
Bab 135. Rival sebenarnya
^^^" Cinta karena cinta, jangan tanyakan mengapa. Tak bisa jelaskan karena hati ini telah bicara?"^^^
^^^( Judika - Cinta)^^^
.
.
.
...πππ...
Ajisaka
Ia pikir persolan hidup terbesarnya ialah saat usahanya mengalami anjlok, atau saat anak buahnya tersangkut kasus hukum saat menjalankan tugas mereka. Namun, kini ia sadar. Rival terberatnya sebagai seorang pria adalah mencintai wanita yang masih menjadi istri orang dari segi hukum.
Benar-benar keluar jalur kan? Tapi itulah cinta. Mereka kerap buta, ngawur bahkan tak jarang kumuh, gembel dan rombeng.
Usai meninggalkan Yudha dengan segenap kebingungan yang pasti masih dirasakan oleh sahabatnya itu, ia kini berjalan menerjang hamparan tumbuhan pakis, rumput liar dan berbagai jenis tanaman tropis tebal di hutan Antaboga.
" Ah sial kenapa aku tadi gak ngasih tahu si Yudha dulu!" Ia lupa memberitahu Yudha untuk melapor ke Polhut.
Aji terus berjalan menyusuri jalan yang masih berhawa lembab. Pohon-pohon Pinus yang menjulang tinggi berdahan lebat itu semakin membuat aura mencekam.
Aji mengedarkan pandangannya, berusaha memasang telinganya betul-betul agar bisa menangkap gelombang suara yang mungkin saja itu berasal dari Wida. Sejenak ia tak percaya dengan apa yang dia lakukan saat ini, pria itu berusaha menyelamatkan seorang wanita dari kejaran suaminya sendiri?
Sial sial!
Pucuk dicita ulam pun tiba, dari tempatnya berdiri, saat ia sudah mulai gerah karena perjalanan yang sudah lumayan jauh, ia mendengar suara teriakan pria dari arah barat. Menurut dirinya tapi, karena saat itu ia masih bisa mengintip sorot fajar yang menyelinap dari celah pepohonan pagi itu.
" Itu pasti mereka!" Gumamnya sembari diam dengan wajah serius. Lambat laun, suara itu menghilang. Senyap tak berjejak.
Kini degan napas yang mulai tersengal, ia harus bisa memutuskan untuk memilih jalan mana yang harus ia tempuh. Jalan setapak menandakan jika kawasan ini jelas pernah di datangi orang
Kuat dugaan, Wida pasti telah masuk ke hutan lindung bagian terdalam. Tanpa menunda lagi, ia terus berjalan menuju arah barat. Tapi hingga berjalan lebih dari lima belas menit, ia belum lagi mendengar suara orang.
Ia akhirnya mendudukkan dirinya di belakang pohon Kecombrang yang lebat. Duduk berselanjar sambil mengatur napasnya, seraya mengecek ponsel yang berada di dalam tas pinggangnya.
" Duh! Enggak onok sinyal! ( Aduh! Enggak ada sinyal!)" Dengusnya mulai kesal. Aji mulai bernegatif thinking.
Namun, suara ranting yang terpijak sukses membuat Aji terdiam lalu berusaha mengintip dari celah pohon Honje/ Kecombrang itu.
" Wida? Syukurlah!"
Ia langsung berjalan mengendap sambil tersenyum tenang kala melihat perempuan yang ia cari tengah membungkuk badan karena kelelahan.
" Aku enggak kuat!" Ucap Wida yang tidak menyadari keberadaannya.
Tanpa bersuara, ia lantas menarik tangan Wida dengan cepat. Membuat wanita itu terlonjak kaget. Ia bisa melihat rona keterkejutan dari wajah Wida.
" Ma-mas Aji? Kenapa bisa..."
Aji merengkuh tubuh wanita itu ke pelukannya dalam sekali tarikan. Pria itu memeluk erat tubuh Wida yang mematung itu. Benar-benar kesempatan dalam kesempitan.
