Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 88. Tabiat aslimu



Bab 88. Tabiat aslimu


^^^" Untung melambung, malang menimpa"^^^


^^^( Tak putus di rundung kemalangan)^^^


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Riko melepaskan diri Fina dengan terpaksa " Diam disini, dan jangan coba-coba untuk kabur!" Hardik Riko kepada Fina yang terus saja menatapnya penuh kebencian.


Fina terlihat mengatur napasnya yang kian memburu. Ia menatap punggung Riko yang kini mulai menjauh darinya, pria itu terlihat hendak menuju pintu tepat dimana Joni tengah menggedor pintu dengan membabi-buta.


Syukurlah. Fina sedikit bisa bernapas lega.


" Ada apa?" Ucap Riko dengan wajah marah lantaran kegiatannya terganggu. Joni sialan!


" Tuan Zack saat ini menunggu anda bos!" Ucap Joni menundukkan kepalanya lantaran merasa bersalah. Ia yang mengetahui Fina dalam keadaan pakaiannya yang berantakan, serta waktu bosnya membuka pintu dengan lama itu, jelas menjadi suatu bukti bila dua sejoli itu tengah melakukan sesuatu. Begitu pikir Joni.


" Katakan lima menit lagi aku turun!"


.


.


Rendy


"Sinyalnya hilang!'' Sore itu Rendy yang masih tekun di layar laptopnya mendadak gusar. Membuat Bayu juga Theodor kini turut menjengukkan kepalanya ke layar laptopnya.


" Bagiamana bisa?" Bayu memancarkan wajah cemas. Kini bagiamana bisa ia melacak keberadaan Fina.


" Sepertinya ada yang menemukan ponsel nona Fina bos!"


" Sial!" Sahut Bayu geram.


" Ada apa?" Suara Pandu yang datang bersama Yusuf dan Markus membuat Rendy dan Bayu menoleh.


Pandu tak sengaja menangkap nada kecemasan dari pada suara Bayu. Membuatnya spontan menyahut.


Kini kesemuanya saling menoleh. Bagiamana ini?


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Malam itu semua anggota Kijang Kencana tengah selesai melakukan mitigasi penyelamatan Fina. Menyusun strategi, juga rencana B yang wajib ada. Memungkinkan jika segala sesuatunya tidak berjalan sesuai dengan rencana.


Andhika juga terlihat lebih segar usai beristirahat. Pria itu bahkan yang akan memimpin langsung aksi penyergapan malam nanti.


Kediaman Guntoro masih dibawah penjagaan Andreas dan Harimurti. Semua kini fokus dalam penjagaan kelurga Guntoro. Bayu sudah mempertimbangkan matang-matang aspek keselamatan. Baik untuk timnya, juga client yang menyewa jasa mereka.


Jelas, profesionalitas merupakan hal utama.


Brak!!!


" Sini loh!"


Pintu briefing room itu terbuka dengan kasar. Menampilkan dua anak buah team Bravo yakni Ben dan Aksa, yang membawa satu orang dengan wajah babak belur.


Jelas pria itu telah mendapatkan bogem mentah dari Ben dan Aksa.


Bayu langsung bangkit dari singgasananya,


lalu berjalan sembari menatap dua anak buahnya dengan wajah terkejut. Apa yang terjadi?


" Siapa dia Ben?" Tanya Satya yang notabene menjadi leader mereka berdua. Tengah berwajah tegang.


Pandu juga rekan-rekan yang lain kini turut menanti jawaban dari Ben dan Aksa. Jelas terlah terjadi sesuatu.


" Kami menemukan pria ini hendak melempar granat ke markas kita bos!" Sahut Aksa dengan wajah masih geram.


" Dia juga memata-matai gedung kita sedari sore!"


Para leader disana seketika menjadi geram. Beruntung Aksa dan Ben sangat sigap dalam melihat hal yang mencurigakan.


" Siapa yang menyuruhmu?" Tanya Bayu yang kini sudah mendekat ke arah pria itu.


Pria dengan wajah babak belur itu masih diam. Mengeraskan rahang sembari menahan nyeri di wajahnya akibat jotosan dari Ben dan Aksa.


" Aku tanya sekali lagi, siapa yang menyuruhmu?" Bayu menjambak rambut pria bonyok itu dengan kesabaran yang semakin terkikis.


Pria itu masih diam. Membuat kesabaran Bayu benar-benar musnah.


" Jawab!!!!" Suara Bayu seolah memekak ke telinga pria bonyok itu. Membuat kesemuanya ciut nyali karena kemarahan sang direktur.


" Ra... Raditya!"


" Raditya yang memintaku!"


.


.


Serafina


Ia kini telah berhasil keluar kamar terkutuk tadi dengan susah payah. Fina bahkan beberapa kali mengendap- endap dan bersembunyi berkali- kali demi menghindari anak buah Riko yang berseliweran di bangunan terpencil itu.


"CK, ponselku dimana ya?" Fina masih belum terima dengan ponselnya yang hilang. Kini ia benar-benar kehilangan arah.


Namun yang lebih masalah lagu, ia kini bingung harus kemana. Hari sudah gelap dan lebih dari empat jam ia berada di sebuah ruangan kosong yang pengap dan berdebu itu.


