Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 41. Serangan yang tak main-main



Bab 41. Serangan yang tak main-main


^^^" Orang kerap salah mengartikan kebisuan kita dengan sebuah kelemahan. Mereka lupa, bahwa hanya anjing yang sering menggonggong. Bukan Harimau!"^^^


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


.


.


.


Pandu


Ambisi dan kenekatan telah lama ia tinggalkan. Menjadi diam dengan tidak melawan rupanya justru di salah artikan orang lain. Ia di anggap lemah.


Ia tidak tahu siapa yang berani berbuat keji terhadap keluarganya. Pandu meminta Yudha untuk mengantar ibunya. Sementara dia sendiri, melesat dengan kencang menuju rumahnya.


Di perjalanan ia sempat merenung, masih adakah kesabaran di hatinya? bila ketabahannya di hatinya telah kehilangan makna.


Ia bahkan sempat melihat Fina yang berjalan berlawanan arah dengan dirinya. Entah darimana wanita itu, yang jelas ia berjalan dengan seorang wanita seusia ibunya namun terlihat cantik dan lebih terawat.


" Ndu!" sapa wanita itu yang terpaksa ia abaikan. Saat ini pikirannya benar-benar kalut. Cemas dan terburu-buru.


Pandu tak sempat menyapa, ia terus menarik gasnya dengan cepat. Hanya terpikirkan dengan keadaan dirumahnya. Ayudya.


.


.


Serafina


Sepeninggal Kemal dan rizal tempo hari dari rumah neneknya, ia di kejutkan dengan kedatangan Papa dan mamanya. Sempat bingung harus berbuat apa namun justru Tuan Guntoro lah yang memeluk dirinya dengan rasa syukur dan merasa bersalah.


" Maafin Papa nak!"


Singkat cerita kejadian pasca kecelakaan itu membuat Guntoro merasa bersalah. Pria itu ingin mengajak Fina pulang namun di tolak olehnya. Alhasil, kini Nyonya Lidia ingin tinggal beberapa waktu di desa sembari membujuk anaknya untuk pulang.


Wanita itu jelas merindukan putrinya.


Ia dan mamanya baru saja keluar sebentar untuk jalan- jalan. Tak di nyana, ia bertemu dengan Pandu yang terlihat mengendarai motornya dari arah berlawanan.


"Ndu!" Ucapnya dengan wajah berbinar namun yang di sapa justru tetap melesat kencang dengan motor bersuara bising itu.


Ia kecewa sekaligus bingung, ada apa sebenarnya. Mengapa pria itu cuek kepada dirinya?


" Siapa Fin? kok kamu sapa diam saja!" ucap nyonya Lidia yang melihat wajah anaknya sedikit muram.


" Temenku ma, gak tahu kok serius banget!"


Fina nampak berpikir.


.


.


Yudhasoka


Ia akan mensurvei lokasi rumah salah satu nasabah yang akan mengajukan kredit modal usaha dalam jumlah besar di bank tempat dia bekerja.


Rumah warga itu lumayan jauh, berbeda dusun dari rumahnya. Ia memilih melewati jalur pintas saja dengan melintasi hutan, yang aksesnya harus melewati rumah Pandu terlebih dahulu.


Dari kejauhan ia bisa melihat mobil bagus berjajar rapih, namun matanya membulat demi melihat jika orang yang keluar dari dalam mobil itu langsung merusak rumah Pandu.


Yudha tentu saja gemetaran, mengingat ia hanya seorang diri. Sangat berbahaya jika ia kesana. Iya yakin Pandu pergi lantaran ia tak melihat motor sahabatnya itu baik di halaman maupun tempat yang biasa Pandu gunakan untuk memarkirkan motornya


Ia bisa mengingat dengan jelas bila mereka semua memakai penutup kepala dan plat nomor mobil yang telah dilepas.


Yudha bahkan melupakan tujuannya untuk lewat disitu. Ia memutar balik motornya dengan cepat. Persetan dengan urusan survei pikirnya.


" Man, si Pandu ada lewat gak. Itu rumahnya kok di obrak- abrik orang !" tukas Yudha kepada Man Roni dengan wajah pias.


" Apa? Di obrak-abrik gimana? Barusan Lik Sarip beli bensin ke sini cerita kalau lapak ibunya si Pandu di rusak orang di pasar, makanya si Pandu kesana!" Man Roni tak kalah paniknya.