Rasa kasih rasa sayang menyelinap dalam hati Aji. Rasa yang baru pertama ia rasa kala berhadapan dengan lawan jenis.
" Kamu enggak apa-apa kan? Kenapa bisa begini? Ada apa sebenarnya?" Aji memberondong Wida dengan pertanyaan yang justru membuat wanita itu mengernyit heran.
.
.
Widaninggar
Berbagai pertanyaan kini satu persatu muncul dari dalam otaknya. Mengapa Ajisaka berada di sana? Dan, mengapa pria itu terlihat begitu mencemaskan dirinya.
Ia tertegun saat tubuhnya di tarik kedalam pelukan pria itu. Sialnya, ia yang belum bisa mencerna yang terjadi hanya bisa mematung dan lidahnya kelu.
"Kamu enggak apa-apa kan? Kenapa bisa begini? Ada apa sebenarnya?"
Ia menangkap kilatan kekhawatiran dari dua bola mata coklat milik Mas Aji. Kok bisa ada disini sih? Meski agak rikuh dan risih, jujur Wida bernapas lega. Pasalnya ia saat ini memang benar-benar membutuhkan pertolongan orang lain.
" Woy!!!"
" Sialan!"
Belum sempat salah satu pertanyaan dari keduanya terjawab, mereka kini dikejutkan oleh suara pria. Suara mas Pram. Praktis, Wida kini langsung bersembunyi di balik punggung lebar Aji dengan wajah ketakutan. Please help me now!
" Wow! Lihat ada siapa ini?" Mas Pram tersenyum mengejek ke arah Mas Aji. Sementara Wida terlihat ketakutan. Entahlah, ia kini tak mempersoalkan kenapa Ajisaka ada disana, ia lebih fokus kepada keselamatannya saat ini.
" Wid, kamu tenang ya!" Ia bahkan masih bisa mendengar suara lembut mas Aji yang ingin membuatnya tidak terlalu khawatir dan tidak menanggapi Mas Pram yang terlihat geram.
" Minggir kamu, saya mau bawa istri saya!" Mas Pram terlihat hendak menarik tangan Wida. Namun dengan cepat, Ajisaka menepis kasar tangan mas Pram.
" Singkirkan tangan kotormu!" Wajah datar mas Aji terlihat menakutkan.
Wida kini beringsut mundur karena aura kemarahan dua lelaki di depannya itu seolah ingin membakar dirinya. Dua pejantan yang hendak bertarung.
" Heh! Jangan kurang ajar kamu. Dia itu istri saya, saya suaminya! Minggir kamu! Gak usah ikut campur!" Mas Pram mendorong tubuh tegap mas Aji dengan keras.
Ia melihat tangan mas Aji yang bergerak ke belakang dengan maksud memintanya untuk sedikit menjauh dari mereka berdua. Seolah mewakili ucapan akulah pelindungmu!
" Suami?"
"Suami apa yang mau menyakiti istrinya sendiri, hah?" Wajah songong Aji sukses membuat Mas Pram menggertakkan giginya.
" Suami apa yang bisanya cuma ngsarin istri?" Mas Aji kini bersidekap menatap sengit Mas Pram.
Mas Pram menahan kegeraman sambil terus menatap mas Aji bengis, sungguh ia kini sangat ketakutan.
" Suami Anjing! Kau tahu! Kau ..adalah..Anjing!" Mas Aji mendekatkan dirinya ke depan tubuh Mas Pram seraya mengatakan hal itu dengan penuh penekanan. Membuat emosi Mas Pram Kuan tersulut.
" Banyak bacot!!!"
Hap!
Mas Aji berhasil mencekal kepalan tangan Mas Pram yang hendak meninju wajahnya. Dengan sekali tarikan, Mas Ajisaka memelintir tangan Mas Pram dengan gerakan cepat dan tidak terbaca.
