
Bab 243. Falling in Love the series TAMAT
.
.
.
...πππ...
Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari dan begitulah siklus pasti kehidupan manusia. Sang waktu yang selalu sombong, maju dan menggilas apa saja yang terjadi. Tawa, tangis, sedu sedan, gegap gempita. Semua sendi kehidupan, nyatanya rata ia gilas. Semua ludes ia ***** tanpa tersisa.
Pun dengan kehidupan empat sekawan yang saat ini telah berbeda keadaan dan kenyataannya. Sejalan dengan irama kehidupan yang menghanyutkan tiap diri pria-pria tampan itu.
Aral dan juga keberuntungan yang datang silih berganti, nyatanya menjadi sebaik-baiknya pengajaran hidup untuk berlaku lebih baik lagi di hari-hari depan nanti
Persahabatan yang tercipta, menebarkan aroma suka serta benih-benih kebahagiaan yang kini tertanam dalam biduk rumah tangga tiap orangnya.
Nyata adanya, bahwa meskipun tiada saudara mengiba, namun ada sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara.
Pandu yang sudah menjadi Dirut dari Kijang Kencana dengan segala elektabilitasnya, pun dengan bengkelnya yang saat ini menambah cabang ke seluruh penjuru kabupaten di ujung timur pulau itu, menjadi pria sibuk yang juga membagi waktunya untuk istrinya Fina dan calon buah hatinya.
Ajisaka yang juga tengah tekun memproduksi produk-produk baru kearifan lokal, serta terus melebarkan sayap usahanya di bidang agrobisnis, dengan tak lupa menyerap banyak sekali tenaga kerja dari masyarakat sekitar. Membuat namanya melambung tinggi di jajaran pengusaha muda daerah yang potensial.
Yudha yang kini menjabat sebagai wakil direktur Bank terbesar di daerah itu dan juga pemilik usaha lintas sektor terutama produksi jamur tiram yang sangat besar, mampu memberikan angin segar bagi pencari kerja, sebab ia mampu membuka lapangan pekerjaan baru.
Widaninggar yang kini tengah berusaha keras menunggu kehadiran jabang bayi dalam rahimnya, juga disibukkan membuka kursus menjahit bagi muda mudi yang putus sekolah. Wanita itu benar-benar memiliki hati selembut ibu Teresa.
Rara yang juga mendapat dukungan penuh dari Yudha, untuk membuka les musik serta memiliki gedung kelas musik terbaik di daerah itu, untuk memotivasi anak-anak yang memiliki bakat minat non akademik, sangat merasa bersyukur karena impiannya untuk menjadi manusia berguna, tertunaikan sudah.
Dan terakhir, Sakti yang kini menjadi konglomerat tanpa ia duga sebelumnya. Mendedikasikan dirinya untuk tekun mengunjungi dan memberikan santunan kepada anak-anak panti yang memiliki nasib kurang beruntung.
Semua hutang kedua orangtuanya di Kalianyar sudah ia lunasi, ia juga memberikan donasi banyak untuk pendirian lapangan bola voli di desanya, tempat ia tumbuh bersama angin dan daun dalam keterbatasan keadaan yang tak akan pernah lekang dari ingatannya.
" Siap?" Tanya Sakti kepada Anjana yang kini memotong rambutnya sebahu. Membuat tampilan wanita itu lebih segar.
Anjana berkata beberapa waktu lalu." Kata orang memotong rambut itu bisa membuang kesialan!" Untuk itulah wanita itu memantapkan hatinya untuk merubah sedikit tampilannya.
" Siap!" Jawab Anjana mantap yang kini akan menemani Sakti menuju ke pemakaman mendiang Ibu Feny.
Sebuah makam cina yang memiliki batu-batu besar yang menghiasi tiap jasad yang tertanam di dalamnya. Ia tumbuh dan besar di kalangan lain, namun dalam sanubarinya, ia tahu jika Tuhan mengerti bahasa doanya. Meski perbedaan membentang jauh antara dimensi nyata dan tak nyata.