Sayup-sayup ia mendengar jeritan wanita dan suara ribut serta hadirkan kerasa dari mulut seorang pria, dari arah luar. Pria yang jelas menjadi anak buah Riko.


Ia mengintip dari celah pintu. Ia melihat seorang wanita yang di tampar oleh anak buah Joni karena melawan.


Plak!!!


" Mau mati kamu berani kabur hah?"


Ucapan biadab itu terdengar menyayat hati Fina. Sungguh, ia tak menyangka jika Riko rupanya memiliki rahasia seperti ini. Apa sebenarnya yang di kerjakan Riko dan keluarganya selama ini.


" Ibuk, sakit buk!"


" Astaga, siapa itu?" Fina bergumam sembari menatap muram ke arah luar yang bisa ia saksikan dari celah kecil ruangan pengap itu.


Dia bahkan bisa mendengar suara tangis anak kecil yang terus mengeras. Hatinya benar-benar tak tahan. Tapi, jika dia keluar jelas Riko akan menemukannya. Tapi ia tak tahan melihat wanita dan seorang anak kecil itu kini meratap dalam tangis.


"Aku harus gimana?" Ia seperti benar-benar geram tatkala tangan kekar pria itu sudah melayang ke udara. Hendak menampar wanita itu kembali.


" Wanita sun...!"


" Berhenti!"


Suara anak buah Joni itu terjeda lantaran melihat Fina yang kini berucap seraya berusaha menyetop aksinya. Membuat pria itu kini membulatkan matanya lantaran kaget.


Fina menatap dua manusia lintas usia itu dengan iba. Fina gak tahan. Hatinya nyeri tak terperi demi melihat hal kurang ajar di depan itu.


Ibu dan anak itu terlihat saling memeluk dengan tubuh lusuh , wajah lelah dan mata penuh tangis.


Pria itu kini tersenyum simpul kala melihat Fina yang muncul di hadapannya. Benar-benar pucuk dicita ulam pun tiba.


" Bos, saya menemukan nona Fina di gudang sebelah!" Ucap anak buah Joni melalui HT ( Handy Talky) yang ia bawa. Pria itu tersenyum licik menatap Fina.


" Mbak gak apa-apa?" Fina kini mengusap punggung wanita itu. Tak memperdulikan anak buah Joni yang sedang melapor kepada majikannya.


Ia benar-benar terenyuh melihat wajah bekas pukulan dan lebam di pipi wanita yang mungkin usianya sama dengannya itu.


" Sa-saya tidak apa-apa mbak. Mbak kenapa bisa disini?"


Widaninggar terlihat menatap Fina dengan takut. Ia terus menyeka air matanya sembari terus memeluk Damar.


" Aku Fina, mbak jangan takut ya!" Fina melihat Widaninggar yang sangat ketakutan.


BRAKK


Belum sempat Fina kembali menjawab Widaninggar, mereka dikejutkan dengan suara bariton seseorang yang amat tak mereka harapkan kedatangannya.


" Sayang, disini kamu rupanya!" Riko berucap usai menendang pintu itu dengan keras. Membuat Damar kini semakin ketakutan saat memeluk ibunya.


" Sudah kubilang jangan kabur. Kau sengaja ingin bermain-main denganku, hm?" Riko mengusap pipi Fina dengan senyum licik.


Fina menatap Riko makin benci. Tak mengira jika pria itu memiliki hal terselubung macam ini. Pria brengsek!


" Ayo kita pergi!" Riko menarik tangan Fina, namun dengan cepat di tepis oleh Fina.


" Gue gak nyangka ya Riko. Elu bener-bener biadab!" Ucap Fina masih menatap Riko dengan benci.


" Jon, bawa wanita itu ke kamarnya!" Titah Riko menunjuk Widaninggar bersama anaknya menggunakan dagunya.


" Baik bos!"


" Stop!" Fina menghalangi Joni yang sudah hendak menarik tangan Widaninggar. Membaut Riko mengernyit heran.


" Jangan sakiti mereka lagi!"


Seketika Joni menatap Riko penuh kebingungan. Bagaimana ini?


" Fina, jangan ikut campur. Minggir!" Riko kini makin terlihat menepikan segala cap buruk. Ia sudah tak peduli. Fina sudah tahu kebobrokannya.


Joni kembali maju, namun lagi-lagi Fina merentangkan tangannya melindungi Widaninggar bersama Damar.


" Gue mau ikut elo asal elo jangan siksa mereka lagi!"


Fina menatap Riko dengan wajah serius. Meski sebenarnya saat berucap ia tak memikirkan resiko kedepannya, namun ia kini benar-benar kasihan kepada wanita yang ia sendiri belum mengetahui namanya itu. Selalu saja bersikap impulsif.


Membuat Riko tersenyum licik.


.


.


.


.


.


Marhaban ya Ramadhan ya Readers sekalian.


Mohon maaf lahir batin, selamat memanen pahala di bulan penuh ampunan ini ya.


Mommy tetap up. Namun, pembaca bisa mengkondisikan sendiri jam bacanya ya. Mengingat kisah Pandu tengah dalam puncaknya nih.


Keep healthy dan happy yaπŸ€—πŸ€—πŸ€—