Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 198. Menantang nurani



Bab 198. Menantang nurani


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Riko


Dua pria yang sejatinya memang memiliki hubungan darah itu , kini menatap menerawang ke angkasa dari lantai tiga bengkel besar milik Pandu.


Berteman sapuan angin yang membuat rambut mereka berterbangan. Pun dengan pakaian yang mereka kenakan.


" Apa maumu?" Tanya Pandu kepada Riko yang kini lebih terlihat gemuk. Wajahnya juga terlihat lebih segar.


" Tidakkah kau rindu dengan ku? Kau ini tidak bisa santai sedikit ya?" Tanya Riko menatap Pandu dengan cengengesan.


Pandu bergeming. Wajahnya tak menampilkan ekspresi sewaktu berkumpul bersama para sahabatnya. Ia kini menjadi dingin dan antipati terhadap Riko.


Mau apa pria itu datang lagi kemari pikirnya.


" Aku baru saja di rehabilitasi!" Riko menatap menengadah ke langit dengan tatapan sumbang. Membuat Pandu melirik pria dengan pakaian yang saat ini terlihat lebih sederhana itu.


" Aku sudah mendengar berita jika ibumu menikahi pemilik group KJ. Tidak kusangka!"


Riko tersenyum kecut. Masih tak mempedulikan Pandu yang kini mulai mengeraskan rahangnya.


" Jangan basa-basi Riko. Cepat katakan mau apa kau kemari?" Ucap Pandu kian tak sabar. Adiknya itu benar-benar semakin mengikis kesabarannya.


" Aku minta maaf!"


Ucap Riko menatap lekat dua netra Pandu yang sudah mengandung nyala api kemarahan. Membuat suasana sejenak hening.


Pandu menelan ludahnya demi melihat mata Riko yang sudah mulai mengembun. Terpancar sinar ketulusan, letih, juga tatapan mengiba yang tak bisa di tutupi lagi.


" Papa membutuhkanmu!"


.


.


Rumah Pandu


Pukul 19.15


" Ndu...kamu masih percaya sama Riko setelah semua yang terjadi? Enggak...aku enggak rela kamu menemui Om Hartadi, apalagi sama Riko Ndu?"


Fina bahkan nekat mendatangi rumah Pandu sesaat setelah ia kesal karena berdebat di ponsel, terkait Pandu yang menceritakan kedatangan Riko ke bengkelnya tadi siang. Pun dengan sejumput niatan ingin menemui Hartadi yang kabarnya sudah tak berdaya.


Pandu masih tertegun dengan wajah menimbang.


" Papa mencoba bunuh diri setelah tahu kabar Tante Ambar menikah dengan pria pemilik Kijang Kencana itu!"


" Kehormatan, kekayaan, integritas...semua lenyap dalam sekejap!"


Pandu juga masih ingat betul senyum sumbang yang terus terukir dari wajah Riko sewaktu pria itu memohon. Pandu seketika mengiba demi melihat seraut layu yang ada di hadapannya tadi.


" Mama stroke dan tidak bisa di ajak komunikasi!"


" Meskipun kau menyangkal jika papa bukankah orang tuamu. Tapi nyatanya hanya darah yang ada dalam tubuhmu lah yang bisa menyelamatkan nyawa papa!"


Membuat Pandu bagai berasa di persimpangan pilihan yang rumit. Antara ego dan juga rasa kemanusiaan yang lekas tergugah.


" Aku kesini dengan membawa segala harga diriku yang tersisa! Memohon agar kau yang diberikan kebijaksanaan lebih, mau sedikit bermurah hati menolongku!"


Fina menatap kesal ke arah Pandu yang justru bergelut dengan pemikirannya sendiri. Bagaimanapun juga, nuraninya terkoyak saat Riko dengan sendunya mengatakan hal itu.


" Fin! Kau tahu apa yang seringkali membuat orang lain menyesal?"


Ucap Pandu kini menatap Fina yang sudah bersungut-sungut. Mencoba memberikan pengertian.


Fina menggeleng dengan wajah muram.


" Orang yang sebenarnya bisa bahkan mampu melakukannya, tapi entah mengapa dia memilih untuk tidak melakukannya!"


Fina mengernyit. What the mean?


" Papaku dulu sebenarnya kalau mau sedikit saja berusaha keras mencari ku, pasti akan ketemu!"


Membuat Pandu seketika mengharu biru.


" Dan saat ini...aku tidak mau menjadi orang yang menyesal Fin!" Ucap Pandu meremas tangan Fina yang sedari tadi ia genggam.


"Antara Ibu dengan pria itu memang sudah tidak memiliki ikatan apapun. Tapi aku dengan Hartadi...dialah alasan utama aku berada di dunia ini!"


Fina mengiba kala menatap wajah Pandu yang kini murung dan terlihat berada di jurang keresahan. Pandu jelas berperang dengan dirinya sendiri saat ini.


" Maafin aku!" Fina memeluk Pandu dengan posesif. Ia hanya tidak mau sesuatu terjadi kepada pria yang sangat ia cintai itu. Sungguh.


" It's Ok!" Jawab Pandu mencium puncak kepala Fina dengan segenap rasa sayang.


" Kalau gitu aku ikut. Please jangan di tolak. Aku cuma pingin mastiin kamu baik-baik aja!"


Fina mendongak menatap Pandu yang kini sudah menatapnya dari jarak yang sangat dekat. Hembusan napas pria itu bisa Fina rasakan hangat dan harum.


Pandu mengangguk. Membuat Fina tersenyum lega.


Sejurus kemudian mereka berdua memejamkan matanya kala bibir mereka saling menyambut. Hangat dan penuh gairah.


Berjanjilah untuk selalu baik-baik saja sayang.


.


.