" Jika Tuhan hanya tahu satu bahasa, lalu bagaimana Dia mendengar orang bisu yang berdoa!" Ucap Anjana meyakinkan Sakti yang sedikit ragu manakala berasa di pusara ibundanya.
Sakti duduk lalu memejamkan matanya. Mencoba membangun komunikasi batiniah semampunya.
" *Ini aku anakmu!"
"Aku tidak tahu apa kau mendengarnya atau tidak. Tapi...aku datang untuk meminta restumu Ibu*!"
Anjana juga berucap dalam hatinya sembari memejamkan matanya. Sejajar dengan Sakti yang kini juga tekun mengucapkan kalimat yang penuh berjejalan di dadanya.
" Aku sudah menemukan putramu nyonya. Dia orang baik bahkan sangat. Dan aku jatuh hati dengan anakmu!"
Sakti meresapi tiap bait kata yang terucap dari relung hatinya. Berkata seolah - olah Feny ada dan menyambut kedatangannya.
" Aku mencintai wanita di sampingku ini. Doakan aku dari sana agar apa yang akan aku jalani bersamanya nanti, membawa kebahagiaan untukku, untuknya terlebih untuk dirimu yang jauh disana Bu..."
Anjana juga masih larut dalam keheningan hatinya, juga berkomunikasi secara pribadi dengan apa yang ada di depannya.
" Iringi langkah kami dengan restumu dari tempat nan jauh tinggi disana. Sebab aku sangat mencintai Sakti!"
" Urapi kami dengan kasihmu dari sana Bu. Sebab aku mencintai Anjana!"
Dua manusia yang memejamkan matanya itu kini menarik napasnya dalam-dalam. Terasa lega sebab sudah sowan ke tempat peristirahatan Ibu dari pria yang kini menjadi pewaris the Soebardjo Vineyards itu.
"Rest in peace ( beristirahatlah dalam damai) Ibu!"
.
.
Kalianyar
***
Beberapa hari kemudian,
Riuh rendah suara tepuk tangan terdengar heboh. Semua tamu yang berpakaian apik kini saling berdiri di belakang altar, menghadap ke arah Anjana dan Sakti yang kini hendak melempar bunga.
Sukron, Dino dan para manusia bujangan lainnya, kini bersiap. Berkumpul membentuk suatu koloni guna menangkap bunga, yang di percaya membawa hoki bagi siapa yang menangkapnya.
" Kata orang, yang dapat itu bunga nanti cepet ketularan nikah" Ucap Cak Juned yang berdiri berbaris di sebelah Pandu, Aji dan Yudha yang masing-masing menggandeng tangan istri mereka. Berbicara seraya tekrikik-kikik.
" Siap?" Ucap Sakti yang bahagia sebab ia dan Anjana baru saja resmi menikah di altar besar yang beberapa waktu lalu di gunakan Yudha untuk mengucapkan janji suci.
Sakti sangat tampan dengan jas bertuxedo, serta Anjana yang mengenakan gaun fit berbelahan punggung yang memesona. Keduanya terlihat berkilau diantara lautan manusia yang hadir disana.
" Woy minggir dulu, awas!" Sukron bahkan sudah mengembalikan Damar kepada indung semangnya. Tak mau jika bocah ingusan itu sampai menginterupsi kegiatannya.
" Satu!"
Sakti mulai menghitung seraya melirik istrinya yang kini juga menahan tawa, sebab keadaan dibelakang mereka sangat ricuh.
" Woy, minggir dulu gantian dong!" suara-suara akibat gesekan manusia bujang itu makin membuat semuanya tertawa.
" Tiga!"
Sakti dan Anjana menghitung maju sesaat sebelum mereka melempar bunga ke belakang.
Dan sejurus kemudian,
Wiingg!!!
PLEK!!
Semua orang melongo dengan wajah bodohnya, manakala bunga itu di tangkap oleh Arju yang turut berdiri disana dengan wajah santai dan seolah tak mengetahui apa-apa. Membuat semuanya tertawa.