" Argggggghhh!!!" Ringis Mas Pram menahan sakit. Jelas itu. Ia bahkan bisa melihat rahang Mas Aji yang mengetat kala melakukan gerakan itu.
Dengan sekali tendangan kaki yang memutar, Mas Aji menendang wajah Mas Pram hingga membuat suaminya itu kini terhuyung beberapa langkah ke belakang.
Membuat wajahnya kebas dan nyeri dalam waktu berbarengan.
" Jancok!" Umpat mas Pram yang berang karena merasa kesakitan. Pipinya terasa tebal dan berdenyut.
" Ayo Wid cepet kita lari!" Mas Aji dengan gerakan cepat menarik tangannya yang menggantung.
Ia tersentak dan tanpa sengaja malah memperhatikan tangan mas Aji yang kini menggenggam tangannya untuk berlari. Sentuhan itu?
Sungguh, ia nyaris saja tak bisa mengimbangi langkah mas Aji yang jenjang. Namun, ia kini juga harus berjuang dari kejaran mas Pram.
" Cari mati kalian, Asu!!!!" Ia bahkan bisa mendengar sumpah serapah dari Mas Pram yang kini mengejar dirinya. Suaranya kian meninggi, pun dengan kadar kemarahannya.
Oh tidak.
Berlari dalam keadaan perut kosong jelas membuat Wida tak memiliki energi lagi untuk berlari. Selain perutnya yang terasa sakit, kakinya juga mulai pegal dan nyeri.
Kini mereka semakin masuk ke dalam hutan. Dalam dan semakin dalam. Keringat yang semakin terproduksi itu, jelas menjadi penanda akan tubuh yang telah lelah.
" Aku capek mas, udah engga kuat!" Ia membungkukkan badannya dengan napas ngos-ngosan, seraya memegang lututnya yang terasa lemas. Wida merasa dehidrasi.
Ajisaka yang juga bernapas memburu kini terlihat mendecak geram, langkah mereka terkunci karena mereka rupanya berada di bibir jurang. Sial!
" Ya sudah kita berhenti dulu ya!" Ajisaka tak tega dengan Wida. Tenaga seorang wanita jelas tak sebanding dengan stamina dirinya yang jelas prima.
Wida hanya mengangguk, ia bahkan tak kuat hanya untuk sekedar menjawab ucapan.
" Mau lari kemana lagi hah?" Belum juga lelahnya sedikit terobati, kini ia kembali di kejutkan dengan suara mas Pram yang menemukannya.
Oh ya ampun!
Mas Pram tersenyum licik dan langsung mendekat lalu meninju Wajah Mas Aji.
BUG
" Mas!" Wida berteriak kala suami biadabnya kini mencengkeram kerah jaket Mas Aji. Ia sempat mendengar suara rintihan kecil Mas Aji usai di hadiahi bogem mentah dari Mas Pram.
BUG
" Siap Lo? Selingkuhannya, hah?" Tanya Mas Pram yang terlihat murka sambil mencengkram kerah jaket Mas Aji. Tubuh Wida benar-benar bergetar. Entah mengapa ia takut jika Mas Pram akan melukai Mas Aji.
Tunggu dulu, are you serious?
PRUKK
Mas Aji terlihat melepaskan cengkeraman tangan lalu mendorong kasar tubuh mas Pram. Saling melempar tatapan sengit. Cuih!!
" Kalau iya memang kenapa?" Jawab Aji dengan ketus dan seolah menantang.
Jawaban Ajisaka benar-benar membuat Wida menggelengkan kepalanya. Pria bodoh! Kenapa malah memperkeruh masalah sih? Ya ampun!
Mata mas Pram seolah hendak keluar dari sarangnya. Apakah kecemburuan masih tertinggal dalam diri suami durhaka macam Mas Pram?
