
Bab 74. Hipertensi
^^^" Bagai serbuk dengan api. Sesuatu ( keadaan) yang mudah di pertemukan)"^^^
.
.
.
...πππ...
Pandu
Pintu kamar mandi di ruangan itu terlihat mengayun. Menampilkan Pandu yang kini menjengukkan kepalanya keluar usai ia membersihkan dirinya lalu mengenakan pakaiannya kembali.
Pakaian yang sama yang ia campakkan sesaat sebelum bercumbu bersama Fina. Yeah!
Ditatapnya seorang Serafina ya duduk terpekur sembari menghisap rokoknya. Menghadap ke arah luar dari atas balkon itu.
Wanita itu!
Pandu tahu jika Fina sudah tidak gadis lagi. Oh jelas tahu. Jalan bebas hambatan yang sebenarnya masih sangat sempit kala menggigit itu telak menjadi suatu bukti kongkret, jika selaput dara itu sudah lebih dulu ada yang merobeknya.
Lumrahkah di era saat ini? Maybe Yes!
Ia sebenarnya tidak terlalu kaget. Mengingat jika Fina bukanlah orang desa. Dan se ks jelas bukan hal tabu yang tak pernah wanita itu lakoni. Begitu pikirnya.
Apalagi sikap dan tindakan impulsif yang kerap di suguhkan Fina. Jelas menunjukkan jika wanita itu bukanlah wanita kuper. Begitu pikirnya.
Sebenarnya adalah sebuah kesalahan juga sih. Menyamaratakan tolok ukur sebuah kebebasan yang jelas tersaji di perkotaan, dengan keadaan diri seorang wanita. Ia sama brengseknya jika begitu. Mencicipi hal nikmat itu bersama Fina yang rupanya juga....sangat menikmati.
" Aku akan pulang!"
Ucap Pandu sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Berbicara dari arah belakang saat Fina masih tekun mengepulkan asap putih pekat yang kini memenuhi atmosfer ruangan itu.
.
.
Serafina
Ia baru saja melakukan hal gila namun membahagiakan dirinya. Hal gila yang selama ini menari-nari di otaknya. Bercumbu dengan Pandu.
Yeah, finally i get it!
Pria itu bukanlah orang amatir rupanya. Jelas bisa ia simpulkan dari cara bermainnya. Ia bahkan berkali- kali dibuat melayang meski keamanan jelas ia dapatkan.
Benar-benar berstamina bagus. Cocok dengan pencitraan tubuhnya yang tinggi tegap bermasa otot liat.
Namun, kini ia harus bersiap jika pria itu menurunkan standart penilaian terhadap dirinya. Cap pada dirinya pasti kini sudah berubah. Dari wanita nakal, menjadi wanita yang doyan kempret.
Persetan dengan itu! Ia adalah dirinya!
Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Pun dengan dirinya.
" Pergilah! Kau sudah tahu semuanya. Sekarang kamu bebas untuk pergi!" Ucapnya terdengar ironi.
Membuat Pandu tercenung.
Keperawanannya telah hilang di renggut Riko. Dan dengan tidak tahu malunya, ia kini telah memproduksi peluh bersama Pandu. Pria yang mengusik hatinya beberapa waktu terakhir.
Meski jujur, ia melakukannya dengan rela hati. Kedewasaan dan hal biologis jelas merupakan dua hal yang rupanya saling berkaitan.
Pandu tertegun menatap Fina yang terlihat khusyu merokok. Lebih tepatnya menatap iba.Ia merasa menjadi pria brengsek saat itu juga.
Hati Fina mendadak nyeri. Lagipula Pandu adalah pria normal bukan? Dan mungkin saja ia bukanlah wanita pertama yang ditiduri.
Mungkin.
" Apa aku melakukan kesalahan?" Suara Pandu terlihat muram. Membuat Fina kini mengernyitkan keningnya.
What?
.
.
Fina mengantar Pandu tepat di sebelah mall. Meski Pandu bercerita jika ia kini tinggal bersama pria bernama Mansur di bangunan samping mall itu, namun Pandu menolak untuk diantar lebih jauh lagi.
" Disini saja, kamu biar bisa cepat pulang. Ini sudah malam!"
Wanita itu sibuk dengan pikirannya sendiri. Apa Pandu akan meninggalkannya setelah ini? Setelah ia tahu jika....
" Terimakasih!" Ucap Pandu. Membuat lamunannya akan dirinya itu menguap. Entah mengapa kecanggungan mendadak mendominasi dua sejoli itu. Aneh sekali.
" Mmmm!" Jawab Fina bergumam. Ish!
Mereka sebenarnya sibuk mengatur diri mereka masing-masing usai dengan gilanya malah bercinta di ruangan kerja Fina. Nikmat mana lagi yang bisa mereka dustakan. Oh ya ampun.
" Tunggu!" Ucap Fina membuat langkah Pandu yang hendak membuka pintu mobil itu terhenti.
" Ya?" Jawab Pandu seramah mungkin.
CUP
Fina mengecup bibir Pandu sekilas. Membuat Pandu mendelik.
" Gue tahu elu pasti sekarang mikir gue cewek murahan. Dan itu bener. Tapi elo harus tahu Ndu. Gue suka sama elu!"
Hening.
Fina mengembuskan napasnya. Hatinya terlampau lega saat ini.
...πππ...
" Apa?" Riko terlihat berang kala menerima sebuah laporan jika Fina terlihat keluar bersama Pandu.
" Benar bos. Lihat!" Joni terlihat mengangsurkan sebuah ponsel yang memperlihatkan sebuah rekaman yang menunjukkan Pandu bersama Fina usai makan dari warung nasi goreng.
