Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 188. Seberkas sinar harapan



Bab 188. Seberkas sinar harapan


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Widaninggar


Wida sama sekali tak mengira jika bungkusan yang menjadi sebab musabab jatuhnya Aji ialah jajanan untuk anaknya. Astaga pria itu!


Ia juga sebenarnya menahan tawanya sedari tadi. Bagiamana bisa Ajisaka terjungkal saat tanah di halaman rumahnya tengah rata begitu.


" Wid, ajak Pak Aji masuk! Malah ketawa kamu!" Ibu menegur Wida yang masih menutup mulutnya demi menahan suaranya.


Ia bahkan bisa melihat dengan jelas, jika Sukron turut terkekeh. Oh astaga. Jelas ada udang di balik batu.


" Masuk mas silahkan. Aku..buatin minum dulu ya?" Ucap Wida sejurus kemudian.


" Iya, Wid kamu kapan pulang kok enggak ada ngasih tau ak..."


" Om Aji?" Damar muncul dari arah belakang rumah itu. Membuat ucapannya menguap ke udara. Bocah lima tahun itu terlihat sumringah. Sepertinya, ibu memanggil bocah itu untuk kedepan.


Ibu tahu, jajan sebanyak itu jelas di peruntukan untuk Damar.


" Damar, sini! Ini Om Aji beliin jajan buat kamu nih!" Sukron lebih dulu menyahut ketimbang Aji. Membuat juragan itu mendengus kesal pada Sukron.


" Beneran Om?" Damar seketika menatap Ajisaka dengan mata berbinar. Cenderung bahagia.


" Iya, semua buat Damar!"


Ajisaka mengelus rambut bocah yang kini terlihat sumringah itu. Sejurus kemudian pandangannya beralih kepada Wida yang juga terlihat senang demi melihat binar kebahagiaan di kilatan mata jernih Damar.


Matur nuwun mas!


Usai mempersilakan Aji untuk duduk, Wida pergi menuju ke dapur. Tak di sangka, sewaktu telah berada di belakang, ia berpapasan dengan kang Darman yang hendak menuju ke depan.


" Siapa? Pria itu?" Tanya kang Darman dengan wajah datar. Jelas kakangnya itu pasti mendengar suara riuh dari belakang sedari tadi.


Ia mengangguk, tak berani menatap mata kakangnya. Mengingat kakangnya yang masih kadang kesal dengan Ajisaka yang tempo hari sempat menjotosnya dengan ngawur.


" Wid, cepat buatin minum. Man, kamu kedepan!" Ibu meminta kakang untuk menemui tamu di depannya. Tak baik jika menganggurkan tamu terlalu lama.


" Kenapa Ibu meminta kakang kedepan?"


Di Dapur,


Ia bukannya tak tahu jika Ibu terus memandanginya saat ia sibuk merebus air dalam panci aluminium untuk menyeduh kopi.


" Bapakmu sungkan mau tanya ke Pak Aji. Jadi biar kakangmu yang kesana!"


" Biar semaunya jelas!"


Ia masih diam dan berlama-lama menata gelas di nampan demi mendengar ibunya yang serius dalam berbicara.


" Tapi menurut ibuk, mana ada orang yang enggak serius kalau sudah begitu!"


Kini ia mendengarkan sembari membuka bungkus demi bungkus kopi buatan pabrik dengan manufaktur by Delta Group itu.


" Jadi biar kakangmu yang memastikan sekali lagi!"


Ia mulai memasukkan satu persatu kopi susu sachet itu kedalam dua cangkir gelas. Sama sekali tak menyangka jika akan seperti ini.


" Kebetulan orangnya kesini. Jadi ya...biar sekarang aja di tanya maunya bagaimana."


" Kalau Ibuk manut ( nurut) sama kamu. Koe sing ngelakoni ( kamu yang menjalani). Baiknya gimana. Wong kita ini memang orang enggak ada!"


Ia mematikan kompor saat air dalam panci itu telah mendidih. Matanya sudah mulai memanas sebenarnya. Perkataan Ibunya menyentuh relung hatinya yang terdalam.


"Kamu beneran mau sama adik saya?"


Sayup- sayup suara kakang membuatnya tersentak. Saudara tuanya itu memang seringnya tidak mau basa-basi saat mengobrol. Membuat ia dan Ibuk saling menatap.


" Beginilah keadaan kami...Kami ini wong cilik dan bukan siapa-siapa!"


Ia mengaduk minuman itu dengan pelan demi menguping suara samar-samar, yang terdengar semakin mencekam, usai Damar di bawa Sukron keluar.


Ya ampun.


"Saya dengar, kamu ini dulu juragannya Bapak saya kan?"


" Apa kamu enggak takut malu?"


Wida berdiri seraya terdiam. Astaga, kenapa menegangkan begini jadinya. Apa kang Darman tidak setuju? Kalau mas Aji tidak terima bagiamana?


Sial, Wida justru teringat saat ia bersama Aji telah kebablasan beberapa waktu lalu.


" Saya enggak mau adik saya gagal untuk kedua kalinya. Kami ini miskin dan sengsara. Sementara kamu..."


Wida menggigit kukunya demi menahan kekhawatiran dalam dirinya. Sebenarnya, ia mulai menyukai Ajisaka. Pria nekat dengan segala kurang lebihnya itu, merupakan pria yang mampu dan bisa ,serta tahu dan mengerti caranya memperlakukan wanita.