" Ah elah, kok malah adik elu sih Yud?" Gerutu Sukron yang sudah standby mengambil ancang-ancang.
" Sialan! Udah ngantri dari tadi malah botol kecap yang dapat!" Dengus Dino yang juga kesal.
Yudha tergelak. " Lakumu masih lama bro!" Yudha tergelak manakala melihat Sukron dan Dino manyun berjamaah.
Sakti dan Anjana saling melempar senyum bahagia, sejurus kemudian MC meminta kedua mempelai untuk melaksanakan ciuman Kudus, usai melempar bunga. Membuat Sukron kini buru-buru menutup mata Arju.
" Lah Om! Gelap ini, cemana pulak!" Protes Arju saat tangan kasar bak parut itu memblokade pandangannya.
" Belum saatnya kau bocah ingusan!"
Para tetua terpingkal-pingkal saat melihat Arju dan Sukron yang heboh, sementara Sakti dan Anjana kini tertawa belingsatan sesaat setelah mereka berciuman.
Tuan Liem senang dan bahagia, pun dengan para pria ganteng yang sudah lebih dulu menikah itu. Nyatanya sekalipun ujian hidup berkali-kali mendera, mereka mampu menghadapi manakala selalu bersama.
Tahukah engkau bahwa jatuh cinta tak selalu dekat dengan hal berkilau, mereka kadang rombeng dan kerap kusam diawal perjumpaan.
..."Aku ingin mencintaimu seratus ribu tahun. Selalu dan selalu kekal mencintaimu."...
...~ Empat sekawan....
Falling in Love the series TAMAT
.
.
.
.
.
.
.
.
.
From author:
Hy hy hy!!!
Gimana readers kabarnya? Semoga selalu dakam keadaan yang baik dan terbaik.
Akhirnya kisah Pandu dkk tamat juga setelah empat bulan berjalan. Mommy senang bisa menyelesaikan apa yang ada di pikiran seseuai deadline.
Walau bulan lalu jujur banyak banget pencobaan yang author alami. Mulai anak masuk RS, hingga My grandma dipanggil Tuhan untuk menghadap sang khalik.
Bulan lalu mommy sempat menchalange diri untuk garap dua novel on going, ternyata bisa dan mampu walau agak ngoyo. Karena jujur, karya Mommy pingin banget dikenal sama pembaca yang banyak. (mimpi boleh dong π)
Mohon maaf jika dalam cerita ada banyak kekurangan, mungkin terlalu halu, atau terlalu gimana, well ini prosa bebas yang segala sesuatunya memungkinkan untuk terjadi.
Tolong dong kasih pesan dan kesan para reader yang terkasih sekalian soal karya mommy yang ini, biar kedepannya Mommy bisa lebih baik lagi dalam menulis. Karena jujur, saran dari pembaca sangat mommy butuhkan disini.
Ucapan terimakasih mommy haturkan kepada pembaca setia, kepada fans yang udah kasih like, vote, komen, matur nuwun sekali, terimakasih, thankyou, suksma, matur tampiasih.
Jujur, pingin banget rasanya kasih kenang - kenangan buat pembaca yang udah kasih dukungan tertinggi, tapi keadaan punya kenyataan, Mommy belum bisa mendapatkan effort yang sesuai dari NT. But it's no problem, rejeki udah ada yang ngatur. If not today, maybe tomorrow!
Semoga suatu saat Mommy bisa kasih hadiah buah pembaca mommy seperti author yang udah femes, karena terus terang saat ini mommy belum bisa menikmati jerih lelah mommy selama njegur di NT.
Buat yang penasaran sama MPnya Sakti, nanti akan ada ekstra part spesial mas sableng. Jadi jangan khawatir yaπππ
Joko Tingkir ngombe dawet
Ojo di pikir marai mumet
Tuku molen di pasar krempyeng
Ojo bosen ambi karya mommy Eng
πππ
Byee see you next story ππππ