Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 209. Secuil niat yang urung



Bab 209. Secuil niat yang urung


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Riuh tepuk tangan yang teriring selama Pandu mencium kening Fina, turut membuat Sakti yang saat ini duduk di urutan agak belakang tersenyum haru. Pun dengan semua khalayak. Bagiamanapun juga, Pandu tetaplah sahabatnya.


Mungkin dianya saja yang saat ini tiba di persimpangan pemikiran. Definisi dari segala sesuatu ada masanya. Ada masa dimana kita memang harus berpikir ke arah yang lebih concern. Termasuk kondisi ekonomi misalnya. Tak selamanya yang selow juga tidak ingin giat.


Di kesunyian hatinya yang mendadak berteman dengan rasa minder, pria itu kini terlihat keluar untuk mencari angin segar.


" Arepe nandi koe? ( mau kemana kamu?)" Tanya Ibu Sakti saat melihat putranya beranjak.


" Nyari angin sebentar!" Ucap Sakti yang ingin pergi sebab Yudha sudah mengetahui keberadaannya. Sakti hanya tak ingin baper jika melihat Yudha. Meski saat ini, ia sudah bisa menerima kenyataan jika Rara dan Yudha sudah sama-sama saling dekat.


Sakti keluar dengan langkah santai, ia juga bertemu dengan para guard yang juga menyapanya ramah. Tersenyum kecut, andai kau bukan teman dari Pandu, apa kalian juga masih akan bersikap sama?


.


.


" Mau kemana?" Tanya Sukron yang menatap Yudha yang telah berdiri.


" Itu si Sak..."


" Selamat siang para hadirin, saya ucapkan selamat kepada Mbak Serefina juga mas Pandu yang saat ini tengah berbahagia, atas berlangsungnya pernikahan....."


Yudha Mengehentikan langkahnya demi melihat sesok yang kini telah tampil begitu anggun. Sosok yang ia rindukan selama ini.


" Rara?"


" Wihhh, bisa pas begini ya...?" Aji menatap seorang singer dengan mata berbinar.


" Siapa?" Tanya Wida bingung.


" Emmm...kamu jangan cemburu ya, itu yang aku ceritain ke kamu kemarin. Yang bikin itu anak dua geger!" Jawab Aji terkikik. Membuat Wida mengangguk paham.


" Om kebelet pipis!" Damar mengucap seraya meringis. Membuat Dino dan Sukron tergelak sekencangnya. Rasain lo bos!


" Pipis ya? ucap Aji menggaruk kepalanya. "Ya udah sini Om antar!" Aji kini memutari kursi yang Wida duduki, dan kini terlihat hendak mengangkat tubuh Damar supaya lebih cepat.


" Enggak apa-apa mas?" Tanya Wida khawatir.


" Ya enggak lah, kan harus belajar dari sekarang. Tadi aku udah belajar cara mengucapkan ijab kabul yang benar, sekarang giliran aku belajar jadi Ayah yang benar Wid!" Ucap Aji seraya mengerlingkan mata kepada Wida.


Membuat Wida mendengus malu. Dasar!


" Cieeee!!!" Ucap dua manusia jomblo itu dengan kompak. " Calon bapak!"


" Yang bersih kalau cebokin ya pak!" Dino terkekeh geli sambil melempar ocehan saat Aji sudah berlalu dan kini permisi kepada para hadirin yang lain, sebab ia melewati meja dengan menggendong Damar.


" Lah Yud, enggak jadi pergi?" Tanya Sukron demi melihat Yudha yang masih melongo.


Sialan!


.


.


Sakti menghembuskan rokoknya dalam-dalam. Sebuah suara dari dalam membuatnya ingin menoleh. Suara yang begitu familiar. Tapi..apa mungkin itu Rara? Suara orang kadang memang mirip-mirip ya?


" Kedalam dulu yuk, itu mumpung lagi ada singer tampil. Suaranya jernih banget!"


" Katanya yang lagi hits di Instagram!"


Ucap para guard junior yang kini berlarian kedalam. Membuatnya semakin dirundung rasa penasaran.


Ia membuang puntung rokok itu dan langsung membuangnya begitu saja. Dan betapa terkejutnya saat ia berada di ambang pintu lebar itu, Rara yang cantik dengan dress panjang terlihat begitu menghayati sebuah lagu romantis.


🎢🎢


Looks like we made it


(Sepertinya kita berhasil)


Look how far we've come, my baby


(Lihat seberapa jauh kita telah datang, sayang)


We mighta took the long way


(Kami mungkin mengambil jalan panjang)


We knew we'd get there someday


(Kami tahu kami akan sampai di sana suatu hari nanti)


They said, "I bet they'll never make it"


(Mereka berkata, "Saya yakin mereka tidak akan pernah berhasil")


But just look at us holding on


(Tapi lihat saja kami bertahan)


We're still together, still going strong, mm


(Kita masih bersama, masih kuat, mm)


Dan ingin mengatakan jika sebenarnya ia menyukai Rara meskipun terlambat.


