
Bab 146. Bertemu penolong
^^^" Dari kesemua urusan. Kenapa urusan dengan perempuan lah yang selalu membuat semuanya menjadi runyam!"^^^
.
.
.
...πππ...
Ajisaka
Ia marah besar begitu mengetahui jika kemungkinan makanan itu berasal dari Widaninggar. Oh astaga, kenapa dia bisa kecolongan dan meragukan wanita itu?
Menurut penuturan Buk Esi, tidak ada nama Damar di kawasan situ. Dan kebanyakan orang desa memang menamai perkakas atau perabot mereka dengan nama keluarga mereka.
" Kron...Sukron!" Ia melawati jajaran pria yang berdiri menatap dirinya yang sudah emosi tingkat tinggi.
Cuping hidung Sakti, Yudha dan Pandu bahkan bisa dengan jelas mencium aroma kemarahan dari pria bersorot mata tajam itu. Jelas Aji sudah sangat marah.
Sukron yang merasa namanya di panggil, terlihat tergopoh-gopoh memenuhi panggilan sang juragan. Ada apa lagi ini? Pikir Sukron menerka.
" Saya bos!" Tutur Sukron yang mulai merasa merinding. Nada bicara bosnya saja sudah jelas mengindikasikan jika pria itu tengah berang. Oh astaga.
" Kamu kenapa nggak ada bilang ke saya kalau ada yang kirim makanan kemari!" Wajah Ajisaka sudah memerah. Sukron kini menatap ke arah belakang, dimana ketiga pria dan ibunya turut menyusul kedalam.
" Nih, tadi Ibuk nemu ini di belakang. Ibuk kan kemaren gak ada disini" Buk Esi juga menimpali ucapan Ajisaka dengan menunjukkan rantang kepada anaknya.
"Tadi kucing nyeker- nyeker ini di belakang. Kekubur sama tumpukan sampah lagi tadi!"
Membuat Sukron mengerutkan keningnya. Rantang siapa itu?Ketiga pria itu turut menatap Sukron dengan tatapan mengintimidasi.
" Bos, kan saya kemaren nungguin bos mulai siang sampai sore!" Sukron mencoba mengingatkan Ajisaka.
Ia terlihat berpikir sejenak. Benar, dia ingat sekarang. Ia mengusir Desinta dan bik Arning untuk makan diluar. Sementara ia dan Sukron makan di kamar.
" Malah bos nanya ke saya soal hp punya bos enggak ketemu, terus ternyata bos manggil Desinta kan?" Sukron mencoba menjelaskan kembali. Makanya bos, jangan keburu nesu nesu!
Aji menggertakkan giginya. Kini ia ingat. Jelas ini perbuatan Desinta dan bibinya.
" Desinta!"
.
.
Desinta
Ia tengah melakukan perawatan wajah dengan mendempul seluruh bagian wajahnya kecuali area mata dengan masker bengkoang putih, saat Ajisaka mendatangi kediaman Desinta.
Ia harus cantik dan glowing. Ya meski semua pria incarannya tak pernah tertarik akan hal itu.
" Mas Aji?" Desinta terlonjak kegirangan. Pasalnya mengapa Ajisaka sepagi itu sudah datang kerumahnya?
Apa pria itu sudah berubah pikiran?
" Des keluar kamu!" Teriak Ajisaka.
" Des!!"
Widiantoro yang merasa nama anaknya di teriaki dari arah luar, seketika menyambut kedatangan Ajisaka bersama ketiga temannya dengan wajah kesal.
" Ada apa ini? Kenapa teriak-teriak?" Widiantoro sedikit menunjukkan kemarahannya. Pria muda yang tidak sopan.
" Mana Desinta, minta dia keluar saya mau bicara!" Aji bahkan sudah tak mengindahkan jika Widiantoro itu juga merupakan orang tua.
Persetan dengan kesopanan.
" Mas Aji!" Desinta rupanya membasuh wajahnya terlebih dahulu. Tak mungkin ia menemui Ajisaka dengan wajah mirip kuntilanak.
Aji menatap geram Desinta.
" Siapa yang ngasih makanan kerumah kemarin?" Tanya Ajisaka degan rahang mengeras. Benar-benar tak mau basa-basi.
" Makanan? Makanan apa?" Jawab Desinta yang mulai kelabakan. Seingat dia makanan itu sudah ia buang dan ia tumpuk dengan berbagi macam sampah.