" Apa?"


" Sial!" umpat Yudha, jelas ini bukan persoalan main- main.


.


.


Pandu melihat seorang pria yang tersenyum seraya menepuk pundak seroang pria yang memakai penutup kepala dari jarak berkisar lima puluh meter.


Pria itu berpakaian rapi dan terlihat seperti orang kaya. " Apa mereka yang berbuat semua ini?"


Pria itu menatap Pandu yang datang lalu segera masuk ke dalam mobilnya dengan terburu-buru. Mungkin menyadari jika si pemilik rumah telah datang.


Dengan perasaan bercampur aduk, Pandu memasuki rumahnya yang pintunya sudah terjeblak tanpa memperdulikan lagi kesemua pria yang ada di ujung jalan tersebut.


Dan betapa terkejutnya saat pemandangan di depannya menampilkan adiknya yang sudah tergeletak.


" Ayuk!"


" Ayuk!" Pandu berteriak demi melihat adiknya yang tak berdaya seraya memejamkan matanya.


" Yuk!" Wajah Pandu pias begitu melihat perut adiknya yang bersimbah darah. Tubuh Pandu kini gemetar, nafasnya memburu.


Detik yang sama terdengar derap langkah orang banyak yang berduyun-duyun datang kerumah Pandu.


" Pandu!"


" Astaga!"


" Ya Allah, ayo tolongin ini bapak ibu!" ucap Man Roni yang benar-benar terkejut dengan semua ini. Telah terjadi aksi penusukan.


Suara orang-orang itu terdengar terkejut. Mereka lantas berduyun-duyun datang untuk menolong.


" Sigit! cepat ambil mobilmu, kita bawa Ayu ke UGD!" titah Man Roni yang semakin cemas.


" Ayo Ndu kita cepat bawa Ayuk ke UGD Puskesmas dulu,adikmu tertusuk!"


Seketika keadaan menjadi kacau.


.


.


Unit Gawat Darurat


Puskemas Karanganyar


Pandu mengeraskan rahangnya kala mendengar cerita bila tetangganya tadi sempat di intimidasi oleh kelompok misterius yang menyerang rumah Pandu.


" Kita gak berani Ndu, mereka nodongin senjata tadi ke kita. Mereka banyak banget!"


" Kita gak tahu kalau adikmu ada di dalam, soalnya pintumu tertutup!" Pandu memang senagaja menutup pintu rumahnya karena adiknya tadi sedang tertidur.


" maaf Ndu tapi kita tadi bener- bener gak bisa melawan!"


" Tadi mereka sampai jaga di jalan Ndu, gak kasih kita kesempatan buat keluar!"


Ucap beberapa tetangganya dengan wajah pucat saat menceritakan hal itu. Tergambar jelas bila mereka masih ketakutan.


Pandu menatap ibunya yang tertunduk menangis sembari di peluk Bik Indamah, istri Lik Sarip. Hatinya terasa nyeri dan pilu. Mengapa hidupnya selalu dirundung petaka.


Yudha berpamitan pulang terlebih dahulu karena ingin mengganti bajunya, pria itu bahkan melupakan tugasnya untuk mensurvei lokasi. Berjanji akan segera kembali dan menemani Pandu.


Pandu kini tengah menunggu di luar UGD, menunggu adiknya yang tengah di tangani.


" Maaf Pak, luka dari adik anda terbilang dalam. Peralatan kami kurang memadai, adik anda harus di rujuk ke rumah sakit untuk di operasi sekarang juga!"


Setali tiga uang dengan rasa cemasnya kepada ibunya, kini Pandu juga merasakan hal yang sama kala mendengar penuturan petugas medis itu.


Tanpa berpikir panjang ia kemudian kemudian berucap " Lakukan saja apa yang menurut anda baik!"


Mendengar kata rumah sakit jelas lekat dengan biaya yang besar. Pandu memiliki sedikit simpanan, tak masalah baginya. Yang penting adalah keselamatan Ayu. Meski ada sedikit keraguan lantaran ia tidak tahu, apa jumlah uang simpanannya akan cukup atau kurang.


Di waktu bersamaan, Dita yang baru keluar dari poli umum terkejut menatap Pandu yang terlihat kacau " Mas Pandu!"


.


.


.


.


.


To be continued.