" Lon te!!!!" Tukas Mas Pram menatap bengis ke arahnya.
Dadanya bergemuruh saat itu juga, kala mulut kotor mas Pram menyebutnya dengan ucapan tak beralasan itu. Bukankah selama ini yang dzolim adalah Mas Pram?
" Kalau aku Lon te terus kamu apa, hah?" Wida angkat suara dengan emosi yang sudah memuncak. Lelah, jengah, muak. Sudah cukup!
Wida yang sudah lelah dengan semuanya. Semua yang terjadi dalam hidupnya. Membuat Aji kini menoleh ke arah Wida yang suaranya sudah bergetar. Pria itu terlihat menatap dirinya dengan wajah muram.
"Kamu jual aku ke Joni? Mukulin aku tiap kali kamu kalah judi, mabuk! Enggak pernah mau peduli sama Damar!"
" Kalau aku yang cuma bisa diem dan nurut masih kamu sebut Lon te, terus kamu apa hah?"
Dengan bercucuran air mata dan dengan suara yang bergetar, Wida melampiaskan emosi yang menyesakkan dadanya. Cinta yang ia beri sepenuh hati nyatanya tak sesuai dengan apa yang ia terima.
Ajisaka dibuat terperangah dengan ucapan Wida baru saja. Wanita itu benar-benar mengalami kesulitan hidup yang sangat pelik pikirnya.
.
.
Pramono
Meski sedikit tertegun karena tertampar oleh ucapan Wida, namun Pram kini seolah tak peduli. Ini sudah kepalang tanggung. Ya, dia memang bajingan. Yang ia inginkan hanyalah membawa Wida kembali dan membuat hutang-hutangnya lunas.
" Bacot!!!" Ia hendak menyerang Wida, namun lagi-lagi pria berwajah rupawan itu pasang badan untuk istrinya. Entah mengapa pria itu bisa berada diantara mereka, ia sendiri juga tidak paham.
" Hanya pria pengecut yang berani dengan perempuan!" Ucap Aji berang. Apalagi setelah mendengar penuturan Wida yang begitu menyayat hatinya.
" Anjing! Gue matiin juga kalian berdua!" Pram telah berada di ambang batas kesabarannya.
Perkelahian pun tak terelakkan. Saling tendangan, saling pukul, saling melempar tinju ke wajah satu sama lain. Wida hanya bisa berteriak, dan menahan ketakutan.
" Mas Aji!" Hatinya iblisnya bahkan masih sempat merasakan sakit kala wanita itu menyebut nama pria yang menjadi lawannya saat ini.
BUG
Pram berhasil memungkasi perkelahian itu, dengan menendang perut Aji yang membuat pria itu terhuyung dengan keras ke arah belakang lalu menimpa tubuh Wida, topografi tempat yang kurang menguntungkan itu kini membawa petaka bagi Aji dan Wida.
Detik itu juga tubuh Wida dan Aji bergulir ke jurang.
Membuat Pram mendelik lantaran terkejut akan apa yang ia lihat. Ia tak sengaja membuat dua manusia itu jatuh kedalam jurang.
" Bagaimana ini?" Ia bergumam dengan resah. Bingung dan takut.
Merasa ketakutan akan apa yang ia lakukan, dan potensi-potensi yang tidak-tidak jika ia tetap berada dianai, membuat ia kini beringsut mundur dengan hati ketakutan.
" Tidak! Aku harus kabur. Mati- mati Lo!"
Ia meludah ke tanah simbol dari menyumpahi Wida dan Aji yang saat ini terus merosot ke bawah. Dua matanya masih mengiringi dua manusia yang bergulir ke bawah dengan kondisi yang tak di ketahui itu. Berharap dua manusia itu mati.
Ia menoleh kesana-kemari, sejurus kemudian ia kabur dan meninggalkan dua manusia yang jatuh ke dasar jurang itu dengan perasaan puas.
.
.
.
.