" Kamu enggak usah pura-pura..!"
" Rantang putih itu punya siapa, ada yang ngasih aku makanan kan?" Tutur Aji makin tak sabar.
" Jaga suaramu! Enggak usah bentak-bentak anak saya!" Sergah Widiantoro yang tak terima anaknya di perlakukan kasar.
Aji mendatangi Widiantoro dan menatap tajam pria itu. Ia tak memiliki stok kesabaran yang banyak seperti orang lain.
" Saya enggak ada urusan sama kamu. Dan kalau saya bentak memangnya kenapa?" Aji mencengkeram kerah baju pria itu. Membuat suasana menjadi menegangkan.
Widiantoro mendadak dibuat takut.
" Pa!" Teriak Desinta yang mulai ketakutan. Duh, kenapa urusannya malah runyam begini sih cuma gara-gara makanan?
Penting banget ya makanan itu? Pikir Desinta yang tak habis-habisnya.
" Aji! Tahan Ji!" Pandu menarik jaket Ajisaka, pun dengan Yudha yang kini berusaha memisahkan cengkraman tangan Aji. Membuat Widiantoro kian ketakutan.
" Siapa jawab!" Aji kini membentak Desinta yang tubuhnya sudah gemetaran dengan posisi masih mencengkeram leher bapaknya.
" Udah jawab aja, jangan buat urusannya makin runyam!" Sakti mencibir seraya sibuk mengorek upil yang menggangu jalannya pernapasan di hidungnya. Dasar!
Desinta kesal menatap Sakti yang sialan itu.
" JAWAB!!!!" Aji berteriak tak sabar. Gemuruh di dadanya seolah-olah menjadi berlipat kali ganda kala melihat bibir Desinta yang masih bungkam.
" Pak Atmojo dan anaknya!"
Seketika Ajisaka memejamkan matanya lalu menarik napasnya dalam-dalam.
.
.
Widaninggar
Empat hari berlalu,
Ia menempati rumah sederhana yang berjarak sekitar tiga puluh menit dari rumah lamanya, atau berjarak kurang lebih 10 kilometer dari rumah bapaknya yang lama.
" Kamu mau kemana Wid?" Bapak yang sibuk menyiangi bunga di depan teras rumah sederhana itu kini bertanya.
" Wida mau beli sesuatu di pasar Pak, sama Damar!"
" Damar biar dirumah, kamu bapak antar saja!"
Damar mengerucutkan bibirnya saat kakungnya mengatakan hal itu. Jelas ia tak bisa ikut kemana ibunya pergi.
Ia bosan. Sudah empat hari ini sejak ia pindah kesana, ia tak pernah pergi kemanapun. Tidak ada teman juga. Lebih tepatnya belum.
" Tapi pak, Wida ma.."
" Wid, kita harus hati-hati dulu. Bapak cuman pingin kalian selamat!"
Wida tertegun. Bapak selalu benar.
Dan benar saja, kini Wida telah berada di kawasan pasar Kamis, untuk membeli beberapa kebutuhannya menjahit. Berada di sekitar kawasan Stasiun Kalianyar.
Bapak terlihat bertemu dengan seseorang, mereka terlihat mengobrol di atas motor mereka masing-masing. Mungkin teman lama.
Wida lantas berjalan diatas trotoar dan melewati beberapa toko, sebelum ia sampai di sebuah minimarket terkenal seantero negeri. Berniat membelikan jajan dan susu untuk Damar.
Omega Mart.
BRUK
Ia berniat mencari dompet di dalam tasnya, membuat Wida tak fokus akan jalan di depannya. Di saat itu juga, ia tak sengaja menabrak seseorang dan membuat belanjaan orang itu berserakan.
" Astaga maaf mbak saya tidak senga...!"
Kalimat menggantung yang terucap dari bibir seseorang membuat Wida terperanjat, demi melihat wanita yang tempo hari menolongnya ada di depan matanya.
Ya ampun!
" Fina!" Mata Wida berkaca-kaca demi melihat sosok yang berjasa untuk ia dan putranya.
Fina langsung memeluk tubuh Wida hingga membuat wanita itu terhuyung. Wida merasakan ketulusan yang terkandung dalam pelukan Serafina.
Pelukan seorang adik.
" Mbak! Ini bener mbak Inggar kan?" Fina memegangi kedua bahu Wida usai melepaskan pelukannya. Benar-benar tak mengira jika semesta mempertemukan mereka kembali.