DEG


Tubuhnya mendadak tegang dan wajahnya meremang demi mendengar suara bass , yang kini mengambil alih pembicara.


"Saya tidak pernah sedikitpun mempermasalahkan status sosial siapapun!"


Detak jantungnya kian tak beres manakala, suara Ajisaka kini terdengar menggebu. Ibu seketika bangun dan mengusap punggungnya sebab wanita tua itu tahu jika ia tengah gemetar.


" Jangan keluar dulu, biar kakangmu menyelesaikan tugasnya!" Bisik Ibu yang semakin membuatnya tegang.


Kalau mereka ribut bagaimana?


" Wanita di uji saat pria tak memiliki apa-apa!"


" Dan pria akan diuji saat ia memiliki semua yang ia harapkan!"


Wida sempat menggigit bibir bawahnya saat mendengar kakak laki-lakinya itu berkata dengan penuh nada sendu.


" Intinya saya hanya tidak ingin di hari-hari depan, adik saya akan mengalami hal-hal yang tidak kami harapkan!"


" Kang!"


Mendengar dua pria di depan itu terlibat perbincangan alot, membuat Wida ingin segera keluar saja. Ia takut jika akan terjadi perkelahian lagi. Mengingat Ajisaka merupakan sosok yang tempramen.


" Jangan, tunggu sebentar!" Ia sempat mendesis tak percaya saat Ibu malah mencegahnya untuk keluar.


" Jika orang lain melihat saya sebagai pria berduit yang di kelilingi banyak orang, dan bahkan banyak yang mengatakan jika saya ini tempramen atau apa, tapi ijinkan saya mendefinisikan secara pribadi siapa saya sebenernya!"


" Saya hanyalah seorang pria kesepian, yang sedari kecil tak pernah merasakan sentuhan kelembutan kasih sayang keluarga. Yang saya tahu hanya bekerja dan bekerja!"


" Dan saat saya bertemu Wida, entah mengapa dorongan ingin melindungi itu sangat kuat. Terlebih...saya merasa terurus dengan sikap Wida kang!"


" Saya ingin di dampingi oleh wanita seperti Wida kang...Wanita tangguh yang tidak mau berpangku tangan walau hidupnya di terpa persoalan!"


Mata Widaninggar berkaca-kaca demi mendengar luapan perkataan dari relung hati Ajisaka detik itu juga. Ia menatap ibu yang kini tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.


Pria ya... harusnya memang seperti itu. Mau datang dan berbicara terus terang. Bukan malah berlaku kasar. Ia teringat dengan mantan suaminya yang sepertinya seorang Psyco.


" Tolong ijinkan dan restui saya untuk menjadi bapaknya Damar kang?"


Pertahanan Wida ambrol. Wanita itu kini menangis. Sama sekali tak mengira jika Ajisaka benar-benar serius kepada dirinya yang sarat keterbatasan itu.


" Udah!" Ibu mengusap punggungnya yang semakin bergetar. Tak mengira jika masih ada pria yang mau merendahkan diri untuk menerima dirinya.


" Kalau begitu siapkan stok kesabaranmu yang banyak. Karena sekalipun kami sebenarnya memang sudah merestui, urusan perceraian itu masih belum kelar. Jadi...."


" Apa perlu saya carikan pengacara?"


" Cepat keluar Wid!" Ibu segera memintanya keluar begitu merasa apa yang hendak di sampaikan kang Darman telah rampung.


Ia menyibak tirai penutup jalan itu menggunakan tangan kirinya, dan tangan satunya lagi membawa nampan berisikan dua cangkir kopi.


Membuat dua pria di depannya seketika menghentikan perbincangannya.


" Kopinya mas!" Ucap Wida menyerahkan satu persatu kopi ke hadapan Aji. Ia tahu jika pria itu sudah mengincarnya dengan tatapan sedari ia menyibakkan kelambu.


" Ehem!"


" Wid, aku mau nyusul Bapak dulu ke sawah!" Ucap kang Darman sesaat setelah ia menyajikan minuman itu.


.


.


Ajisaka


Aji menjengukkan kepalanya melihat ke arah luar, dimana Sukron terlihat ngemong Damar dengan baik. Sepertinya ia bisa menyewa Sukron saat malam pertamanya nanti. Ahay!


Ia juga melirik gawang tertutup kelambu yang menuju ke arah dapur itu secar saksama. Memastikan jika Ibu Wida tidak sedang mengintip.


" Wid, aku kangen!" Bisik Aji memegang tangan Wida saat wanita itu memangku nampan dan duduk berjarak dengan dirinya.


" Mas!" Wida mendecih sebal demi melihat tangan Aji yang sudah meremas tangannya pelan. Dasar geratilan!


" Wid? Kangen!" Wajah Aji bahkan terlihat dua kali lipat lebih manja dari Damar. Dasar!


" Kurang berapa bulan lagi sih? Tapi boleh jalan kan?"


" Nanti kita beli handphone baru ya. Biar bebas kalau aku kang..."


" Ibuk!!!!"


Seketika Aji menarik tangannya saat bocah berkaos kuning itu kembali ke ruang tamu. Astaga, interupsi selalu datang saat tanggung-tanggungya.


.


.


.