyguard lain yang lebih hebat dari....Ya...kamu tahu maksudku kan?"
Rizal tentu saja tak bisa menganggap remeh kedekatan mereka berdua. Rizal tak bisa menafikkan kecemburuannya kala mengetahui bila Pandu malah menjadi bodyguard Fina
Membuat Fina semakin kesal dengan ucapan unfaedah Rizal.
" Sebaiknya kita percaya aja sama papa. Om Bayu dan teamnya itu udah berpengalaman. Kamu gak perlu kuatir soal itu!"
" Udah dulu ya, aku sibuk banget ini!'
TUT
Fina mematikan sambungan teleponnya secara sepihak. Ia benar-benar muak. Kesal tiada terkira.
" Gak sopan banget di telpon calon suami malah di matiin sepihak!" Cibir Pandu dengan wajah masih menekuni layar ponselnya.
" CK, bisa gak sih gak usah nyindir gitu!' Fina mendengus kesal. Membuat Pandu terkekeh.
" What??" Fina kini berdiri dan menatap Pandu. Mengapa begitu? Ah elah!
" Kamu enggak 24 jam jaga aku?" Fina memanyunkan bibirnya.
Pandu terkekeh " Kami ini team, Rendy udah buat jadwal. Tenang, Dhika orang yang berkompeten kok!" Ucapnya kini mendekati Fina yang terlihat kecewa.
" Tapi...!" Fina kira ia akan bisa terus berduaan dengan Pandu. Melewati malam bersama mungkin. Ah dasar otak nakal.
PLETAK!
" Sapu dulu itu otak ngeres!" Ucapnya usai menyentil dahi Fina. Pandu seolah tahu apa yang ada dipikiran perempuan nekat itu.
Dasar Fina!
" Pandu.....!"Teriaknya sembari mencoba meraih tubuh Pandu, namun pria itu berhasil mengelak seraya menjulurkan lidahnya.
Ah andaikan malam ini bisa bersamamu π.
.
.
...πππ...
Kediaman Keluarga Wijaya
Seorang pria berambut cepak, bermata lebar dan berkulit cokelat duduk mengahadap Hartadi Wijaya dengan wajah datar.
" Aku ingin sekali lagi meminta tolong kepadamu, setelah itu kau bisa pergi sejauh mungkin!" Ucap Hartadi seraya melipat kedua tangannya ke atas meja.
Raditya Andromeda terlihat tersenyum. Jelas ia akan mendapatkan proyek besar dari seorang calon kepala daerah itu. Dan tentu saja, uang selama jumlah fantastis jelas tengah menantinya.
" Dengan senang hati bos!"
Raditya sengaja diminta untuk pergi jauh usai menghujam Ayudya tanpa sengaja. Keluarga Hartadi tentu saja takut jika berita ini mencuat ke permukaan. Berita yang tentu saja ditakutkan akan merusak elektabilitas menuju pencalonan dirinya menjadi orang nomer satu di kota itu.
" Ingat! Kerjakan dengan rapi seperti kamu dulu membantu Riko sewaktu di Kalianyar!" Titahnya.
" Cari tahu Pria bernama Pandu. Pria yang bekerja di kantor bodyguard yang ada di jalan cendrawasih!"
" Pandu?" Raditya tertegun. Ia seolah merasa tak asing dengan nama itu.
Kilasan ingatannya kembali kala ia baru saja menghujamkan sebilah pisau secara tak sengaja ke perut seorang wanita tuna netra yang ada di Kalianyar.
" Mas Pandu!"
" Mas Pandu tolong Ayu...!"
" Mas ..Pan..."
Hartadi Wijaya mengernyit heran kala menatap pria di depannya yang seperti mengingat- ingat sesuatu.
" Dit! Radit!"
" Raditya!" Hardik Hartadi kepada Raditya. Membuat pria itu seketika tersentak dari lamunannya.
" Baik Tuan!"
.
.
Raditya
Ia adalah pengkhianat ulung. Baginya tiada kesetiaan paling luhur yang berbanding lurus, selain berdasarkan besarnya uang yang ia dapat.
Uang adalah segalanya.
Raditya tersenyum licik kala ia melihat mantan bosnya tengah berbincang dengan seorang pria tinggi dan berwajah rupawan yang baru ia temui, di depan lobi Kijang Kencana Safety.
Dari dalam mobilnya, Raditya melepaskan kaca mata hitamnya sore jelang petang itu. Ia dulu juga merupakan satuan bodyguard disana. Namun, tawaran menggiurkan seorang Hartadi Wijaya yang ia kenal lewat tugas pengamanan itu agaknya membuat hatinya goyah.
Lagi-lagi upeti membuat miskin jiwa seseorang. Raditya berkhianat usai membawa kabur uang hasil sisa pembayaran seorang konglomerat yang telah menyewa jasa mereka di pulau K selama enam bulan.
Project fantastis itu harusnya bisa memberikan keuntungan bagi Kijang Kencana. Namun sial, manusia brengsek macam Raditya mengacaukan segalanya.
Lebih sialnya lagi, pria dari antah berantah yang disinyalir pemilik tambang emas itu justru membayarkan uang jasa mereka dalam bentuk cash.
Raditya yang di percaya Bayu untuk mengambil uang itu justru membawa kabur uang itu dengan tanpa dosa. Membuat Bayu menelan kerugian yang sangat besar lantaran ia harus menyelesaikan pembayaran gaji bagi para anak buahnya dengan uang pribadinya.
" Baiklah, kita akan bersenang-senang sebentar lagi. Pandu!"
Ia tergelak dengan senyum licik sembari menginjak pedal gas mobilnya. Melesat meninggalkan bangunan besar yang sempat memberikannya kehidupan itu.
.
.
.
.