🎢You're still the one I run to


(Kamu masih satu-satunya tempat aku berlari)


The one that I belong to


(Satu-satunya yang aku miliki)


You're still the one I want for life


( satu-satunya yang aku inginkan dalam hidupku)


(You're still the one)


You're still the one that I love


(Kamu masih satu-satunya orang yang aku cintai)


The only one I dream of


( Satu-satunya yang aku impikan)


You're still the one I kiss goodnight


( Kamu masih satu-satunya yang aku cium selamat malam)


(Shania Twain ~ You're still the one)


Sakti tersenyum, dan membulatkan niat untuk menemui Rara di back stage. Keberadaan Rara benar-benar menjadikan mood Sakti menjadi lebih baik.


Dengan langkah cepat cenderung berlari, Sakti menuju ke arah belakang dimana crew EO kawakan itu berkumpul. Namun tak di sangka, saat ia tengah berjalan, ia bertabrakan dengan seorang pria yang wajahnya bersungut-sungut.


BRUK


Pundak Sakti bahkan terhuyung, pun dengan pundak pria itu.


" Maaf sa...!" Sakti tertegun demi melihat wajah pria yang sangat tidak ramah itu. Membuatnya urung untuk meneruskan kalimatnya.


" Yo, tunggu!!" Dari arah berlawanan, terdengar suara perempuan yang memanggil- manggil nama pria sangar itu, dan terlihat berurai air mata.


" Itu kan temennya Fina yang dokter itu?"


" Rio, tunggu Yo!" Ia mematung saat melihat Dita yang terlihat melangkahkan kakinya dengan tersuruk- suruk demi mengejar pria berwajah sombong itu.


Tak mau ambil pusing akan urusan orang, ia meneruskan perjalanan menuju back stage. Tapi pemandangan yang lebih mengejutkan rupanya membuatnya makin tercengang.


" Aku kangen banget sama kamu Yud, aku enggak nyangka kalau kamu juga disini?"


Tubuh Sakti seketika mematung. lututnya bergetar dan dadanya mendadak sesak. Apakah dia yang buta selama ini?


Harusnya dia memang tidak perlu kesana.


Tak seharusnya ia mengharapkan sesuatu yang tidak pasti bahkan hingga mempertaruhkan nilai persahabatannya. Tak kuasa melihat apa yang tersaji, ia kembali dengan perasaan kosong yang makin membuatnya jatuh ke jurang Kesepian. Walau sebenarnya, ia sudah merelakan hal itu demi persahabatan.


.


.


Yudha


Ia berniat menemui Rara detik itu juga, ia memanggil salah seorang pegawai EO yang standby di dekat sound.


" Saya mau ketemu yang nyanyi itu bisa? Saya temannya!"


" Oh bisa mas, lewat sini lebih cepat!"


Kebetulan setelah Rara merampungkan satu lagu pembuka itu, acara kini diambil alih oleh pihak Bayu untuk mengucapkan sepatah dua patah kata kepada tamu undangan. Membuat Yudha makin senang karena bisa sedikit mengobrol.


Ia tersenyum begitu melihat Rara yang kini sudah kembali ke backstage. Cantik dan sexy sekali dia!


" Ra!" Ia melambaikan tangannya kepada Rara seraya tersenyum lebar.


Rara yang terperanjat karena sama sekali tak mengira jika pria yang beberapa Minggu ini berhasil mengubah sudut pandangnya itu, tengah berada di perhelatan besar ini.


" Yudha?" Ucap Rara dengan wajah kaget.


" Aku kangen banget sama kamu Yud, aku enggak nyangka kalau kamu juga disini?" Wanita itu reflek memeluk Yudha saking bahagianya karena bertemu orang yang ia kenal saat berada di kota lain. Membuat Ratna yang turut ada disana berdehem.


" Ehem..ehem! Make up awas make up!" Ucap Ratna memeringati dengan sedikit terkekeh.


Membuat Rara dan Yudha salah tingkah.


" Sory Yud, tadi...aku...!"


Yudha tersipu, apa barusan Rara mengatakan sebuah hal yang membuatnya melayang?


" Ini yang namanya Yudha? Kok bisa kebetulan gini? Asal kamu tahu ya Yud...dia sampai enggak bisa ti...!" Rara langsung membekap bibir slong Ratna, saat wanita itu sudah akan membocorkan hasil curhatannya beberapa waktu lalu.


Membuat Yudha tergelak.


.


.


.


.


.