.
.
Serafina
Usai berunding dengan keluarganya, ia memutuskan untuk membuka cabang toko oleh-oleh keluarga mereka di kota yang dekat dengan Kalianyar.
Ia ingin mengepakkan sayap usaha papanya di tanah kelahiran Tuan Guntoro. Lagipula, Fina juga tidak tahan jika berjauhan dengan Pandu. Ihirr!
Kakak laki-lakinya yang selama ini memiliki persoalan dengan papanya telah kembali saat mengetahui jika sang papa mengalami struk. Definisi dari kejadian selalu membawa berkah.
Ya, kak Antasana kembali ke kota X usai mengetahui jika Papa sakit. Ia lega, karena perseteruan keluarga itu kini telah berakhir. Benar kata orang, akan ada pelangi sehabis hujan.
Ia tak memberitahu Bu Asmah maupun Pandu jika ia akan bertolak ke Kalianyar Kamis pagi itu. Ia naik kereta api dan menunggu Dita menjemputnya. Dahaga yang mengusik membuat Fina menggiring langkahnya menuju minimarket.
Namun, niat hanya sekedar niat. Maksud hati ingin membeli minum, namun justru dua kantong Snack dengan bumbu micin turut ia beli. Dasar Fina.
Tak di sangka, ia menabrak seseorang dan membuat semua belanjaannya berhamburan. Namun, takdir kerap membuat kita mendecak kesal, dan kadang mendecak kagum.
Ia bertemu dengan wanita yang sempat ia tolong beberapa waktu lalu. Ya benar, pagi jelang siang itu, dua netranya membulat kala melihat perempuan yang sempat senasib bersama dirinya tempo hari.
"Astaga maaf mbak saya tidak senga...!" Menyadari jika ia tak fokus berjalan, ia ingin meminta maaf. Namun, ucapannya menguap demi melihat sosok yang ia kenal.
" Mbak Inggar?"
" Mbak! Ini bener mbak Inggar kan?"
Dan detik itu, menjadi awal perjumpaan pertama setelah kejadian kelam beberapa waktu lalu.
Di kursi luar,
" Jadi kamu mau buka toko di kota sini?" Tanya Wida yang kini ngobrol di meja kursi yang tersedia di depan minimarket tersebut.
Fina mengangguk semangat, " Aku ada seseorang di sini. Dan...doakan ya mbak kami bisa segera menikah!" Binar kebahagiaan jelas terpancar dari wajah wanita yang energik itu.
Wida mengangguk dengan senyum hangat yang terbit di wajahnya, entah mengapa wanita yang banyak omong itu malah membuat dirinya nyaman.
Mereka akhirnya banyak berbicara, ngobrol dan juga saling melepas rindu. Bahkan, mereka sampai lupa waktu.
" Udah nduk?" Seorang pria datang menginterupsi obrolan seru keduanya. Pak Atmojo yang merasa Wida lama kini terlihat mendatangi anaknya. Tidak taunya, Wida malah ngobrol dengan seorang wanita cantik.
Fina menatap ke sumber suara dengan wajah bingung.
" Maaf Pak, tadi Wida lupa ngasih tahu kalau Wida ketemu temen Wida!"
" Pak, ini Fina. Orang yang pernah aku ceritakan. Dia orang yang nolong Wida sama Damar. Dan Wid, ini Bapakku!" Wida memperkenalkan dua manusia beda gender itu.
Keduanya saling berjabat tangan.
" Saya Fina Pak!" Fina meraih tangan pria tua itu lalu menciumnya takzim.
" Saya Pak Atmo!" Pak Atmojo tak mengira jika wanita kota itu sopan dan ramah juga ternyata.
Fina tersenyum ramah dan penuh ketulusan. Ia senang dengan orang-orang ramah seperti Wida dan bapaknya.
" Oh ya mbak, saya minta nomer HP nya dong. Nanti kalau ada waktu senggang lagi, kita bisa ngobrol-ngobrol lagi ya!"
" Boleh!" Wida mengetik nomer di hp Fina yang terlihat mahal. Sungguh ia senang karena merasa memiliki teman.
.
.
Kedai Cak Juned
" Kopi apa ?" Sakti menawari Aji yang terlihat muram siang itu. Terlihat tidak bersemangat.
" Apa aja!" Sahut Aji dengan pasrah. Tak memiliki semangat juang.
