
Bab 15. Song from Radio
^^^" Nyatanya, obat dari sakit hati juga harus di obati dengan hati dan juga dengan cara yang hati-hati!"^^^
...πππ...
.
.
.
Serafina
Ia tak menyangka Pandu akan menyanggupi permintaan Oma-nya yang terbilang kurang pas itu. Bagaimana bisa, neneknya itu melibatkan orang lain dalam urusannya.
Mendadak menjadi insecure dengan sendirinya.
" Kalau begitu, saya siapkan dulu mobilnya" Pandu meminta kunci mobil yang di pegang Fina. Pria itu sama sekali terlihat tidak keberatan.
Fina menyerahkan kunci mobil itu kepada Pandu. Raut wajah pandu biasa saja. Tak senang dan tak juga sedih.
Datar dan tak bisa di tebak.
" Oma, kenapa sih malah minta orang lain buat ngantar. Pandu habis dari pergi belum istirahat itu!" gerutu Fina kepada neneknya, saat Pandu telah berlalu dari hadapan mereka.
" Oma gak mau gara-gara kamu buru-buru, terus terjadi sesuatu nanti. Udah lah gapapa, Pandu pria baik. Lagipula gak lama kan. Udah sana pergi, nanti teman kamu keburu ngamuk!" ucap Bu Asmah dengan gerakan seperti mengusir ayam.
Ia hanya mendengus seraya mendecak sebal. Ia akan curhat kepada Dita, tapi justru yang akan jadi bahan curhatan malah ikut. Sial.
.
.
Pandu
Untung saja urusannya sudah beres. Ia baru saja mengambil bayaran dari hasilnya memperbaiki mobil milik saudara jauhnya di dusun sebelah.
Upahnya lumayan, sebab ia mengerjakannya selama berhari-hari dan harus bolak balik kesana. Definisi dari pekerja keras sesungguhnya.
Dalam hati Pandu, Bu Asmah adalah figur sesepuh yang baik. Wanita tua itu selain dermawan dan aktif di kegiatan sosial, beliau juga adalah langganan tetap ibunya. Kerap memesan lontong, untuk memberi makan para pekerja dan buruh di sawahnya.
Dan dengan menyanggupi permintaan kecil wanita tua itu seperti saat ini, tentulah membuat Pandu senang. Setidaknya ia bisa membalas kebaikan Bu Asmah, lewat cara receh dan sederhana seperti saat ini. Mengingat ia bukanlah pria yang dilimpahi materi yang banyak.
Ia mengeluarkan mobil hitam itu dari garasi. Melakukannya pelan, dan memberhentikannya sejenak menunggu cucu Bu Asmah itu.
Ia membuka jendela kaca mobilnya, " Ayo!" ajaknya kepada Fina.
.
.
Kebisuan menjadi headline kebersamaan mereka. Tak seorangpun berminat untuk saling unjuk kata. Membisu dan larut dalam kecanggungan.
" Kamu beneran gak sibuk?" Fina rupanya menjadi orang pertama yang memecah keheningan itu.
" Enggak!" ucap Pandu dengan intonasi datar.
Tak ada sahutan apalagi obrolan yang berlanjut setelahnya. Benar- benar pasif.
" CK, orang ini bahkan tidak mau bertanya lagi!" gerutu Fina dalam hati.
Desinta tanpa senagaja melihat Pandu yang satu mobil bersama Fina. Wanita itu menatap dengan ketidaktahuannya. Mengapa dua orang itu bisa bersama.
Desinta kian menjadi tak suka dengan Fina. Jelas wanita kota itu, telah menjadi kompetitornya. Begitu isi kepala Desinta.
Kendaraan itu telah melaju lebih dari lima belas menit, jalanan berbatu dan sedikit bergelombang kini telah tergantikan dengan jalan aspal yang mulus.
Fina merasa bak seorang pesakitan yang menunggu interogasi petugas lapas . Pria di sampingnya itu benar-benar membisu. Sejurus kemudian ia berniat menyalakan radio di dasbor mobilnya.
Saat Fina hendak menekan indikator tombol switch on radio di dasbor mobilnya, tanpa di nyana Pandu rupanya juga melakukan hal yang sama.
Membuat tangan Fina tak sengaja di sentuh oleh Pandu.
Jantung Fina mendadak berdetak dalam tempo cepat, hanya karena sentuhan jari kokoh pria di sampingnya itu. Membuat seluruh tubuhnya mendadak teraliri sengatan aneh. Oh no!
" Emmm maaf, kamu aja yang putar!" ucap Pandu usai menarik tangannya.
Wajah Fina memerah, ia menggigit bibirnya agar tak terlihat begitu grogi. " Iya gapapa!" sahutnya segera.
Ia langsung menekan tombol itu, mencari chanel radio yang mengudara dengan suara terbaik.
Fina membesarkan volume radio itu saat sebuah lagu jernih terputar. Ia mengeraskan sedikit suara lagu itu agar keheningan disana terpecahkan, meski ia belum tahu lagi apa yang tengah di putar oleh VJ di radio itu.
Kurasakan ku jatuh cinta
Sejak pertama berjumpa
Senyumanmu yang selalu menghiasi hariku
" CK, sialan kenapa malah lagu ini!" Fina menggerutu dalam hati, demi mendengarkan lagu yang agaknya selaras dengan isi hatinya.
Kau ciptaan-Nya yang terindah
Yang menghanyutkan hatiku
Semua telah terjadi
Aku tak bisa berhenti memikirkanmu
Dan kuharapkan engkau tahu
Ia melirik eskpresi Pandu dengan ekor matanya . Pria itu masih diam saja seraya mengangguk - anggukkan kepalanya pelan. Terlihat menikmati lagu milik salah satu band beraliran rock di tanah air itu.
Suara Bass yang kentara memang membuat alunan lagu itu semakin easy listening. Membuat Fina tak tega untuk mengganti ke chanel lain .
Ia terpaksa juga turut menikmati lagu yang seolah menyindir dirinya. Entahlah, ia tak yakin apa benar jatuh cinta atau hanya sekedar menikmati rasa semu sesaat , karena kekosongan hatinya saat ini.
Kau yang kuinginkan
Meski tak kuungkapkan (ungkapkan)
Kau yang kubayangkan
Yang s'lalu kuimpikan
Aku jatuh cinta
T'lah jatuh cinta
Cinta kepadamu
Ku jatuh cinta
I am falling in love
I'm falling in love with you
( J'rock ~falling in love with you)
.
.
.
.