Dan benar saja, kegeraman hatinya berimbas pada keselamatan Guntoro pagi itu. Riko tanpa sepengetahuan orang tuanya kini menggunakan kesewenang-wenangannya untuk mencari Guntoro.
Resto Perahu Layar.
Ya, Riko mendatangi sebuah restoran yang terbilang besar di kawasan jalan Karimata. Restoran milik Guntoro yang menjadi lumbung terbesar sumber penghasilannya.
Riko meluapkan kekesalannya.
" Apa maksud kamu?" Emosi papa Fina itu terpantik. Dasar pria kurang aja!
" Jangan main-main kamu!" Guntoro benar-benar tak menyukai Riko. Apa maunya pria itu.
" Kami sudah pernah tidur bersama! Jadi pikirkanlah dua kali jika anda berniat untuk mencarikan pria lain untuk anak anda!"
Riko melempar selembar foto dirinya yang tidur satu selimut bersama Fina. Foto yang sengaja ia cetak dalam ukuran polaroid. Membuat jantung Guntoro bak di Hujam belati. Darahnya mendadak mendidih kala itu.
Brak!
Usai melempar foto itu. Riko terlihat membanting pintu ruangan Guntoro lalu melesat pergi dengan dada bergemuruh. Sial!.
.
.
Rumah Sakit Bhakti Sehat
Guntoro
Kedatangan Riko yang membawa kenyataan pahit itu membuat tekanan darahnya naik signifikan. Pria seusia Guntoro memang riskan terserang hipertensi.
Kesukaan Guntoro akan makanan asin dan gurih, justru memperparah kondisinya.
" Untung saja pasien cepat di bawa kemari Bu. Jika tidak, bisa berimplikasi pada struk pada tubuh pasien!"
" Saya infus agar takanan darahnya turun. Kita tunggu tensinya turun dulu, baru akan saya beri suntikan. Terlalu berbahaya jika menyuntikkan obat dalam kondisi pasien sedang bertekanan darah tinggi!"
Ucapan dokter itu sukses membuat Lidia mengangguk setuju. Dengan wajah muram, ia tak hentinya mengusap lembut tangan suaminya.
Guntoro terkikik mengembuskan napas penuh kebingungan. Mendengar berita yang di ucapkan Riko, kini ia merasa telah gagal menjadi orang tua yang mampu melindungi anaknya.
Ia sadar, selama ini jarang memberikan perhatian kepada Fina. Singkat kata, mereka telah salah pola asuh. Kesibukan akan usaha yang mereka tekuni, nyatanya memberikan efek domino negatif pada hidup putrinya.
Efek yang lupa untuk mereka sadari. Kenakalan.
" Papa jangan mikir macam-macam dulu. Udah! Nanti biar mama yang bicara sama Fina!"
.
.
Serafina
Ia belum tahu jika papa tengah berada di rumah sakit. Usai mengantar Pandu ia semalam langsung pulang sebenarnya.
Namun, tentu saja ia sangat lelah. Lelah usai berkeringat bersama Pandu yang...ah gila!.
Ia bangun bahkan saat matahari telah meninggi. Kini, tubuhnya berasa remuk. Mengapa bercinta itu selalu lebih melelahkan dari pada bekerja? Mungkin spa bisa membuatnya lebih segar. Ah ide bagus.
Namun ide yang sebenarnya sangat cemerlang itu mendadak hangus begitu saja, saat mbak Waroh mengetuk pintu seraya mengantarkan sarapan ke kamarnya.
" Tadi saya kira mbak Fina sakit. Saya diminta Ibuk buat nengokin tadi mbak. Dan ini udah siang, makanya saya bawa makannya kemari!"
Fina menatap ART- nya tak mengerti.
" Memangnya mama kemana mbak?"
" Ke rumah sakit mbak Bapak....masuk rumah sakit!"
Susu yang baru saja ia seruput itu langsung terjatuh di atas badcovernya, kala mendengar berita mengejutkan dari mbak Waroh.
.
.
Pandu
Ia masih berada di ruang fitness seorang diri usai menjalani latihan persenjataan bersama Theodor. Tubuh berkeringat itu terlihat terpantul dari dinding cermin besar di ruangan itu.
Seorang diri. Ya, lagipula bukankah semua anggota Kijang Kencana masih sakit hati kepadanya. Ya begitulah!
Napas kembang-kempis masih terdengar memburu dari mulut pria ganteng itu. Entah mengapa nikmat tubuh Fina serasa mengusik pikirannya. Jelas mengusik, itu adalah kali pertamanya bagi Pandu memasuki tubuh wanita.
Enggak percaya? Tapi itu benar adanya.
" Lagi apa?"
" Pandu!"
Sebuah pesan yang ia kirim membuatnya senyam-senyum? Dan hal itu mengingatkan kembali akan dirinya yang mengungkung dan memasuki tubuh Fina diatas sofa ruangan Fina.
Sofa yang rupanya mampu menahan bobot mereka berdua sewaktu asik memacu adrenalin seraya menghentak dengan kecepatan gila.
Oh Gosh!
CEKLEK
suara pintu terbuka membuat Pandu melirik seseorang yang datang, saat ia masih sibuk meneguk sebotol air mineral yang baru saja ia buka.
" Disini kau rupanya!" Ucap Theodor yang membuat Pandu menoleh.
" Ya, ada apa?" Ucap Pandu sesaat setelah sebotol minuman itu telah tandas ia teguk.
" Di cari bos, ada hal penting katanya!"
.
.
.
.
To be continued