Sakti mengembuskan napasnya pasrah. Ia memutar bola matanya malas. Orang kok galau terus kerjaannya.
" Kopi susu aja Cak Jun...tapi susunya jangan suruh meres sendiri ya! Soalnya yang mau di peres belum ada!" Ucap Sakti berteriak yang membuat Aji mendengus. Cangkem laknat!
Sakti terkekeh tak mempedulikan hati Aji yang kacau balau. Karena Wida pastinya.
Beberapa detik kemudian, datang Yudha yang juga berwajah kusut. Pria dengan motor besar itu selalu singgah di kedai Cak Juned untuk beristirahat usai berkeliling dari rumah nasabah yang akan di survei.
" Ini juga, datang-datang muka udah kusut. Kayak si Aji!" Sakti mencibir saat Yudha datang dengan muka di tekuk!"
Ajisaka melirik wajah Yudha yang memang kusut sekilas. Ada apa pikirnya.
" Kenapa lu Yud?" Tanya Aji.
Yudha memejamkan matanya sambil memijat keningnya. Belum berniat menjawab pernyataan di Aji.
" Palingan masalah si Hesti yang minta di kawinin, eh di nikahin maksudnya. Kalau kawin mah, hampir tiap Minggu mereka check in ke hotel!" Cibir Sakti yang mencomot bakwan hangat di depannya tanpa merasa berdosa.
Jancok tenan!
Belum sempat Yudha menjawab. Raungan motor Kawasaki hitam milik Pandu terdengar menginterupsi mereka bertiga.
" Nah nih, satu lagi manusia kusut datang. Pasti urusan betina lagi nih, enggak mungkin enggak!" Sakti menggelengkan kepalanya demi melihat wajah ketiga sahabatnya yang memang kusut siang itu.
Kok bisa?
" Napa monyong begitu?" Tanya Sakti menyambut Pandu yang tak seperti biasanya.
" Nomer Fina enggak aktif Sak dari kemarin. Perasaan aku enggak ada salah sama dia!"
Sakti benar-benar muak melihat ketiga sahabatnya yang mirip orang klenger itu. Tiga pria gagah itu terlihat kusut dengan persoalannya masing-masing. Jelas betina lah sebab musababnya.
" Masa si Hesti minta nikah terus. Aku aja sebenernya masih belum sreg sama dia!" Ucap Yudha tiba-tiba. Pria itu akhirnya mengeluarkan unek-uneknya.
" Kalau enggak sreg, ngapain di kentu terus su asu!" Dengus Sakti kesal. Ia paham betul jika Yudha merupakan pria yang kerap gonta-ganti pasangan dan seringnya celap- celup. Ya, meski pria itu dinilai paling cuek sih.
" Si Sukron juga belum tahu kemana Wida pindah. Apa dia marah sama aku juga?" Kini Aji malah meletakkan wajahnya ke atas meja itu. Kedua tangannya turut ia rebahkan di atas meja dari bambu itu.
Mirip orang tepar.
" Cak Jun, ada gramason ( merks pestisida) enggak?" Teriak Sakti.
" Buat apa mas?" Jawab Cak Juned yang mengantar empat cangkir kopi ke hadapan empat pria itu.
" Buat nyemprot otak mereka. Tiap hari isinya galau karena wanita terosss!"
" Jancok arek-arek ki trae!"
(Brengsek anak-anak nih emang!)
Cak Juned tergelak, " Nanti sampean juga begitu mas. Semua pria akan terlihat lemah jika urusan dengan wong wadon mas!"
" Mumet- mumet mas!" Cak Juned tergelak. Bisa-bisanya tiga dari empat pria itu berwajah kusut.
Namun, beberapa saat kemudian, pandangan empat pria itu kini teralihkan saat sebuah mobil Pajero berbelok ke kedai sederhana milik pria kurus itu. Pajero putih yang terlihat gagah itu sukses membuat ke empat pria itu menatap ke arah luar.
" Siapa tuh?" Ucap Sakti terpesona akan mobil kinclong itu.
Dan betapa terkejutnya mereka kala melihat Fina yang melepaskan kaca mata hitamnya. Menatap mereka dengan wajah tersenyum.
" Apa ada yang namanya Mas Pandu disini?" Tanya Fina dari kejauhan yang membuat mata Pandu berkaca-kaca.
.
.
.
.
Belum bisa up normal. Tamu banyak banget yang silaturahmi hingga hari ini man temanππ